PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 29 AKU BUKAN ANAK KECIL


__ADS_3

Jam empat sore, dokter yang tadi menangani Nadia, datang dan memeriksa kondisi Nadia.


"Gimana, masih terasa pusing?" tanya dokter muda yang wajahnya mirip....Dewa. Itu menurut Nadia.


Nadia sampai tak berkedip melihatnya. Kalau tadi waktu menanganinya, Nadia tak sempat menatapnya. Karena sedang fokus dengan rasa perih di kakinya. Apalagi waktu lukanya dijahit, Nadia memejamkan matanya.


Nadia baru membuka matanya setelah dokter muda itu keluar dari ruangan dan menyisakan dua perawat yang juga masih muda.


"Hallo...." Dokter itu melambaikan tangan di depan wajah Nadia yang menatapnya tanpa berkedip.


Surya agak geram melihatnya. Dan Surya pun ikutan menatap wajah dokter yang memang sepintas mirip sahabatnya, Dewa.


"Oh. Eh, enggak Dok. Udah enggak pusing, kok," jawab Nadia tergagap.


"Oke. Saya periksa dulu, ya."


Dokter itu meraih tangan Nadia, dia memeriksa detak nadi Nadia.


"Bagus. Kamu boleh pulang sekarang. Dua hari lagi, kesini. Saya akan kontrol bekas jahitannya. Jangan lupa bersihkan daerah sekitar luka, biar enggak infeksi," ucap dokter yang bernama Andra di tag name-nya.


"Baik, Dok. Lusa kami kesini lagi," sahut Surya mewakili Nadia yang masih terpesona pada wajah ganteng dokter Andra.


"Bisa bangun sendiri, apa saya bantu?" Dengan tanpa rasa berdosa, dokter Andra bertanya pada Nadia.


"Biar saya yang bantu, Dok." Surya segera membantu Nadia bangun. Juga menopang Nadia berdiri.


Dokter Andra hanya tersenyum melihatnya. Baginya, sudah biasa mendapat perlakuan kaku seperti Surya padanya.


Wajahnya yang ganteng, sering menjadi pusat perhatian kaum hawa yang melihatnya. Sehingga kadang mereka sejenak melupakan pasangannya.


Dan akibatnya, pasangannya jadi jutek pada dokter Andra yang tak salah apa-apa.


"Silakan selesaikan administrasinya di depan," ucap dokter Andra sebelum keluar ruangan.


Haris keluar mengikuti dokter Andra. Dia yang akan menyelesaikan administrasinya. Haris tak mempedulikan penabrak Nadia mau bertanggung jawab atau tidak.


Baginya yang penting kondisi Nadia baik-baik saja. Si penabrak pun meski dia ugal-ugalan di jalan, pastinya tidak sengaja sampai menabrak.


Surya memapah Nadia jalan sampai ke mobilnya. Rahma dan Sinta mengikuti dari belakang.


"Masih kuat jalan, kan? Apa mau aku gendong?" tanya Surya. Karena jalannya Nadia terlihat kepayahan.


"Ish. Malu lah dilihat orang," jawab Nadia.


"Kalau kak Nadia enggak mau digendong, Sinta juga mau kok digendong kak Surya," sahut Sinta yang berjalan di belakang mereka.

__ADS_1


"Enak aja! Kayak enggak punya kaki!"


Seperti biasanya, Surya selalu menolak berbaik hati pada Sinta. Dan selalu punya banyak jawaban yang nylekit.


"Hmm...kalau kak Nadia aja ditawari. Giliran adiknya sendiri dicuekin." Sinta memonyongkan mulutnya dengan kesal.


"Eeh. Enggak boleh bilang begitu, ah. Nadia kan lagi sakit. Lagian kamu kan bisa jalan sendiri." Rahma menengangi perdebatan kedua anaknya.


"Tau tuh, Ma. Jadi anak manja banget!" ucap Surya merasa dibela.


Rahma tak lagi menjawab. Enggak enak dengan Nadia kalau perdebatan mereka terus berlanjut.


"Lho, kok di mobil Surya? Nadia sama kita aja biar sekalian pulang," tanya Susi melihat Nadia naik ke mobil keluarga Surya.


"Enggak apa-apa, Tante. Nanti saya antar Nadia pulang. Tante sama om saja. Atau Tante juga mau di mobil kita?" tanya Surya sebelum masuk ke mobilnya.


"Enggak deh. Kasihan papanya Nadia sendirian. Tante tunggu di rumah, ya. Jeng Rahma, titip Nadia," sahut Susi.


"Beres, Jeng. Nanti kita antar Nadia sampai ke rumah," jawab Rahma. Dia merasa senang sekali anaknya bisa membantu Nadia.


Nadia hanya pasrah saja. Dia lebih fokus dengan rasa perih yang masih dirasakannya.


"Luruskan kakimu kalau sakit. Biar aku mundurkan joknya." Surya mendorong jok yang diduduki Nadia biar nyaman. Lalu dengan telaten memasangkan sabuk pengamannya.


Rahma melihat mereka dengan senyum mengembang. Dia berfikir, tak lama lagi bakal besanan dengan Susi, tetangganya yang baik hati.


"Sinta keganggu, ya?" tanya Nadia tak enak hati.


"Enggak apa-apa, Kak. Sinta bisa miring kok. Santai aja," jawab Sinta.


Sinta hanya suka meledek kakaknya. Meski ujung-ujungnya dia bakal kesal dengan jawaban Surya.


Di tengah perjalanan, Toni, papanya Surya menelpon. Dia menanyakan kondisi Nadia. Dan meminta maaf karena ada rapat di kantornya, jadi belum bisa membezuk Nadia.


"Udah membaik dan bisa langsung pulang kok, Pa. Ini kita lagi jalan pulang," sahut Rahma di telpon.


"Oh, ya sudah. Salam buat Nadia. Semoga cepet sehat lagi."


Lalu Rahma memberikan telponnya pada Nadia, biar suaminya ngomong sendiri.


"Iya, Om. Terima kasih. Nadia malah jadi ngerepotin," sahut Nadia sambil meringis menahan perih.


"Masih perih?" tanya Surya dengan khawatir.


Nadia mengangguk.

__ADS_1


"Mungkin obat biusnya udah habis. Jadi mulai terasa perih. Nanti sampai di rumah, minum obatnya. Moga-moga ada obat yang bisa mengurangi perihnya," ucap Surya.


Nadia kembali mengangguk. Lalu memejamkan matanya. Wajahnya sering meringis.


Berkali-kali Surya melirik. Dia tak tega melihat Nadia kesakitan. Dan itu membuatnya geram pada penabrak Nadia.


Awas aja besok kalau ketemu. Dia harus menerima bogem mentahku. Ancam Surya dalam hati.


Jangan sampai ada yang tahu rencananya. Karena bakalan dimarahi habis-habisan sama mamanya, juga Nadia.


Mobil Surya memasuki pelataran rumah keluarga Nadia. Rahma dan Sinta turun. Sinta ikut membantu Surya memapah Nadia sampai ke dalam rumah.


"Aduh, malah jadi ngerepotin gini. Maaf lho, Jeng Rahma," ucap Susi.


"Enggak apa-apa, Jeng. Kayak sama siapa aja. Kita kan...." Rahma tak sampai hati meneruskan omongannya.


Karena setahu Rahma, dan juga menurut Sinta, Nadia masih menganggap Surya sebagai sahabat saja.


"Kita kan, apa Ma?" tanya Surya penasaran.


"Mm....Kita kan bertetangga. Jadi mesti saling menolong. Benar kan, Jeng Susi?" Rahma tak mau membuat malu Surya juga Nadia.


Surya dan Nadia kompak mengangguk. Karena memang, meski tanpa kedekatan Nadia dan Surya pun, hubungan mereka sudah dekat.


Rahma dan Sinta duduk di sofa ruang tamu. Nadia bersebelahan dengan Surya.


Susi ke dapur untuk minta tolong ART-nya membuatkan minuman.


Sementara Haris tadi langsung kembali ke kantornya. Karena banyak pekerjaan yang dia pending demi melihat kondisi anak gadisnya.


Mereka ngobrol sampai menjelang maghrib.


"Sur, kita pulang yuk. Udah mau maghrib," ajak Rahma.


Tapi kelihatannya Surya masih betah menemani Nadia. Bahkan sesekali Surya meniup luka lecet di tangan Nadia untuk menghilangkan perihnya.


"Pulanglah, Sur. Aku juga mau istirahat," sahut Nadia.


Dia enggak enak sama mamanya Surya juga Sinta, karena Surya memperlakukannya seperti anak kecil.


"Oke. Tapi kamu naik tangganya bisa?" Surya tetap khawatir.


"Bisa. Kan ada mama yang bantuin aku naik, Sur," jawab Nadia.


"Kalau begitu, biar aku aja yang membantumu naik." Surya langsung memapah Nadia.

__ADS_1


Susi, Rahma dan Sinta hanya geleng-geleng kepala melihat Surya yang memperlakukan Nadia seperti anak kecil.


__ADS_2