PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 160 SALAM PERPISAHAN DARI DEWA


__ADS_3

"Biarkan dia masuk sebentar. Dia saudaraku," ucap Dewa pada beberapa ABK.


Teman-teman Dewa itu menoleh dan mengangguk. Dewa terpaksa berbohong kalau Nadia adalah saudaranya. Karena kalau dia bilang temannya, mereka bisa curiga. Sebab beberapa temannya sudah tahu tentang Viona.


"Ada apa, Nadia?" tanya Dewa setelah Nadia diperbolehkan masuk.


Nadia hanya menatap Dewa dengan tajam. Nafasnya masih terengah-engah.


Dewa meraih tangan Nadia dan membawanya berdiri di pinggiran kapal.


"Satu jam lagi kapal ini akan berlayar, Nadia. Katakan apa maumu sebelum aku pergi jauh berlayar lagi," ucap Dewa.


Nadia masih diam. Matanya memandang jauh ke arah lautan lepas.


"Dewa. Boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Nadia.


"Apa itu?" tanya Dewa.


"Berhentilah berlayar. Aku ingin bersama kamu selamanya," jawab Nadia.


Dewa tergelak.


"Kamu lucu Nadia. Kalau aku berhenti berlayar, lalu siapa yang akan membiayai kehidupanku? Biaya kuliah adikku juga tidak sedikit!" sahut Dewa.


"Kamu bisa bekerja di perusahaan papaku, Dewa. Papa pasti akan membantumu, memberikan pekerjaan yang layak buat kamu," ucap Nadia.


Dewa menatap Nadia sekilas.


"Kamu pikir semudah itu? Kamu bukan pemilik perusahaan, Nadia. Papa kamu yang punya kuasa di sana!" sahut Dewa.


"Aku akan memintanya pada papa. Dia pasti mau memberikan pekerjaan padamu!" ucap Nadia.


"Nad. Aku dididik untuk menjadi seorang pelaut. Aku tak punya keahlian bekerja di kantoran. Bisa bangkrut usaha papa kamu kalau mempekerjakan aku!" sahut Dewa.


"Kamu bisa belajar dulu, Dewa! Atau kamu mau kuliah sepertiku?" tanya Nadia.


Dewa kembali menoleh ke arah Nadia. Seorang mahasiswa tingkat tiga, tapi cara berpikirnya masih seperti anak TK.


"Nad. Kuliah itu enggak gratis. Darimana aku punya uang untuk membayarnya?" tanya Dewa.


"Aku punya uang, Dewa. Aku bisa membantumu membayar biaya kuliahmu!" jawab Nadia.


"Oh ya? Seberapa banyak uangmu? Dan apa jawaban kamu kalau orang tuamu menanyakan kemana saja uangmu? Kamu jawab kalau uangmu buat bayarin kuliahku? Lalu dimana harga diriku sebagai lelaki? Pakai otak kamu, Nadia!" sahut Dewa dengan kesal.


Dewa malah merasa Nadia akan membeli harga dirinya. Nadia berpikir, dengan uangnya dia bisa membeli Dewa dan memiliki selamanya.


"Kamu bisa menggantinya setelah bekerja!" ucap Nadia.


"Kerja aja belum, udah mikir bayar hutang! Dan aku membiarkan adikku berhenti kuliah? Sudahlah, Nadia. Kembalilah ke duniamu. Dunia kita berbeda Nadia. Kamu tak akan bisa mengikuti duniaku!" sahut Dewa.

__ADS_1


"Kalau Viona bisa, kenapa aku enggak?" tanya Nadia.


"Viona? Kamu jangan membandingkan dirimu dengannya. Dia berbeda. Dia dan aku punya ambisi yang sama. Kami ingin mencapai cita-cita dan membahagiakan keluarga!" jawab Dewa.


"Kamu memujinya?" tanya Nadia dengan geram.


"Ya. Dia milikku sekarang. Maka dialah yang aku puji, meski di depan wanita lain!" jawab Dewa.


"Kamu tak tau bagaimana Viona dahulu, Dewa!" ucap Nadia.


"Aku tidak peduli dengan masa lalunya. Seperti dia juga tak peduli dengan masa laluku, yang lebih hitam darinya," sahut Dewa.


"Viona pernah sangat mencintai Surya. Dan sekarang mereka pergi berdua. Kamu tak takut terjadi sesuatu dengan mereka?" Nadia mulai berusaha mempengaruhi Dewa.


"Aku tau perasaan mereka, Nad. Viona sudah melupakan perasaannya pada Surya. Dan Surya masih sangat mencintaimu. Tak ada yang perlu aku khawatirkan," tepis Dewa.


"Kamu bisa berpikir seperti itu, karena kamu tak tau apa yang Viona lakukan di belakangmu!" Nadia kembali mempengaruhi Dewa.


"Aku tak mempedulikanya, Nadia. Yang penting saat di depanku, dia baik-baik saja," sahut Dewa.


Dewa yakin kalau yang diucapkan Nadia semua hanya karena rasa cemburu. Karena Dewa telah yakin dengan Viona.


Viona masih menjaga apa yang seharusnya dijaganya. Bahkan saat dirinya mencoba meminta saja, Viona menolaknya.


Apa lagi yang diragukan Dewa dari Viona?


Dewa tak mau lagi mendengarkan omongannya.


Dewa tak mau lagi mempedulikan perasaannya.


Bahkan Dewa tak mau kembali lagi padanya.


"Baiklah Dewa. Aku pamit. Berlayarlah. Aku doakan semoga kamu baik-baik aja," ucap Nadia menyerah.


Nadia tak bisa lagi meruntuhkan keteguhan hati Dewa pada Viona.


"Terima kasih, Nad. Aku juga berdoa semoga kamu baik-baik saja," balas Dewa.


"Boleh aku memelukmu sebentar?" tanya Nadia.


Dengan senang hati Dewa merentangkan kedua tangannya.


Sebenarnya Dewa juga sangat merindukan Nadia. Tapi apa daya dia sudah berjanji pada Viona.


Sebagai laki-laki Dewa tak mau mengingkari janjinya. Bagi Dewa, laki-laki itu yang dipegang janjinya.


Dia tak mau dianggap hanya omong kosong saja. Dia juga ingin punya kebahagiaan, setelah nanti masa kontrak kerjanya selesai. Dan dia melamar Viona.


Nadia memeluk Dewa dengan erat. Seakan tak mau lagi melepaskan.

__ADS_1


Dewa pun tak kalah eratnya. Dia ingin melepaskan segala kerinduannya pada Nadia. Meski hanya lewat sebuah pelukan.


"Maafkan aku, Nad. Aku tak bisa memenuhi keinginanmu. Semoga kamu berbahagia bersama Surya. Dia lebih pantas untukmu," ucap Dewa masih memeluk Nadia.


"Tidak, Dewa. Kebahagiaanku hanya bersama kamu. Aku tak bisa membuka hati pada lelaki lain, sekalipun pada Surya," sahut Nadia.


Air mata mulai turun dari mata Nadia.


"Jangan menangis, Nadia. Jangan memberatkan kepergianku. Lupakan semua yang telah terjadi di antara kita. Mungkin memang harus begini jalannya. Kita tak berjodoh," ucap Dewa.


Nadia melepaskan pelukannya.


"Semua tergantung pada kamu, Dewa. Kamu yang membuat kita tak berjodoh!" sahut Nadia.


Dewa menggeleng.


"Bukan aku, Nadia. Tapi takdir. Takdir yang telah memisahkan kita. Dan takdir juga yang telah mempertemukan aku dengan Viona," ucap Dewa.


"Kamu masih bisa merubahnya, Dewa. Masih ada kesempatan untuk kita!" Nadia terus saja memaksa Dewa.


"Aku tak mau menyakiti perasaan Viona, Nadia...."


Belum selesai Dewa bicara, peluit tanda kapal akan segera jalan, berbunyi.


"Pulanglah, Nad. Kapal ini akan segera berlayar," ucap Dewa.


Nadia langsung meraih tengkuk Dewa dan dengan rakus dia ***** bibir Dewa. Tanpa berpikir kalau mereka ada di luar. Dan disaksikan beberapa pasang mata ABK teman kerja Dewa.


Dewa berusaha melepaskannya.


"Sudah, Nadia. Aku merasa tidak enak pada teman-temanku. Pulanglah," ucap Dewa setelah berhasil melepaskan bibir Nadia.


Lalu Dewa meraih kepala Nadia dan mengecup keningnya.


"Anggap itu salam perpisahan dariku. Dari lelaki yang pernah mencintai kamu. Selamat berpisah, Nadia."


Dewa tak mau lagi melihat air mata Nadia yang bercucuran. Dia raih tangan Nadia dan membawanya turun dari kapal.


Nadia pun menurut. Dia turun dari kapal dengan hati hancur.


Dewa telah menolaknya.


Dewa telah memupuskan harapannya.


Dan lambaian tangan Dewa menjadi salam terakhir perpisahan mereka.


Nadia hanya bisa menatap nanar, kapal yang perlahan mulai melaju.


Dewa berjalan ke tempatnya akan mulai bekerja. Dia harus bisa melupakan Nadia untuk selamanya. Karena kini sudah ada Viona di hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2