
Nadia mengirimkan pesan lagi pada Surya. Meskipun pesan terakhirnya belum dibaca.
Ddrrtt. Ponsel Surya bergetar. Surya yang mengantongi ponselnya di celana, mengambilnya.
"Dari siapa, Kak?" tanya Sinta.
"Nadia," jawab Surya. Dia hanya melihatnya sepintas tanpa membukanya.
"Dibaca, Bro. Siapa tau penting," ucap Yogi.
"Iya, Kak. Buka aja." Sinta ikutan menyahut.
Surya masih diam saja. Hatinya sangat galau.
"Elu enggak boleh diam aja begitu, Bro. Bicarakan baik-baik sama Nadia," lanjut Yogi.
Sinta mengangguk setuju. Bagaimana pun, dia tetap berharap hubungan Surya dengan Nadia membaik. Syukur-syukur bisa berjodoh.
Surya membuka pesan Nadia dan membacanya.
"Dia minta aku datang ke rumahnya," ucap Surya.
Sinta memandang Yogi. Seakan minta Yogi memberi dukungan pada Surya agar mau memenuhi permintaan Nadia.
Yogi paham apa maksud Sinta.
"Datanglah, Bro. Selesaikan semua baik-baik. Kalau memang bisa lanjut, ya lanjut. Kalaupun enggak, elu mesti berbesar hati," ucap Yogi.
Sinta salut pada Yogi. Orang yang menurut Surya sedikit sinting, ternyata punya pemikiran yang lebih dewasa.
"Apa aku sanggup?" tanya Surya. Pertanyaan yang lebih dia tujukan untuk dirinya sendiri.
"Harus sanggup, Bro. Kan gue pernah bilang sama elu, tak selamanya hidup sesuai dengan ekspektasi," sahut Yogi.
Meski selengekan, Yogi sudah terlalu sering dikecewakan dalam hidup. Baik oleh kedua orang tuanya yang selalu sibuk sendiri, maupun dalam percintaan.
Jadi mental Yogi sudah sangat teruji. Dia tak pernah merasa takut dengan resiko seberat apapun.
Sangat berbeda dengan Surya yang selalu hidup bahagia. Meskipun kadang harus mengorbankan perasaannya sendiri agar bisa terlihat bahagia.
"Oke. Aku ke sana sekarang." Surya beranjak dari duduknya.
"Eit! Siapa yang mau bayar ini semua?" Yogi lupa kalau sesuai perjanjian tadi, dia yang harus mentraktir.
"Ya kamulah. Jangan pura-pura lupa!" sahut Surya sambil berlalu pergi.
Dia tak pedulikan lagi Sinta yang memandangnya aneh. Juga Viona yang terus saja menatapnya dari kejauhan.
"Kayak judul lagu aja. Pura-pura lupa," gumam Sinta.
"Tau-tauan judul lagu. Memangnya bisa nyanyi?" ledek Yogi.
"Bisalah. Tapi fals. Hahaha," jawab Sinta.
Yogi pun ikutan tertawa. Sengaja dia keraskan suaranya biar Viona melihat.
"Enggak apa-apa fals, yang penting pede. Kapan-kapan kita karaokean, yuk," ajak Yogi.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Sinta.
"Ya di tempat karaoke lah, masa di rumah sakit?" sahut Yogi.
Sinta memang tak pernah ke tempat karaoke. Kalau kepingin nyanyi, ya cukup menyalakan speaker aktif di rumahnya.
"Iih, Kakak. Aku kan enggak pernah ke tempat karaoke. Makanya nanya," sahut Sinta.
"Ya udah, kapan-kapan aja. Sekarang kita lagi masa prihatin," ucap Yogi.
Sinta mengernyitkan dahinya.
"Kakak enggak punya uang?"
Yogi tertawa terpingkal-pingkal. Adik temannya ini benar-benar sangat cetek cara berpikirnya. Terlalu lugu.
"Prihatin sama nasib percintaan kakak kamu yang bertepuk sebelah tangan," bisik Yogi di dekat telinga Sinta.
Sinta terdiam. Selain dia merasa deg-degan karena bibir Yogi hampir saja menyentuh telinganya, juga ikut prihatin dengan nasib kakaknya.
"Kok malah melamun. Aa kan di sini, Cinta. Apa yang dilamunin?" ledek Yogi.
Sinta mencubit lengan Yogi.
"Eh, udah berani cubit-cubitan. Entar aku bales lho," ledek Yogi lagi.
"Iih, Kakak jahat. Masa begitu aja mau dibales. Memangnya sakit?"
"Enggak. Malah enak. Lagi dong." Yogi mendekatkan lengannya.
Sontak membuat wajah Sinta merah merona karena malu.
Sinta menjauhkan wajahnya. Karena tangan Yogi hampir saja tangan Yogi menyentuh hidungnya.
"Kenapa menjauh?" tanya Yogi.
"Entar hidungku makin mancung," jawab Sinta.
"Udah bisa becanda ya, kamu." Yogi mengacak rambut Sinta.
"Iih, jangan ngacak-acak rambutku dong, Kak. Berantakan, kan?" Sinta merajuk sambil merapikan rambutnya.
"Ya udah, sini aku rapikan lagi." Tangan Yogi memegang rambut Sinta bagian depan. Dan otomatis menyentuh tangan Sinta.
Sejenak mereka saling diam. Lalu Sinta menarik tangannya. Dan tertunduk malu.
Seumur-umur dia belum pernah bersentuhan tangan dengan lelaki. Kecuali saat bersalaman.
Viona menatap mereka dari tempatnya duduk. Lalu segera beranjak pergi, karena merasa kesal.
Bukan cemburu, tapi iri. Sinta bisa dekat dengan Yogi. Sedangkan dia yang setengah mati mengejar Surya, yang dikejar malah terasa semakin jauh.
Yogi melirik sekilas. Dia tahu kalau Viona pasti bete melihatnya begitu akrab dengan Sinta. Tapi Yogi mengabaikannya.
Yogi tak mau lagi mempedulikan Viona. Dia ingin menikmati hidupnya lagi tanpa bayang-bayang Viona.
Yogi yang setengah mati juga mengejar Viona, yang dikejar malah mengejar lelaki lain.
__ADS_1
"Kamu udah pernah pacaran, Cin?" Yogi terus saja memanggil Cinta pada Sinta. Membuat yang punya nama makin merasa melambung.
Sinta menggeleng.
"Beneran?" tanya Yogi.
Sinta mengangguk.
"Kalau jatuh cinta? Pasti udah pernah dong?"
Sinta hanya tersenyum. Dia ingat saat merasa jatuh cinta pada teman SMA-nya. Meski cinta yang hanya bisa disimpannya dalam hati.
Karena Sinta belum berani menunjukan perasaannya. Dan pada akhirnya, rasa cinta itu hilang dengan sendirinya, seiring kesibukan Sinta menghadapi ujian akhir sekolah.
"Pasti cowok beruntung yang bisa mendapatkan hatimu," ucap Yogi.
Sinta menggeleng lemah. Karena kenyataannya, cowok itu tak pernah tahu kalau Sinta mencintainya.
"Kok menggeleng?" tanya Yogi.
"Mungkin bukan cinta, Kak. Cuma sekedar suka," jawab Sinta.
"Cinta monyet," ucap Yogi.
"Iih, kok ngatain Sinta monyet sih?" Sinta langsung cemberut.
"Hahaha. Iya, aku lupa kalau namamu sekarang jadi Cinta. Maksudku bukan kamu yang monyet, tapi cintanya. Gitu aja ngambek," sahut Yogi.
"Siapa yang ngambek?" tanya Sinta.
"Itu tadi. Wajahmu langsung cemberut. Tapi makin menggemaskan." Yogi benar-benar mencubit hidung Sinta.
Jantung Sinta langsung mencelos. Serasa mau copot.
Dan wajahnya semakin merona.
"Wajah kamu makin menggemaskan kalau begitu," ucap Yogi perlahan.
Sinta semakin melambung tinggi. Dan dia berasa kebelet pipis.
Sekuat mungkin Sinta menahannya. Jangan sampai dia ngompol saking senangnya.
"Kak, aku...ke toilet dulu, ya," ucap Sinta sambil berdiri. Dia merasa sudah tak bisa menahannya lagi.
"Mau diantar?" ledek Yogi.
"Enggak...!" Sinta langsung berlari ke arah toilet.
Untung saja toilet yang hanya satu-satunya itu tidak ada yang memakai.
Sinta langsung masuk dan mengeluarkan hajatnya.
Sinta merasa lega setelah tuntas. Lalu segera keluar setelah membersihkannya.
Di cermin depan toilet, Sinta memandang wajahnya sendiri. Dia benar-benar merasa sangat bahagia, bisa dekat dan bercanda dengan cowok yang diincarnya.
Dan pastinya salah tingkah, sampai merasa kebelet pipis.
__ADS_1
Apa aku jatuh cinta pada kak Yogi? Atau cuma sekedar suka juga, seperti pada Fery dahulu? Sinta terus menatap wajahnya sambil senyum-senyum sendiri.
Dia baru kembali ke mejanya, setelah ada orang lain yang mau menggunakan toilet.