
Pagi hari sebelum ke kampus, Surya menyempatkan diri melihat kondisi Nadia. Jam enam pagi Surya sudah sampai di rumah Nadia.
"Pagi, Tante. Nadia ada?"
"Nadia belum bangun, Sur. Kata bik Nah, semalam dia kesakitan dan enggak bisa tidur. Terus dipijati kakinya sama bik Nah, baru bisa tidur," sahut Susi yang membukakan pintu.
"Oh. Kasihan sekali."
Surya jadi merasa bersalah telah berfikiran negatif pada Nadia. Ternyata semalam Nadia mengirimkan pesan chat padanya, enggak bohong.
"Masuk aja, Sur. Sarapan dulu yuk. Kamu belum sarapan, kan? Nanti Tante bangunkan Nadianya," ajak Susi.
"Enggak usah, Tante. Terima kasih. Saya tadi sudah sarapan kok," jawab Surya berbohong. Tadi dia buru-buru berangkat dan tidak sempat sarapan.
"Nadia juga jangan dibangunkan. Kasihan kalau masih mengantuk. Salam saja buat Nadia kalau sudah bangun," lanjutnya.
Lalu Surya pamit berangkat ke kampus. Dia beralasan ada kuliah jam pertama. Padahal kuliahnya baru dimulai jam kedua.
Surya melajukan motornya. Dia malah bingung mau kemana sepagi ini. Kalau balik lagi ke rumahnya, rasanya enggak enak pada mama dan papanya.
Mau ke rumah Yogi, dia tidak yakin Yogi sudah bangun. Karena jam kuliahnya sama.
Akhirnya Surya mencari warung untuk sarapan dan menunggu waktu.
Baru saja Surya masuk ke sebuah warung sarapan, ponselnya berbunyi. Celyn mengiriminya ucapan selamat pagi.
Busyet, rajin amat ini anak. Jam segini udah pegang hape, batin Surya.
Karena iseng, Surya pun membalas pesan dari Celyn. Tapi Surya tak mengatakan kalau dia lagi di warung makan.
Dan mereka kembali asik berbalas pesan seperti semalam.
Sementara Yogi yang ternyata sudah bangun, sudah siap juga menjemput Viona. Dia bilang ke Viona kalau ada kuliah jam pertama. Padahal itu alasannya saja, biar bisa menjemput Viona.
Dan sebelum ke kampus, Yogi mengajak Viona sarapan dulu. Di tempat yang sama dengan Surya.
"Surya...!" gumam Viona.
Viona langsung berbinar saat melihat sosok Surya sedang duduk sendirian.
Yogi menghela nafasnya. Bakal berantakan acara sarapannya dengan Viona.
"Ngapain tuh anak, pagi-pagi udah nongkrong di sini?" gumam Yogi juga.
Surya yang sedang asik berkirim pesan dengan Celyn, tak menyadari kedatangan dua temannya itu.
"Kita duduk bareng Surya, yuk," ajak Viona.
__ADS_1
Yogi tak bisa menolak. Karena meja lain juga sudah terisi. Hanya meja Surya yang senggang.
Yogi mengangguk. Lalu berjalan ke arah Surya setelah memesan dua porsi lontong sayur.
"Asik amat, Bro!" Yogi menepuk lengan Surya.
Surya kaget dan hampir saja melempar ponselnya.
"Eh, kalian. Ngagetin aja!" sahut Surya.
"Ngapain lu pagi-pagi udah di sini? Enggak dimasakin sama mamamu?" tanya Yogi sambil menarik kursi di depan meja Surya. Viona sudah terlebih dulu duduk, persis di depan Surya.
Surya hanya tersenyum. Tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada Yogi dan Viona.
"Udah, makan. Jangan chat-an terus. Dapat gebetan baru, ya?" ledek Yogi.
"Ngaco aja." Surya langsung menutup ponselnya. Dia tak menghiraukan lagi pesan chat dari Celyn.
Surya mulai menikmati sarapannya ditemani senyum manis dari Viona. Juga wajah sedikit asem dari Yogi.
Paslah, saling melengkapi. Yang satu manis, yang satunya lagi asem. Batin Surya sambil tersenyum.
"Gimana keadaan Nadia?" Yogi sengaja membuka pembicaraan tentang Nadia.
Dia tahu kalau Surya akan bersemangat kalau ngomongin Nadia. Dan biar Viona sadar diri, kalau Surya tak pernah memberi tempat untuk wanita lain.
"Eh, memangnya kamu nungguin dia semalaman?" pancing Yogi. Dia melihat wajah Viona mulai asem.
Walaupun Viona bersahabat dengan Nadia, tapi Viona mulai tak nyaman kalau membahas kedekatan Nadia dengan Surya.
"Ya enggaklah. Kan dia chat aku jam dua pagi," jawab Surya.
"Memangnya kamu dokter yang bisa nyembuhin, dichat malam-malam?" Yogi terus saja manas-manasin Viona.
"Paling tidak, rasa sakitnya berkurang kalau chat-an sama aku. Hahaha." Surya juga berniat manas-manasin Viona.
Maksudnya agar Viona tak lagi mengharapkannya. Dan memilih lelaki lain. Yogi, misalnya.
"Duuh, pasangan harmonis, indah banget dengernya," sahut Yogi.
Baru saja Yogi ngomong begitu, ponsel Surya berdering. Panggilan dari Celyn. Yogi dan Viona bisa melihat dan membaca nama pemanggilnya, karena Surya menaruh ponselnya di atas meja.
"Gebetan baru, Bro?" tanya Yogi. Yogi melihat foto profile Celyn yang cantik dan terlihat seksi.
"Teman lama." Surya malah menolak panggilan dari Celyn.
Celyn kembali memanggil.
__ADS_1
"Udah angkat aja, Bro. Tenang aja, gue enggak akan minta. Bagi gue, Viona aja udah cukup." Yogi menepuk lengan Viona dengan lembut.
Yang ditepuk, wajahnya makin asem. Viona mengira, Surya mau juga membuka hati buat wanita lain. Tapi menutup untuknya.
Surya bangkit dan menjauh. Dia tak mau Yogi ataupun Viona mendengar pembicaraannya dengan Celyn.
"Siapa Celyn?" tanya Viona pada Yogi.
"Mana aku tau?" Yogi mengangkat bahunya. Dia tahu kalau Viona mulai bete.
"Bukan cewek di kelas kalian?" tanya Viona lagi.
"Kayaknya bukan deh. Kalau kamu mau tau, tanyain langsung aja sama Surya," jawab Yogi.
Viona melengos. Lalu matanya menatap kesal ke arah Surya yang sedang tertawa sambil bicara di telpon.
Yogi juga mulai kesal pada Viona yang dianggapnya tak punya perasaan. Yogi sudah sempat-sempatin menjemput dan mengajaknya sarapan, tapi perhatiannya malah pada Surya. Bahkan merasa kesal saat Surya menelpon wanita lain.
Yogi menghela nafasnya dengan kasar. Sebagai laki-laki, dia merasa terhina. Yogi tak sesabar Surya yang menanti Nadia membukakan pintu hatinya.
"Sudah sarapannya?" tanya Yogi dengan ketus.
Viona mengangguk meski dipiringnya masih tersisa separuh. Tapi memang Viona tak berminat lagi.
"Ya sudah. Aku antar kamu ke kampus." Yogi langsung berdiri. Tak ada sikap manis lagi untuk Viona.
Harga dirinya terasa terinjak-injak. Meskipun Viona cantik dan mempesona, bukan hal yang sulit bagi Yogi mendapatkan wanita lain yang lebih dari Viona.
Viona juga terkejut melihat perubahan sikap Yogi. Tapi bagi Viona, tak masalah. Toh, dia tak pernah mencintai Yogi.
Cinta Viona sudah mentok pada Surya. Meskipun bertepuk sebelah tangan.
"Sur, lu masih di sini dulu, kan? Gue nganter ke kampus dulu. Entar gue balik lagi," ucap Yogi pada Surya.
Surya mengaangguk sambil memberikan tanda oke dengan jarinya. Karena Surya masih asik telpon.
"Duluan ya, Sur," pamit Viona.
Dan Surya pun hanya mengangguk. Lalu kembali asik bicara di telpon.
Viona semakin jengah. Lalu berjalan keluar menyusul Yogi.
Yogi sudah di atas motornya. Dia menunggu Viona tanpa berniat menawari Viona naik.
Viona menatap Yogi sebentar, lalu naik ke belakang Yogi. Dan mereka pun melaju tanpa ada satupun yang membuka suara.
Mereka berdua sama-sama sedang merasa kesal. Yogi kesal pada Viona yang tak mau menganggapnya. Viona kesal pada Surya yang juga tak menganggapnya.
__ADS_1