PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 157 PINGIN MOVE ON


__ADS_3

Mereka bertiga bertiga berjalan ke arah pelabuhan. Lalu membaur di antara hiruk pikuk dan lalulalang orang-orang yang sibuk bekerja.


"A, aku kepingin naik ke kapal juga. Kayak Aa waktu itu," pinta Sinta.


"Aduh, enggak bisa, Cinta. Kita waktu itu kan sama Dewa. Naik ke kapal tempatnya bekerja," sahut Yogi.


Sinta langsung manyun. Padahal dia berharap bisa melihat indahnya lautan dari atas kapal. Dan foto-foto.


"Berdoa aja, semoga Dewa ke sini. Jadi kita bisa naik ke kapal yang itu." Yogi menunjuk sebuah kapal barang yang sangat besar. Karena mereka melihatnya dari dekat.


"Emang enggak bisa ya, kita numpang naik sebentar?" rengek Sinta.


"Enggak enak dong, Cinta. Lihat dong, mereka lagi pada sibuk begitu," sahut Yogi lagi.


Surya hanya menatap kapal-kapal yang sedang bersandar itu. Dia membayangkan betapa berat pekerjaan Dewa di sana.


Di saat teman-teman yang lainnya masih sibuk dengan kuliah, atau hanya tidur nyenyak karena masih menganggur. Dewa sudah harus bergelut dengan pekerjaannya. Menantang teriknya matahari dan melawan dinginnya angin laut.


Sebenarnya, diluar masalahnya dengan Nadia, Surya sangat respect pada Dewa. Dia sangat mengagumi ketangguhan Dewa.


Tapi masalahnya dengan Nadia, membuat mereka terasa sangat jauh. Seperti orang asing.


Tiga tahun bersahabat dengan Dewa sejak kelas satu SMA, tak bisa dihilangkan begitu saja. Semua kenangan, kekonyolan dan keceriaan masa remaja yang masih sangat melekat.


Yogi melirik Surya yang lagi melamun. Lalu disenggolnya bahu Surya dengan keras.


"Apaan sih?" Surya melirik sengit ke arah Yogi.


"Jangan melamun, entar kesambet lho," ucap Yogi.


"Mana ada setan di sini?" sahut Surya.


"Iyalah. Setannya takut ama elu! Hahaha." Yogi tergelak seperti biasanya.


Surya kembali melirik Yogi. Manusia yang hampir tak pernah mempermasalahkan hidupnya.


Sangat berbeda dengan Surya yang selalu riweh dengan satu wanita. Seolah di dunia ini tak ada wanita lain selain Nadia.


Sementara Sinta, meski tangannya masih di genggaman Yogi, matanya melihat ke seputaran pelabuhan.


Dia sangat menikmati suasana hiruk pikuk yang sebenarnya bikin pusing kepala.


Jadi dia tak konsen pada pembicaraan Yogi dan Surya.


"Sekarang apa yang akan elu lakukan, Bro? Masih mau ngejar Nadia?" tanya Yogi.


"Enggak. Aku capek, Yog," jawab Surya.


"Gombal elu, mah. Sekarang bilang capek, besok-besok kalau Nadia dateng lagi juga elu bakal klepek-klepek lagi," sahut Yogi.


"Enggak akan. Aku mau tutup buku aja buat dia. Meskipun aku..." Surya tak melanjutkan omongannya.


"Kenapa elu?" tanya Yogi penasaran.


"Aku udah merawanin dia, Yog," ucap Surya pelan. Malu juga kalau sampai ada yang denger. Meskipun tak satu orangpun dikenalnya.


"What...!" Yogi terkesiap, sampai tak sadar dilepaskannya tangan Sinta.

__ADS_1


Yogi tak yakin Surya mampu melakukannya. Apalagi sikap Nadia yang selalu dingin. Meskipun tadi pagi mereka terlihat mesra.


Surya memgangguk. Lalu dia merogoh kantong celananya. Dia keluarkan sebungkus rokok yang dibelinya semalam.


Surya menyalakannya dengan tenang. Yogi hanya meliriknya.


Sinta kembali mencari tangan Yogi. Dia tak mau lepas dari pegangan Yogi. Mungkin Sinta takut terbawa arus orang-orang yang hilir mudik.


Sinta pun melirik Surya.


"Sejak kapan Kakak beli rokok sendiri?" tanya Sinta.


Selama ini yang Sinta tahu, Surya merokok cuma sebatang dua batang saja. Itupun minta punya Yogi.


"Semalam," jawab Surya.


Sinta hanya mengangkat bahunya, lalu kembali menikmati pemandangan dari tempat mereka berdiri.


"Lu semalam keluar hotel?" tanya Yogi.


"Iya. Nongkrong di cafe dekat hotel," jawab Surya.


"Minum lagi?" tanya Yogi pelan. Biar tak terdengar Sinta.


"Sedikit," jawab Surya, pelan juga.


"Gila lu. Minum kagak ngajak-ngajak gue," ucap Yogi.


"Kan aku enggak tau, kalau kalian nginap di sana juga," sahut Surya.


"A! Itu kak Dewa sama kak Viona!" Sinta yang matanya masih saja berputar di sekeliling pelabuhan, menunjuk ke satu arah.


Spontan Yogi dan Surya menatap ke arah yang ditunjuk Sinta.


Dewa dan Viona sedang berjalan bergandengan tangan.


"Kak Dewa! Kak Viona!" seru Sinta.


Dewa dan Viona terlihat mencari sumber suara yang memanggilnya.


Sinta melambaikan tangan, memberi tanda keberadaannya.


Dewa dan Viona pun berjalan mendekat.


Surya tak begitu memperhatikan Dewa dan Viona. Matanya malah mencari sosok yang ingin dihindarinya.


"Hey, kalian ada di sini?" tanya Dewa.


"Iya. Kami dari tadi di sini," jawab Yogi.


Surya masih saja mencari keberadaan Nadia.


"Dia udah pulang, Sur," ucap Dewa. Dia tahu kalau Surya mencari Nadia.


"Oh ya?" tanya Sinta dengan senang.


Sinta merasa lebih nyaman tak ada Nadia. Bahkan kini Sinta merasa kesal dengan Nadia. Wanita yang selalu membuat kakaknya terpuruk.

__ADS_1


"Iya, tadi," jawab Dewa.


Viona hanya diam saja sambil tersenyum senang. Dia telah berhasil membuat Dewa tak memilih Nadia. Dan tetap mau membuktikan janjinya pada Viona.


"Ya syukurlah. Satu masalah hilang. Tapi enggak tau sama yang ini." Yogi menyenggol lengan Surya lagi dengan keras.


Surya sampai oleng karena tak siap.


"Ish!" pekik Surya.


"Kamu mau menyusulnya, Sur?" tanya Dewa.


Surya menggeleng.


"Yakin?" tanya Dewa seolah tak yakin dengan Surya.


"Ya. Buat apa? Capek aku," jawab Surya.


"Nah, gitu dong. Baru namanya calon kakak ipar gue!" Yogi menepuk lengan Surya.


Viona meraih tangan Sinta dan mengajaknya agak menjauh dari pembicaraan tiga laki-laki itu.


Sinta pun menurut. Karena sebenarnya dia juga ingin berkeliling di area pelabuhan. Tapi kelihatannya Surya malas beranjak. Dan Yogi lebih memilih menemani Surya.


"Kapan kapal elu berlayar lagi, Bro?" tanya Yogi.


"Sebentar lagi. Tengah hari nanti. Dimajukan beberapa jam. Jadwal semestinya sih sore nanti," jawab Dewa.


"Oh. Boleh enggak kalau kami naik dulu sebentar ke sana?" Yogi menunjuk kapal tempat bekerjanya Dewa.


"Sinta katanya kepingin banget ke sana," lanjut Yogi.


"Kebetulan. Viona juga mau mengantar aku sampai ke kapal. Kalian ikut aja sekalian," ajak Dewa.


"Wah, ganggu orang yang mau perpisahan dong?" goda Yogi.


"Ah, gampang itu. Nanti kan kalian kita tinggal sebentar di geladak. Hahaha." Dewa tergelak.


"Emang kalian mau ngamar dulu, gitu?" tanya Yogi.


"Kan kita mau berpisah lama, Bro. Boleh dong nyuri waktu sebentar. Hahaha." Dewa kembali tergelak.


Surya hanya menelan ludahnya.


Dalam hati memaki. Begitu beruntungnya Dewa dan Yogi. Bisa mendapatkan wanita yang baik. Sementara dia? Selalu dicampakan oleh wanita yang sangat dicintainya.


"Jangan gitu, Bro. Entar ada yang baper, terus loncat ke laut, lho!" ucap Yogi sambil melirik Surya.


"Enggak apa-apa, Sur. Di laut banyak ikan duyung kok. Lumayan buat hiburan. Hahaha." Dewa ikutan meledek Surya.


"Nah, itu dia. Kali bisa kenalan sama putri duyung. Jangan lupa mintain nomor hape. Bisa LDR-an deh, kayak Dewa sama Viona. Hahaha." Yogi makin menjadi.


Dengan kesal, Surya berjalan duluan ke arah kapalnya Dewa.


"Hey, Sur! Mau ngapain?" tanya Yogi.


"Nyari putri duyung!"

__ADS_1


__ADS_2