PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 127 SURYA TELAH BERUBAH


__ADS_3

Anasya masih setia menemani Surya menyapa teman-teman. Sepertinya Anasya pantas untuk menjadi seorang Public Relation yang handal.


"Kamu masih kenal dia kan, Sur?" tanya Anasya. Matanya menatap ke arah Nadia.


Surya yang belum mengalihkan pandangannya pada Nadia, hanya mengangguk pelan.


"Kirain udah lupa. Maklum, Nadia kan bukan cewek populer, jaman kita dulu. Hahaha." Anasya tertawa sebentar.


Seperti menertawakan sesuatu. Mungkin juga menertawakan Nadia yang terlalu naif.


Anasya menarik tangan Surya untuk mendekati Nadia. Meskipun barusan Anasya berkata kurang enak tentang Nadia, nyatanya dia membawa juga Surya ke hadapan Nadia.


"Hay, Nad. Masih ingat kan sama cowok cool yang kaya batu es ini?" tanya Anasya pada Nadia.


Jelas saja Nadia tak akan lupa. Selain mereka bersahabat sekian tahun, mereka juga pernah menjalin hubungan lain.


Rupanya kedekatan Nadia dan Surya tak tercium oleh Anasya. Jadi dia berpikir, Surya dan Nadia mesti dijembatani lagi biar bisa saling ingat.


Nadia hanya mengangguk. Lalu dia mengulurkan tangannya. Tak ingin yang lainnya curiga.


Surya pun menerima uluran tangan Nadia dan menggenggamnya. Niatnya Surya hanya ingin menggenggam sekilas saja.


Tapi nyatanya, ada perasaan hangat menyusup ke dadanya. Dan mata mereka saling menatap. Begitu terasa sangat menyejukan.


Surya merasa seperti sedang ditiup angin surga. Jiwanya seketika melayang.


Wanita yang telah dua kali mencabik-cabik hatinya. Sekaligus wanita yang pernah sangat dicintainya. Mungkin juga sampai saat ini.


Karena nyatanya, Surya tak pernah bisa jatuh cinta lagi. Meskipun berkali-kali Yogi berusaha mengenalkannya dengan wanita lain.


"Hay, Nad. Apa kabar?" tanya Surya. Tangannya masih menggenggam tangan Nadia. Dan sepertinya Nadia pun enggan melepasnya.


"Wah, ada yang CLBK nih!" komentar Celyn yang tau-tau sudah ada di dekat mereka.


Surya buru-buru melepaskan tangan Nadia. Dia tak mau terjebak lagi dengan perasaannya.


Perasaan yang sangat sulit dihilangkan meski Surya berusaha mengalihkannya ke hal lain.


Anasya mengerutkan dahinya. Dia merasa ketinggalan informasi.


"Ayo kita mulai acaranya. Udah makin malam," ajak Celyn.


Surya mengangguk. Lalu berjalan mengikuti Celyn.


Surya bersisihan dengan Anasya. Dia merasa Nadia ikut melangkah di belakangnya. Dan Surya berusaha menahan diri untuk tidak menoleh, apalagi menunggu.


Dia tetap melangkah di sebelah Anasya. Meski jantungnya berdegup sangat kencang.


Acara pun dimulai. Diawali dengan seremonial.


Kedua orang tua Celyn nampak hadir. Di antara mereka nampak juga Defa. Kakak Celyn yang waktu itu minum bareng Surya sampai mabuk.


Surya hanya tersenyum tipis ke arah Defa. Tak mungkin juga bertegur sapa, karena Defa berdiri di antara kedua orang tuanya juga Celyn.


Defa tetap dengan penampilan uniknya. Bergaya anak punk. Tapi lebih bersih. Karena pastinya asesories yang dikenakannya bukan KW. Jaket hitamnya pun bukan sekedar jaket murahan yang dibeli di pasar.


Nadia mendekatkan dirinya pada Surya. Bahkan tubuhnya dia rekatkan ke lengan Surya.

__ADS_1


Surya paham. Karena Nadia punya trauma pada anak-anak punk.


"Kenapa?" tanya Surya perlahan di dekat telinga Nadia.


"Enggak apa-apa," jawab Nadia. Lalu dia menjauhkan tubuhnya.


Surya hanya tersenyum simpul. Surya tahu kalau Nadia sedang mencari perlindungan.


Dalam hati Surya berpikir, baru lihat Defa aja udah ketakutan. Memangnya dia datang dengan siapa?


Surya tak melihat orang tua Nadia mengantar. Meski terkesan lucu, datang ke acara ulang tahun diantar orang tua.


Setelah acara potong kue dan berdoa bersama layaknya anak TK yang merayakan ulang tahun, kedua orang tua Celyn berpamitan.


Defa mengambil sepotong kue tart yang diletakan di piring kecil. Lalu berjalan ke arah Surya.


Defa mengulurkan piring itu kepada Nadia.


"Sebagai tanda permohonan maafku, yang pernah menabrakmu," ucap Defa.


Gubrak!


Nadia baru ingat, kalau orang yang dulu pernah menabraknya adalah kakak Celyn, yang bergaya anak punk.


Nadia menyenggol lengan Surya. Dia terlihat sangat ketakutan.


Inginnya Surya mengabaikan. Tapi ada perasaan ingin melindungi. Bukan melindungi dalam tanda kutip. Tapi melindungi makhluk lain yang lebih lemah.


Surya yang menerima piring dari Defa.


"Hey, Bro. Gue kira lu kagak dateng," ucap Defa.


Defa mengulurkan tangannya. Surya pun menerima uluran tangan Defa.


Defa menarik tubuh Surya dan mendekapnya, sambil menepuk-nepuk punggung Surya.


"Ke samping yuk," ajak Defa.


Dan tanpa menunggu persetujuan Surya, Defa melangkah lebih dulu.


Surya memberikan piring tadi ke Nadia. Reflek Nadia menerimanya. Matanya menatap mata Surya yang terlihat tak peduli padanya.


Surya menyusul Defa. Defa sudah duduk di teras samping. Di meja sudah ada beberapa botol minuman.


Surya melihatnya sambil membelalakan mata.


Gila!


Banyak amat minumannya? Batin Surya.


Setahu Surya, minuman itu harga per botolnya tidak murah.


Tapi Surya kembali pada kesadarannya, kalau orang tua Defa bukan orang yang tidak mampu.


Tapi masa iya, mereka yang membelikannya? Dan membiarkan anak-anaknya mabuk?


Ah! Otak Surya yang juga senaif Nadia, tak bisa menerimanya.

__ADS_1


Defa membuka satu botol. Lalu menuangkannya ke dalam dua buah gelas sloki.


"Minum, Bro. Kita butuh kehangatan di sini," ucap Defa sambil mengulurkan satu gelas sloki pada Surya.


Ada keraguan dalam hati Surya. Bagaimana kalau dia sampai mabuk lagi? Sedangkan dia pulangnya jauh. Pakai mobil Yogi pula. Bisa ngamuk kalau sampai mobilnya lecet karena menyerempet.


Defa mengangkat gelas slokinya. Seakan menuntut Surya untuk mengangkatnya juga.


Sisi gelap Surya memberontak. Dan akhirnya mampu memaksa tangan Surya mengangkat gelasnya.


Tos!


Dua gelas saling beradu, dan dua mulut sama-sama menenggaknya.


Kembali minuman beralkohol itu memasuki tubuh Surya. Belum sampai ke otaknya. Karena baru satu tenggakan.


Defa menuangkannya lagi. Dan kembali memberikannya pada Surya.


Surya ingin menolaknya, tapi merasa tidak enak. Karena dia baru saja menenggak satu sloki.


Tapi untuk kembali menenggaknya, ada rasa khawatir bakal kehilangan kesadaran seperti waktu itu.


"Hey, kalian di sini rupanya," ucap Celyn yang ternyata mencari dua orang itu.


"Menghangatkan badan," sahut Defa.


Celyn terkekeh. Lalu meraih gelas sloki yang dipegang Defa.


Dia mengangkatnya ke depan Surya.


"Ayo, Sur. Minumlah untukku!" pinta Celyn.


Dan kembali suara dua gelas beradu terdengar. Surya menenggaknya untuk Celyn.


"Rupanya kamu suka minum juga Surya," ucap Celyn.


"Hanya sesekali," sahut Surya.


"Baguslah. Kamu kan bukan ustadz yang tubuhnya diharamkan menyentuh minuman ini. Hahaha." Celyn tertawa renyah.


Terlihat dia sangat bahagia.


Defa meminta gelas yang dipegang Surya dan Celyn. Dia kembali mengisinya. Dan memberikan kembali gelas-gelas itu.


"Untuk kebahagiaan kita!" Defa mengangkat gelasnya ke udara. Disusul Celyn. Dan kemudian Surya.


Glek!


Surya kembali menenggaknya.


Nadia yang juga ternyata mencari keberadaan Surya, sudah berdiri di tengah pintu.


Matanya menatap tak percaya ke arah Surya.


Surya pun menatap Nadia dengan tajam.


Maaf, Nad. Aku bukan yang dulu lagi. Batin Surya.

__ADS_1


__ADS_2