PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 109 MENJAGA MILIK MASING MASING


__ADS_3

Yogi pulang setelah mamanya memberi kabar kalau mereka sudah pulang.


"Saya pamit, Om. Tante," ucap Yogi.


"Eh, Yog. Ini bawa buat mama kamu. Sebentar." Rahma berdiri dan mengambil paper bag.


"Apa ini, Tante? Kok malah merepotkan sih?" tanya Yogi.


"Enggak repot, kok. Biasa aja. Oh, iya. Nanti sekalian tanyakan ke mama kamu. Besok jadinya berangkat jam berapa," sahut Rahma.


"Iya, Tante. Nanti saya kabari. Lewat Sinta," jawab Yogi.


"Ma. Boleh Nadia besok ikut?" tanya Surya.


Yogi tak jadi melangkah. Dia menoleh pada Surya.


"Boleh. Ajak aja. Jeng Susi juga kalau mau ikut enggak apa-apa biar rame," jawab Rahma.


"Katanya enggak bisa, Ma. Kakak Nadia mau pulang katanya," sahut Surya.


"Oh, ya sudah." Rahma masuk ke kamarnya diikuti Toni.


"Bro, gue pulang dulu," ucap Yogi pada Surya.


Surya menarik tangan Yogi keluar. Sinta mengikuti mereka. Dia mau mengantarkan Yogi ke depan.


"Yog. Tolong bilang ke mama kamu, jangan pernah kasih tau soal foto itu pada Nadia," pinta Surya setelah mereka sampai di teras.


Sinta hanya diam saja mendengarkan.


"Iya. Tenang aja. Moga-moga nyokap gue belum tidur. Biar bisa sekalian gue ceritain tentang elu dan Nadia," sahut Yogi.


"Oke. Thanks, Yog." Surya menepuk bahu Yogi.


"Cinta....Aa pulang dulu, ya," pamit Yogi pada Sinta.


"Iya, A. Ati-ati, ya," sahut Sinta.


"Cium dulu enggak?" ledek Yogi.


Sinta langsung menunduk malu.


Surya mengangkat kepalan tangannya dan mengarahkan pada Yogi.


Yogi tergelak dan buru-buru pergi.


Surya dan Sinta masuk ke dalam rumah. Mereka duduk kembali di ruang tamu.


"Kak. Bagaimana kalau kak Viona menceritakan tentang kak Dewa pada kak Nadia?" tanya Sinta ikut khawatir.


Surya menghela nafas. Itulah masalah yang belum bisa dipecahkannya.


Bagaimana caranya melarang Viona cerita ke Nadia. Surya hampir tak pernah berkomunikasi dengan Viona.


" Apa kakak enggak cerita aja sama kak Viona tentang masalah ini? Biar kak Viona tak menceritakan sama kak Nadia?" tanya Sinta.


"Viona kan masih di kampung halamannya," sahut Surya.

__ADS_1


"Kan ada telpon, Kak. Di sini bukan di lautan lepas yang enggak ada sinyal," ucap Sinta.


"Masa kakak ngomongnya lewat telpon? Enggak enak dong," sahut Surya.


"Ya kalau nunggu kak Vionanya balik ke sini, keburu dia menceritakannya pada kak Nadia. Iya kalau sekedar cerita aja. Kalau sampai mamerin foto? Berabe, kan?" Sinta merasa gemas dengan kakaknya.


"Iya. Tapi...." Surya bingung ngomongnya.


Sebenarnya dia lebih bingung lagi, bagaimana cara menyampaikannya pada Viona.


"Tapi Kakak males ngomong sama kak Viona?" tebak Sinta.


"Ya itu salah satunya," sahut Surya.


"Ini masalah penting, Kak!" ucap Sinta.


"Tapi apa Vionanya mau?" tanya Surya ragu.


"Kak. Ini kan juga menyangkut hubungan kak Viona dengan kak Dewa. Pasti mau lah," jawab Sinta dengan yakin.


"Ya udah. Ambilin hapeku di kamar!" pinta Surya.


Sinta mencebikan bibirnya. Tapi menurut juga.


"Nih!" Sinta memberikan hape Surya.


Dengan ragu, Surya menghubungi Viona. Hal yang tak pernah dilakukan Surya sebelumnya.


Viona yang baru saja mengantarkan Putra ke pelabuhan dan melepaskan kekasihnya itu pergi, merasa heran. Karena tiba-tiba Surya menelponnya.


"Iya, hallo. Ada apa Sur?" tanya Viona.


Viona mengernyitkan dahinya. Viona berpikir Surya akan menyatakan perasaan padanya.


"Bi...sa. Soal apa ya, Sur?" tanya Viona dengan dada berdebar.


"Aku mau bicara soal...Putra," jawab Surya.


Surya menyebut nama Putra, karena Viona mengenal Dewa sebagai Putra.


"Putra? Ada masalah apa dengan Putra?" tanya Viona dengan nada tak suka. Dia tak suka hubungannya dengan Putra diganggu.


Apalagi tadi Putra sudah menemui keluarga Viona dan mengatakan kalau dia mau menjalin hubungan serius dengan Viona.


Meskipun untuk sementara, masih harus hubungan jarak jauh dulu.


Tapi Putra berjanji, saat kontraknya selesai, dia akan segera melamar Viona.


Orang tua Viona pun tak keberatan. Karena menurut mereka itu lebih baik bagi Viona.


Viona bisa menyelesaikan kuliahnya dulu, tanpa rasa khawatir anak mereka terganggu kuliahnya.


Sebab banyak kasus, gagal kuliah karena terlalu sering ketemu pacarnya. Dan akhirnya melakukan hal yang di luar batas.


"Apa Nadia pernah cerita sama kamu tentang Dewa?" tanya Surya.


Viona makin bingung. Apa hubungannya dengan Putra?

__ADS_1


"Dewa? Sahabat kalian waktu SMA?" Viona malah balik bertanya.


Nadia pernah cerita tentang persahabatan antara Surya, Nadia dan Dewa.


"Iya. Apa Nadia hanya mengatakan soal persahabatan aja?" tanya Surya.


"Iya. Tapi aku curiga," jawab Viona.


"Curiga apa?" tanya Surya lagi.


"Kelihatannya Nadia ada rasa sama sahabatnya itu. Dan kelihatannya itu yang membuat Nadia tak menganggapmu. Maaf ya, Sur."


Viona khawatir pendapatnya salah dan menyinggung perasaan Surya.


"Enggak apa-apa Vi. Itu memang benar. Mereka pernah pacaran. Lalu setelah lulus SMA, Dewa menghilang," sahut Surya.


"Hilang dan tak pernah kembali," ucap Viona.


"Iya, Vi. Kami kehilangan jejaknya. Tapi Nadia masih terus saja berharap, suatu saat Dewa akan datang menjemputnya. Memenuhi janjinya," sahut Surya.


"Hhmm." Viona jadi ingat dengan janji Putra padanya.


"Tapi sekarang, Nadia sudah menyadari kekonyolannya. Dia sadar kalau Dewa tak akan pernah kembali. Dan kami....sekarang menjalin hubungan," lanjut Surya.


"Kalian berpacaran?" tanya Viona tanpa beban lagi. Karena kini dia tak akan lagi mengejar Surya. Sudah ada Putra dalam hidupnya.


"Iya, Vi. Mungkin kamu bisa tau bagaimana perasaanku selama ini pada Nadia," jawab Surya perlahan. Dia tak mau menyinggung perasaan Viona.


"Iya, aku tau," sahut Viona.


"Sekarang aku mau mengatakan hubungan antara kisah kita ini dengan Putra, Vi," ucap Surya.


"Maksudnya?" tanya Viona tak mengerti.


Surya menghela nafasnya.


"Yogi memperlihatkan foto kalian di atas kapal. Dan setelah aku melihatnya, Putra itu adalah Dewa, Vi," jawab Surya.


"Maksud kamu?" tanya Viona.


"Kamu tau nama panjangnya Putra?" tanya Surya.


Viona menepuk jidatnya. Saking bahagianya, Viona sampai melupakan itu. Viona tak menanyakan nama panjang Dewa.


"Dewa Putranto. Itu nama panjangnya, Vi. Tak salah kalau dia memperkenalkan diri dengan nama Putra." Surya menjawab sendiri pertanyaannya, karena Viona tak juga menjawab.


"Jadi..." Viona langsung lemas.


Dia dan Nadia mencintai lelaki yang sama? Dijanjikan oleh lelaki yang sama?


"Vi...jangan berpikiran negatif dulu pada Putra. Mungkin dia memang sudah melupakan Nadia dan memilihmu. Percayalah Vi, Dewa Putranto orang yang baik," ucap Surya.


"Iya," jawab Viona masih dengan perasaan tak menentu.


"Sekarang yang harus kamu lakukan, jangan menceritakan tentang Putra pada Nadia. Aku tak mau kehilangan Nadia, Vi. Kamu juga tak mau kan kehilangan Putra?"


"Iya pasti, Sur. Terima kasih ya udah mengingatkan aku. Aku sangat mencintainya, Sur," jawab Viona.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintai Nadia, Vi. Dan aku yakin, cintaku lebih besar dari cinta Dewa pada Nadia dahulu," sahut Surya.


"Iya, Sur. Kita saling menjaga milik masing-masing!"


__ADS_2