
Yogi menepis tangan Surya. Apalagi beberapa pasang mata cewek menatap ke arah mereka.
"Eh, liat tuh cewek-cewek yang ada di sana. Mereka ngeliatin kita terus. Sambi ketawa-tawa pula," ucap Yogi.
"Terus masalahnya dimana?" tanya Surya.
Surya memang cenderung tak pernah mempedulikan pandangan cewek-cewek padanya.
"Bro, jangan sampai mereka mengira kita enggak normal," jawab Yogi.
"Enggak normal?" Surya malah enggak paham. Mungkin karena pikirannya tak sampai kesana.
"Bisa aja mereka mengira kita ini pasangan gay! Ah, elu lelet amat sih mikirnya!" Yogi jadi gemes pada Surya.
"Kamu yang mikirnya kejauhan! Lagian kalau aku gay, aku enggak akan naksir kamu!" sahut Surya.
"Kenapa? Apa kurangnya gue? Gue ganteng!" Yogi merasa percaya diri..
"Ganteng tapi nyebelin! Males banget kan punya pasangan yang nyebelin?" ucap Surya.
"Sialan lu! Masa gue dikatain nyebelin. Kalau kagak ada orang, gue cium lu!"
"Hiih...!" Surya bergidig ngeri.
Surya sendiri kalau lagi gemes sama Yogi, suka merasa kepingin menelannya hidup-hidup.
Surya menoleh ke arah tiga orang cewek yang kata Yogi lagi melihat ke arah mereka.
"Ngapain lu liat-liat?" tanya Yogi.
"Katanya aku suruh cari pasangan, biar kamu bisa nembak Sinta?" sahut Surya.
"Ya enggak gitu juga kali, dodol!"
"Lho, mereka kan juga cewek. Masa aku mesti ngeliatin cowok juga? Entar kamu cemburu!" Dan mereka pun tertawa bersama.
Ketiga cewek itu masih saja bisik-bisik. Tapi sayangnya Yogi dan Surya tak lagi mempedulikannya.
"Bro, gue minta elu jangan mengorbankan perasaan lagi cuma karena pingin liat gue ama Sinta bahagia. Gue udah bahagia kok, meski sejauh ini gue belum yakin ama perasaan gue sendiri," pinta Yogi.
"Dan gue akan lebih bahagia lagi, kalau elu mesenin makanan. Gue laper, Bro." Lalu Yogi ngakak.
Tapi memang dia lagi lapar. Padahal tadi di kantin kampus mereka sudah makan siang.
"Laper lagi?" tanya Surya.
"Ngomong serius juga menguras energi, Bro. Elu kagak liat muka gue udah pucet?" jawab Yogi.
"Itu bukan pucet, tapi rakus!" sahut Surya.
"Tega amat ngatain adik iparnya rakus. Gue kan lagi masa pertumbuhan, Bro."
"Mau kamu badannya mekar kayak kingkong?" tanya Surya.
"Ya jangan kayak kingkong juga lah. Gue kan pingin punya badan kayak elu. Padat berisi. Kayak beruang kutub. Hahaha!"
"Sialan kamu. Malah ngatain aku kayak beruang kutub. Pesen sendiri sana!" Surya mulai ngambek.
__ADS_1
"Cie....ngambek....!" Yogi menowel pipi Surya.
"Ish. Pake nowel-nowel. Emang aku cowok apaan?" Surya membalas omongan Yogi tadi.
Lalu mereka tertawa lagi.
"Eh, mereka gay bukan sih?" tanya salah satu cewek itu pada dua temennya.
"Mana kita tau. Yang pasti, mereka bukan type ku. Ganteng-ganteng tapi nakutin," sahut yang lainnya.
"Ya udah, kita pulang yuk. Jangan sampai kita kecantol ama gay. Hiih...!" Lalu mereka pulang.
Dan saat melewati meja Surya dan Yogi, mereka menatap seperti melecehkan.
Yogi cuma menatap mereka satu persatu.
"Kamu naksir salah satu di antara mereka?" tanya Surya.
"Enggak ada yang bisa bikin hati ini bergetar, Bro," jawab Yogi.
"Sama." Surya pun merasa tak ada yang menarik hatinya.
"Eh, Yog. Kamu pernah enggak kangen sama Sinta?" tanya Surya.
"Pasti, Bro. Gue juga sering kangen ama elu. Bingung kan, lu?" jawab Yogi.
Surya hanya garuk-garuk kepalanya. Mungkin karena mereka sudah sangat akrab hingga muncul rasa sayang, juga kangen kalau sebentar saja enggak ketemu.
"Udah ah, pulang yuk. Kayaknya obrolan ini enggak ada juntrungannya. Enggak ada titik temunya." Surya beranjak berdiri.
"Lha, terus gue makannya gimana?" tanya Yogi.
"Satu jam lebih dikit, kita makan malam di rumahku. Kamu ikut aku pulang, kan?" tanya Surya.
"Yaelah, Bro. Orang laper disuruh nunggu. Entar kalau gue pingsan gimana?" Yogi berlagak hampir pingsan.
"Aku tinggal lah. Males amat ngurusin orang pingsan." Surya terus saja melangkah keluar dari cafe.
"Tega lu, Bro." Yogi masih saja ngomel.
Surya tak peduli, dia tetap naik ke motornya dan pergi meninggalkan area cafe.
Dengan kesal, Yogi mengikuti Surya.
Dan tiba-tiba, Surya menghentikan motornya di depan sebuah gerai martabak telor.
Mata Yogi langsung berbinar, melihat makanan kesukaannya.
"Lu mau beliin gue, Bro?" tanya Surya.
"Ge er. Sinta yang minta!" jawab Surya.
"Hhmm. Ya udah, aku pesen sendiri aja. Biar puas makannya." Yogi pun memesan sendiri.
Sampai di rumah Surya, Sinta menunggu mereka di teras ditemani Rahma.
"Nih. Martabak telurnya." Surya memberikan plastik berisi kotak maratabak telur.
__ADS_1
"Makasih, Kak. Ini buat Kak Yogi, kok. Katanya dia paling suka sama martabak telur," sahut Sinta.
Surya langsung mengambil kembali martabaknya.
"Kok diambil lagi?" tanya Sinta kebingungan.
"Tuh, dia udah beli sendiri. Ini buat aku aja sama mama. Mama mau, kan?" Surya menawari Rahma.
"Terus aku?" tanya Sinta.
"Kamu berdua Yogi. Tuh, biar dia enggak kegendutan!" Surya menunjuk plastik yang dibawa Yogi.
"Ayo, Ma. Kita makan." Surya duduk di sebelah Rahma.
Yogi pun membagi martabaknya dengan Sinta. Niat awalnya beli sendiri biar puas, terpaksa berbagi dengan Sinta.
Yogi dan Sinta yang sama-sama penggemar berat martabak telur, berebut makannya.
Rahma sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah mereka yang kayak anak kecil.
Tak lama, mobil Toni datang. Hari ini tak banyak pekerjaan di kantornya. Jadi dia bisa pulang lebih awal.
"Ada apa ini, rame amat?" tanya Toni. Lalu dia memberikan bungkusan plastik pada Rahma.
"Apaan ini, Pa?" tanya Rahma.
"Tadi Papa mampir ke gerai martabak telur. Ternyata kalian malah udah pada makan. Ya udah, ini buat Papa aja."
Toni pun mengambil kembali bungkusannya.
"Buat Sinta aja, Pa. Yogi makannya banyak banget. Sinta cuma kebagian sedikit," pinta Sinta.
"Ya udah. Nih." Toni memberikan bungkusan martabaknya pada Sinta.
"Nanti malam, Papa mau ajak kalian makan malam diluar, mau? Ada undangan dari teman Papa," tanya Toni.
"Mau dong," jawab Sinta.
"Mau banget." Surya pun tak menolak.
"Yogi ikut aja sekalian," ajak Rahma.
"Enggak usah, Tante. Saya nanti pulang aja," jawab Yogi.
Ada kekecewaan dalam hatinya. Mestinya dia bisa makan malam bareng keluarga Surya.
"Enggak apa-apa kalau Yogi mau ikut. Acaranya santai, kok," ucap Toni mengiyakan ajakan Rahma.
"Tapi nanti malah jadi enggak enak, Om," Yogi masih berbasa basi.
"Udah, pura-pura nolak lagi. Ikut aja," ucap Surya.
"Iya, Kak. Ikut aja. Nemenin aku." Sinta ikut mendukung.
"Baju gue gimana nih, Bro? Masa enggak ganti," bisik Yogi di telinga Surya.
"Pake bajuku. Apa mau pinjem bajunya Sinta?"
__ADS_1
Yogi langsung melotot.