PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 24 SAAT YANG TEPAT


__ADS_3

Jam sepuluh siang, Surya sudah sampai di rumahnya. Lalu buru-buru masuk ke kamarnya. Dia mau ambil tas kuliahnya dan segera meluncur ke kampus.


"Lho, mau kemana kamu, Sur?" tanya Rahma yang melihat anaknya ini siap pergi lagi.


"Ke kampus, Ma. Ada kuliah siang ini. Harus ngumpulin tugas juga," jawab Surya, lalu mencium telapak tangan Rahma.


"Memangnya kamu enggak capek? Kita baru aja sampai lho. Mama aja rasanya masih jet lag," ucap Rahma. Dia sering begitu kalau habis naik pesawat.


"Enggak apa-apa, Ma. Surya pakai mobil ya?" sahut Surya.


"Halah, bilang aja udah kangen sama kak Nadia. Iya, kan?" Sinta yang baru saja keluar dari kamarnya ikut menyahut.


Surya menatap tajam wajah adiknya. Yang ditatap malah menjulurkan lidahnya dan berlari kembali masuk ke kamarnya.


"Ya udah. Ati-ati. Salam buat Nadia. Nanti sore Mama mau arisan bareng mamanya Nadia. Dia akan nyamperin Mama," ucap Rahma.


"Iya, Ma. Salam juga buat tante Susi," sahut Surya, lalu mengambil kunci mobil mamanya.


Rahma dibelikan mobil sendiri oleh Toni, suaminya. Tapi karena jarang dipakai, anak-anaknyalah yang sering memakainya.


Rahma tak pernah melarang, asalkan alasannya jelas. Bahkan tak jarang, Rahma yang membelikan bensinnya.


Surya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kebetulan jam segitu, kondisi jalanan lancar.


Sampai di kampus, Surya langsung ke kelasnya Nadia. Pintu ruangan ditutup. Surya pikir Nadia masih ada di dalam.


Surya yang sudah hafal dengan jadwal mata kuliahnya Nadia, menunggunya di kantin. Sambil dia mengerjakan tugasnya yang harus diserahkan nanti siang.


"Woy! Ngapain lu, Bro?" Yogi datang dan menepuk punggung Surya.


"Eh, kamu, Yog. Ini....ngerjain tugas." Surya memperlihatkan lembaran tugasnya.


"Tumben-tumbenan ngerjain tugas di kantin. Biasanya udah beres dari rumah?" tanya Yogi.


Surya memang dikenal sebagai mahasiswa yang rajin. Sampai banyak teman-temannya yang mencontek tugasnya. Karena selain rajin, dia juga cerdas.


"Aku baru tadi pulang dari Jogja. Kemarin lupa enggak kebawa tugasnya," sahut Surya.


Mamanya yang mendadak menyuruhnya ke Jogja, membuat Surya kurang teliti persiapannya. Asal bawa saja.


"Oh, elu dari Jogja? Kok cepet banget? Ngapain di sana? Apel, ya?" tanya Surya bertubi-tubi.

__ADS_1


"Ke rumah eyang. Kebetulan keluargaku juga kemarin di sana." Surya menyeruput es jeruknya.


"Oh, kirain ngapelin cewek Jogja. Tar kasihan ada yang patah hati. Hahaha." Yogi terbahak, lalu pergi memesan makanan.


Setelah memesan makanan, Yogi kembali ke meja Surya. Sedangkan Surya sendiri sudah fokus lagi dengan tugas-tugasnya.


Yogi tak lagi bersuara. Dia membuka ponselnya, lalu mengirimkan pesan chat pada Viona. Gadis yang sedang diincarnya.


Yogi tadi sempat melihat Viona dan Nadia keluar dari kantin. Tapi berhubung dia ada kelas, jadi tak sempat menghampiri mereka.


"Gila nih cewek dua. Ada kelas, malah kelayapan di mall," ucap Yogi setelah mendapatkan jawaban chat dari Viona.


"Siapa?" tanya Surya acuh.


"Viona sama Nadia," jawab Yogi.


Surya langsung mengangkat wajahnya.


"Serius, kamu?" tanya Surya tak percaya.


"Kalau enggak percaya, nih baca aja chat gue ama Viona." Yogi memberikan ponselnya pada Surya.


Surya pun mengambilnya. Meski sebenarnya dia paling malas ikut campur urusan orang lain. Tapi karena mendengar nama Nadia, dia baca juga chat-nya Yogi.


"Bukannya mereka mestinya ada kelas jam sepuluh tadi?" gumam Surya yang didengar jelas oleh Yogi.


"Nah, gue juga heran. Enggak biasanya mereka bolos. Jam segini ke mall, kayak tukang bukain pintu mall aja," sahut Yogi.


Surya segera mengemasi buku-bukunya.


"Mau kemana lu, Sur?" tanya Yogi. Makanan pesanannya baru saja datang.


"Pulang!" jawab Surya singkat dengan nada kesal.


Yogi melongo. Dia pesan makan, dipikirnya ada yang menemaninya makan. Yogi paling malas kalau makan sendirian. Lebih baik nahan laper daripada enggak ada yang menemaninya makan.


Sebenarnya Surya tidak akan pulang. Tapi mau nyariin Nadia. Entah kenapa, seperti ada yang mendorongnya mencari Nadia dan membawanya pulang. Minimal menemaninya jalan di mall.


Sampai di parkiran mobil, Surya menepuk dahinya. Dia lupa menanyakan pada Yogi, mereka ada di mall mana.


Di sekitaran kampusnya ada dua mall. Dan Surya sendiri sangat jarang ke sana, jadi tidak bisa menebak mereka ada di mall yang mana.

__ADS_1


Apa aku mesti balik lagi dan menanyakannya pada Yogi? Ah, enggak enak juga. Tadi kan aku udah bilang kalau mau pulang.


Kalau nanya Nadia, jelas enggak enak. Dari kemarin mereka tak berkomunikasi, masa tau-tau menanyakan dia lagi ada di mana.


Tanya ke Viona, lebih enggak enak lagi. Yang ada, Viona malah ge er. Surya sudah tahu kalau Viona menyukainya. Dan selalu mengejarnya. Berusaha mencari peluang untuk mendekatinya. Karena Nadia selalu mengatakan kalau dirinya dan Nadia hanya bersahabat.


Surya menimbang-nimbang sebelum masuk ke mobilnya. Akhirnya dia memilih kembali ke kantin.


Yogi belum jadi menyentuh makanannya. Dia kembali asik chat dengan Viona. Meski dia harus sabar menunggu balasan dari Viona.


Tapi demi cintanya pada Viona, Yogi yang terkenal sering ke pub dengan cewek-cewek, setia menunggu jawaban gadis incarannya.


"Eh, balik lagi," ucap Yogi.


"Ada pulpenku ketinggalan enggak?" tanya Surya berbohong. Cuma itu satu-satunya alasan yang muncul di otaknya.


Yogi meneliti meja bekas Surya meletakan buku-bukunya. Surya pun pura-pura mencarinya sampai ke kolong.


"Enggak ada, Bro," ucap Yogi.


Jelas saja enggak ketemu. Kan Surya cuma cari alasan saja. Biar dia punya alasan kembali lagi.


"Ya udah, deh." Surya duduk di depan kursinya Yogi. Kebetulan gelas bekasnya tadi belum diangkut oleh pelayan kantin.


Diambilnya gelas itu dan diminumnya sisa es jeruknya.


"Haus banget lu, Bro? Itu kan minuman bekas," tanya Yogi. Setahunya Surya orangnya sangat menjaga kebersihan.


"Bekas aku tadi, kan?" sahut Surya tanpa merasa bersalah.


"Kan bisa pesan lagi, Bro. Kalau enggak punya duit, entar aku bayarin," ucap Yogi.


"Enggak kok. Eh, makananmu masih utuh?" Surya mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa, mau?" Yogi menggeser mangkuk sotonya ke depan Surya.


"Enggak. Aku udah sarapan tadi pagi di Jogja. Masih kenyang," jawab Surya apa adanya.


"Busyet, sarapan aja di Jogja. Entar makan malamnya di Bandung, Bro," sahut Yogi.


"Ya kan, aku berangkatnya dari Jogja tadi selesai sarapan. Sibuk amat kamu, Yog?" tanya Surya kepo. Dia yakin kalau Yogi masih berbalas chat dengan Viona.

__ADS_1


"Hahaha. Biasalah, Bro. Nunggu balasan chat dari ayank Viona." Yogi tertawa senang.


Tepat sekali pertanyaan Surya. Saatnya dia menanyakan di mall mana mereka berada.


__ADS_2