PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 56 KEPUTUSAN YANG SULIT


__ADS_3

Selesai makan dan beres-beres, keluarga Surya kumpul di ruang tengah sambil menonton televisi kayak biasanya.


Rahma dan Toni sudah duluan. Surya dan Sinta menyusul karena mereka punya tugas beresin meja makan.


"Udah beres?" tanya Rahma.


"Udah dong. Udah kita cuci juga piringnya," jawab Surya.


"Kita? Aku, kali....!" sahut Sinta.


Surya nyengir karena ketahuan bohongnya.


"Cuci piring kan memang tugasnya cewek. Iya enggak, Ma?" Surya minta pembelaan dari Rahma.


Sinta langsung manyun.


"Enggak juga. Cowok juga harus bisa cuci piring," jawab Rahma.


Sinta menjulurkan lidahnya, meledek Surya. Merasa dapat pembelaan dari Rahma. Meskipun pada prakteknya dia juga yang mengerjakan.


"Sur. Mama mau tanya. Bagaimana hubungan kamu sama Nadia?"


Surya tercekat. Dia tak menyangka Rahma bakal menanyakan soal itu.


Sinta menatap kakaknya. Dia juga kepo soal itu. Apalagi setelah membaca tulisan di kertas yang ditemukannya di kamar Surya.


Surya menghela nafasnya.


"Baik-baik aja, Ma," jawab Surya.


"Maksudnya?"


"Mm...maksudnya, ya baik-baik aja, Mama."


"Heem. Padahal Mama maunya jawaban yang lebih spesifik," sahut Rahma.


"Spesifik bagaimana, Ma?"


"Maksud Mama, apa kamu punya rencana ke depannya? Tadi Papa juga menanyakan hal itu. Iya kan, Pa?"


Toni mengangguk. Sinta terus menyimak.


"Rencana apa? Kami kan masih kuliah, Ma. Belum saatnya memikirkan rencana selanjutnya," jawab Surya.


Dalam hati dia juga tak mengerti akan seperti apa kelanjutan ceritanya.


"Soal kuliah, tetap harus diselesaikan. Tapi hubungan kalian juga mestinya ada kepastian," ucap Rahma. Dia tak mau hubungan mereka hanya menggantung tak jelas.


Rahma dan Toni sangat berharap bisa besanan dengan orang tua Nadia.


"Nanti deh, Surya bicarakan dengan Nadia," sahut Surya.

__ADS_1


"Kalau bisa sebelum kalian skripsi, sudah ada kepastiannya. Jadi enggak mengganggu saat kalian mengerjakan skripsi." Toni ikut menimpali.


Sinta mengangguk-angguk.


"Iya, Sur. Jangan sampai hubungan kalian terus menggantung. Nanti malah terganggu skripsinya," sahut Rahma.


"Iya, Ma." Surya mengangguk.


Dalam hati, ingin rasanya lari dan mengunci diri di kamar. Tapi sebagai lelaki, Surya harus bisa menghadapi apapun pertanyaan dari kedua orang tuanya.


"Kalau kelamaan, nanti aku duluan, lho," ucap Sinta.


"Eh, duluan apaan?" tanya Rahma pada putri kecilnya.


Rahma masih saja menganggap Sinta sebagai putri kecil yang belum pantas dekat dengan lelaki.


"Duluan kawin." Sinta asal jawab, lalu nyengir.


"Gaya-gayaan. Emang kamu punya pacar?" Surya mengacak rambut Sinta.


"Carikan Sinta pacar, Sur. Tapi yang bener," sahut Toni.


Beda dengan Rahma yang menganggap Sinta gadis masih ingusan, Toni merasa Sinta sudah cukup dewasa untuk menjalani sebuah hubungan. Tapi mesti hubungan yang sehat. Karena dia pun tak ingin kuliah Sinta terganggu.


"Tuh, Kak. Denger enggak omongan Papa? Carikan Sinta pacar," pinta Sinta. Dia berharap Surya mau mendekatkannya dengan Yogi.


"Huu....ngarep! Enggak akan! Kamu masih kecil!" Surya kembali mengacak rambut Sinta.


"Iih, apaan sih. Sinta kan udah gede. Udah kuliah, masih dianggap anak kecil terus. Mau nunggu Sinta nenek-nenek?"


"Udah...! Kita kembali ke topik. Jadi begini, Surya. Mama sama Papa punya rencana buat mengundang keluarga Nadia makan malam di sini," ucap Rahma.


Surya terpaku dengan dada bergemuruh. Dia tak tahu rencana kedua orang tuanya ini.


"Sebagai keluarga dari pihak laki-laki, boleh dong kita yang mendahului," lanjut Rahma.


"Mendahului apa, Ma?" tanya Surya.


"Wah, kayaknya makin menarik ini." Sinta menangkup kedua pipinya dan fokus pada pembicaraan mamanya.


"Kita akan melamar Nadia!" Toni kembali menyahut.


Jeder!


Surya semakin terdiam.


Melamar Nadia? Sedangkan dia sangat paham kalau Nadia masih sangat mencintai Dewa. Dan selalu berharap suatu saat nanti Dewa datang kepadanya.


"Kamu setuju kan, Surya?" tanya Rahma.


"A...Apa enggak terlalu cepat, Ma?" Surya gelagapan.

__ADS_1


"Enggaklah. Kalian kan udah lama menjalin hubungan!" sahut Rahma.


Dan yang Rahma tahu, mereka sudah dekat sejak SMA. Jadi sekarang ini bukan waktu yang terlalu cepat.


Mati aku!


Bagaimana kalau Nadia menolak di depan mereka? Mau ditaruh di mana mukaku?


Apalagi kalau Nadia tersinggung dan menjauh? Apa yang harus aku lalukan ini? Surya berusaha memutar otaknya.


"Nanti Mama mau ke toko perhiasan. Mama mau cari cincin buat mengikat kalian," ujar Rahma.


Surya semakin mati kutu.


Cincin pertunangan? Bahkan aku sendiri tak pernah memikirkan itu.


"Acaranya sederhana aja, Ma. Cukup pertemuan dua keluarga aja," ucap Toni.


"Iya, Pa. Cukup kita aja yang tau. Yang penting ada kepastian," sahut Rahma.


"Tapi, Ma...."


"Tapi apa? Enggak baik terlalu lama menggantung anak gadis orang, Surya. Orang tua Nadia pastinya juga butuh kepastian," sergah Rahma.


Orang tua Nadia mungkin iya, tapi Nadia? Yang dibutuhkannya kepastian dari Dewa. Bukan dari aku.


"Udah, Mama tentukan tanggalnya aja. Bicarakan dengan mamanya Nadia. Kalau Papa sih ngikut aja," sahut Toni.


"Iya, Pa. Nanti mama sekalian ajak jeng Susi nyari cincinnya. Takutnya dia enggak suka dengan modelnya. Kan Mama yang malu."


Rahma selalu saja begitu. Selalu menurut apa kata suaminya. Hampir tak pernah membantah sedikitpun.


"Ma...Besok Surya bicarakan dulu sama Nadianya ya?" mohon Surya.


"Membicarakan apa lagi? Mau mengulur-ulur waktu? Enggak! Mama enggak setuju! Jangan bikin malu keluarga kamu, Surya." Rahma terlihat terbawa emosi.


Surya menelan ludahnya yang terasa kering. Kalau mamanya sudah bersuara tinggi seperti itu, tak mungki lagi membantahnya.


"Surya. Kamu laki-laki, Nak. Tak baik menggantungkan hubungan begitu. Kamu tau kisah cinta Papa dan Mama dulu?" tanya Toni.


Surya menggeleng. Sinta semakin antusias mendengarkannya.


"Dulu, hubungan kami tak disetujui oleh eyang putri. Karena Papa dianggap bukan dari keluarga ningrat. Malah eyang putri menganggap keluarga Papa enggak jelas. Campuran sana sini." Toni menghentikan sejenak ceritanya.


"Memang kenyataannya begitu. Nenek moyang Papa boleh dibilang bukan orang pribumi. Tapi itu kan bukan maunya Papa. Dan Papa dengan dukungan dari Mama kamu, berjuang untuk mendapatkan restu eyang kamu." Toni menghela nafasnya.


"Dan setelah mendapatkan restu dari mereka, tanpa membuang-buang waktu lagi, Papa bawa keluarga menghadap eyang kamu. Sampai di sini kamu paham, apa yang Papa ingin sampaikan ke kamu?" tanya Toni.


Surya masih belum paham tujuan papanya cerita. Yang Surya pahami hanya papanya sedang bernostalgia mengenang kisah cintanya dahulu dengan Rahma.


"Begini Surya...Papa kamu yang susah dapat restu aja tak mau buang-buang waktu. Nah, kamu yang sudah dapat restu dari kami, mau menunggu apa lagi?" Rahma menyela omongan suaminya, karena gemas dengan sikap Surya yang seolah mau mengulur-ulur waktu.

__ADS_1


"Ya, begitulah kira-kira maksud Papa, Sur. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya."


Surya semakin menundukan wajahnya. Sebuah keputusan yang sulit untuknya.


__ADS_2