PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 140 TAK ADA YANG SEMPURNA


__ADS_3

Yogi melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sinta sudah kayak polisi lalu lintas yang selalu mengecek jarum spedometer.


Naik sedikit aja, Sinta sudah teriak-teriak. Mungkin kalau ada peluit, Sinta bakal meniupnya berkali-kali.


"Enggak usah kenceng-kenceng, A. Kampungnya kak Viona juga enggak akan pindah, kok," ucap Sinta saat melihat jarum spedometer naik ke angka di atasnya.


"Iya, bawel!" sahut Yogi.


"Tau gini, tadi enggak usah ikut!" gerutu Yogi.


"Enak aja! Nanti Aa kebut-kebutan. Terus kalau Aa kenapa-napa, gimana?" sahut Sinta yang mendengar gerutuan Yogi.


"Hhmm. Iya deh. Kamu tidur aja, ya. Nanti aku bangunin kalau udah nyampe," ucap Yogi.


"Enggak akan! Nanti kesempatan Aa ngebut, kan?" tolak Sinta.


Yogi terkekeh. Sinta tahu aja maksud Yogi.


"Ya udah, kalau enggak mau tidur, nyanyi aja deh," ucap Yogi.


"Itu kan udah ada yang nyanyi, A. Entar saingan, lagi." Sinta terkikik. Merasa lucu dengan kata-katanya sendiri.


"Kepedean, kamu!" Yogi mengacak rambut Sinta dengan tangan kirinya.


"Iih, Aa. Berantakan tau!" Sinta langsung manyun.


"Siapa suruh kamu kepedean! Hahaha." Yogi malah tergelak.


"A. Hapenya bunyi tuh." Sinta menunjuk ponsel Yogi yang diletakan di antara mereka.


"Dilihat deh, dari siapa," sahut Yogi.


Sinta mengambil ponsel Yogi.


"Telpon dari kak Viona," ucap Sinta.


"Angkat aja. Bilang aku lagi nyetir," ucap Yogi.


"Aku aktifin loudspeakernya deh." Sinta segera mengaktifkan loudspeaker ponsel Yogi.


"Iya hallo, Vi. Aku lagi di jalan nih. Ada apa?" tanya Yogi.


"Enggak apa-apa. Cuma mau mastiin aja. Udah sampai mana?" tanya Viona.


"Baru masuk tol. Ya...sekitar dua jam-an lagi kita sampai," jawab Yogi.


"Emang kamu sama siapa aja?" tanya Viona lagi.


"Aku sama Sinta," jawab Yogi.


"Sinta adiknya Surya?" tanya Putra pada Viona.


Viona mengangguk.


"Ya udah, ati-ati. Surya belum bisa dihubungi. Hapenya enggak aktif." Lalu Viona mematikan panggilannya.


"Coba kamu telpon Surya, Cin," pinta Yogi pada Sinta. Dia jadi khawatir karena Viona bilang nomor Surya tidak aktif.


"Iya. Enggak aktif, A," ucap Sinta. Dia juga jadi ikut khawatir.

__ADS_1


"Aelah! Kemana sih itu anak? Nyusahin aja!" gumam Yogi.


Sinta menoleh ke arah Yogi. Dia merasa tidak enak. Karena lagi-lagi kakaknya bikin masalah. Walaupun masih masalah itu-itu juga.


"Udah, enggak usah baper. Kakak kamu emang nyebelin, kan?" ucap Yogi. Dia tahu kalau Sinta baper dengan ucapannya.


"Iya. Labil. Plin plan," sahut Sinta. Dia juga merasa gemes dengan sikap tak tegas Surya.


"Itulah cinta. Kadang bikin orang kehilangan logika," ucap Yogi.


"Kayak lirik lagu aja. Kadang-kadang tak ada logika..." Sinta malah menyanyikan penggalan lirik lagu, yang dinyanyikan penyanyi terkenal Indonesia.


"Nah, gitu dong nyanyi. Buat hiburan," ucap Yogi.


"Ngantuk, A," ucap Sinta.


"Ya udah, tidur. Apa perlu aku kelonin?" goda Yogi.


"Iih...! Terus kalau ngelonin aku, kapan sampainya?" sahut Sinta.


"Gampang itu mah, besok sampainya juga enggak apa-apa. Yang penting bisa ngelonin kamu," sahut Yogi.


"Udah ah, A. Jangan nakut-nakutin!" ucap Sinta.


"Nakutin gimana? Orang mau ngenakin, kok," sahut Yogi lagi.


"Mau, ya?" ledek Yogi.


"Aa, udah ah. Nyetir aja, enggak usah berisik!" Sinta langsung memejamkan matanya.


Hhmm. Yogi tersenyum senang. Itu artinya dia bisa tancap gas tanpa ada yang protes.


Putra menguap. Tak ada pekerjaan membuatnya mengantuk.


"Kamu ngantuk?" tanya Viona.


"Iya. Mereka lama banget," jawab Putra.


"Ya lama, lah. Kan jauh," sahut Viona.


"Aku udah tau, Viona. Aku kan lama tinggal di sana. Sejak SMP," sahut Putra.


"Boleh aku tau, tentang kisah cintamu dengan...Nadia?" tanya Viona.


"Buat apa?" Putra kembali bertanya.


"Pingin tau aja," jawab Viona.


"Tanya aja sama yang bersangkutan. Kamu kenal, kan?" elak Putra.


"Kenal. Tapi Nadia merahasiakannya dariku. Dia tak pernah menceritakan apapun tentang kamu," sahut Viona.


"Ya pasti. Dia pasti malu punya pacar kayak aku. Aku itu anak orang yang tak punya. Beda dengan Surya. Dia anak orang kaya. Sebandinglah dengan keluarga Nadia," sahut Putra.


"Kenapa kamu jadi membanding-bandingkan dengan Surya?" tanya Viona.


"Bukan membanding-bandingkan. Aku cuma tau diri, kok. Aku tak ada apa-apanya dibandingkan Surya," jawab Putra. Dia lalu memejamkan matanya.


"Kamu tidur dulu aja di kamarku. Biar badanmu enggak capek," ucap Viona.

__ADS_1


"Hhmm. Aku udah biasa begini. Tidur di atas dak kapal. Hanya menyandar pada dinding kapal," sahut Putra.


Viona malah jadi kasihan pada Putra. Kehidupannya sangat keras.


Di saat teman-teman seusianya masih kuliah, bersenang-senang, dia malah sudah harus bekerja keras.


Entah apa yang membuatnya begitu. Viona belum berani bertanya. Karena Putra seperti menutup masalah pribadinya.


"Tapi ini kan bukan di kapal. Sekali-kali memanjakan diri dong," ucap Viona.


"Entar malah jadi kebiasaan manja!" sahut Putra.


"Ya udah, kalau enggak mau. Aku cuma pingin membuatmu nyaman aja sebentar," ucap Viona.


Putra membuka matanya. Lalu meraih tangan Viona.


"Makasih, Viona. Kamu sudah membuatku sangat nyaman. Kalau bisa jangan cuma sekarang. Tapi selamanya. Kamu mau?" pinta Putra.


Viona mengangguk.


Tentu saja dia mau. Hatinya kini telah tertambat pada Putra. Meskipun dia tahu akan banyak masalah di depan sana. Terutama dengan Nadia.


"Kenapa kamu mau denganku, Viona?" tanya Putra.


Viona menatap wajah Putra. Wajah yang di mata Viona sangat mempesona. Dan lebih mempesona lagi karena ada wanita lain yang mengharapkan Putra.


Meski khawatir, Putra akan berpaling darinya, tapi Viona merasa tertantang.


Bukan berarti Viona mau menantang Nadia. Tapi Viona ingin menjadi yang terbaik bagi Putra.


"Entahlah. Sejak pertama kita bertemu, aku seperti menemukan sesuatu yang lama aku cari," jawab Viona.


"Memangnya apa yang kamu cari?" tanya Putra.


"Kenyamanan," jawab Viona.


"Kamu nyaman denganku?" tanya Putra.


Viona mengangguk.


"Tapi aku kan enggak bisa menemani kamu setiap saat," ucap Putra.


"Enggak masalah. Malah membuat kita jadi semakin rindu. Rasa rindu itu yang memunculkan rasa...cinta," sahut Viona.


"Pinter juga kamu bikin kalimat puitis," puji Putra.


"Itu bukan kalimat puitis. Tapi kenyataan. Bukan kalimat klise," sahut Viona.


"Dan kenyataannya, apa kamu selalu merindukan aku, Viona?" tanya Putra.


"Kalau aku tak merindukan kamu, buat apa aku pulang saat enggak libur kayak begini," jawab Viona.


"Terima kasih, Viona. Kamu membuatku jadi merasa percaya diri, meski aku bukanlah lelaki yang sempurna," sahut Putra.


"Tak ada yang sempurna di dunia ini, Putra. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Aku pun bukan wanita yang sempurna," ucap Viona.


"Kamu sempurna di mataku, Viona," sahut Putra.


Dan entah siapa yang memulainya, bibir mereka sudah menyatu dan saling *******.

__ADS_1


"Eheemm!"


__ADS_2