PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 175 ENGGAK MAU KALAH


__ADS_3

Sementara Nadia turun dari angkot dan berjalan menuju komplek perumahan orang tuanya.


Siang yang terik, membuat Nadia merasa sedikit pusing. Tapi dia masih bisa menahannya.


Di depan sebuah rumah yang membuka warung kelontong, Nadia berhenti.


"Bu. Saya mau minuman yang dingin dong," ucap Nadia.


"Eh, Neng Nadia. Tumben jalan kaki?" tanya bu Nur, pemilik warung.


Bu Nur kenal Nadia dan keluarganya, karena mereka sama-sama penghuni lama. Dan bu Nur mengenal Nadia sejak Nadia masih kecil.


"Iya, Bu. Tadi saya berangkat diantar papa. Pulangnya kepingin naik angkot," jawab Nadia.


Bu Nur juga sangat mengenal orang tua Nadia. Apalagi dengan Susi yang sering belanja di warungnya, meskipun setiap bulan tetap belanja di supermarket.


Karena bu Nur tak menyahut ataupun mengambilkan minuman dingin untuk Nadia, dia pun mengambilnya sendiri dari dalam showcase.


Lalu Nadia menenggaknya sampai hampir habis.


"Haus banget ya, Neng?" tanya bu Nur.


"Iya, Bu. Panas banget cuacanya," jawab Nadia. Lalu kembali menenggak minumannya hingga kandas.


"Berapa, Bu?" tanya Nadia.


"Kok tumben pulangnya enggak diantar mas Surya?"


Bu Nur kembali tak menjawab pertanyaan Nadia. Dia malah menanyakan hal lainnya.


Nadia menghela nafasnya.


"Surya masih banyak kuliah, Bu. Pulangnya duluan saya!" jawab Nadia berbohong.


"Kenapa enggak ditungguin? Entar diambil orang, lho." Bu Nur malah meledek Nadia.


"Biarin ajalah, Bu. Masih banyak yang lainnya!" sahut Nadia.


"Jangan gitu, Neng. Nyari yang ganteng dan baik kayak mas Surya, susah lho," ucap bu Nur.


Selain mengenal keluarga Nadia, bu Nur juga mengenal keluarga Surya. Dan bu Nur sering melihat Nadia bersama Surya sejak mereka SMA.


Nadia tak mau menjawab lagi. Karena pasti akan makin panjang.


"Bu. Ini harganya berapa?" tanya Nadia sambil mengangkat botol minumannya yang sudah kosong.


"Oh, itu. Murah, Neng. Kalau sama Neng Nadia mah lima ribu aja," jawab bu Nur. Padahal harganya memang segitu.


Nadia merogoh kantong celananya.


"Nih, Bu. Ambil kembaliannya!" Nadia langsung kabur meninggalkan yang sepuluh ribuan.


Nadia tak mau berlama-lama lagi di warung bu Nur. Bisa makin pusing kepalanya.


"Lho, kok enggak mau dikembaliin? Makasih banyak ya, Neng Nadia!" seru bu Nur.

__ADS_1


Nadia yang sudah ngacir, tak mendengar lagi teriakan bu Nur.


"Sering-sering aja pembeliku begini. Aku bisa cepat kaya. Eh, tapi berkah enggak ya?" gumam bu Nur. Lalu kembali masuk ke dalam rumahnya.


Nadia pun yang berjalan dengan cepat, sudah sampai ke dalam rumahnya. Nafasnya tersengal-sengal.


"Abis lari-lari kamu?" tanya Susi yang sedang membuka ponselnya.


"Iya. Di luar panas banget, Ma," jawab Nadia. Lalu Nadia meletakan tasnya di atas meja. Dan duduk di sebelah Susi.


"Memangnya kamu pulang naik apa?" tanya Susi.


"Naik angkot," jawab Nadia.


"Lah, udah dikasih uang buat naik taksi online, malah naik angkot, ya panaslah," sahut Susi.


"Lagi kepingin aja, Ma. Ternyata panas dan macetnya, ngeri. Kapok deh!" ucap Nadia.


"Kamu minta beliin mobil aja sama papa. Kan bisa buat berangkat kuliah. Enggak naik motor terus. Tuh, lihat. Tangan kamu sampai item begini." Susi memegangi tangan Nadia.


"Terus mau ditaruh di mana lagi, Ma?" tanya Nadia.


Garasi di rumah Nadia hanya muat untuk dua mobil saja. Mobil Haris dan mobil Susi. Motor Nadia aja nyempil di pinggirannya.


"Taruh aja di pinggir jalan situ. Enggak akan hilang. Pakai alarm dong," jawab Susi dengan entengnya.


Jelas enteng, karena Susi tak pernah tahu bagaimana beratnya pekerjaan Haris di kantor.


Bahkan orang berpikirnya pengusaha sukses seperti Haris kerjanya enak. Tinggal perintah ini itu, beres.


"Kasihan mobilnya dipanas-panasin terus, Ma. Entar item kayak Nadia," sahut Nadia membanyol.


Susi menatap wajah Nadia. Lalu ketawa.


"Lucu kamu!" komentar Susi setelah selesai ketawa.


"Kamu enggak haus?" tanya Susi.


Susi heran, sebab tadi Nadia terlihat ngos-ngosan. Tapi enggak kehausan.


"Udah beli minuman tadi di warungnya bu Nur yang nyebelin!" jawab Nadia.


Susi kembali ketawa. Dia sangat hafal sifat bu Nur. Orangnya kepo tapi lucu dan baik hati.


"Memangnya kenapa, kok nyebelin?" tanya Susi.


"Enggak apa-apa. Udah, ah. Mama jangan ikut-ikutan nyebelin!"


Nadia meraih tasnya, lalu bergegas naik ke kamarnya. Nadia tak mau Susi juga membahas tentang Surya.


Susi menatap Nadia dari belakang. Susi hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap Nadia.


Nadia masuk ke kamarnya. Lalu melepas semua pakaiannya, setelah dia menguncinya dari dalam.


Siang yang lumayan terik, membuat Nadia ingin berendam di bath tub.

__ADS_1


Susi memfasilitasi kamar mandi Nadia semewah kamar mandi di hotel berbintang. Beda dengan kamar kakaknya yang hanya ada kamar mandi biasa saja.


Maklum saja, anak laki-laki. Mana mau berendam kayak kebo di sawah.


Nadia sedang mempersiapkan dirinya tampil lebih cantik dan mempesona. Biar tak kalah dengan Viona.


Masa Viona yang berasal dari keluarga sederhana saja bisa tampil cantik, dia yang berasal dari keluarga konglomerat, enggak bisa. Begitu pikiran Nadia.


Baru saja mau melangkah ke kamar mandi, ponsel Nadia berdering. Doni menelponnya.


Dengan malas, Nadia mengangkatnya.


"Iya, Don. Ada apa?" tanya Nadia.


"Kamu di mana?" tanya Doni. Dia dari tadi menunggu Nadia di kantin kampus.


"Aku di rumah. Kenapa?" tanya Nadia tanpa merasa bersalah.


"Kan aku udah bilang, pulangnya aku antar kamu," jawab Doni.


"Oh iya. Maaf, Don. Aku lupa," sahut Nadia.


"Yaelah. Aku udah nungguin kamu sampai jenggotan," ucap Doni dengan kesal.


Doni semakin kesal lagi saat melihat Yogi, musuh bebuyutannya sedang bermesraan dengan Sinta.


Doni merasa bermusuhan dengan Yogi, karena dulu seringkali cewek yang sedang didekatinya malah jalan dengan Yogi.


Dan sekarang Yogi jalan dengan adiknya Surya. Cowok yang di mata Doni kayak banci. Tapi Doni tahu kalau Sinta adalah cewek baik-baik.


Doni jelas saja jelous melihatnya. Salah satu rivalnya bisa menggandeng cewek baik-baik.


Makanya sekarang Doni ingin menggaet Nadia. Karena di lingkungan kampus, Nadia pun dianggap cewek baik-baik.


"Iya, maaf aku lupa, Don. Udah dulu ya. Aku mau mandi. Gerah banget ini." Tanpa permisi, Nadia menutup telponnya begitu saja.


Bahkan Doni yang berusaha kembali menelponnya, tak digubris oleh Nadia.


Doni menggerutu dengan kesal. Awas aja lu, Nad. Gue bakal bikin elu nyariin gue!


Gue bakal buktiin, kalau si Yogi aja bisa dapetin Sinta, gue juga bisa dapetin Nadia.


Doni langsung berlari ke parkiran. Dia ambil mobilnya dan meluncur ke rumah Nadia.


"Permisi. Nadianya ada, Tante?" tanya Doni setelah sampai di rumah Nadia.


"Ada. Kamu siapa?" tanya Susi.


Susi belum pernah melihat Doni sebelumnya.


"Saya Doni, Tante. Pacar barunya Nadia," jawab Doni dengan percaya diri.


Susi hanya melongo melihatnya.


Ganteng sih, tapi songong! Batin Susi.

__ADS_1


__ADS_2