PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 126 KETEMU LAGI


__ADS_3

Sebulan kemudian, semua berjalan dengan baik. Surya sudah bisa menerima kenyataan.


Bahkan dia tak lagi peduli pada Nadia. Dia tak datang lagi ke rumah Nadia. Walaupun hanya sekedar untuk mengakhiri semuanya.


Bagi Surya, semua sudah berakhir setelah dia mendengar sendiri curahan hati Nadia pada mamanya.


Sinta sudah mengatakan pada mama dan papanya, agar tak membahas soal Nadia saat ada Surya.


Dan jangan pernah membiarkan Surya sendirian. Tapi jangan terlalu dikekang juga.


Sinta juga mengalah. Tak egois menghabiskan waktunya hanya untuk Yogi.


Sinta dan Yogi selalu menyertakan Surya dalam setiap acara mereka.


Mereka ibarat tiga sahabat. Meski kadang Yogi yang nakal, suka mencuri-curi kesempatan untuk sekedar mencium Sinta.


Tapi malam itu, Surya yang dapat undangan ulang tahun dari Celyn, terpaksa datang sendirian.


Sinta menolak ikut, karena tidak enak pada tuan rumah. Undangan satu yang datang bertiga.


Sinta juga lagi banyak tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok pagi.


Dan Yogi pasti lebih memilih menemani Sinta mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.


Apalagi Yogi tak begitu suka dengan Celyn juga Defa, kakaknya Celyn.


Celyn merayakan ulang tahunnya di daerah puncak. Cukup jauh dari kota tempat tinggal mereka.


Tadinya Surya tak berminat datang. Karena jauh, sendirian juga.


Tapi Yogi memaksanya. Kata Yogi pada Sinta, biar Surya lebih berani. Juga biar dunianya lebih luas lagi. Enggak cuma berkutat dengan buku dan tugas-tugas kuliah.


Paling mentok hang out dengan Yogi dan Sinta.


Rahma pun sudah mulai mengurangi sikap over protektifnya. Dia sudah bisa rela melepaskan Surya lebih bebas.


Kalau kata Yogi, anak laki enggak bakalan hamil.


"Lah, kalau menghamili anak orang?" tanya Sinta waktu itu.


"Ya tinggal dikawinin aja. Biar Surya enggak jadi jomblo seumur hidup," jawab Yogi.


Sinta tak pernah bisa membalas jawaban Yogi, yang kadang asal bunyi.


Kadang Sinta suka kesal dengan candaan Yogi. Tapi kenyataannya Yogi selalu membuat Sinta bahagia dan nyaman.


Dan malam itu, Yogi meminjamkan mobilnya pada Surya. Surya tak bisa menolaknya.


Lagi pula, Surya sedang merasa jenuh. Dia ingin refreshing.


"Udah lu, berangkat sono. Bensin udah gue isiin full. Apalagi? Uang saku? Apa kado? Udah tua, kagak perlu kado-kadoan. Noh, tinggal petikin bunga mawar di depan," ucap Yogi yang semakin hari semakin bawel.


Surya hanya mendengus.

__ADS_1


"Sebentar, Kak!" Sinta lari masuk ke kamarnya. Lalu keluar lagi bawa sebuah kado.


"Nih. Isinya dompet batik yang waktu itu aku beli di Jogja. Udah aku bungkus rapi. Kalau Kakak mau, bawa aja," ucap Sinta sambil memberikan kado itu pada Surya.


"Udah bawa aja, Bro. Daripada elu kagak bawa apa-apa," sahut Yogi.


Meski ragu, akhirnya Surya pergi juga. Sendirian.


Enak enggak enak. Dari pada jenuh dengan semua tugas kuliah yang makin numpuk.


Setelah hampir dua jam perjalanan, Surya sampai di alamat villa yang disharelok Celyn.


Sebuah villa yang cukup besar. Yang sudah dihias dengan aneka lampu dan balon-balon mirip acara ulang tahun anak TK.


Surya tersenyum simpul. Aneh. Udah tua masih aja mikirin pesta ulang tahun.


Dan benar saja, sepanjang jalan menuju ke dalam, dipenuhi balon-balon aneka warna dengan pita emas yang menjuntai.


Sampai di dalam, Surya disambut oleh dua orang badut yang disewa Celyn.


Salah satu badut itu memakaikan topi kertas berumbai-rumbai ke kepala Surya.


Surya menurut karena beberapa orang yang sudah datang pun sudah memakai topi itu.


"Hallo, Surya....! Apa kabar!" sapa Celyn dengan suara keras karena musik yang disetel pun sangat keras.


Surya hanya mengangguk dan menerima uluran tangan Celyn.


Dan tanpa diduga, Celyn menarik tangan Surya lalu mencium pipinya.


Surya terperangah.


Belum pernah dia dicium oleh wanita selain mamanya dan Sinta.


Celyn tersenyum lebar.


"Selamat ulang tahun ya, Cel," ucap Surya. Dia terpaksa memberikan satu kecupan di pipi Celyn. Hanya sekedar basa basi, menghargai Celyn. Dan biar tidak dianggap katrok.


Maklumlah, kehidupan dunia hingar bingar, kadang menuntut sebuah kebebasan.


Itulah kenapa Surya tak terlalu menyukainya. Orang terlalu mudah memberikan ciuman pada lawan jenis. Meskipun ciuman tanpa makna.


"Makasih Sur." Celyn menarik tangan Surya, agar bergabung dengan yang lainnya.


Di tengah ruangan yang cukup luas, sudah berdiri beberapa orang. Mereka lagi asik berbincang, seolah sudah sangat akrab.


Surya memperhatikan satu persatu. Wajah-wajah yang tak asing bagi Surya.


"Hay, Surya! Apa kabar?" sapa seorang wanita yang tak kalah cantik dari Celyn.


Surya sangat ingat dengan wajahnya. Tapi lupa namanya.


"Lupa ya, sama aku?" Wanita itu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Dengan ragu, Surya menerima uluran tangan itu.


"Anasya! Dulu kita pernah satu kelas lho," ucapnya.


Oh, iya. Cewek yang dari dulu cantik, tinggi dan putih. Salah satu saingan berat Celyn.


"Iya. Iya. Aku ingat. Anasya! Yang dulu pernah nangis di kelas gara-gara...."


Belum sempat Surya mengatakannya, tangan Anasya sudah menutup mulut Surya.


"Jangan diomongin di sini! Malu! Hahaha." Anasya tertawa renyah.


Surya menepis tangan Anasya dari depan mulutnya, perlahan.


Tapi Anasya malah menggenggam tangan Surya. Lalu dia menunjukan beberapa teman sekelas mereka sewaktu di SMA dulu.


Hhh! Ini acara ulang tahun apa reuni? Batin Surya.


Karena hampir semua yang datang adalah teman SMA mereka.


"Kenapa, Sur? Kaget ya? Mereka teman-teman SMA kita," ucap Celyn.


Celyn kembali ke dekat Surya. Anasya pun sudah melepaskan tangan Surya.


Surya mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu kan tau sendiri, aku kuliah di luar kota. Jadi di sini enggak punya banyak teman," lanjut Celyn.


"Tapi kamu masih bisa menghubungi mereka?" tanya Surya.


"Dari mulut ke mulut aja. Lagi pula, kita kan punya grup whatsapp. Kamu aja yang enggak mau masuk grup," jawab Celyn.


"Iya, Sur. Masuk grup lagi dong. Biar seru. Nanti aku masukin ya?" ucap Anasya.


"Kamu tinggal pilih, mau grup kelas apa grup angkatan. Aku adminnya," lanjut Anasya.


"Iya, gampang," sahut Surya.


Surya memang tak bergabung di grup manapun. Dulu dia dan Nadia dimasukan ke grup angkatan. Tapi terus memutuskan keluar karena terlalu ramai.


"Oke. Besok pagi aku masukin, ya. Biar makin kompak kita," ucap Anasya.


Surya hanya tersenyum. Mau menolak juga percuma. Ada beberapa teman yang sudah tahu nomor telpon Surya, dan pasti akan memasukannya.


Surya berbaur dengan mereka. Satu persatu menyalami dan menyapa Surya.


Sebagai salah satu siswa teladan juga ganteng, Surya cukup populer. Hampir semua kenal dengan Surya.


Surya nya saja yang sering mengabaikan mereka. Surya hanya mengenali wajah, karena hampir tiap hari ketemu.


Setelah hampir semuanya disapa, mata Surya melihat wajah yang selalu ingin dilupakannya.


Mata wanita itu juga sedang menatap ke arah Surya.

__ADS_1


Nadia....!


__ADS_2