PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 99 VIONA VS IKAN DUYUNG


__ADS_3

"Siapa?" tanya Putra.


"Mm...Yogi. Teman kuliahku," jawab Viona.


Yogi sedang duduk satu meja dengan kedua orang tuanya, juga mak Yati. Mereka sedang menikmati hari terakhir di kampung halaman mak Yati.


Besok pagi mereka akan kembali ke kotanya. Karena mereka punya janji menghabiskan long weekend dengan keluarga Surya.


Viona melingkarkan tangannya ke pinggang Putra. Viona sengaja melakukannya, karena dia merasa kalau Yogi masih terus mengejarnya.


Meskipun akhir-akhir ini Yogi terlihat menjauh. Tapi Viona berpikir itu hanya trik Yogi saja.


Putra pun mengangguk dan tersenyum ke arah Yogi. Yogi membalasnya dengan anggukan juga.


Viona dan Putra mendapatkan meja yang agak jauh dari Yogi. Karena meski terlihat sepi, ternyata beberapa meja di sana telah dibooking pelanggan.


"Siapa, Yog?" tanya Novia.


"Viona, Ma. Teman kuliah Yogi," jawab Yogi dengan malas.


Ya, akhir-akhir ini Yogi malas bertemu Viona. Tapi ternyata takdir berkata lain. Yogi bertemu lagi dengan Viona, bahkan di tempat yang sangat jauh.


Tapi, Viona tak sendiri. Dia bersama seorang lelaki. Lelaki yang wajahnya terlihat sangat keras, dengan rahang yang kokoh.


Apa dia pacarnya Viona? Apa karena lelaki itu hingga Viona menolaknya? Tapi kenapa Viona malah mengejar Surya? Apa Viona ingin punya banyak pacar?


Ah! Masa bodo! Aku tak mau memikirkan Viona lagi. Sudah cukup bagiku dikecewakan oleh dia. Batin Yogi.


"Kok dia bisa ada di sini? Dia orang asli sini?" tanya Novia lagi.


"Yogi enggak tahu, Ma," jawab Yogi. Bete banget dia mamanya malah bertanya tentang Viona.


Novia menangkap perasaan tak suka dari Yogi terhadap Viona. Ada apa dengan mereka?


Apa Yogi pernah naksir Viona itu, tapi Vionanya udah punya pacar?


Novia malah tersenyum sendiri. Ah, namanya juga anak muda. Ditolak yang satu, masih banyak yang lainnya.


Nyatanya, sekarang sudah ada Sinta yang akan menggantikan Viona di hati Yogi. Itu juga kalau memang Yogi pernah menyukai Viona. Batin Novia.


"Mama kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Arya.


"Enggak apa-apa, Pa. Lagi seneng aja. Kita bisa puas menikmati liburan ini. Besok kita liburan sama keluarganya Sinta," jawab Novia.


"Mama enggak capek?" tanya Arya lagi.


"Mama mana ada capeknya kalau jalan-jalan." Yogi yang menyahut.


"Bisa aja kamu, Yog. Kapan lagi Mama bisa jalan-jalan? Papamu kan sibuk melulu," sahut Novia.


Novia selalu mengikuti kemanapun Arya pergi. Meski itu untuk urusan bisnis. Karena kedudukan Novia sebagai sekretaris pribadi.

__ADS_1


Dan itu membuat Novia merasa aman dari gangguan pelakor-pelakor yang terkutuk.


Meskipun dia harus merelakan jauh dari anak satu-satunya.


Ditengah keasikan mereka makan, diam-diam Yogi memperhatikan Viona dan Putra.


Bahkan beberapa kali, Yogi melihat Viona mendekatkan wajahnya pada Putra. Entah Viona sedang mencium Putra, atau sedang berbisik.


Mereka begitu mesra. Aku tak menyangka ternyata Viona begitu. Batin Yogi.


Aku harus mengatakannya pada Surya. Biar Surya tak perlu lagi memikirkan Viona yang sudah punya pacar.


Dan pastinya untuk dirinya sendiri. Meski kini Yogi tak lagi mengejar Viona.


Yogi belum tahu, kalau hubungan Surya dengan Nadia sudah membaik. Bahkan boleh jadi, mereka sudah jadian.


Karena Surya sudah nembak Nadia. Dan sepertinya Nadia tak menolaknya.


Kemudian Yogi pamit ke toilet. Sekalian dia juga mau merokok sebentar di luar.


Karena di restauran itu tidak boleh merokok di dalam ruangan.


Yogi mencari toilet. Letaknya dibagian luar restauran.


Saat keluar dari toilet, Yogi bertemu dengan Putra. Mereka belum saling kenal. Mereka hanya berpandangan dan saling mengangguk.


Lalu tiba-tiba Putra mengulurkan tangannya.


"Aku Putra. Temannya Viona," ucap Putra.


Yogi pun menyambut uluran tangan Putra.


"Yogi. Teman kuliah Viona," sahut Yogi.


"Iya. Tadi Viona sudah mengatakannya. Kalian tidak akrab?" tanya Putra.


Viona aja yang tak mau akrab denganku. Malah menolakku. Batin Yogi.


"Biasa aja. Sudah lama dekat dengan...Viona?" Jiwa kepo Yogi meronta.


Entah kenapa, Yogi yang biasanya tak pernah kepo dengan urusan orang lain, kali ini dia ingin tahu.


"Kami baru dua kali ketemu," jawab Putra apa adanya.


Dua kali dan langsung pelukan? Segampang itu?


"Oh ya?" Yogi tak percaya.


Karena posisi mereka ada di luar ruangan, Yogi mengeluarkan rokoknya.


Dia menawarkan pada Putra lebih dulu. Putra yang jarang menemukan rokok seperti itu, langsung menyambutnya.

__ADS_1


"Aku seorang pelaut. Baru dua kali kapal tempatku bekerja bersandar di pelabuhan ini. Dan dua kali juga ketemu dengan Viona," sahut Putra.


Kayak nenek moyangku aja, seorang pelaut. Batin Yogi.


"Kalian janjian?" tanya Yogi.


"Aku tak punya hape. Cuma kebetulan. Mungkin jodoh. Hahaha." Putra tertawa bangga.


"Kenapa tak punya hape? Bukannya gaji seorang pelaut itu besar?" Yogi kembali menyangsikan omongan Putra.


"Aku ingin fokus menyelesaikan kontrak kerjaku selama lima tahun ini. Lagipula, di laut lepas tak ada sinyal. Jadi tak ada gunanya punya hape," sahut Putra.


"Kontrak selama lima tahun?"


Putra mengangguk.


"Dan selama itu kamu ada di laut?"


"Sembilan puluh persen hidupku di laut sana. Membosankan. Tapi dinikmati aja," jawab Putra.


"Hebat! Kalau aku bisa mati muda. Enggak bisa hang out, enggak bisa juga liat cewek-cewek cantik. Hahaha." Giliran Yogi yang tertawa.


"Makanya aku sangat respect begitu ketemu Viona. Dan ternyata dia memiliki perasaan yang sama," sahut Putra.


"Ya. Viona memang cantik," puji Yogi. Bahkan Yogi pernah tergila-gila padanya.


"Betul. Meski aku sebenarnya lebih suka dengan cewek yang sederhana. Tapi apa mau dikata? Kalau dikasih rejeki cewek cantik, masa ditolak? Hahaha."


"Sama seperti sahabatku di sana. Cuma bedanya dia tetap memilih mencintai cewek yang sederhana, meski ujung-ujungnya ditolak juga, setelah dia menolak cewek cantik. Hahaha."


Mereka pun tertawa bersama.


Beruntung elu Putra, bisa mendapatkan Viona. Sementara gue, mesti rela mundur teratur.


Tapi tak apa. Mundur dari Viona, malah dapat Sinta. Cewek cantik yang sederhana. Batin Yogi.


"Oh ya? Sahabatmu kurang ganteng, kali," sahut Putra.


"Waduh. Kalau ngomongin ganteng, artis aja kalah ganteng dari sahabatku. Tapi ya itu, nasibnya apes! Hahaha."


"Bisa aja. Kalau kamu sendiri, apes enggak?" tanya Putra.


"Apes juga. Gue ditolak ama cewek cantik!" Yogi menepuk jidatnya sendiri.


"Tenang, Bro. Stock cewek cantik di dunia ini masih banyak. Kecuali di laut sana. Adanya cuma ikan duyung! Hahaha."


"Udah pernah kencan ama ikan duyung?" tanya Yogi.


"Gue masih normal, Bro," jawab Putra.


"Syukurlah. Kamu serius kan sama Viona?" tanya Yogi lagi.

__ADS_1


"Gue enggak janji, Bro. Kalau jodoh ya bakalan ketemu lagi. Kalau enggak, ya gue terpaksa menikahi ikan duyung. Hahaha."


"Eh, gue duluan, ya. Kasihan Viona sendirian. Takut dicaplok ikan paus! Hahaha." Putra pun pergi meninggalkan Yogi.


__ADS_2