
Sementara Yogi mengajak Viona ke sebuah cafe. Ini benar-benar kesempatan pertama bagi Yogi. Selama ini kalau mereka pergi bersama, pasti ada Nadia juga Surya.
"Mau pesan apa, Vi?" tanya Yogi.
Meski Yogi laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan, tapi tak pernah ada perasaan apa-apa. Hanya pada Viona dia merasakan getaran.
"Aku mau minum aja."
Viona meraih daftar menu dan memesan orange juice kesukaannya.
"Udah ini aja?" tanya Yogi.
Viona yang sedang galau, mengangguk.
"Tambah cemilan ya? Enggak enak kan kalau ngobrol tanpa cemilan."
Tanpa menunggu persetujuan Viona, Yogi memesan cemilan yang sering dipesan Viona dan Nadia saat mereka nongkrong bersama.
"Vi. Boleh aku jujur sama kamu?" Yogi menatap wajah Viona yang terlihat sendu.
Viona hanya mengangguk. Dia sudah bisa menebak apa yang bakal dikatakan oleh Yogi.
"Vi. Aku....Aku mencintai kamu." Yogi menelan ludahnya. Lalu meraih tangan Viona. Viona tak menepisnya.
"Vi....mau kan kamu mencoba menerima cintaku?" pinta Yogi.
"Aku berjanji akan selalu melindungimu. Menyayangimu dan membahagiakanmu."
Yogi yang merasa tak ditolak oleh Viona, mengecup tangan Viona dengan lembut.
Viona masih tak bereaksi. Tatapan matanya masih kosong ke depan.
Apalagi sesaat kemudian, seorang pelayan cafe datang mengantar pesanan mereka.
Yogi mendekatkan gelas minuman Viona. Viona meraihnya dan hanya mengaduk-aduk dengan sedotan.
Viona masih terus mengingat bagaimana perlakuan Surya pada Nadia yang begitu lembut. Juga perlakuan keluarga Surya yang begitu perhatian dengan Nadia.
Kenapa mesti Nadia yang beruntung mendapatkan perlakuan itu?
Kenapa Surya tak pernah lelah memberikan perhatian pada Nadia yang hanya menganggap sebagai sahabat?
Tapi apa setelah kejadian ini mereka masih tetap bersahabat? Atau akan merubah status mereka menjadi sepasang kekasih?
Viona mengambil gelasnya dan langsung msnghabiskan minumannya hingga tandas. Dia melampiaskan kekecewaannya.
Yogi hanya menatapnya dengan rasa kasihan. Kasihan pada Viona yang cintanya pada Surya bertepuk sebelah tangan. Seperti halnya dia sendiri.
Ah, tidak. Aku akan terus memperjuangkan perasaanku. Aku akan terus mengetuk pintu Viona agar terbuka untukku.
Seperti halnya Surya yang tak pernah lelah memperjuangkan cintanya untuk Nadia.
__ADS_1
"Mau pesan minum lagi?" tanya Yogi.
Viona menggeleng. Perutnya sudah cukup penuh oleh segelas orange juice.
Yogi mendekatkan french fries pesanannya ke depan Viona yang duduk di depannya. Lalu mengambilnya satu dan mencoba menyuapkannya pada Viona.
Yogi tersenyum saat Viona tak menolaknya. Viona membuka mulutnya dan memakan french fries suapan Yogi.
Yogi merasa pintu itu sudah mulai terkuak. Meski baru sedikit.
"Vi, kenapa tadi kalian membolos?" tanya Yogi mencoba membuka pembicaraan lain. Setahunya, Viona gadis yang ramai kalau bicara.
Bahkan lebih ramai dari Nadia. Dan mereka akan terlihat sangat seru saat bersama.
Itu salah satu hal yang disukainya dari Viona. Yogi tak suka dengan gadis yang sok jaim. Sok alim tapi di belakangnya ternyata urakan.
Dia lebih suka dengan gadis yang apa adanya seperti Viona.
Viona tersenyum mengingat kejadian tadi pagi di kelasnya. Naluri bawelnya meronta.
"Gara-gara Nadia," jawab Viona.
"Kok gara-gara Nadia? Gimana ceritanya?" pancing Surya. Dia sudah bisa membuat kegalauan Viona perlahan menghilang.
Dan Viona pun dengan semangat menceritakan kekonyolannya yang mengakibatkan mereka berdua harus keluar dari kelas.
"Hahaha. Kalian kompak banget, sih?" komentar Yogi sambil tertawa.
"Terus kalian jalan-jalan ke mall?" tanya Yogi.
"Iya. Udah terlanjur malas balik ke kelas. Ya udah aja kita refreshing. Pulangnya, Nadia main ke kosanku sampai tadi sebelum kecelakaan itu," jawab Viona.
"Besok kamu ada kuliah jam berapa, Vi?"
Yogi belum hafal jadwal kuliah Viona. Lain dengan Surya yang hafal di luar kepala jadwal kuliah Nadia.
"Pagi. Jam tujuh," jawab Viona.
"Aku jemput, ya?" tanya Yogi dengan perasaan harap-harap cemas.
"Enggak usah. Nanti malah ngerepotin kamu," jawab Viona.
Sejak mulai ngekos, Viona terdidik mandiri. Kedua orang tuanya selalu mengingatkan untuk tidak merepotkan orang lain.
Kata mereka biar nantinya tidak terikat dengan balas budi.
"Ya enggaklah. Aku juga ada kelas pagi. Kan bisa sekalian jalannya," sahut Yogi.
"Ya udah, asal enggak ngerepotin."
Yes! Yogi bersorak dalam hati. Satu point lagi dia dapatkan dari Viona.
__ADS_1
"Yog, pulang yuk. Udah malam. Aku ada tugas yang harus dikumpulin besok pagi," ajak Viona.
Yogi mengangguk setuju. Meskipun dalam hati masih ingin berduaan dengan Viona.
Besok masih banyak waktu. Dan aku yakin, perlahan Viona akan membuka hatinya untukku. Batin Yogi.
Sementara Surya di kamarnya tak bisa tidur. Dia masih terus mengkhawatirkan Nadia.
Dia masih ingat wajah Nadia yang terus saja meringis menahan perih. Pasti sekarang dia lagi kesakitan. Batin Surya.
Surya mengambil ponselnya. Dia ingin melihat kapan Nadia membuka aplikasi chatnya. Dan ternyata Nadia masih online.
Ngapain jam segini dia masih online? Surya melihat jam di sudut ponselnya. Jam sembilan malam. Biasanya ponsel Nadia sudah off.
Surya mencoba mengirimkan pesan chat. Dia hanya sekedar menanyakan bagaimana kondisi lukanya.
Cukup lama Surya menunggu balasan dari Nadia. Entah sedang sibuk chat dengan siapa, sampai pesan chatnya hampir lima belas menit baru dibaca.
Nadia mengatakan kalau kondisinya udah mendingan. Tapi belum bisa tidur.
Dan Nadia kembali asik sendiri lagi. Chat dari Surya tak lagi dibacanya.
Hati Surya mulai panas. Tak biasanya Nadia mengacuhkannya. Biasanya kalau merasa terganggu, Nadia akan menelponnya dan ngomel-ngomel.
Tapi sekarang, chatnya hanya dibalas sesempatnya saja. Ingin rasanya Surya mendatangi rumah Nadia dan mendekapnya biar enggak sibuk lagi dengan ponsel.
Akhirnya Surya memberanikan diri lagi, menelpon Nadia. Dan sesuatu yang tak pernah dibayangkan Surya, terjadi.
Nadia menolak panggilannya.
Surya terperanjat. Lalu kembali menelpon Nadia. Dan kembali Nadia menolaknya.
Ada apa dengan Nadia? Tak biasanya dia begini? Apa aku ada salah dengannya?
Surya berusaha mengingat-ingat apa yang telah dilakukannya tadi. Surya merasa tak ada yang salah dengannya.
Tapi ini?
Aakkhh!
Surya melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Lalu dia meraih munci motornya.
"Mau kemana, Sur?" tanya Rahma yang kebetulan melihat Surya melintas depan kamarnya.
"Keluar sebentar, Ma," jawab Surya tanpa menoleh.
"Udah malam, lho!" seru Rahma, karena Surya sudah semakin menjauh.
Surya yang lagi kesal, tak menggubrisnya. Dia terus saja berjalan keluar. Mengambil motornya dan pergi.
Rahma yang mengikutinya hanya melongo. Tak biasanya Surya bersikap seperti ini.
__ADS_1
"Udah biarin aja. Dia udah gede. Nanti juga pulang." Toni yang juga mengikuti Rahma, menarik tangan istrinya itu untuk kembali masuk ke kamar mereka.