PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 165 MENCARI ALASAN


__ADS_3

Nadia sampai ke rumahnya sudah malam. Karena dia naik transportasi umum.


Apalagi tadi dia juga mencari keberadaan Dewa di kapal. Dan menunggu sampai kapal tempat kerja Dewa tak terlihat lagi.


"Dari mana kamu? Duduk!" tanya Haris dengan nada ketus, sambil menunjuk ke sofa ruang tamu.


Nadia menatap wajah Haris yang terlihat marah. Lalu menunduk.


"Pa. Nadia kan baru saja pulang. Biar dia istirahat dulu," ucap Susi.


Meskipun sebenarnya Susi juga marah pada Nadia yang pergi tak berpamitan padanya, tapi Susi tak tega kalau Nadia langsung kena marah.


"Biar saja, Ma! Jangan belain anak ini! Anak enggak punya aturan!" sahut Haris.


Nadia menurut. Dia duduk di sofa. Nadia tak mau kalau mamanya malah yang kena marah.


"Dari mana kamu?" Haris mengulang pertanyaannya.


"Dari...rumah Viona, Pa," jawab Nadia, tanpa berani menatap wajah Haris.


"Dimana rumah Viona?" tanya Haris dengan ketus.


Lalu Nadia menyebutkan nama kampung halaman Viona.


Susi yang mendengarnya, terperangah. Dia tak mengira Nadia akan pergi sejauh itu.


Tapi Susi tak berani bertanya. Karena Haris masih diliputi amarah. Susi tak mau kalau Haris semakin marah.


"Kenapa kamu tidak berpamitan sama mamamu? Apa kamu sudah merasa tak punya orang tua lagi?" Haris bertanya sambil menahan sesak di dadanya.


Haris tahu kalau nama kota yang disebutkan Nadia, cukup jauh dari kotanya ini. Itu yang membuat dada Haris terasa sesak.


Haris sangat khawatir saat tahu dari Susi kalau Nadia kabur dari rumah. Susi sendiri mengatakannya setelah Haris pulang dari kantor.


Tadinya Susi berpikir, Nadia bakal pulang sore harinya. Ternyata sampai Haris pulang, Nadia tak juga kembali. Bahkan ponselnya pun susah dihubungi.


Haris sempat meminta Susi bersabar semalaman. Meski dia sendiri sangat gelisah.


Pagi harinya Haris menghubungi teman-temannya yang bekerja di kepolisian.


Pihak kepolisian pun langsung sigap mencari keberadaan Nadia. Meskipun sampai Nadia pulang, belum ada laporan apapun dari kepolisian.


Nadia menggeleng.


"Enggak, Pa. Maafkan Nadia," ucap Nadia sambil menundukan wajahnya.


"Enak banget kamu bilang maaf! Kamu pikir kami enggak khawatir? Kalau kamu memang tak mau menganggap kami lagi, enggak apa-apa! Jadi kami tak perlu mengkhawatirkan kamu!" sahut Haris.


Haris yang tadinya cemas dengan kaburnya Nadia, malah jadi emosi saat anaknya itu pulang tanpa merasa bersalah.


Susi tak bisa berkata apa-apa untuk membela Nadia. Saat seperti ini, bukan waktu yang tepat untuk menyela kemarahan Haris.

__ADS_1


Susi sekedar berjaga-jaga saja, jangan sampai Haris kalap. Dan melakukan kekerasan pada Nadia.


Nadia menelan ludahnya. Dia pun tak bisa berkata apa-apa lagi untuk membela diri.


"Mana hape kamu!" Haris meminta ponsel Nadia.


Nadia mengangkat wajahnya. Dalam hati bertanya, apa yang akan dilakukan papanya?


"Mana!" seru Haris.


"Pa....Sabar." Susi berusaha meredam kemarahan Haris, dengan mengusap-usap punggungnya.


"Anak kayak begini tak bisa disabarin, Ma!" sahut Haris.


Susi menghela nafasnya.


Nadia mengambil ponselnya, lalu memberikannya pada Haris.


"Mulai sekarang, Papa akan sita hape kamu! Enggak ada gunanya kamu dipegangi hape. Mana kartu ATM kamu?" Haris yang semakin emosi, juga akan menyita kartu ATM milik Nadia.


Karena Haris berpikir, Nadia jadi seenaknya saja kabur karena merasa punya uang di ATM.


Setiap bulannya Haris selalu mengisi ATM anak-anaknya dengan jumlah banyak. Haris berpikir, biar anak-anaknya tak kekurangan uang dan bisa membeli apapun yang diinginkan.


Selama ini kedua anak Haris, tak ada yang bermasalah dengan saldo kartu ATM mereka. Mereka selalu memanfaatkannya dengan benar.


Susi hanya bisa menatap Nadia. Lalu mengangguk, memberi tanda agar Nadia menurut.


Nadia pun mengambil kartu ATM-nya di dompet.


"Ini, Pa." Nadia menyerahkannya pada Haris.


Setelah mendapatkan ponsel dan kartu ATM Nadia, Haris memilih pergi, masuk ke kamarnya.


Haris tak mau dia semakin emosi kalau harus terus menghadapi Nadia. Dan dadanya pun terasa semakin sesak.


Begitu Haris sudah pergi, Nadia menghambur ke pangkuan Susi.


"Ma...Maafin Nadia, Ma," ucap Nadia bersimpuh di hadapan Susi. Tangisnya langsung pecah. Nadia tak bisa lagi menahan tangisan yang dari tadi ditahannya.


Haris pasti bakal semakin marah kalau melihat Nadia menangis. Jadi Nadia lebih memilih menahannya.


"Iya, Sayang." Susi membelai rambut Nadia dengan lembut. Susi pun ikut berkaca-kaca.


Nadia merebahkan kepalanya di pangkuan Susi. Nadia menumpahkan tangisnya di sana.


"Kamu dari mana saja?" tanya Susi setelah tangisan Nadia mereda.


"Nadia dari kampung halamannya Viona, Ma," jawab Nadia.


"Kamu enggak berbohong, kan?" tanya Susi lagi.

__ADS_1


"Enggak, Ma. Nadia enggak bohong," jawab Nadia.


"Surya juga mencarimu. Apa kamu ketemu dengannya?" Susi tahu kalau Surya bilang mau mencari Nadia.


Tapi Susi tak bisa lagi menanyakannya pada Rahma tentang perkembangan pencarian itu. Karena tahu tentang kondisi Rahma.


Apalagi ponsel Rahma juga tidak aktif lagi.


Tonipun menutup pintu rumahnya, setelah Rahma pulang lagi ke rumah.


Nadia mengangguk. Dia tak tega kalau membohongi mamanya.


"Tapi kenapa kamu tidak pulang bersama Surya?" tanya Susi.


Meski Susi tak melihat siapa yang mengantar Nadia sampai ke rumah, tapi dia yakin bukan Surya yang mengantarnya.


Karena kalau Surya, pasti akan masuk terlebih dahulu.


Nadia menggeleng.


"Enggak, Ma. Jangan bicarakan lagi tentang Surya. Nadia benci dengan dia!" jawab Nadia.


Susi meraih lengan Nadia, lalu mengangkatnya agar duduk di sebelahnya.


"Ada masalah apa lagi, kamu dengan Surya?" tanya Susi.


Susi pun tak bisa memahami cara berpikir Nadia. Sebentar ke sana. Sebentar ke sini.


"Ma. Nadia tak mau lagi membahas soal dia," sahut Nadia.


"Oke. Kalau begitu, bilang sama Mama, kenapa kamu tiba-tiba pergi ke kampungnya Viona. Dan enggak pamit juga," pinta Susi.


Nadia diam. Dia bingung mesti mengatakan apa pada mamanya.


Jelas sangat tak mungkin kalau Nadia menceritakan semuanya pada Susi. Apalagi tentang kejadian pemerkosaan yang dilakukan Surya padanya.


"Ma. Nadia capek. Nadia ke kamar dulu, ya," ucap Nadia, berusaha menghindar.


"Mama tau kamu capek. Tapi tolong, katakan dulu alasan kamu," ucap Susi.


"Nanti aja, Ma. Kalau Nadia udah enggak capek," sahut Nadia.


Susi jadi tak tega. Lalu mengangguk.


Nadia pun segera berdiri dan meninggalkan Susi sendirian.


Susi hanya bisa menghela nafasnya. Susi merasa semakin sulit memahami anak gadisnya ini.


Nadia bergegas naik ke kamarnya. Tak lupa Nadia mengunci pintu, agar Susi tak memgganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dijawab Nadia.


Di dalam kamar, Nadia setengah mati memikirkan alasan apa yang akan diberikan nanti pada mamanya.

__ADS_1


__ADS_2