
Mbok Nah masih diam mematung sambil menatap mobil majikannya yang semakin menjauh. Tanpa sadar jarinya masih seperti tadi.
"Mbok Nah!" panggil bu Yudi. Tetangga sebelah.
Mbok Nah yang terkejut nyaris meloncat.
"Aduh! Bu Yudi ngagetin aja, ih. Mbok yo kalau manggil jangan kenceng-kenceng," ucap mbok Nah.
"Siapa yang manggilnya kenceng? Mbok Nahnya aja yang ngelamun. Ngelamunin apa hayo?" Bu Yudi malah meledek mbok Nah.
"Halah! Itu lho...Non Nadia masih sakit. Terus sekarang mau dibawa ke rumah sakit," jawab mbok Nah.
"Loh, katanya udah dikerokin sama Mbok Nah?" tanya bu Yudi.
"Iya, udah. Tapi enggak tau, tadi Mbok Nah tanyain katanya mau ke rumah sakit. Padahal tadi udah makan lagi banyak banget," jawab mbok Nah apa adanya.
"Atau mereka mau melihat kondisi bu Rahma di rumah sakit?" tanya bu Yudi.
"Loh, memangnya bu Rahma kenapa, toh?" tanya mbok Nah.
Mbok Nah tadi lagi di dapur. Menyiapkan makanan untuk makam malam. Jadi tak melihat dan tak mendengar suara ambulans.
Apalagi pendengaran mbok Nah sudah agak berkurang.
Lalu bu Yudi menceritakan keadaan Rahma sesuai dengan berita yang didengarnya.
"Owalah. Kasihan banget. Untungnya non Nadia enggak sampai dinaikan ke mobil ambulans," ucap mbok Nah.
"Hush! Jangan sampailah, Mbok. Kalau dinaikan ke mobil ambulans itu, berarti sakitnya parah," ucap bu Yudi.
"Ooh, jadi sakitnya bu Rahma parah?" tanya mbok Nah.
"Enggak tau, Mbok. Tadi siang sih masih sehat-sehat aja. Saya lihat dia masih nyetir mobil sendiri. Pergi sama Sinta," jawab bu Yudi.
"Terus kenapa dinaikan ke mobil ambulans?" tanya mbok Nah lagi.
Bu Yudi hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Mbok Nah udah masak?" tanya bu Yudi. Maksudnya, kalau belum, mau menyuruh mbok Nah masak saja. Daripada kepalanya malah pusing menghadapi mbok Nah.
"Tadi lagi...ealah.. Gosong masakanku!"
Mbok Nah langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Bu Yudi pun bernafas dengan lega. Tanpa dia menyuruhnya, mbok Nah udah kabur duluan.
Di jalan, Sinta menelpon Yogi sambil menangis.
"Aa....mama pingsan, A. Sekarang lagi perjalanan ke rumah sakit. Aku di dalam ambulans," ucap Sinta sambil sesenggukan.
__ADS_1
"Hah...! Kenapa?" tanya Yogi sangat terkejut. Dia sedang bicara dengan kedua orang tuanya. Membahas tentang rencana acara pernikahannya.
"Aa nyusul ke rumah sakit aja."
Lalu Sinta menyebutkan nama rumah sakit yang akan ditujunya.
"Ya...ya. Aa segera nyusul." Yogi mematikan ponselnya.
"Ada apa, Yog?" tanya Novia.
Yogi pun mengatakan apa yang disampaikan Sinta barusan.
"Ya udah. Kita kesana sekarang," ucap Arya.
Mereka pun segera bersiap menyusul ke rumah sakit. Yogi yang membawa mobil.
"Hati-hati, Yogi. Pelan-pelan aja," ucap Novia yang duduk di jok tengah sendirian. Arya menemani Yogi menyetir.
"Iya, Ma. Yogi kuatir banget!" sahut Yogi.
"Kita semua juga sama. Tapi tetap harus fokus di jalan dan hati-hati," ucap Novia.
"Apa mama Rahma kecapean? Seharian tadi jalan sama Sinta," tanya Yogi.
"Bisa jadi. Lagian kamu bukannya tadi mengantar," sahut Novia.
"Sinta bilang Surya yang akan mengantar. Makanya Yogi tadi mengantar Mama aja," sahut Yogi.
"Hhh! Emang rese itu anak. Cewek mulu yang dipikir!" Yogi jadi kesal pada Surya.
"Hush! Enggak boleh bilang gitu. Kasihan kan dia, belum punya tambatan hati," ucap Novia.
"Orangnya susah dibilangin, Ma. Yogi sampai bosen ngomonginnya," sahut Yogi.
Lalu sambil jalan, Yogi menceritakan tentang Surya. Bukan untuk menjelek-jelekan Surya. Tapi biar kedua orang tuanya tahu.
Bagaimanapun mereka bakal jadi bagian dari keluarga Surya. Dan Surya akan jadi kakak iparnya.
"Kasihan banget Surya itu. Padahal ganteng lho. Masa kalah sama kamu," komentar Novia.
"Maksud Mama Yogi kurang ganteng gitu?" tanya Yogi sambil cemberut.
Arya yang dari tadi diam, tertawa terbahak-bahak.
"Papa ngapain ketawa?" tanya Yogi semakin kesal.
"Anak Papa ngambeg dibanding-bandingin," jawab Arya. Lalu kembali tergelak.
"Mama bukan ngebanding-bandingin. Kalian sama-sama ganteng. Dan kalian juga seumuran. Masa kamu aja udah mau nikah, Surya pacar aja belum punya." Novia mencoba meralat omongannya.
__ADS_1
"Siapa suruh, dari dulu cuma mikirin Nadia. Yang dipikirin malah ngarepin cowok lain!" ucap Yogi.
"Namanya juga cinta, Yog. Dulu Papa juga begitu. Terus aja ngejar mama kamu. Padahal waktu itu mama kamu masih punya pacar," ucap Arya.
Novia langsung memerah wajahnya.
"Terus Papa kejar terus?" tanya Yogi.
"Iya. Kalau enggak, keburu disikat orang lain, begitu dia putus sama pacarnya itu. Siapa nama pacar Mama dulu?" Arya bermaksud menggoda Novia.
"Auk ah! Udah lupa!" jawab Novia.
Novia malas mengingat-ingat nama lelaki yang dulu pernah dekat dengannya. Baginya kini, hanya ada satu lelaki, yaitu Arya.
Arya tertawa lagi. Dia ingat bagaimana perjuangannya dulu untuk mendapatkan Novia.
"Terus Papa berantem sama pacarnya mama enggak?" Yogi jadi penasaran.
Arya memang sengaja membuka pembicaraan tentang masalalunya bersama Novia. Selain biar Yogi tidak terlalu tegang karena memikirkan Rahma, juga buat pembelajaran Yogi.
Meskipun sekarang sudah terlambat. Karena beberapa hari lagi Yogi mau menikah.
"Enggak sih. Papa cuma stalking aja. Kemana pun mereka pergi, Papa kuntit." Arya mengakui kekonyolannya dahulu.
"Wah, itu mah lebih sadis dari berantem, Pa. Lebih ngeselin!" ucap Yogi.
"Biarin aja. Papa kan selalu yakin kalau mama kamu bakal jadi istri Papa. Jadi Papa enggak mau dong, kalau calon istri Papa diapa-apain duluan," sahut Arya.
"Emang ngeselin papa kamu, Yog. Masa orang lagi apel, ban motornya digembosi," ucap Novia.
"Biarin aja. Biar dia kapok. Nuntun motor malem-malem. Siapa suruh ngapelin calon istriku," sahut Arya dengan bangganya.
"Ngeselin banget tuh. Kalau Yogi, bakalan Yogi ajak berantem," ucap Yogi.
"Mana mungkin berani? Tampangnya aja kayak banci! Hahaha." Arya tertawa mengingat wajah culun mantan pacar Novia.
Dan tanpa setahu Novia, Arya dan beberapa temannya sering membully lelaki culun itu. Kebetulan mereka juga satu kampus. Cuma beda jurusan dan Arya kakak kelas jauh di atasnya.
"Ternyata ngeri juga ya, perjuangan Papa," komentar Yogi.
"Iya. Kamu sih enak. Begitu kamu nembak Sinta, Sintanya langsung mau. Dan kebetulan kami orang tua saling kenal baik," sahut Arya.
"Tapi bukan berarti kamu menyepelekan Sinta lho ya," ucap Novia.
"Enggak lah, Ma. Yogi akan terus mempertahankan Sinta. Udah cukup Surya aja yang sering patah hati. Jangan kami," ucap Yogi dengan mantap.
Arya menepuk-nepuk lengan Yogi. Dia bangga bisa memberikan banyak kemudahan untuk anak semata wayangnya.
Tak terasa, mereka pun sampai di rumah sakit. Berbarengan dengan Nadia dan Susi.
__ADS_1
Nadia dan Yogi saling bertatapan. Yogi hanya memberikan senyuman tipis pada Nadia.
Yogi merasa curiga, bisa jadi kondisi Rahma ini disebabkan oleh Nadia.