PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 21 TATAKRAMA


__ADS_3

"Surya! Sinta! Ayo bangun! Kalian ini, sudah dibilangin berangkat pagi, malah jam segini belum bangun!" seru Rahma dengan kesal.


Sebenarnya salah Rahma juga, tak membangunkan mereka saat subuh tadi. Dia pikir, biasanya Surya sudah bangun dan sholat.


Surya dan Sinta sama-sama menggeliatkan badan. Lalu membuka matanya.


Rahma masih berdiri di dekat mereka sambil berkacak pinggang. Pakaiannya sudah rapi.


"Mama mau kemana?" tanya Sinta dengan suara yang masih parau.


"Mau kemana? Pagi ini kan kita pulang!" jawab Rahma.


Sinta mengernyitkan dahi. Otaknya belum konek. Maklum, nyawanya belum kumpul.


Surya bangkit dari tempat tidur duluan, karena dia yang tidur di bagian pinggir. Tak lupa dia mengacak rambut Sinta dulu sebelum meninggalkan kamar.


"Iih, Kakak! Iseng banget!" seru Sinta, lalu memeluk guling lagi.


"Eh, disuruh bangun kok malah tidur lagi." Rahma menarik guling yang dipeluk Sinta.


"Ayo bangun! Eyang sudah siapin sarapan. Kamu mandi terus sarapan. Pesawatnya jam delapan. Bandaranya di sini jauh," ucap Rahma lagi.


"Iya...." sahut Sinta dengan malas. Tapi dia tetap jalan juga. Jangan sampai tertinggal di rumah eyangnya. Bisa mati berdiri hidup dengan orang yang terlalu banyak aturan.


Seperti kemarin sore, Sinta pun mandi di kamar mamanya. Karena sudah keduluan Surya. Dan bisa lama nunggunya.


"Ma...! Tolong ambilin handukku!" teriak Sinta dari dalam kamar mandi.


Rahma yang sedang membereskan pakaiannya, mengambilkan handuk Sinta.


"Handuk siapa?" tanya eyang putri.


"Punya Sinta, Bu," jawab Rahma.


"Jangan biasakan anakmu memerintahmu. Itu ndak sopan!" ucap eyang putri ketus.


Dalam adatnya, tak boleh seorang anak memerintah orang tua. Apalagi sambil teriak-teriak.


"Sinta lupa membawanya, Bu. Tadi minta tolong sama saya," sahut Rahma dengan sopan.


"Minta tolong kok teriak-teriak," ucap eyang putri, lalu pergi ke ruang tamu.


Rahma kembali ke kamarnya. Memberikan handuk buat Sinta.


"Ini, Sin. Lain kali jangan teriak-teriak. Enggak enak didengar eyang putri," ucap Rahma sambil memberikan handuk pada anak gadisnya.


Tapi suara air dari kran yang cukup kencang, membuat Sinta tak mendengar ucapan mamanya.


Rahma kembali mengemasi pakaiannya.

__ADS_1


Tak lama, Sinta keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya yang sudah mulai terlihat seksi.


Sinta keluar dari kamar Rahma begitu saja.


"Eh, kok kamu ndak sopan? Kalau keluar dari kamar, ndak boleh cuma pakai handuk saja. Kamu sudah dewasa," ucap eyang putri yang kembali berjalan ke ruang makan.


"Lupa bawa baju, Eyang," sahut Sinta tanpa mempedulikan sorot tajam eyang putri. Lalu masuk ke kamarnya.


Eyang putri menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rahma kok yo ndak bisa mengajari anak dengan benar sih. Batin eyang putri.


"Kakak keluar dulu! Aku mau ganti baju!" seru Sinta mengusir Surya yang sedang menyisir rambutnya.


"Iya, bawel!" Surya keluar dari kamar.


"Sur, bawakan tas Mama keluar. Kamu juga sekalian bawa tasmu," perintah Rahma.


"Iya, Ma. Tas Surya masih di dalam kamar. Sinta lagi ganti baju," sahut Surya.


Tanpa menunggu diperintah dua kali, Surya membawakan tas mamanya ke ruang tamu.


"Panggil papa sekalian. Kita sarapan dulu!" ucap Rahma. Dia berjalan ke ruang makan. Membantu eyang putri menyiapkan sarapan.


"Kamu itu yang bener kalau mendidik anak. Masa anak gadis keluar dari kamar cuma pakai handuk!" Eyang putri mulai ceramah paginya.


"Anak gadismu yang mestinya melayani kamu. Bukan kamu yang selalu melayaninya. Ndak sopan," ucap eyang putri.


Dari dulu, eyang putri selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri. Kalau perlu meladeni orang tuanya. Bukan sebaliknya.


Rahma tak menjawab. Karena dalam ajaran di keluarganya, sangat tak sopan kalau menjawab omongan orang tua.


Tidak seperti anak jaman sekarang, yang lebih kritis. Selalu punya jawaban untuk sekedar membela diri.


Surya dan Toni masuk ke ruang makan. Disusul eyang kakung yang juga sudah rapi. Rencananya beliau akan mengantar sampai ke bandara.


"Bapak tidak usah mengantar kami ke bandara. Biar kami naik taksi online saja. Jaraknya kan jauh, Pak," ucap Toni. Dia kasihan kalau bapak mertuanya bolak balik dengan jarak yang lumayan jauh.


"Kalau bisa mengantar, kenapa mesti naik taksi online?" sahut eyang kakung.


Meski usinya sudah cukup lanjut, tapi badan eyang kakung masih terlihat bugar. Ini karena eyang kakung rajin olah raga jalan setiap habis subuh.


"Iya, Pak. Tapi percuma saja. Mobil bapak tidak cukup mengangkut kita berempat," ucap Toni, menolak dengan halus. Tanpa bermaksud membuat kedua mertuanya tersinggung.


Eyang kakung terdiam sejenak. Lalu mengangguk.


"Ya sudah. Nanti habis makan, segera pesan taksi online-nya. Biar ndak terlambat," sahut eyang kakung dengan bijak.


Eyang kakung orangnya lebih pengertian dibandingkan eyang putri yang saklek.

__ADS_1


"Sinta mana? Sudah tau mau berangkat pagi, malah lama ganti bajunya."


Rahma yang tak mau ibunya ngoceh terus, berdiri hendak memanggil anaknya yang lelet itu.


"Eh, mau kemana kamu? Kan ada Surya. Biar Surya yang memanggilkan," ucap eyang putri.


Rahma pun kembali duduk. Matanya memberi kode pada Surya untuk memanggilkan Sinta.


Belum sempat Surya berdiri, Sinta sudah datang ke ruang makan. Dia hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek.


Mata eyang putri langsung melotot. Cucu perempuannya ini benar-benar sangat tidak sopan.


"Kamu ndak punya rok atau celana panjang?" tanya eyang putri pada Sinta.


Sinta yang merasa tak bersalah, melihat ke sekujur tubuhnya. Dia tak merasa ada yang salah dengan penampilannya.


Rahma kembali memberi kode pada Sinta dengan matanya. Tapi sayangnya, Sinta tak seperti Surya yang cepat tanggap.


Dia malah dengan santainya menarik kursi dan duduk.


"Nanti setelah makan, biar Sinta ganti baju, Bu." Rahma berusaha membuat eyang putri tenang tak banyak protes dengan penampilan anak gadisnya.


"Biasakan kalau keluar rumah, ndak memakai celana pendek seperti itu. Kalau terjadi sesuatu, kan kita juga yang repot," sindir eyang putri.


Sinta yang tak begitu mendengar, dengan cueknya menyendokan nasi ke piringnya.


Eyang putri menatap tak suka dengan sikap Sinta. Yang tua-tua saja belum mengambil makanan, yang muda sudah mendahului.


Eyang putri hanya geleng-geleng kepala. Sementara Surya menyenggo kaki Sinta biar lebih sopan lagi.


"Apaan, sih!" pekik Sinta. Kaki Surya terasa mengganggunya.


Rahma memandangi Sinta yang tak tahu tatakrama sama sekali. Yang tua-tua belum mengambil makanan, dia sudah menyendok sana sini.


Rahma meraih piring suaminya, lalu mengisinya. Begitu juga dengan piring eyang kakung yang duduk tak jauh darinya.


Rahma tak ingin ada drama di meja makan soal kedua anaknya.


Mata Rahma memberi kode lagi pada Surya untuk mengambil nasi sendiri. Padahal kalau di rumah, dua anaknya ini selalu makan dengan seenaknya.


Surya mengangguk mengerti. Tapi tidak dengan Sinta. Dia cuek saja mengambil lagi lauk, padahal piringnya masih penuh makanan.


"Rahma. Ajari anak kamu tatakrama. Jangan mengikuti arus jaman. Nanti anak-anakmu jadi ndak sopan," ucap eyang putri.


"Sudah, makan dulu, Bu. Kalau Ibu komplain terus, mereka bisa terlambat dapat tiket pesawatnya," ucap eyang kakung.


Semua diam. Seperti tatakrama yang salalu diajarkan eyang putri.


Eyang putri pun tak berani membantah ucapan eyang kakung. Karena itu salah satu yang diajarkannya.

__ADS_1


__ADS_2