PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 180 SALAH TANGGAP


__ADS_3

Rahma keluar lagi dari kamarnya. Dia sangat gelisah menunggu kedatangan Yogi nanti sore.


Padahal hampir tiap pagi Yogi datang menjemput Sinta. Bahkan kadang ikut makan pagi bersama, kalau tidak kesiangan.


Siang atau sorenya, Yogi juga selalu mengantar Sinta pulang. Kadang juga tetap di rumahnya karena Yogi terus lanjut ngobrol dengan Surya.


Tapi hari ini terasa berbeda bagi Rahma. Perasaannya tidak tenang.


Sementara Toni juga merasakan hal yang sama dengan Rahma. Meskipun dia lebih terlihat tenang. Tapi Toni jadi kurang fokus pada pekerjaannya.


Toni sampai ditegur oleh sekretarisnya.


"Pak Toni lagi tidak enak badan?" tanya Yudi. Sekretaris pribadi Toni.


Toni memilih sekretaris laki-laki biar lebih nyaman. Rahma pun tak merasa curiga. Karena menurut Toni, kalau istri sudah curiga, konsentrasi bekerja jadi terganggu.


"Enggak. Aku baik-baik aja, kok," jawab Toni.


"Syukurlah. Tapi Bapak terlihat sangat gelisah. Apa Bapak lagi punya masalah?" tanya Yudi lagi.


Meski usia Yudi jauh di bawah Toni, tapi dia seringkali memberi nasehat pada bosnya. Toni sering menceritakan persoalannya pada Yudi. Sekedar untuk meringankan beban pikirannya saja.


"Enggak apa-apa, Yud. Nanti jam tiga, aku pulang, ya," ucap Toni.


"Iya, Pak. Ada acara?" tanya Yudi.


"Enggak. Cuma ada sedikit urusan aja, di rumah. Biasa. Soal anak-anak," jawab Toni.


Yudi mengangguk. Meskipun dia bakal dapat limpahan pekerjaan dari bosnya.


Sementara Novia yang membawa Sinta ke butik, masih asik memilih pakaian terbaik buat mereka berdua.


Novia yang dari dulu merindukan anak perempuan, merasa sangat senang bisa mengajak Sinta tanpa penolakan.


Novia sampai lupa memberi kabar ke keluarga Sinta kalau bakal mengundang mereka makan malam.


"Kamu suka yang warna apa, Sinta?" tanya Novia di depan jajaran pakaian model terbaru.


"Kok saya, Ma?" tanya Sinta tak mengerti. Dia tak berpikir kalau Novia bakal membelikannya pakaian. Apalagi di sebuah butik mahal.


"Iya, kamu sama Mama. Kita nanti couplean. Setuju, kan?"


"Iya, Ma." Sinta mengangguk. Dia tak bisa menolak kemauan Novia. Apalagi pilihan pakaiannya sudah ada di depan mata.


Akhirnya Sinta terpaksa memilih warna dan model yang disukainya.


"Yang ini aja, Ma. Warnanya manis dan modelnya simple." Sinta menunjuk sebuah gaun warna pink yang pastinya sangat cocok untuk Sinta yang masih muda.


"Hhmm. Boleh juga. Mama ambil yang ini. Yang warnanya lebih tuaan."


Novia tak menolak pilihan Sinta. Dia malah ikut mengambil model yang sama. Hanya warnanya saja yang dia bedakan.


Novia mengambil warna yang lebih tuaan. Karena dia merasa bakal tampak lucu kalau seusianya memakai warna pilihan Sinta.

__ADS_1


Apalagi Novia yang sebenarnya berjiwa cowboy. Enggak ada dalam daftarnya pakaian berwarna itu.


Tapi Novia juga tak mau memaksakan keinginannya pada Sinta. Bagaimanapun, jiwa Sinta masih terlalu muda. Pastinya sangat menyukai warna-warna yang manis seperti itu.


Selesai memilih pakaian untuk mereka berdua, Novia mengajak Sinta ke butik di sebelahnya. Dia akan mencarikan pakaian untuk Yogi dan suaminya.


Enggak asik banget kalau cuma mereka yang memakai baju couplean, sementara dua lelaki itu pakai baju asal-asalan.


"Sinta. Kamu pilihkan baju buat Yogi, ya," ucap Novia.


"Kalau bisa yang senada dengan pilihanmu tadi," lanjut Novia.


"Kok Sinta, Ma?" tanya Sinta.


"Iya. Kamu kan bakal jadi istrinya Yogi. Kamu harus mulai bisa memilihkan pakaian untuknya," jawab Novia.


Sinta mengangguk.


Sinta tak berpikir sejauh itu. Dimana dia harus memilihkan pakaian untuk Yogi. Karena Sinta merasa apa yang selama ini dikenakan Yogi, pantas-pantas saja.


Bahkan Sinta terpesona dengan penampilan Yogi yang keren. Apa yang dipakai Yogi selalu pas di mata Sinta.


Menjelang maghrib, Sinta dan calon ibu mertuanya pulang ke rumah keluarga Yogi.


"Mama gimana, sih? Katanya mau mengundang mama sama papanya Sinta. Jam segini malah baru pulang," ucap Yogi dengan kesal.


Pasalnya dia sudah reservasi tempat di sebuah restauran untuk jam tujuh nanti. Sedangkan keluarga Sinta belum dikabari.


"Oh, iya. Mama lupa." Novia menepuk keningnya.


"Sinta. Kamu hubungi mama kamu, ya? Mama mau siap-siap dulu," ucap Novia pada Sinta.


Sinta mengambil ponsel yang dari tadi siang tak dibukanya.


"Yaa...hape Sinta mati, Ma." Sinta lupa kalau dari siang tadi hapenya udah lowbath.


"Pantesan dari tadi aku telpon kamu, enggak bisa. Mana mama enggak bawa hape, lagi," sahut Yogi.


Sinta hanya nyengir.


"A, pinjem charger dong." Sinta memberikan ponselnya pada Yogi.


"Pinjem charger apa minta dichasin?" ledek Yogi.


"Dua-duanya." Lalu Sinta terkikik.


"Aa, pinjem hapenya dong. Buat nelpon kak Surya. Kalau nunggu hape Sinta terisi, nanti kelamaan. Kasihan mereka kalau terburu-buru," ucap Sinta.


Yogi mengangguk, lalu menyambungkan ke nomor Surya.


"Nih." Yogi memberikan ponselnya pada Sinta.


Sinta pun menunggu sampai Surya mengangkat telponnya.

__ADS_1


Sayangnya Surya tak juga mengangkatnya. Karena Surya lagi disuruh Rahma, ke warungnya bu Nur.


Rahma menyuruh Surya membeli gula, untuk membuatkan minuman tamunya nanti.


Padahal Surya sudah mencegahnya.


"Cuma Yogi aja, ngapain repot-repot sih, Ma?" tanya Surya tadi.


Tapi Rahma tetap menyiapkan makanan dan minuman. Perasaannya tak enak.


Rahma sudah seperti mau menyambut banyak orang saja.


Surya naik motor ke warung bu Nur, walaupun dekat. Karena kalau jalan kaki, dia mesti melewati rumah Nadia.


Kalau naik motor, kan bisa ngebut saat lewat depan rumah Nadia.


"Eh, Mas Surya. Masih kangen sama bu Nur, ya?" sapa bu Nur sok akrab dan sedikit ganjen.


Maklum, Surya termasuk idola remaja di komplek perumahan mereka.


"Mau beli gula, bu Nur," sahut Surya.


"Oh. Berapa kilo?" tanya bu Nur.


"Satu kilo aja. Sama teh dan kopinya sekalian," jawab Surya.


"Siap, Mas Surya. Mau ada tamu? Apa buat persediaan aja?" tanya bu Nur.


"Dua-duanya, bu Nur," jawab Surya.


"Pasti calon mantu, ya?" tebak bu Nur.


"Bu Nur tau aja," sahut Surya. Karena memang yang mau datang adalah Yogi. Calon mantu mamanya.


"Nah, gitu dong. Bu Nur kan tadi juga bilang begitu. Kalau pacaran jangan lama-lama. Pamali!" ucap bu Nur.


Bu Nur ikut senang, kalau Surya bisa cepat bersanding dengan Nadia.


"Iya, Bu Nur. Berapa semua?" tanya Surya.


Bu Nur pun menghitung belanjaan Surya.


Setelah membayar, Surya pun segera pulang. Dia enggak mau juga berlama-lama di warung bu Nur. Bisa-bisa dia jadi bergosip kayak ibu-ibu di komplek itu.


Dasarnya bu Nur, berita yang dianggapnya adalah berita gembira, dia sampaikan kepada tetangga-tetangga yang kebetulan belanja di warungnya.


Hingga hanya dalam hitungan menit, berita itu menyebar. Dan beberapa tetangga datang menyambangi rumah Rahma.


"Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya tetangga Surya dan Nadia.


"Ini ada apa, ya?" tanya Rahma bingung.


"Lho, bukannya Surya mau melamar Nadia? Atau kita bantu di rumahnya bu Susi saja?"

__ADS_1


Rahma semakin kebingungan.


__ADS_2