PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 214 PERUBAHAN NADIA


__ADS_3

"Bang, buburnya enggak jadi. Nih, saya bayar aja." Nadia meletakan uang sepuluh ribuan di dekat mangkok dan bergegas pergi.


"Nadia! Kamu mau kemana?" Surya berdiri dan mengejar Nadia. Dia tinggalkan makannya. !


Viona membiarkan saja. Bukan apa-apa. Viona malu kalau harus ribut-ribut di muka umum.


Nadia tak menghiraukan panggilan Surya. Dia terus saja berjalan menuju motornya.


"Nad. Kamu mau kemana? Kamu kepingin makan bubur ayam, kan?" Surya meraih tangan Nadia dan menggenggamnya erat.


"Lepasin!" Nadia berusaha melepaskan tangannya.


"Makan dulu. Baru pulang!" Surya menarik tangan Nadia.


Dan saking kuatnya menarik, Nadia hampir jatuh. Surya langsung meraihnya. Dan otomatis Nadia masuk dalam pelukan Surya.


"Ah!" Nadia melindungi bagian dadanya dengan tangan, agar tak menyentuh dada Surya.


Nadia langsung menjauh.


"Kamu ngapain, sih!" bentak Nadia.


"Kamu yang mau jatuh!" Surya tak mau disalahkan.


Nadia melirik tajam ke arah Surya.


"Makan dulu, baru pulang," ucap Surya.


Entah kenapa Surya merasa begitu peduli pada Nadia lagi, saat mereka berdekatan. Tapi saat mereka berjauhan, Surya mampu menghilangkan bayang-bayang Nadia.


"Aku enggak jadi laper!" sahut Nadia.


Surya tak mau tau, dia tarik tangan Nadia hingga masuk ke dalam warung tenda kaki lima itu.


"Bang. Buatkan satu lagi!" ucap Surya pada penjual bubur ayam.


"Duduk sini." Surya menarik satu kursi untuk Nadia.


Nadia pun menurut. Karena malu juga kalau ribut sama Surya.


Viona hanya menatap mereka saja. Dia tak bisa komentar apa-apa. Bahkan saat Surya melayani Nadia yang mau makan.


Surya dengan telaten melayani Nadia. Surya sudah hafal dengan kebiasaan Nadia. Bahkan seberapa banyak sambal dan kecapnya pun, Surya sudah sangat hafal.


Dia tak segitunya padaku. Apa karena dia belum terlalu mengenalku? Batin Viona.


Setelah Surya melayani Nadia, dia pindah tempat duduk ke sebelah Viona. Dan melanjutkan makannya bersama Viona.


Nadia yang memang lagi sangat kepingin makan bubur ayam, tak bisa lagi menahan diri. Dia makan dengan lahap.


"Boleh nambah enggak?" tanya Nadia pada Surya.


Reflek Surya dan Viona melotot ke arah Nadia saking terkejutnya.


"Kamu masih laper?" tanya Surya.

__ADS_1


Nadia mengangguk. Viona tak berani komentar atau bertanya apapun pada Nadia.


"Bang. Bikinin satu lagi!" ucap Surya.


Tak lama, datanglah satu mangkok lagi.


"Ini, Mas," ucap tukang bubur.


"Iya. Makasih," sahut Surya.


"Makan, Nad." Surya mendorong mangkoknya ke depan Nadia.


Dengan sigap, Nadia menyingkirkan mangkok pertama yang sudah kosong. Lalu meraih mangkok keduanya.


Dalam hati, Viona keheranan. Tak biasanya Nadia makan segitu banyaknya.


Biasanya kalau makan bubur ayam, satu porsi saja bersisa.


Beda dengan Viona yang selalu bersih kalau makan. Maklum saja, Viona anak kost yang terbiasa berhemat makan. Jadi kalau makan selalu diusahakan habis sampai bersih.


Viona juga mengamati tubuh Nadia yang agak berisi. Tak seperti dulu yang cenderung terlihat kurus kerempeng.


Dan tanpa disuruh dua kali lagi oleh Surya, Nadia langsung menyantapnya. Padahal kalau dulu, Surya mesti bawel biar Nadia mau makan.


Nadia mau mengambil sambel. Tangan Surya langsung menghalaunya.


"Kamu tadi udah makan pake sambal. Nanti sakit perutmu kalau pedas lagi," ucap Surya.


Surya masih ingat kejadian saat di rumah sakit. Saat Nadia muntah-muntah. Dia tak tega kalau Nadia kembali sakit seperti itu.


"Dikit aja." Nadia berusaha menawarnya.


Viona kembali hanya menatapnya. Dalam hati bertanya-tanya, ada apa dengan Nadia. Juga pada perhatian Surya.


Viona yakin kalau Surya sedang tak kembali menjalin hubungan dengan Nadia. Tapi kenapa sikapnya sangat peduli?


Sikap Surya lebih pada ingin melindungi Nadia. Viona bisa merasakan itu. Karena Suryapun tak mau duduk di sebelah Nadia. Tapi kembali ke sebelahnya.


Itu yang membuat Viona tak tersinggung dengan perhatian Surya pada Nadia.


Nadia pun menurut. Daripada acara makannya terhambat oleh pertikaian kecil dengan Surya.


"Sur. Kita harus ke kampus sekarang," ucap Viona.


Surya pun melihat ke jam tangannya. Lalu mendengus kesal.


"Nad. Kita tinggal dulu, ya. Makannya dihabiskan," ucap Surya.


Nadia melirik sekilas. Lalu mengangguk. Viona pun hanya tersenyum tipis ke arah Nadia.


Setelah membayar semuanya, Surya pun pergi ke kampus bersama Viona.


"Sur. Nadia kok sekarang agak gendutan, ya?" tanya Viona di perjalanan.


"Iya. Kamu liat aja, makannya sekarang banyak banget," jawab Surya.

__ADS_1


"Kok sekarang Nadia jadi doyan makan,ya? Banyak banget, lagi. Masa makan bubur ayam dua porsi." Viona jadi bergidig sendiri.


"Iya. Aku juga heran. Padahal kamu kan tau sendiri, gimana dia. Kalau enggak dipaksa makan, mana mau dia makan," sahut Surya.


"Seharian enggak makan aja betah dia. Apa karena dia di rumah terus, ya? Terus kebiasaan makannya banyak?" tanya Viona.


"Enggak tau juga. Aku kan bukan satpamnya, yang mesti ngeliatin dia makan tiap hari," jawab Surya.


Viona mencubit perut Surya.


"Jangan gitu dong, Vi. Geli!" Surya menggeliatkan badannya.


"Lagian jawabannya gitu banget!" ucap Viona pura-pura kesal.


"Loh, bener kan? Aku bukan satpamnya lagi. Hahaha." Surya terbahak-bahak. Dia sadar kalau dulu sikapnya pada Nadia, mirip seorang satpam yang galak.


Selalu menjaga dan melindungi majikannya agar nyaman. Mengantar kemanapun Nadia mau. Membelikan apapun yang Nadia inginkan.


"Ngaku ya?" ledek Viona.


"Ngaku apaan?" tanya Surya.


"Ngaku kalau dulu jadi satpamnya Nadia!" jawab Viona.


"Ya itu kan dulu. Sekarang udah jadi satpamnya Viona. Hahaha." Surya kembali tergelak.


Viona tersenyum senang. Bukan karena dia berhasil mendapatkan Surya, karena sejujurnya Surya sudah tak diinginya lagi. Semua terjadi tanpa mereka sadari.


Tapi Viona senang karena Surya mau mengakuinya. Meskipun hanya dihadapannya saja.


Mereka pun sampai di kampus dan berpisah dengan aktifitas masing-masing.


Nadia yang sudah sangat kenyang, segera berdiri.


"Bang, udah. Berapa?" tanya Nadia.


"Udah dibayar sama masnya tadi, Neng. Ini uangnya yang tadi. Kata masnya balikin ke Enengnya aja." Penjual bubur ayam itu memberikan uang Nadia kembali.


Nadia pun menerimanya.


"Makasih ya, Bang."


Nadia bergegas pulang. Perutnya terasa begah. Dia makan terlalu banyak. Mau disisain tapi rasanya sayang.


Sampai di rumahnya, perut Nadia terasa sangat mual.


"Dari mana kamu, Nadia?" tanya Susi.


"Kan tadi Nadia udah bilang. Mau beli bubur ayam.... Howek...!"


Nadia merasa ingin muntah. Dan diapun berlari ke kamar mandi di dekat dapur.


Di sana Nadia memuntahkan semua isi perutnya. Bubur ayam enak yang tadi lahap disantapnya, tak bersisa sedikitpun di perut Nadia.


Susi yang berlari mengejarnya, mulai merasa curiga. Sebab bukan satu dua kali Nadia muntah-muntah. Padahal dia tidak sedang sakit atau masuk angin.

__ADS_1


"Kita ke dokter sekarang!" ucap Susi di belakang Nadia.


Nadia menoleh dan menelan ludahnya.


__ADS_2