
Sementara Nadia terbangun dari tidur siangnya. Dia bermimpi pergi ke Bali dengan keluarga Surya.
Mungkin itu hanya bunga tidur, karena sebelum tidur tadi, Nadia terus saja memikirkan Surya yang akan pergi ke Bali bersama keluarganya.
Andai saja aku enggak marah pada Surya....Nadia kembali menyesali dirinya.
Nadia mencari ponselnya. Ponsel yang tadi digenggamnya, kini berada di bawah badannya.
Dia mengecek chatnya. Tak ada pesan apapun dari Surya. Dia cek status whatsapp juga tak ada tanda-tanda Surya merindukannya.
Akhirnya Nadia yang masih merasa gengsi, keluar dari kamarnya.
"Nad. Kamu belum makan, kan?"
Baru saja menginjakan kakinya di lantai bawah, suara mamanya sudah mentambut.
"Ayo makan dulu. Kangen juga butuh tenaga, Nad," ledek Susi.
Nadia mengerucutkan mulutnya. Tapi dia melangkah juga ke ruang makan. Cacing-cacing di perutnya sudah protes karena terlambat makan.
"Ayo makan. Mama sudah buatkan ayam goreng kesukaanmu," ucap Susi. Dia duduk menemani anak yang tinggal satu-satunya makan.
Nara, anak pertamanya jarang sekali pulang. Alasannya sibuk menyelesaikan skripsi.
Susi menyesal mengijinkan anak pertamanya itu kuliah di kota lain. Karena akibatnya, dia jadi jarang bertemu.
Makanya pas Nadia mencari tempat kuliah, mati-matian Susi meminta Nadia kuliah di kota mereka.
Coba kalau sampai Nadia tidak menurut, bakal sendirian terus dia di rumahnya. Karena suaminya semakin sibuk saja seiring dengan perkembangan usahanya yang semakin pesat.
"Mau Mama suapin?" ucap Susi melihat Nadia yang masih malas menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Apaan sih, Mama. Nadia bukan bayi lagi," sahut Nadia. Lalu dengan malas dia sendokan suapkan makanannya.
Setiap kali makan ayam goreng seperti ini, Nadia pasti ingat peristiwa saat di Jogja dulu.
Bagaimana dia dengan Surya berjuang menghabiskan banyak ayam goreng akibat keisengannya.
Sampai tak sadar, Nadia tersenyum sendiri.
"Eh, ngapain kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Susi.
"Enggak apa-apa, Ma. Enak banget ayam gorengnya," jawab Nadia berbohong.
__ADS_1
Susi tahu kalau Nadia berbohong.
"Apanya yang enak? Kamu aja belum memakannya," ucap Susi.
Nadia melihat ke piringnya. Betul sekali. Ayam gorengnya masih utuh. Nadia hanya nyengir ke arah mamanya.
"Kangen ya, kangen. Tapi tetap konsen dong," ucap Susi.
"Ih, Mama ngeledek melulu. Lagian siapa yang kangen sih?" sahut Nadia.
Susi selalu berfikir, Nadia ada hati pada Surya tapi tak berani mengakuinya.
Hingga setelah Nadia selesai makan, Susi mengajaknya ngobrol di taman kecil samping rumahnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Nadia.
Tak biasanya Susi mengajak Nadia ke tempat ini. Biasanya Nadia akan duduk berdua dengan Surya sambil mengerjakan tugas dari kampusnya. Atau sekedar main hape masing-masing.
Mamanya juga sering duduk di sini berduaan saja dengan papanya. Entah apa yang mereka omongkan, Nadia jarang ikut bergabung.
"Mama mau nanya sama kamu," jawab Susi.
"Nanya apaan?" Nadia mengernyitkan dahinya.
"Tapi kamu jawab dengan jujur, ya?"
Nadia mengangguk. Dalam hati heran juga, kapan dia berbohong pada mamanya?
"Ee....Sebenarnya, gimana sih perasaan kamu ke Surya?" tanya Susi dengan hati-hati. Karena Susi sadar, ini masalah hati. Tak bisa kalau dibicarakan dengan grasa grusu.
"Perasaan yang gimana, Ma?" Nadia malah balik bertanya.
"Kamu ada rasa enggak ke Surya?"
"Ada, Ma. Dia kan sahabat Nadia sejak SMA dulu. Rasanya ada yang kurang kalau dia pergi," jawab Nadia jujur.
Susi menepuk dahinya. Bukan itu maksudnya. Nadia selalu saja menganggap Surya sahabat. Hanya sahabat.
"Nad. Kamu sudah dewasa. Sudah sepantasnya kamu punya....pacar," ucap Susi perlahan.
"Ya masa Nadia mesti pacaran sama Surya sih, Ma. Kan enggak lucu kalau pacaran sama....sahabat sendiri." Nadia menelan ludahnya.
Dia baru sadar kalau Dewa pun, sahabatnya sendiri. Mereka dulu berpacaran. Meski tak ada yang tahu selain Surya.
__ADS_1
Karena mereka memang merahasiakannya. Biar mereka tetap bisa bebas bergaul tanpa ada kecanggungan.
Dan yang mamanya tahu, Nadia tak pernah pacaran sama sekali.
"Enggak ada yang melarang, Nad. Mau itu dulunya sahabat kek, teman kek. Bahkan musuhpun, kalau memang pada akhirnya saling mencinta? Siapa yang bisa melarangnya?"
"Iya, Ma. Nadia tau. Tapi Nadia enggak cinta sama Surya," sahut Nadia jujur.
"Nad. Cinta bisa datang setelah kalian pacaran. Kalau kata orang jawa, tresno jalaran seko kulino."
"Ah, enggak juga, Ma. Buktinya, Nadia hampir tiap hari bareng sama Surya. Tapi Nadia enggak pernah cinta sama dia," sahut Nadia.
"Itu karena kamu tak mau membuka hati kamu. Coba deh, buka hati kamu. Apa sih kurangnya Surya?" Susi berusaha memberikan pengertian pada Nadia.
"Sebagai cowok, Surya memang tak ada kekurangannya, Ma. Di kampus saja banyak cewek yang ngejar-ngejar Surya. Termasuk Viona, teman sekelas Nadia. Tapi kalau Nadia enggak bisa mencintai Surya, enggak bisa dipaksa juga kan, Ma?" Ganti Nadia yang memberikan penjelasan pada mamanya.
Susi mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tak tahu bagaimana lagi membuat Nadia mau membuka hatinya pada Surya.
"Memangnya kamu....tidak pernah jatuh cinta?" tanya Susi. Dia khawatir juga kalau sampai anak gadisnya tak bisa mencintai lawan jenis.
Nadia menatap wajah mamanya. Dalam hati dia bimbang. Haruskah dia cerita jujur tentang kisahnya dengan Dewa?
"Kenapa?" tanya Susi prihatin.
"Enggak apa-apa, Ma." Nadia belum punya keberanian untuk menceritakannya.
Surya saja menentangnya, apalagi mamanya. Pasti akan menentang habis-habisan.
Nadia sadar, kalau Dewa tak ada apa-apanya dibandingkan Surya sekarang.
Orang tua Dewa beberapa tahun yang lalu, hanya karyawan pabrik. Kehidupan mereka pas-pasan. Rumah saja ngontrak sana ngontrak sini.
Tak ada yang bisa dibanggakan pada diri Dewa dan orang tuanya. Dan Nadia yakin, kalau mamanya pasti tak akan pernah setuju kalau dia pacaran sama Dewa.
"Katakan saja, Nad. Kalau kamu sudah punya pacar. Mama juga kepingin kenal dengannya. Kamu kan anak perempuan Mama satu-satunya. Mama enggak mau kamu salah memilih pasangan," ucap Susi.
Nadia hanya menghela nafasnya. Bukan dia tak percaya omongan mamanya. Tapi dia tak mau kalau harus berdebat soal Dewa.
Nadia tak rela kalau nantinya Dewa dijelek-jelekan atau dihina. Bagi Nadia, Dewa masih segala-galanya. Meskipun sampai saat ini Nadia belum tahu di mana rimbanya.
"Kamu percaya sama Mama, kan?" Susi menatap wajah anak gadisnya yang terlihat ragu.
"Nadia ke kamar dulu, Ma." Nadia segera beranjak dan naik ke lantai atas. Dia sengaja pergi menghindar. Tak mau mamanya terus memaksanya cerita.
__ADS_1
Biarlah Dewa masih terus bertahta di hatinya. Sampai saat ini belum ada satupun yang bisa menggantikan posisi Dewa. Tidak juga Surya.