
"Belum pulang, Yog?" tanya Surya.
Yogi menoleh.
"Belum lah. Kan mobil gue dibawa elu. Emangnya gue mesti jalan kaki?" jawab Yogi.
Surya melangkah masuk. Dia duduk di sebelah Sinta yang pura-pura asik menulis.
Diambilnya satu lembar kertas garapan tugas Sinta.
"Kan bisa pakai motorku dulu," sahut Surya.
"Ogah! Motor banci gitu. Hiiihh!" Yogi selalu mengatai motor Surya kayak motor banci.
Sebenarnya hanya karena warnanya yang terkesan girlly. Kalau jenisnya, banyak kaum adam yang menyukainya.
"Banci juga kamu sering bonceng!" sahut Surya.
"Kepepet. Kalau enggak mah, gue ogah bonceng motor gituan!" Yogi masih saja meledek motor Surya.
Tapi sayangnya Surya tak meladeninya lagi. Dia sudah hafal sifat Yogi. Kalau diladeni, bisa sampai besok enggak kelar-kelar.
"Ini salah, Sinta. Siniin pulpennya." Surya meraih pulpen Sinta. Lalu memberikan tanda pada lembar tugas Sinta yang salah.
"Kamu gimana sih, Yog? Kerjaan Sinta salah, kok didiemin?" Surya menatap Yogi yang asik saja bermain game.
"Ya Sintanya kagak nanya. Gue pikir dia udah bisa sendiri," sahut Yogi.
Padahal Yogi memang tak memperhatikan hasil tugas Sinta. Lagipula, dari sore tadi mereka ngobrol bareng Rahma dan Toni.
Sinta mengemasi semua lembar kertasnya.
"Udah, enggak apa-apa. Nih! Kakak aja yang ngerjain semua. Aku ngantuk!" Sinta menyerahkan semua lembar tugasnya pada Surya.
"Eh, apa-apaan ini?" tanya Surya.
Sinta yang sudah berdiri, langsung melangkah pergi.
"Besok pagi-pagi harus selesai. Daah....!" Sinta berlari masuk ke kamarnya.
Surya hanya menghela nafasnya.
"Sukurin! Siapa suruh kepoin tugas orang?" ledek Yogi.
"Nih! Kamu aja yang ngerjain!" Surya memberikan kertas-kertas itu pada Yogi.
"Enak aja! Gue juga ngantuk juga, kali. Gue mau pulang!" Yogi segera mengambil kunci mobil yang diletakan Surya di atas meja.
Niatnya Yogi mau menginap di kamar Surya. Tapi melihat tugas Sinta yang masih banyak, Yogi lebih memilih pulang.
Yogi pusing kalau harus menghadapi angka-angka yang enggak jelas. Mata kuliah akuntansi, salah satu mata kuliah yang dihindarinya.
Dia sampai harus mengulang dua kali. Itu pun nilainya masih belum maksimal.
Beda dengan Surya yang otaknya encer. Sekejap mata saja dia sudah bisa menyelesaikan. Dan dijamin betul semua.
Surya terpaksa begadang menyelesaikan tugas-tugas Sinta.
Menjelang dini hari, Rahma keluar dari kamarnya. Dia mau ngecek apa Surya sudah pulang atau belum.
"Lho, kamu juga ada tugas, Sur?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Eh, Mama. Enggak, Ma. Ini punya Sinta," jawab Surya.
"Kok bisa punya Sinta, kamu yang ngerjain?" tanya Rahma.
"Besok Mama tanya aja langsung ke anaknya," sahut Surya. Dia kembali menyelesaikan tugas Sinta.
Rahma duduk di sebelah Surya. Dia tak tega kalau Surya harus melek sendirian.
"Mama kalau ngantuk, tidur aja," ucap Surya yang juga tak tega melihat mamanya.
"Enggak apa-apa. Mau Mama buatkan kopi?" tanya Rahma menawari.
"Enggak usah, Ma. Ini sebentar lagi juga selesai. Nanti malah Surya enggak bisa tidur," sahut Surya.
"Ya udah. Mama masuk kamar lagi, ya?" Rahma sebenarnya juga masih mengantuk.
"Iya, Ma."
"Yogi pulang?" tanya Rahma, sebelum berjalan ke kamarnya.
"Iya, Ma. Tadi pas Surya pulang, Yogi juga pulang," jawab Surya.
"Udah malam, bukannya tidur aja di kamarmu aja," ucap Rahma dengan khawatir.
Rahma serasa memiliki tiga orang anak. Selalu merasakan kekhawatiran yang sama. Apalagi sekarang dia sudah dekat dengan orang tua Yogi.
"Yogi udah gede, Ma. Lagian dia kan punya rumah sendiri juga," sahut Surya.
"Hhmm." Rahma menghela nafas, lalu berjalan menuju kamarnya.
Kini dia bisa tidur dengan nyenyak. Anak lelakinya sudah pulang tanpa masalah.
Keesokan paginya, Surya bangun kesiangan. Bahkan dia belum bangun, saat Sinta masuk ke kamarnya.
"Ih, belum bangun! Kak...! Bangun! Udah jam berapa ini?" Sinta mengguncang bahu Surya.
Surya hanya menggeliatkan badannya.
"Bangun, Kak! Udah siang!" seru Sinta.
"Bentar lagi. Masih ngantuk!" sahut Surya. Lalu membalikan badannya membelakangi Sinta.
"Hh! Dasar pemalas!" Sinta keluar dari kamar Surya sambil membawa lembar tugasnya.
Tapi sayangnya Surya tak mendegar. Dia sudah melayang ke alam mimpi lagi. Mungkin melanjutkan mimpinya yang terputus.
"Mana kakakmu?" tanya Rahma, setelah Sinta sampai di ruang makan. Rahma sudah mengenakan pakaian rapi. Dia mau ikut Toni ke kantor.
"Masih tidur, Ma. Dibangunin enggak mau!" jawab Sinta. Dia lalu menarik satu kursi untuknya duduk.
"Kamu sih, masa tugas kuliahmu yang ngerjain kakakmu!" ucap Rahma.
Kebiasaan Sinta dari jaman sekolah dulu, selalu mengandalkan Surya kalau ada PR yang susah.
"Anugerah itu, Ma. Jangan disia-siain!" sahut Sinta dengan entengnya.
"Anugerah buat kamu, buat kakakmu?"
"Apes!" sahut Surya yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
Surya barusan kebelet pipis. Karena kamarnya tak memiliki kamar mandi, terpaksa Surya keluar.
__ADS_1
"Enak aja kalau ngomong! Masa punya adik cantik begini, dibilang apes!" Sinta langsung manyun.
Surya yang sudah masuk ke kamar mandi, tak lagi mendengarnya.
Rahma dan Toni hanya berpandangan sambil saling melemparkan senyuman.
"Yogi kok belum datang, Sin?" tanya Rahma.
Biasanya Yogi datang pagi-pagi dan ikut bergabung makan bersama mereka.
"Iya, nih. Jangan-jangan kesiangan juga bangunnya." Sinta segera mengambil ponselnya di tas.
"Sebentar ya, Ma. Sinta telpon kak Yogi dulu," pamit Sinta. Karena biasanya Rahma selalu melarang anak-anaknya membuka ponsel saat di meja makan.
Rahma hanya mengangguk. Mulutnya masih penuh makanan.
Sinta menelpon Yogi. Tapi tak juga diangkat.
"Kayaknya belum bangun juga, Ma," ucap Sinta. Lalu meletakan ponselnya di meja makan.
"Apa mak Yati enggak pernah membangunkan Yogi?" tanya Rahma.
"Katanya sih, kalau subuh dibangunin. Tapi abis sholat, kak Yogi suka tidur lagi," jawab Sinta.
Rahma mengangguk-anggukan kepalanya. Tak disangka, Yogi yang terkesan selengekan, rajin juga sholat subuhnya.
Surya kembali melewati mereka.
"Lho, bukannya sekalian mandi, Surya!" seru Rahma.
"Nanti aja, Ma. Masih ngantuk!" sahut Surya. Lalu kembali masuk ke kamarnya.
"Anak itu...!" Rahma menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biar aja, Ma. Surya udah besar. Bisa mikir sendiri kapan waktunya bangun," ucap Toni.
"Iya, Pa," sahut Rahma dengan patuh.
Tak lama, Yogi muncul.
"Nah, itu orangnya. Tadi kok ditelpon enggak diangkat, A'?" tanya Sinta.
"Barusan?" tanya Yogi.
Sinta mengangguk. Dia menarik satu kursi untuk Yogi. Lalu mengambilkan makanan untuk Yogi juga.
"Di jalan, Cinta...!" jawab Yogi. Lalu menunduk malu, karena keceplosan memanggil Cinta. Sementara ada Rahma dan Toni.
Dua orang itu hanya tersenyum saja.
"Surya mana?" tanya Yogi pada Sinta.
"Masih tidur," jawab Sinta.
"Busyet! Enggak kuliah dia? Kan ada kuliah pagi ini," ucap Yogi.
"Masih ngantuk katanya," sahut Sinta.
Setelah selesai makan, mereka keluar bersama.
"Selamat pagi. Suryanya ada?"
__ADS_1
Mata keempat orang itu langsung terbelalak.
Nadia...!