PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 172 MENGACUHKAN NADIA


__ADS_3

Keesokan harinya Nadia terpaksa berangkat kuliah. Meskipun sebenarnya dia sangat malas ke kampus. Karena pasti bakal ketemu dengan Surya juga Viona.


Dan pasti mereka bakal sengaja memamerkan kemesraan. Belum lagi gosip yang pasti sudah menyebar di sana.


Tapi daripada dimarahin lagi sama Haris, Nadia lebih memilih berangkat saja.


Walaupun Nadia tak menjamin apa dia bakal kuat melihat mereka bermesraan.


Atau aku ngumpet di kantin aja, ya? Batin Nadia.


Atau main. Tapi main kemana? Aku tak punya teman akrab selain mereka.


Nadia pun pergi ke kampus diantar oleh Haris. Haris ingin memastikan kalau Nadia sampai di kampus.


Sampai di kampusnya, Nadia berjalan dengan lunglay. Tak ada semangat lagi. Kampus bagaikan tempat yang sangat mencekam baginya.


Dan benar saja, baru saja Nadia sampai di pintu gerbang, motor Surya melintas.


Surya berboncengan dengan Viona. Meski sebenarnya Viona membonceng biasa saja, tapi bagi Nadia itu sangat menyebalkan.


Katanya pacaran sama Dewa. Tapi malah boncengan terus sama Surya. Apa sih maunya dia? Gumam Nadia dengan kesal.


"Hay, Nad," sapa seorang teman sekelas Nadia.


"Hay, Don." Nadia balas menyapa Doni.


"Sendirian aja? Arjunanya malah boncengan ama Viona," tanya Doni.


"Biarin aja sih, Don. Enak juga sendirian," sahut Nadia ngeles.


Doni terkekeh.


Itu adalah kalimat sakti bagi para jomblo sepertinya. Tapi apa itu berarti Nadia sudah menjomblo?


"Aku temani, ya?" Doni menawarkan diri.


Doni berpikir, kalau Nadia punya gebetan, pasti bakal menolaknya.


Nadia mengangguk.


Mata Doni langsung berbinar.


Yes!


Doni bersorak dalam hati.


Semoga benar dugaanku. Kalau Nadia lagi jomblo. Batin Doni.


Doni pun mengiringi Nadia berjalan sampai ke kelasnya.


Di depan gedung tadi, Nadia sempat berpapasan dengan Surya. Kelihatannya Surya sengaja lewat gedung fakultasnya Nadia setelah dari parkiran.

__ADS_1


Sejenak mata mereka bertatapan. Tapi kemudian sama-sama melengos.


Doni hanya tersenyum melihatnya. Kesempatan bakal ada di depan matanya. Hubungan antara Nadia dan Surya sedang tak baik.


Nadia dan Doni masuk ke kelas. Nadia merasa lebih percaya diri dengan adanya Doni di sampingnya.


Viona menatap Nadia. Dia berharap Nadia mau menyapanya. Tapi Nadia malah melengos dan memilih duduk di belakang dengan Doni.


Viona hanya menghela nafasnya saja. Lalu membuka ponselnya. Mumpung dosen belum datang, Viona mengirimkan pesan chat pada Surya.


Viona mengatakan tentang kejadian barusan pada Surya.


Iya. Aku juga tadi melihatnya. Biarin aja, Vi. Mungkin dia bisa membuka hatinya pada Doni. Sahut Surya.


Meski jauh di lubuk hatinya ada perasaan tak tega, kalau Nadia jatuh ke pelukan Doni.


Setahu Surya, Doni memang jomblo. Tapi dia suka mempermainkan cewek-cewek di kampusnya.


Tapi mau dibilang apa, kalau Nadia menyukainya. Biarkan saja. Toh, Nadia bukan siapa-siapanya lagi.


Sementara Doni masih saja mengajak Nadia ngobrol. Doni merasa mendapatkan angin segar.


Nadia tak menolaknya. Bahkan saat Doni mengatakan mau mengantarkan Nadia pulang, Nadia pun mengiyakan.


Hari itu Doni merasakan jam kuliah sangat lama. Karena dia merasa tak sabar ingin mengantarkan Nadia pulang.


Meskipun Doni tak akan benar-benar mengantarkan Nadia pulang. Entah mau dibawa kemana Nadia nanti.


Jam kuliah pertama selesai. Nadia masih melanjutkan ke jam kedua.


Setiap hari dia ke kampus, tapi hanya mengikuti satu mata kuliah saja. Mata kuliah yang lainnya, dia abaikan.


"Nad. Balik, yuk," ajak Doni selepas jam pertama.


"Aku masih ada kuliah jam kedua, Don. Kamu juga, kan?"


"Aku malas, Nad. Mending pulang aja, yuk." Doni tetap berusaha memaksa Nadia.


"Enggak ah, nanggung," sahut Nadia.


"Ah! Ya udah, deh. Aku tunggu kamu di kantin aja, ya?"


Nadia mengangguk.


Doni beranjak dan berjalan keluar dari kelas.


Nadia meneruskan kuliah di jam kedua. Dengan Viona yang duduk di depan tentunya. Tapi mereka tetap tak saling menyapa.


Terutama Nadia yang merasa sakit hati pada Viona. Viona yang telah mengambil Dewa. Dan kini malah mendekati Surya.


Tanpa Nadia tahu, kalau Surya melakukannya hanya untuk mengalihkan pikirannya pada Nadia. Juga karena permintaan Dewa untuk menjaga Viona.

__ADS_1


Selesai kuliah, Nadia tak berniat menemui Doni. Dia ingin segera pulang saja. Apalagi cuaca juga sangat panas.


Nadia berjalan kaki ke luar area kampus. Dia juga malas memesan taksi online. Nadia kepingin naik angkot saja.


Sudah lama juga dia tak pernah naik angkot.


Nadia jadi ingat dahulu saat masih SMA. Dia, Dewa juga Surya sering pulang sekolah naik angkot bersama.


Dewa meskipun rumahnya berbeda jurusan, sering ikut bersama mereka.


Seringnya mereka berkumpul di rumah Nadia. Sore harinya barulah Dewa pulang ke rumahnya sendiri.


Kadang diantar oleh Surya naik motor papanya. Kadang naik angkot. Kadang juga jalan kaki, kalau tak punya uang.


Tapi meskipun tak punya yang, Dewa menolak kalau Nadia memberinya. Bahkan sampai mereka berstatus pacaran, Dewa selalu menolak kalau Nadia memberinya uang.


Nadia tersenyum sendiri mengingat semua itu.


Seperti saat berangkat tadi, di dekat pintu gerbang Nadia kembali melihat pasangan jadi-jadian melintas.


Nadia menatapnya dengan jengah. Dia jadi sangat membenci Viona.


Menurut Nadia, Viona seperti cewek gampangan. Gampang pindah ke lain hati, juga ke lain body.


Tapi dibalik rasa jengahnya, Nadia tersenyum. Karena menurutnya, dia bakalan bisa memiliki Dewa.


Nadia yang masih memegang ponsel, langsung mengaktifkan kameranya.


Diam-diam dia rekam kebersamaan Surya dan Viona. Nadia akan mengumpulkan banyak bukti kebersamaan mereka.


Dan suatu saat kalau bertemu dengan Dewa lagi, bakal dia bongkar. Biar Dewa percaya dan tahu kalau Viona bukan wanita baik-baik.


Licik?


Menurut Nadia, dia tidak licik. Dia cuma mau mengambil miliknya lagi. Miliknya yang telah diambil oleh Viona.


Nadia kembali berjalan ke halte depan kampusnya. Dia mau menunggu angkot di sana.


"Sur. Nadia tuh!" Viona yang tadi membonceng Surya memberitahukan pada Surya.


Saat itu Viona siap turun kalau Surya mau mengantarkan Nadia. Viona juga sadar kalau dia bukan siapa-siapanya Surya.


Menurut Viona, Nadia yang lebih berhak atas Surya. Karena dirinya sudah memiliki Putra.


"Biarin aja. Enggak usah diliatin!" sahut Surya.


Surya malah sengaja lewat depan Nadia tanpa menoleh sedikitpun.


Padahal dengan sikap Surya yang seperti itu, membuat Viona semakin merasa tidak enak pada Nadia. Tapi apa boleh buat, Suryanya tidak mau.


Mereka pun tetap melintas dengan cuek di depan Nadia. Viona enggan menyapa. Karena pasti bakal diacuhkan oleh Nadia.

__ADS_1


Mereka berdua tak sadar kalau Nadia merekam kebersamaan mereka dengan video di ponselnya.


Nadia yang merasa sudah mendapatkan bukti otentik, tersenyum lebar. Nadia merasa kemenangan akan ada di tangannya.


__ADS_2