PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 195 SIKAP KELUARGA SURYA


__ADS_3

Susi dan mbok Nah pun ikut terkejut. Mereka terkejut melihat Nadia menjatuhkan gayung. Karena mereka tak melihat Surya dan Viona lewat. Pandangan mereka terhalang tembok pagar.


Mbok Nah yang kagetan pun spontan teriak.


"Eh, copot! Copot!"


Nadia yang bengong, ikutan terkejut. Lalu menoleh ke dalam rumahnya.


Nadia melemparkan embernya dengan kesal. Dia kesal melihat kemesraan Surya dan Viona.


Emangnya di kampus aja bermesraannya enggak cukup, ya? Pake dipamer-pamerin ke tetangga.


Kalau mereka tahu kan, bakalan heboh. Mereka bakalan menginterogasi aku. Nyebelin! Ngeselin!


Nadia terus saja menggerutu.


"Ya...malah embernya dibuang," ucap Susi.


"Iya. Pecah deh ember gue!" sahut mbok Nah tanpa sadar.


Susi hanya melirik saja. Dia sudah paham kalau mbok Nah suka asal ngomong saat kaget. Kalau dibilang latah, dia enggak mau.


Nadia masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke kamarnya. Susi dan mbok Nah kembali bengong melihatnya.


"Kenapa lagi tuh, anak?" tanya Susi.


"Enggak tau. Sakit kali kakinya ketiban gayung tadi," jawab mbok Nah.


Susi kembali melirik. Mana ada kaki sakit ketiban gayung. Ada-ada aja, mbok Nah ini.


Susi naik ke lantai dua. Reflek mbok Nah mengikuti.


"Eh, Mbok Nah mau ngapain?" tanya Susi.


"Mau naik," jawab mbok Nah sambil menunjuk ke atas.


"Udah, di bawah aja. Ambil ember sama gayungnya tadi!" ucap Susi.


"Siap, Bos!" Mbok Nah memberikan sikap hormat pada Susi.


Susi hanya menghela nafasnya. Lalu melanjutkan langkah.


Sampai di depan kamar Nadia, pintunya tertutup. Susi mencoba membukanya, tapi tak bisa.


Nadia menguncinya dari dalam. Tiba-tiba dia jadi melow. Teringat kemesraan Surya dan Viona tadi.


Padahal biasanya, Nadia cuek. Mau mereka boncengan kek, di kantin bersama-sama kek. Nadia tidak mau ambil pusing.


Nadia malah senang, karena itu berarti peluangnya mendapatkan Dewa terbuka lebar.


Tapi sekarang? Nadia menangis di atas bantalnya. Entah apa yang ditangisinya. Air mata keluar begitu saja.


Susi kembali turun. Di tangga dia ketemu dengan mbok Nah yang membawa ember dan gayung.

__ADS_1


"Ini, Bu." Dengan tanpa rasa bersalah mbok Nah menyerahkan bawaannya pada Susi.


"Buat apa?" tanya Susi kebingungan. Dia tak menyuruh mbok Nah mengambilkan untuknya.


"Kan tadi Ibu yang nyuruh ambil," jawab mbok Nah, masih dengan tanpa rasa bersalah.


"Taruh di belakang lagi, Mbok. Gimana sih!" Susi semakin tak mengerti.


Akhir-akhir ini kelakuan mbok Nah juga semakin aneh. Dia sering lupa. Sering berbuat semaunya juga.


Mungkin karena faktor usia. Mbok Nah sudah semakin tua. Tapi masih mau bekerja terus. Untuk memberhentikannya, Susi tidak tega.


Mbok Nah sudah tidak punya rumah lagi. Sejak suaminya meninggal, rumahnya di kampung dijual. Lalu dibagikan ke anak-anaknya.


Uang yang tak seberapa, hanya untuk menyambung hidup mereka. Dan sampai sekarang, hanya satu di antara anak-anak mbok Nah yang punya rumah sendiri. Yang satunya ngontrak. Satunya lagi masih ikut mertua.


Miris sekali kisah yang diceritakan oleh mbok Nah pada Susi waktu itu.


Hal itu yang membuat Susi tidak bisa memulangkan mbok Nah. Bisa jadi gembel dia di kampung halamannya sendiri.


Mbok Nah juga bilang, uang gajinya habis untuk membiayai cucu-cucunya sekolah. Mbok Nah hanya pegang secukupnya saja.


Kini di usia senjanya, sepertinya tak ada satupun dari anaknya yang bisa dijadikan tempat bersandar.


"Siap, Bu," sahut mbok Nah. Lalu membawa ember ke belakang.


"Siap, siap tapi enggak paham juga," gumam Susi.


Susi berjalan ke ruang tengah. Sambil menonton televisi, Susi membaca lagi undangan pernikahan Sinta.


Dan mereka akan menyiapkan bersama-sama.


Hhh! Susi menghela nafasnya. Hubungan pertemanannya dengan Rahma juga ikut kandas.


Susi mengembalikan lagi undangan itu ke bawah meja. Lalu berjalan menuju kamarnya.


Puyeng mikirin anak gadisku itu. Mending aku ke rumah temanku aja. Belajar lagi bikin kue.


Susi bersiap-siap pergi. Bukannya tak mau menjaga Nadia, seperti yang diminta Haris, tapi Susi bete sendirian di rumah.


Surya dan Viona sampai.


"Ayo masuk, Vi," ajak Surya.


Surya menggandeng tangan Viona. Dengan rasa percaya diri yang dipaksakan, Viona melangkah di samping Surya.


"Surya! Darimana kamu?" tanya Rahma yang sedang duduk di ruang tamu.


Di situ ada eyang kakung dan eyang putrinya. Juga Sinta yang hari ini sedang tak ada jadwal kuliah.


"Mama. Mm...Surya dari rumah teman, Ma," jawab Surya.


"Dari rumah teman? Menginap?" tanya Rahma lagi dengan nada ketus.

__ADS_1


Nyali Viona makin ciut. Meskipun Surya masih menggenggam tangannya.


Rahma menatap Viona dengan tajam. Lalu pandangannya beralih ke tangan Surya yang masih menggenggam tangan Viona.


Begitu juga kedua eyangnya. Mereka terlihat kurang suka dengan cara Surya.


Semalam dia tidak pulang. Tidak memberi kabar sama sekali. Pulang-pulang menggandeng wanita.


"Surya...ketiduran, Ma. Oh, iya. Kenalin. Ini Viona. Teman kuliah Surya." Surya mencoba mengalihkan pertanyaan Rahma agar tak berlanjut.


Viona tersenyum dan mengangguk dengan sopan. Tapi rupanya tak membuat luluh wajah Rahma juga kedua eyangnya Surya.


"Mama udah tau! Lepasin itu tangan kamu! Enggak sopan! Kamu enggak liat ada eyang di sini?" Suara Rahma semakin ketus.


Surya pun melepaskan tangan Viona perlahan.


"Duduk, Vi," ucap Surya.


Sebenarnya Sinta ingin mempersilakan, tapi melihat mamanya marah dan wajah kedua eyangnya yang dingin, nyalinya pun ciut.


Sinta bergeser, memberikan tempat buat duduk Viona.


Viona pun duduk. Surya duduk di dekatnya juga.


Saat itu, Viona ingin sekali lari pulang. Tapi itu sangat tidak sopan. Apalagi sesuai kemauannya, Viona akan menjadi bagian dari keluarga Surya.


Viona pun harus memberanikan diri menghadapi mereka.


Sinta yang duduk di sebelahnya, belum berucap sepatah katapun.


"Ma. Surya mau ngomong serius. Tentang hubungan Surya dengan Viona," ucap Surya memberanikan diri.


"Hubungan apalagi? Udah, jangan nambah-nambahi pikiran Mama! Mama lagi sibuk ngurus pernikahan Sinta!" sahut Rahma.


Glek!


Jantung Viona seperti mencelos. Suara ketus Rahma membuat Viona sangat tak nyaman.


"Viona bisa membantu, Ma," ucap Surya.


"Urusan apa? Udah, bawa pulang teman kamu ini. Hari ini Mama mau nganter Sinta fitting baju pengantin. Kamu antar dulu dia, lalu anterin kami!" Dan tanpa basa basi lagi, Rahma berdiri.


Spontan Viona yang merasa diusir pun, ikut berdiri.


"Permisi, Tante!" ucap Viona dengan nada ketus juga.


"Vi. Kamu mau kemana?" tanya Surya.


Viona hanya melirik Surya sekilas, lalu berjalan keluar.


Surya mengejarnya.


"Vi. Tunggu, Vi!" Surya berusaha menarik tangan Viona. Tapi Viona menghempaskannya.

__ADS_1


Apa yang dikhawatirkannya, benar-benar terjadi. Viona bukan hanya tidak diterima oleh keluarga Surya, dia juga diusir, meski dengan cara yang halus.


__ADS_2