PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 84 DUNIA YANG SEMPIT


__ADS_3

"Bukan, Bro. Cuma mirip," ucap Yogi.


"Iya. Maksudku begitu," sahut Surya.


Tak mungkin juga Nadia yang anti asap rokok, tiba-tiba duduk di smoking area dengan rokok di tangan.


Surya kembali menghisap rokoknya. Dan menghempaskan asapnya ke udara.


Nadia. Ah, kenapa kamu harus hadir lagi di kepalaku. Dan kenapa aku mesti ketemu cewek yang mirip dia?


"Anak mana dia?" tanya Surya.


Tak biasanya Surya menanyakan tentang teman cewek. Jangankan nanya, melirik aja kayaknya males banget.


"Kayaknya adik kelas kita. Gue liat tadi dia masuk ke kelas sebelah," jawab Yogi.


"Kamu udah melihatnya?" tanya Surya lagi.


Yogi mengangguk.


"Kalau udah pernah liat, kenapa tadi kaget liat dia?"


"Gue kaget, karena liat dia lagi merokok!" jawab Yogi.


Surya malah terkekeh.


"Ngapain lu ketawa?"


"Bukannya kamu udah biasa liat cewek merokok? Kenapa pake acara kaget segala?" Surya terus saja ketawa.


"Girang amat, Bro. Gue kaget karena wajah cewek itu mirip....Noh! Mirip yang onoh!" Yogi menunjuk ke arah pintu kantin.


Nadia yang sebenarnya sedang berjalan masuk kantin bersama Viona.


Surya menghela nafasnya. Jujur, jantungnya berdegup kencang melihat sosok Nadia lagi.


Surya kembali menghisap rokoknya. Barang yang dulu sangat dihindarinya. Demi untuk menyenangkan Nadia.


Tapi kini, giliran Surya ingin menyenangkan dirinya sendiri. Dia lebih bebas merokok.


"Gue haus, Bro. Ke kantin, yuk," ajak Yogi.


"Ogah! Kamu aja sana. Aku nitip," tolak Surya.


"Elu pikir emak-emak arisan? Pake acara nitip segala?"


Yogi tetap berjalan ke arah kantin. Dia memang haus beneran.


Apalagi tadi dia sempat ketiduran, bukan cuma haus, Yogi juga merasa laper.


Sampai di kantin, Yogi memesan dua cup es teh. Dan mengambil beberapa makanan kecil.


Dia sengaja tak menyapa Nadia maupun Viona. Bahkan Yogi pura-pura enggak lihat mereka.


"Vi. Itu bukannya Yogi?" Nadia menepuk tangan Viona. Lalu menunjuk ke arah Yogi.

__ADS_1


Viona mengikuti arah tangan Nadia.


"Iya. Tumben dia sendirian. Beberapa hari ini aku lihat dia bareng Surya terus," sahut Viona.


"Kamu ngikutin mereka terus?" tanya Nadia.


"Enggak. Cuma kebetulan liat aja," jawab Viona.


"Kebetulan kok tiap hari," ledek Nadia.


"Ya...tiap hari kebetulan ketemu," sahut Viona..


Selesai membayar makanan dan minumannya, Yogi keluar dari kantin. Dia kembali ke smoking area.


Yogi menghentikan langkahnya. Dia melihat Surya lagi asik ngobrol dengan cewek yang mirip Nadia juga Sinta.


"Hallo, Kak. Wah, tau aja kalau aku lagi haus!" Sinta langsung menyambar cup es teh yang dibawa Yogi.


"Itu jatah kakakmu!" ucap Yogi.


"Ya ampun! Pake acara jatah segala. Mulai perhitungan, nih?" ledek Sinta.


"Noh, yang ngajarin. Kakak ipar yang pelit!" Yogi menunjuk Surya dengan memonyongkan bibirnya.


"Kakak ipar?" tanya cewek yang mirip Nadia.


"Dia lagi halu," jawab Surya.


Yogi memang sering keceplosan di depan orang lain. Karena dia udah terbiasa bercanda seperti itu.


"Oh, iya. Kak, kenalin ini temanku namanya Amanda. Tapi biasa dipanggil Manda. Dia kakak kelasku waktu di SMA dulu. Dia mahasiswi pindahan. Manda, kenalin ini kak Yogi. Sahabatnya kak Surya." Sinta mengenalkan temannya dengan lengkap.


"Biar kak Yogi enggak nanya-nanya lagi," sahut Sinta.


"Jadi enggak boleh nanya, nih? Kalau salaman boleh enggak?" Yogi bertanya pada Sinta, seolah Sinta adalah pacarmya yang posesif.


"Ya bolehlah. Masa salaman aja enggak boleh," jawab Sinta.


"Jangan mau, Manda. Nanti tanganmu gatel-gatel," sahut Surya.


"Lu pikir, gue ulet bulu?" protes Yogi. Tapi dia juga memang tak berniat salaman dengan Manda.


Yogi malah duduk jauh dari Manda. Di sebelah Surya dan berbagi minuman dengan sahabat yang wajahnya sedingin es teh.


"Manda pindahan dari mana?" tanya Surya.


Dalam hati, Yogi bertanya sendiri. Tumben amat si kutukupret sok akrab sama cewek. Apa karena wajahnya yang mirip Nadia?


Berarti Surya enggak bisa move on, dong. Dasar kutukupret!


"Dari luar kota. Niatnya kepingin mandiri, eh malah enggak betah di sana," jawab Manda.


"Padahal kan enak jadi anak kos. Bisa bebas," ucap Sinta.


"Kelihatannya. Tapi kenyataannya enggak kayak gitu. Makanya aku terus balik lagi ke kota ini," sahut Manda.

__ADS_1


"Jangan-jangan anak mama, ya?" tebak Yogi.


"Bisa jadi, Kak. Aku memang deket banget sama mama. Kita biasa ngobrol bareng, ngopi bareng, termasuk merokok bareng." Manda terkekeh.


Ooh, pantesan deket banget sama mamanya. Sama-sama perokok rupanya. Batin Surya.


"Di kos enggak ada yang merokok, ya?" tebak Yogi lagi.


"Bener banget, Kak.Malah kebanyakan yang sok-sok anti asap rokok gitu. Ngeselin, kan? Padahal aku merokok kan juga di kamar sendiri," sahut Manda.


"Terus masalahnya buat mereka dimana?" tanya Yogi lagi.


"Aku juga enggak tau. Tapi mereka malah kayak mengucilkan aku gitu," jawab Manda.


Sinta hanya bisa tersenyum kecut. Yogi malah jadi akrab dengan Manda.


Bisa jadi karena mereka sama-sama perokok, jadi bisa klop. Sedangkan Sinta dan Surya cuma jadi pendengar setia aja.


Awalnya Surya sudah coba bertanya pada Manda. Buat mencairkan suasana. Tapi dasarnya Surya yang tak biasa berbasa basi sama cewek, kayak kehabisan pertanyaan.


Surya hanya bisa bawel pada orang-orang yang sudah dekat dengannya. Kalau belum terlalu kenal, Surya cenderung jutek.


Sinta sudah merasa gerah dengan keakraban Yogi dan Manda. Teman yang baru dikenalkannya.


Karena kebetulan tak ada lagi jadwal kuliah, Sinta pamit pulang. Dia merasa diabaikan oleh Yogi.


"Kak, aku pulang duluan, ya. Nanti mau mampir dulu ke toko buku. Ada beberapa buku yang harus dibeli," ucap Sinta pada Surya.


"Jauh lho, toko bukunya. Aku anterin, ya?" Surya pun beranjak dan pamit pada Yogi dan Manda.


"Lho, kok malah pada pulang sih?" tanya Manda.


"Aku mau ke toko buku," jawab Sinta.


"Terus gue gimana pulangnya?" tanya Yogi yang tak membawa motor sendiri.


Surya hanya mengangkat bahunya. Lalu merangkul Sinta dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Hey, Bro. Tunggu!" seru Yogi.


"Manda, gue balik duluan ya," pamit Yogi pada Manda.


Manda hanya bisa mengangguk. Karena Yogi sudah lari mengejar Surya dan Sinta.


"Tega, lu. Ninggalin gue sendirian," ucap Yogi pada Surya.


"Kan ada Manda. Aku mau nganterin Sinta ke toko buku," sahut Surya.


Baginya kini menjaga keselamatan adiknya jauh lebih penting daripada memikirkan cewek.


"Gue ikut! Titik!" Yogi terus memaksa ikut.


Yogi menang, karena kunci motor Sinta masih ada padanya.


Sampai di parkiran motor, mata Surya terbelalak. Karena di sebelah motornya ada Nadia yang lagi mengeluarkan motornya.

__ADS_1


Sinta menatap wajah Surya yang berubah mendung.


Ah! Kenapa sih mesti ketemu Nadia lagi? Apa dunia begitu sempitnya? Gumam Surya dalam hati.


__ADS_2