PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 36 BAPER


__ADS_3

Setelah hampir satu jam menunggu, pelaku penabrakan dan keluarganya datang.


"Mas Surya! Silakan masuk. Mereka sudah datang," panggil Hartono.


Surya yang duduk agak jauh dari ruangan Hartono, segera beranjak. Diikuti oleh Yogi yang lagi asik merokok. Yogi membuang puntung rokoknya.


Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Hartono. Dan mata Surya menangkap sosok wanita yang dikenalnya.


Celyn.


Celyn pun menatap Surya dengan terkejut.


"Surya....!"


"Celyn....!"


"Lho, kalian kenal?" tanya seorang wanita hampir setengah baya. Yang tak lain adalah mamanya Celyn.


"Dia Surya, Ma. Teman sekolah Celyn," jawab Celyn.


Wanita yang dipanggil mama oleh Celyn, menatap wajah Surya. Lalu beralih pada Yogi yang hanya diam. Diam-diam Yogi lagi mengagumi wajah cantik Celyn.


"Lalu korbannya?" tanya Dina. Mamanya Celyn.


"Nadia. Dia tidak bisa hadir di sini. Kakinya masih bengkak dan luka yang dijahit belum kering. Saya wakilnya," jawab Surya tanpa mengatakan seperti di surat pernyataan damai yang tadi ditandatanganinya, bahwa dia kakak dari Nadia.


Surya menatap wajah lelaki yang duduk di sebelah Celyn. Lelaki seumurannya. Mungkin lebih tua sedikit. Dengan luka tertutup perban di dahinya.


Yogi yang tadi berapi-api ingin memberi pelajaran pada pelakunya, hanya bisa diam. Dia lagi terpesona dengan Celyn.


"Silakan duduk, Mas Surya," ucap Hartono. Kali ini dia bertindak sebagai mediator. Dia akan menengahi mereka kalau terjadi ketidaksepahaman.


"Kenalkan, saya Dina. Mamanya Defa." Dina memulai pembicaraan.


Surya mengangguk dengan sopan.


"Defa kakakku, Sur," ucap Celyn menambahkan.


Surya melihat wajah keduanya yang sangat jauh berbeda. Celyn dengan wajah yang menawan, kulit putih mulus dan tinggi semampai bak model.


Sedangkan Defa, terlihat dekil dengan warna kulit coklat terpanggang matahari. Rambut gondrong acak-acakan.


Pakaiannyapun mencerminkan kalau dia anak jalanan. Tepatnya anak punk. Dengan tatto dan tindikan di sekujur tubuhnya.


Defa menatap Surya dengan tajam. Surya pun membalasnya tak kalah tajam.


"Ehem!" Dina berdehem untuk mencairkan suasana yang terlihat sangat dingin dan tegang.


Lalu memulai lagi pembicaraan soal kecelakaan kemarin. Dan rupanya pihak Surya tak mempersulit dan pihak Defa bisa menerima keputusan Surya.


Dan kesepakatanpun terjadi. Mereka mengganti semua biaya pengobatan Nadia, termasuk mengganti perbaikan motor yang lumayan rusak di beberapa bagiannya.


Tapi saat pihak Defa berinisiatif untuk bertemu dengan Nadia dan keluarganya, Surya menolaknya.


Surya seorang yang posesif. Dia tak pernah mengijinkan Nadia bertemu dengan lelaki asing. Termasuk Defa.


Meskipun penampilan Defa acak-acakan, tapi Defa memiliki garis wajah yang tampan.

__ADS_1


Dan bukan tak mungkin kalau Nadia tiba-tiba menyukainya. Belum lagi soal Celyn. Surya tak ingin membuat Nadia curiga.


"Ya sudah. Terima kasih telah memaafkan kesalahan anak saya, meskipun bukan dari Nadia nya sendiri. Kamu bisa mengirimkan nomor rekening pada Celyn. Biar kami bisa menyelesaikan kewajiban."


Setelah berkata seperti itu, Dina keluar ruangan dengan sedikit kecewa. Disusul oleh Defa yang kembali memandang Surya dengan tajam.


"Sur, aku tunggu nomor rekeningnya. Nanti malam kita ketemu di cafe biasa," ucap Celyn sebelum berlalu tanpa menunggu persetujuan Surya.


Surya hanya menghela nafasnya. Lalu pamit pada Hartono.


"Kenapa kamu tak mengijinkan mereka ketemu?" tanya Yogi sambil berjalan ke parkiran.


"Aku kurang suka dengan sikap Defa," jawab Surya.


"Tapi mamanya dan Celyn bersikap baik, kan?" tanya Yogi lagi.


Surya tak menjawab. Dia hanya membantu Yogi membawa motor Nadia menuju bengkel yang tak jauh dari kantor polisi.


"Dasar aneh!" gumam Yogi.


Surya tak bereaksi apapun. Baginya keputusan ada di tangannya. Dan semua resiko berani dia tanggung.


"Aku antar kamu pulang ke rumahmu. Atau kamu mau pulang ke kosan Viona?" ledek Surya.


"Bisanya cuma ngeledek. Tadi aja, keras kayak batu. Aku pulang aja. Ngantuk."


Surya pun mengantarkan Yogi pulang.


"Oke, Sur. Terima kasih. Kalau kamu butuh teman lagi nanti malam, aku siap menemani. Ketemu Celyn. Hehehe," Yogi terkekeh.


"Hhmm. Dasar bucin. Kalau sama Nadia aja maunya berduaan terus."


Surya pun melajukan motornya lagi. Dia tak mempedulikan mukut Yogi yang masih saja menerocos.


Surya melajukan motornya ke rumah Nadia. Dia sudah sangat merindukannya.


"Nadianya ada, Tante?" tanya Surya sesampainya di rumah keluarga Nadia.


"Tuh, di taman samping. Masuk aja, Sur," jawab Susi yang kelihatannya buru-buru mau pergi.


"Tante mau pergi?" tanya Surya.


"Iya. Tante titip Nadia dulu, ya. Enggak lama kok," jawab Susi.


"Iya, Tan. Saya tungguin Nadia." Dengan penuh semangat Surya menyetujuinya.


Lalu Surya berjalan menuju taman samping. Sebuah taman kecil yang terlihat sangat asri.


"Hey, Nad," sapa Surya.


Nadia sedang duduk sambil membuka ponselnya. Kakinya yang masih bengkak diselonjorkan pada sebuah kursi.


"Hey, Sur. Dari mana?" tanya Nadia.


"Dari kampus, terus mengurus motormu. Ketemu sama penabrakmu juga. Dia akan mengganti semua biaya pengobatan dan perbaikan motormu," jawab Surya.


Surya berjongkok di depan Nadia sambil memperhatikan kaki Nadia yang terluka.

__ADS_1


"Masih sakit?" tanya Surya.


"Lumayan. Tuh jalannya dibantu tongkat." Nadia menunjuk sebuah tongkat besi.


Surya melihatnya dengan penuh kesedihan. Nadia pasti tertatih sambil menahan sakit saat berjalan.


"Hmm. Nanti aku gendong aja ya, kalau kemana-mana? Biar enggak usah pake tongkat lagi."


"Aku bukan anak kecil, Sur," sahut Nadia.


"Tapi bukan nenek-nenek juga kan, yang mesti jalan pakai tongkat." Surya tak mau kalah.


"Ih, kamu mah mau cari kesempatan aja," ucap Nadia.


"Kesempatan apa? Aku kan mau menolong kamu, Nad. Biar kamu enggak kesakitan saat jalan," sahut Surya.


"Sakit sedikit. Paling beberapa hari aja. Oh, iya. Siapa pelakunya?" tanya Nadia. Surya tadi belum menjelaskan.


"Anak punk. Aku melarangnya ketemu kamu," jawab Surya jujur.


Nadia mengernyitkan dahinya.


"Kenapa?"


"Nanti kamu ketularan jadi nge-punk. Hahaha." Dengan entengnya Surya menjawab.


Padahal dia takut kalau Nadia naksir anak punk itu. Dasar bucin!


"Emang anak punk punya uang banyak buat mengganti semuanya?" tanya Nadia. Setahunya, anak punk adalah anak jalanan. Paling kerjanya cuma ngamen di perempatan.


"Dia anak orang kaya. Kakaknya Celyn." Surya keceplosan.


"Celyn?" Nadia merasa seperti pernah mendengar nama itu.


"Mm....Iya. Celyn, teman SMA kita. Kamu masih ingat?" Mau tak mau, Surya mengatakannya. Terlanjur.


"Oh, iya. Yang sekelas sama kamu, kan?" Nadia berhasil mengingatnya. Meski tak pernah mengenalnya secara pribadi.


"Iya," jawab Surya singkat.


"Yang dulu naksir kamu, kan?" ledek Nadia.


Surya menatap wajah Nadia.


"Darimana kamu tau?"


"Dewa pernah bilang begitu. Makanya Dewa sering diam-diam mengantar aku pulang. Katanya kasih kesempatan buat kamu sama si Celyn itu," jawab Nadia.


Hh. Licik juga Dewa. Demi bisa selalu bersama Nadia, dia mengarang cerita yang enggak bener.


"Enggak, Nad. Aku enggak pernah pacaran sama Celyn," ucap Surya.


"Pernah juga enggak apa-apa kok, Sur. Eh, apa kabarnya Celyn sekarang?"


"Nad. Aku enggak pernah berhubungan dengan Celyn! Aku enggak pernah tahu kabarnya sama sekali!" jawab Surya dengan kesal. Meskipun dia berbohong.


"Baper....Hahaha." Tawa Nadia yang dari kemarin menghilang kembali datang lagi.

__ADS_1


__ADS_2