PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 116 TANGIS NADIA


__ADS_3

Nadia dan Viona pulang sendiri-sendiri. Karena tempat kos Viona tak satu arah dengan rumah Nadia.


Nadia pulang dengan taksi online, sedangkan Viona naik ojek online.


Viona lagi tak memikirkan kulitnya yang bakal kena matahari. Otaknya lagi fokus pada masalah tadi.


Nadia pun hanya diam saja di dalam mobil. Dia hanya terus saja menatap foto Dewa yang sedang mendekap Viona.


Ada rasa sakit menelusup di rongga dadanya. Setelah sekian lama dia menanti, ternyata Dewa telah menjadi kekasih sahabatnya sendiri.


Nadia tak menyalahkan Viona, karena memang Viona tak pernah tahu sebelumnya tentang Dewa.


Dan Dewa juga memperkenalkan dirinya sebagai Putra. Bahkan kalau saja Nadia tak melihat foto itu, dia tak pernah tahu kalau Putra adalah Dewa, meskipun Viona cerita.


Nadia menghapus bulir bening di matanya.


Nadia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Andai saja sejak awal dia menceritakan pada Viona dan memberikan foto Dewa, pasti Viona akan segera memberitahukannya, kalau dia telah ketemu dengan orang yang selama ini dicarinya.


Bodoh sekali aku! Kenapa aku mesti menyembunyikannya dari Viona.


Dewa...Jahat sekali kamu. Kamu telah berjanji padaku, suatu hari nanti akan datang menjemputku. Tapi kamu malah mencari wanita lain.


Dan kenapa harus Viona? Dia sahabatku! Jahat kamu, Dewa! Sungut Nadia dalam hati.


Ingin rasanya Nadia berlari mencari Dewa dan meminta pertanggung jawabannya.


Tapi...bagaimana dengan Surya?


Ah...!


Nadia kembali menghapus air matanya.


Hingga sampai di rumahnya, Nadia masih saja menyandarkan kepalanya. Matanya dia pejamkan, merasakan betapa sakit hatinya.


"Non. Sudah sampai," ucap sopir taksi online mengagetkan Nadia.


Nadia membuka matanya. Benar saja. Dia sudah sampai di depan rumahnya.


"Oh, iya. Terima kasih, Pak," ucap Nadia. Lalu bergegas turun dan masuk ke dalam rumahnya.


Nadia langsung naik ke lantai dua, tanpa menghiraukan tatapan Susi yang terkejut melihatnya.


Sopir taksi online, menoleh ke jok yang barusan dipakai Nadia. Dia melihat beberapa paper bag Nadia yang tertinggal.


"Permisi, Bu," ucap sopir taksi.


Susi menoleh.


"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Susi. Dia kembali terkejut, karena orang itu tau-tau sudah ada di depan pintu.


"Ini punya non Nadia. Ketinggalan. Tadi dia naik mobil saya." Sopir itu memberikan dua paper bag Nadia pada Susi.


"Oh iya, Pak.Terima kasih. Kalau boleh tahu, anak saya tadi naik dari mana, ya?" tanya Susi.


"Dari mal Serena, Bu. Permisi." Sopir itu langsung pergi.


Susi melihat isi paper bag Nadia. Lalu membawanya ke atas.


"Nad! Nadia...!" Susi mengetuk pintu kamar Nadia. Lalu membukanya.


"Ini punya kamu?" Susi memperlihatkan dua paper bag itu.


Nadia tak menjawab. Dia hanya mengangguk. Dadanya masih terasa sesak.

__ADS_1


Susi mendekat, menaruh paper bag itu di meja. Lalu menatap mata Nadia yang memerah.


"Kamu habis menangis?" tanya Susi perlahan.


Nadia tak menjawab. Dia masih berusaha mengatur nafasnya yang terasa berat.


"Kenapa?" Susi duduk di sebelah Nadia. Di sisi tempat tidur.


Bukannya menjawab, Nadia malah memeluk Susi dan menangis di sana.


Tangisan yang ditahannya sejak tadi. Sejak masih di mal.


Di taksi online, Nadia sudah sempat menangis, tapi masih tanpa suara.


Dan sekaranglah saatnya dia menangis sejadi-jadinya. Dimana cuma ada dia dan mamanya.


Susi menepuk-nepuk pelan punggung Nadia dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Ada apa dengan Nadia? Apa dia kecopetan di mal? Kalau memang iya, kenapa mesti menangis. Dia sanggup mengganti barang-barang Nadia yang hilang.


Dia ke mal sama siapa? Surya? Lalu di mana Surya? Apa mereka berantem, lalu Nadia pulang sendiri naik taksi online?


Susi belum bisa menanyakannya pada Nadia. Karena dia masih menangis dengan suara kencang.


Susi hanya bisa bersabar sambil terus membelai punggung Nadia.


Setelah Nadia capek menangis, dan suaranya mulai mengecil, Susi mulai bertanya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Susi perlahan.


Nadia melepaskan pelukannya. Lalu sibuk menghapus air mata juga ingusnya.


Susi menghela nafasnya.


Anak gadisnya masih saja jorok kayak anak kecil. Ingusnya hanya dilap dengan lengan bajunya.


Nadia mengelap ingusnya yang terus saja keluar.


Ih, ini anak nangis apa pilek sih? Banyak amat ingusnya! Batin Susi.


"Udah?" tanya Susi.


Nadia mengangguk.


Susi mengembalikan tissue ke meja belajar.


Susi kembali duduk di sebelah Nadia.


"Sekarang cerita sama Mama. Ada apa?" tanya Susi.


Nadia menatap wajah Susi. Lalu terlihat mewek lagi.


Susi menepuk jidatnya.


"Udah. Jangan nangis lagi. Ingusmu udah banyak, tuh!" Susi menunjuk tissue bekas pakai Nadia barusan.


Nadia tidak jadi menangis. Dia malah sesenggukan.


Susi menengok ke meja belajar Nadia. Mencari air putih. Mungkin anaknya ini butuh air putih.


Hhh! Enggak ada lagi!


Susi terpaksa keluar dari kamar Nadia dan berteriak lantang memanggil mbok Nah.

__ADS_1


"Iya, Bu....!" mbok Nah pun bergegas naik.


"Eh, stop. Enggak usah naik. Ambilkan air putih buat Nadia!" ucap Susi.


"Siap, Bu!" Mbok Nah berjalan mundur.


"Jangan jalan mundur juga, Mbok! Entar jatuh!" ucap Susi dengan suara cemprengnya.


Mbok Nah nyengir. Lalu membalikan badannya.


Susi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu kembali masuk ke kamar Nadia.


Nadia masih saja sesenggukan.


Susi duduk sambil menunggu air putih yang sedang diambilkan mbok Nah.


Tak lama, mbok Nah datang dengan segelas air putih.


"Ini, Bu." Mbok Nah memberikannya pada Susi.


Susi menerimanya, dan memberi tanda pada mbok Nah untuk pergi, dengan tangannya.


Mbok Nah yang paham, langsung balik badan dan keluar dari kamar Nadia.


"Ini. Minum dulu. Kalau sudah, cerita sama Mama," ucap Susi sambil memberikan gelas pada Nadia.


Nadia menerimanya dan langsung menenggaknya hingga kandas.


"Nih!" Nadia mengembalikan gelasnya pada Susi.


Susi mengangkat gelas itu dan melihatnya.


"Busyet. Haus, Nad?" tanya Susi.


Nadia mengangguk.


"Udah. Sekarang cerita," pinta Susi.


Nadia hanya diam. Dia bingung mau cerita dari mana.


"Ee...malah diam. Ya udah, sekarang jawab pertanyaan Mama. Kamu dari mana dan sama siapa?" Susi lebih baik memberikan pertanyaan. Daripada Nadia tak mau cerita.


"Dari mal. Sama Viona," jawab Nadia.


"Terus, kenapa pulang-pulang nangis? Viona nakalin kamu?" tanya Susi.


Nadia diam lagi.


"Ya...kok diam lagi. Kenapa kamu menangis, Nadia?" tanya Susi lagi dengan gemas.


Nadia mengambil ponselnya yang tadi dia lempar ke atas tempat tidur.


Susi dengan sabar menunggu. Apa yang akan dilakukan Nadia.


Nadia membuka galeri di ponselnya. Lalu memperlihatkan foto kiriman dari Viona tadi.


Susi memperhatikannya. Susi menatap wajah Viona di foto.


"Viona?" tanya Susi.


Nadia mengangguk.


Lalu Susi beralih ke wajah lelaki yang sedang memeluk Viona dari belakang. Dia seperti sangat mengenali wajah itu. Tapi siapa?

__ADS_1


"Ini?" tanya Susi.


"Dewa!"


__ADS_2