PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 106 MENUNGGU KEPASTIAN


__ADS_3

Yogi mengajak Sinta pulang. Bukannya dia takut dengan ancaman Surya, tapi Yogi ingin membuktikan pada Surya kalau dia bukan lelaki brengsek.


Yogi menyayangi Sinta. Dan dia ingin menjaganya dengan baik. Tak mau menodainya dulu.


Di rumah Sinta pun, Yogi hanya duduk di teras. Seperti tadi sebelum mengajak Sinta keluar.


"Enggak masuk, A'?" tanya Sinta.


"Di sini aja deh. Gerah kalau di dalam," jawab Yogi.


Sinta pun mengangguk.


"Eh, A', mama kan udah pulang. Gimana kalau kita tanyain ke mama soal foto tadi?" tanya Sinta.


"Jangan, Cin. Nanti kita tanya langsung ke Surya aja. Kamu juga jaga rahasia ini dulu. Jangan sampai orang lain tau. Oke?"


"Rahasia apaan, sih?" Rahma tiba-tiba sudah ada di dekat pintu.


"Eh, Mama!" Sinta sangat terkejut.


"Bukan apa-apa kok, Tante." Yogi juga tak kalah terkejutnya.


"Ya udah deh. Terserah kalian. Tante cuma mau nanya ama Sinta. Itu banyak banget paper bag di meja makan. Punya siapa? Kok kayak bau terasi?" tanya Rahma.


"Oh iya. Itu oleh-oleh dari tante Novia, Ma. Mereka kan abis dari kampungnya mak Yati," jawab Sinta.


"Lho, kok banyak banget?" tanya Rahma lagi.


"Tadi mak Yati bawain kita oleh-olehnya juga banyak, Tante," jawab Yogi.


"Kok kayak bau terasi sama ikan asin. Memangnya kampung mak Yati di mana, Yog?" tanya Rahma pada Yogi.


"Di kota pesisir, Tan. Di sana kan penghasil terasi sama ikan asin," jawab Yogi.


"Oh, pantesan," sahut Rahma.


"Itu makanan kesukaan kak Yogi, Ma," ucap Sinta.


"Oh ya? Yogi suka sama ikan asin?" tanya Rahma.


"Suka banget, Tante. Apalagi makannya pakai sambal terasi. Hehehe." Yogi nyengir.


"Ajari Sinta tuh, biar suka juga sama ikan asin," pinta Rahma.


"Caranya gampang kok, Tante," sahut Yogi.


"Gampang gimana?" tanya Rahma.


"Tante enggak usah masak macem-macem. Gorengin aja ikan asin sama bikin sambal terasi. Pasti nanti dimakan ama Sinta. Hahaha." Yogi tertawa ngakak.


"Iih, jahat banget. Masa makannya cuma pake itu, sih?" Sinta merajuk.


"Belajar hemat. Hemat itu pangkal kaya! Hahaha." Yogi kembali tertawa.


"Nah, dengerin tuh, Sinta," sahut Rahma. Lalu masuk kembali ke dalam.


Rahma membuka semua oleh-oleh dari Novia.


Hhmm...banyak banget! Batin Rahma.

__ADS_1


Lalu Rahma menyimpannya di lemari dapur. Dia pun menyiapkan kue yang tadi dibelinya di jalan, saat pulang. Buat gantian ngasih ke Novia.


Rahma meraih ponselnya. Dia menelpon Novia. Mengucapkan terima kasih.


Dan mereka malah jadi asik ngobrol. Novia menceritakan pengalamannya selama di kota pesisir, termasuk saat mereka masuk ke dalam kapal pengangkut barang.


"Wah, seru banget kayaknya," komentar Rahma.


"Iya, Ma. Kami ketemu teman kuliahnya Yogi. Namanya Viona. Pacar Viona seorang pelaut. Putra namanya. Dia yang mengajak kita jalan-jalan ke kapal," sahut Novia.


"Viona?" tanya Rahma.


Rahma ingat nama Viona saat menjenguk Nadia saat di rawat karena kecelakaan.


Rahma juga ingat, kalau Yogi waktu itu datang bersama dengan Viona.


"Iya. Viona. Surya mungkin kenal," jawab Novia.


"Mungkin juga," sahut Rahma.


Dan setahu Rahma, Viona itu naksir Surya. Ah, entahlah. Rahma tak mau mikirin. Namanya juga anak muda.


Novia dan Rahma juga membicarakan soal rencana besok pagi. Rencana mereka berlibur bersama.


Setelah mengakhiri obrolannya, Novia mengirimkan beberapa foto mereka saat di kapal.


Rahma membuka beberapa foto itu. Benar di foto itu ada Viona. Di sebelahnya ada seorang lelaki dengan badan kekar, memeluk Viona.


Rahma merasa tertarik dengan wajah lelaki itu. Rahma merasa pernah melihatnya.


Rahma memperjelas wajah lelaki itu.


Dewa?


Rahma mengamati lagi wajah Putra. Sangat mirip. Cuma dulu badan Dewa ceking.


"Foto siapa, Ma?" tanya Toni.


"Ini, Pa. Novia ngirimin foto mereka saat liburan kemarin. Mereka foto-foto di kapal. Mama lihat ada orang yang wajahnya mirip Dewa. Tapi kata Novia, itu namanya Putra," jawab Rahma. Dia memperlihatkannya pada Toni.


Toni melihatnya sekilas.


"Mungkin cuma mirip, Ma," sahut Toni. Toni memang tak begitu hafal wajah Dewa. Karena mereka jarang ketemu.


"Bisa jadi, Pa. Tapi beneran mirip banget. Cuma namanya beda. Yang ini namanya Putra," ucap Rahma.


"Nah, itu. Namanya aja beda. Berarti cuma mirip aja," sahut Toni.


Rahma mengangguk-angguk. Tapi masih merasa penasaran.


Rahma menutup ponselnya. Dia akan memperlihatkannya nanti pada Surya.


Rahma pamit pada Toni untuk nyiapin makan malam buat mereka nanti.


"Eh, Pa. Itu ada ikan asin sama terasi, oleh-oleh dari Novia. Papa mau enggak, Mama gorengin ikan asin?" tanya Rahma.


"Ikan asin? Memangnya enak?" tanya Toni.


"Enak lah, Pa. Jaman Mama kecil dulu, ibu sering menggorengkannya," jawab Rahma.

__ADS_1


Rahma jadi teringat masa kecilnya dulu. Ibunya sering menggoreng ikan asin. Dia dan kakaknya suka mengambil yang kecil-kecil dan memakannya langsung.


Tapi setelah berumah tangga, Rahma hampir tak pernah menggorengnya.


Suami dan anak-anaknya tak menyukainya. Alasannya karena asin. Iyalah, namanya juga ikan asin. Kalau pedas namanya ikan balado.


"Boleh deh. Tapi jangan terlalu banyak, Ma. Takutnya enggak pada doyan. Sayang kan, kalau kebuang," sahut Toni.


Rahma mengangguk, lalu ke dapur.


Seperti biasanya, dia selalu menyiapkan sendiri makanan untuk suami dan anak-anaknya. Kadang-kadang saja Sinta membantu.


Di teras, Yogi masih asik ngobrol dengan Sinta. Sampai kemudian Surya pulang menjelang maghrib.


Yogi memang sengaja menunggu Surya pulang. Dia dan Sinta penasaran dengan orang yang ada di foto Yogi.


"Masih di sini kamu, Yog?" tanya Surya.


"Masih, Bro. Gue kan kangen ama elu!" Yogi langsung berdiri dan meraih tangan Surya.


Dengan sekali tarik, Surya masuk ke pelukan Yogi.


"Ih, Najis!" Surya berusaha melepaskan pelukan Yogi.


Yogi melepaskannya sambil ngakak.


Surya duduk di sebelah Sinta.


"Sin, aku bikinin teh hangat dong," pinta Surya.


"Oh iya. Aku sampai lupa enggak bikinin minuman buat Aa." Sinta menepuk dahinya sendiri.


Saking asiknya ngobrol, sampai Sinta kelupaan.


"Sejak kapan kamu panggil Yogi, Aa?" tanya Surya.


"Sejakkarta! Hahaha." Yogi yang menyahut sambil ngakak.


Sinta pun buru-buru masuk. Dia tak mau nanti ketinggalan berita.


Sampai di ruang tamu, ternyata Rahma sudah membawakan dua cangkir teh.


Langsung saja Sinta meraihnya.


"Kamu tuh, ada Yogi bukannya dibuatkan minum!" ucap Rahma. Sinta hanya nyengir.


"Busyet cepet amat?" komentar Yogi.


"Kilat khusus!" sahut Sinta.


Sinta memberikannya pada Yogi dan Surya. Meskipun sebenarnya teh itu untuknya dan Yogi.


"Sur, kita mau nanya sesuatu sama kamu," ucap Yogi.


"Nanya apaan?" Surya mengernyitkan dahi.


Yogi mengambil ponselnya. Lalu membuka galery fotonya.


"Nih!" Yogi memperlihatkan foto yang sudah dia zoom.

__ADS_1


Surya mengambil ponsel Yogi.


Dewa....!


__ADS_2