PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 20 JANJI DEWA


__ADS_3

"Nadia! Dewa! Ayo makan," seru Susi dengan suara cemprengnya.


Nadia yang tadi pura-pura sibuk membuka buku pelajarannya, menoleh lagi ke arah Dewa.


"Ayo," ajak Nadia.


Dewa mengangguk. Lalu berdiri dan mengikuti langkah Nadia ke ruang makan.


Sebenarnya tadi sebelum berangkat ke rumah Nadia, Dewa sudah makan. Tapi kalau sekarang menolak, rasanya tidak enak.


Apalagi dia juga masih merasa grogi karena kejadian tadi dengan Nadia, Dewa hanya bisa menurut.


Di meja makan sudah tersaji aneka makanan yang enak-enak. Jelas saja, itu kan makanan restauran.


"Ayo Dewa, jangan malu-malu." Susi memberikan piring pada Dewa.


"Ambil. Ambil," ucap Haris mempersilakan Dewa mengambilnya duluan.


"Iya, Om." Dewa pun menurut saja.


Nadia masih terdiam. Jantungnya masih belum stabil. Kejadiannya hampir sama dengan saat mereka di atas bukit.


Cuma resikonya lebih besar sekarang. Karena kalau sampai ketahuan orang tuanya, bisa habis Nadia.


"Kamu kenapa diam saja, Nad?" tanya Susi yang melihat Nadia masih saja memegangi piringnya.


"Ee....Enggak apa-apa, Ma. Mama duluan aja," jawab Nadia gelagapan.


Dewa melirik ke arah Nadia. Nadia pun meliriknya sekilas.


"Kurang satu jadi enggak seru, ya?" Susi berfikir sikap diam Nadia karena ketidakhadiran Surya.


"Iya, Tante," sahut Dewa berbohong, untuk menutupi perbuatan mereka tadi.


"Sekali-kali berdua kan enggak apa-apa. Malah lebih konsen belajarnya. Coba kalau bertiga, kalian cuma becanda aja," ucap Susi. Bukan karena dia tidak suka dengan Surya, tapi kenyataannya memang seperti itu.


Tapi begitu kurang satu, seperti kehilangan energi. Hanya saling diam. Begitu pikir Susi.


"Ayah kamu kerja di mana, Dewa?" tanya Haris sambil makan.


"Ayah hanya pegawai kontrak, Om. Di perusahaan milik kawannya," jawab Dewa.


"Ooh. Memangnya ayah kamu keahliannya apa?" tanya Haris lagi.

__ADS_1


"Saya kurang paham, Om. Kalau tidak salah di bagian kelistrikan," jawab Dewa.


"Kapan-kapan boleh juga ketemu Om. Di perusahaan yang sedang Om rintis masih banyak membutuhkan karyawan. Siapa tahu ayah kamu berminat," ucap Haris.


Haris tahu kalau Dewa berasal dari keluarga biasa. Dia berniat ingin menolong saja, seandainya orang tua Dewa membutuhkannya.


"Iya, Om. Nanti saya sampaikan," sahut Dewa.


"Iya lho, kita juga pingin kenal keluargamu. Kamu kan sudah kenal dengan kami. Giliran kami yang pingin kenal keluargamu." Susi ikut menimpali.


"Iya, Tante." Dewa mengangguk dengan sopan.


Keluarga Nadia tak pernah membeda-bedakan Dewa dengan Surya. Meski mereka berasal dari keluarga yang jauh berbeda.


Nadia menikmati makanannya dengan dada masih bergemuruh. Kejadian tadi benar-benar membuatnya seperti hilang kesadaran.


"Adik kamu sudah kelas berapa?" tanya Susi.


Nadia pernah cerita kalau Dewa memiliki seorang adik laki-laki.


"Baru kelas tiga SMP, Tante," jawab Dewa.


"Ooh. Jadi nanti kalian lulus barengan ya? Kamu mau lanjut kuliah di mana?" tanya Susi lagi.


Dewa menggeleng pelan. Dia tak yakin orang tuanya bisa membiayainya kuliah.


"Saya belum tahu, Om. Ayah saya kan gajinya kecil. Belum tentu kuat membiayai kuliah saya," jawab Dewa.


Nadia trenyuh mendengarnya. Di saat dia dan banyak anak seusianya sedang merancang masa depan, Dewa malah pasrah dengan keadaan.


"Jangan pesimis. Berdoa saja, semoga kamu bisa masuk perguruan tinggi negeri. Kan biayanya lebih murah," sahut Haris.


"Iya, kata Nadia kamu kan pinter di sekolah. Dapat ranking terus lho, Pa." Susi menimpali.


"Nah, itu bagus. Nanti Om bantu kalau memang nilai kamu bagus," sahut Haris.


Nadia tersenyum senang. Meski nantinya mereka bakal pisah. Karena Nadia jelas tak mungkin masuk universitas negeri.


Tapi minimal, hubungannya dengan Dewa akan berjalan dengan baik. Apalagi kalau papanya benar-benar menolong Dewa.


"Iya, Om. Terima kasih sebelumnya." Dewa pun tersenyum senang.


Dia tak perlu merasa khawatir lagi. Karena dia yakin nilai-nilainya mampu menembus universitas negeri.

__ADS_1


"Kalau kamu sendiri bagaimana, Nad? Jangan nyusul kakak kamu kuliah di luar kota, ya," tanya Susi.


Susi kapok mengikuti kemauan anak pertamanya. Kuliah di luar kota membuatnya seperti kehilangan satu anak. Karena kesibukan kuliah anaknya membuat mereka jarang ketemu.


Nadia tersenyum tipis. Kalau soal memilih tempat kuliah, lebih baik dia serahkan pada kedua orang tuanya. Biar mereka yang memilihkan sesuai kemampuan keuangan mereka.


Toh, tidak mungkin kedua orang tuanya memilihkan universitas ecek-ecek.


"Belajar dong biar bisa kayak Dewa dan Surya. Kalau mereka bisa masuk universitas negeri, kamu sendirian lho di swasta," ucap Susi memberikan semangat pada Nadia yang memang nilainya selalu pas-pasan.


"Udah, Ma. Merekanya aja yang enggak mau ngimbangin nilai Nadia," jawab Nadia asal.


Mana ada orang yang mau ngimbangin nilai pas-pasan kalau bisa lebih.


"Kamu itu ngawur aja. Mana ada yang mau punya nilai pas-pasan?" Susi tak habis mengerti dengan anak keduanya ini.


Rio, anak pertamanya, selalu mendapat ranking. Dia kuliah juga lewat jalur khusus tanpa tes.


Sementara Nadia, nilainya selalu pas-pasan. Padahal pola asuh mereka sama, makan juga sama.


Bahkan Nadia sejak kecil selalu dileskan di tempat yang mahal. Tapi tetap saja tak mendongkrak nilai-nilainya.


Nadia tertawa. Dia tak pernah marah atau sedih kalau ada yang mengatainya kurang cerdas.


Sebab, kekurangannya ini justru yang menyatukannya dengan dua sahabatnya. Dewa dan Surya.


Hanya satu yang Nadia sedihkan. Saat kuliah nanti, mereka pasti akan berpisah.


Nadia menutup buku catatannya. Lalu membawanya ke tempat tidur.


Di sana banyak sekali cerita singkat tentang hari-harinya bersama Dewa.


Nadia berkhayal, seandainya saja Dewa menerima tawaran orang tuanya. Ayah Dewa bekerja di perusahaan papanya dan Dewa dibantu biaya kuliahnya, pasti saat ini mereka masih bersama.


Tapi sayangnya, Dewa pamit pergi padanya juga Surya dengan mendadak. Saat itu dia dan Surya belum siap kehilangan Dewa, terutama dirinya.


Saat hanya berdua, Dewa mengatakan padanya, kalau dia akan kembali lagi suatu saat nanti, untuk mempertanggungjawabkan apa yang pernah dilakukannya pada Nadia.


Nadia masih selalu terngiang ucapan Dewa saat itu. Dan dia masih setia menunggu Dewa menepati janjinya.


"Nad, percayalah, aku pasti akan kembali ke sini. Aku akan menjemputmu. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Kita akan hidup bahagia, Nad. Selamanya." Begitu kata Dewa sebelum dia benar-benar pergi.


Nadia mengangguk sedih. Dia pun tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan sudah diambil oleh orang tua Dewa.

__ADS_1


Mereka pindah ke luar kota. Dewa dan adiknya mau tak mau harus ikut.


Dan Nadia....masih tetap setia menunggu kedatangan arjunanya memenuhi janji.


__ADS_2