
Spontan Viona dan Putra saling melepaskan diri. Mata mereka terbelalak melihat siapa yang berdiri di pintu rumah Viona.
"Surya...!" seru keduanya bersamaan.
"Maaf mengganggu," ucap Surya.
Putra langsung beranjak berdiri dan mendekat ke arah Surya.
"Surya...!"
"Dewa...!"
Mereka saling pandang dan seakan tak percaya. Sampai akhirnya mereka berpelukan erat.
Viona memandangnya penuh haru. Dua sahabat yang terpisah sekian lama. Kini dipertemukan lagi.
"Apa kabar, Surya?" tanya Dewa sambil menepuk-nepuk punggung Surya.
"Baik...baik. Kamu apa kabar?" tanya Surya, lalu melepaskan pelukannya.
"Aha...! Aku baik Surya! Ayo duduk!" Dewa menarik tangan Surya untuk duduk.
Viona menggeser duduknya. Memberikan tempat bagi dua sahabat itu.
"Aku enggak mengira kita akan ketemu di sini," ucap Dewa.
"Ya, akhirnya kita bisa ketemu juga. Setelah sekian lama kita tunggu kabar dari kamu," ucap Surya.
Mereka terlibat obrolan ringan seputar kabar masing-masing.
Viona melipir ke dapur. Dia seperti tak ada bagi mereka. Mungkin karena euforia mereka yang sangat luar biasa.
Tak lama, Viona keluar dengan membawa minum dan tambahan makanan kecil khas daerahnya untuk Surya.
"Silakan minumnya, Surya." Viona mempersilakan Surya yang mungkin kehausan.
"Iya, makasih, Vi," ucap Surya.
"Kemana aja kamu, Wa? Ngilang dan enggak ada kabar sama sekali," tanya Surya.
"Aku lagi nyari sesuap nasi, Bro," jawab Dewa.
"Dan sebongkah berlian. Hahaha," lanjut Dewa.
"Enak sekali. Aku masih gini-gini aja. Masih berkutat dengan buku-buku dan tugas-tugas kuliah," ucap Surya sambil menatap Viona.
Dan diangguki oleh Viona. Karena dia pun sama saja. Masih harus sibuk hilir mudik ke kampus demi sebuah titel dan ijasah kesarjanaan.
Tak lama, datanglah Yogi bersama Sinta. Yogi yang sudah sedikit hafal jalanan di kampung Viona, tak terlalu sulit menemukan alamat rumah Viona.
"Yogi? Sinta?" Surya terkejut. Tak disangkanya mereka sampai juga di rumah Viona.
Sedari tadi di perjalanan, Surya enggan membuka ponselnya. Apalagi menerima telpon.
Dia lebih fokus di jalanan dan ponselnya dia standby ke map online. Jadi malas kalau harus bolak balik membuka aplikasi lainnya.
"Kalian mau ngapain ke sini?" tanya Surya.
"Nyusulin elu, dodol! Nyusahin orang aja lu!" jawab Yogi. Lalu dia menyalami Putra.
__ADS_1
"Hallo, Bro. Apa kabar?" ucap Yogi sambil memeluk Putra.
"Ya...ya...ya. Selalu baik, Bro. Seneng banget bisa ketemu lagi," sahut Putra.
"Ini si cantik Sinta?" tanya Putra.
Sinta tersipu malu.
Dulu sewaktu Dewa masih sering ke rumah Surya, Sinta masih SMP. Dan baru masuk SMA setahun sebelum Dewa akhirnya menghilang.
"Hay, apa kabar kamu, Cantik?" sapa Dewa.
"Kak Dewa bisa aja. Kakak apa kabarnya?" tanya Sinta.
"Baik dong. Ayo duduk," sahut Dewa.
Yogi dan Sinta pun menyalami Viona yang hanya menatap keseruan pertemuan mereka. Dia tak mau mengganggunya.
"Viona, bisa minta tolong buatkan minuman lagi?" pinta Putra pada Viona.
"Iya. Tentu," sahut Viona.
"Enggak usah repot-repot kak Viona," ucap Sinta basa basi.
"Enggak repot. Cuma minum aja, kok," sahut Viona. Lalu bergegas masuk ke dalam.
"Udah gede ya, Sinta?" Dewa menatap wajah cantik Sinta.
"Iyalah, dikasih makan," jawab Surya.
"Nah, kalau makin cantik dikasih apaan?" tanya Dewa.
"Kenapa, Bro? Wajar dong kalau gue naksir. Hahaha." Dewa tertawa tergelak. Dia sengaja menggoda Yogi. Dewa sudah tahu dari Viona kalau Yogi berpacaran dengan Sinta.
"Nih!" Yogi mengacungkan tinjunya ke arah Dewa.
"Galak amat adik ipar lu, Sur. Hahaha." Dewa makin tergelak. Segala kegelisahannya tadi serasa hilang setelah bertemu sahabatnya.
"Enggak cuma galak. Suka gigit juga!" sahut Surya, yang disambut cubitan Sinta.
"Kakak ih, emangnya A Yogi itu heli?" ucap Sinta.
Viona keluar membawa minuman untuk Yogi dan Sinta.
"Ayo Yogi, Sinta. Diminum dulu. Kalian pasti haus, kan?" ucap Viona.
"Iya, makasih kak Viona," ucap Sinta dengan sopan.
Sinta yang tadinya merasa cemburu pada Viona, merasa nyaman setelah bertemu dengan Dewa. Dia merasa yakin kalau Viona memang ada hubungan dengan Dewa. Jadi dia tak perlu merasa khawatir lagi.
"Viona, dulu Sinta ini waktu kecil sering ingusan lho," ledek Dewa.
"Iih, apaan sih, kak Dewa? Ngarang aja!" Sinta tersipu malu-malu.
"Sekarang juga masih," sahut Yogi menambahkan.
"Aa...!" Sinta melotot ke arah Yogi. Mau mencubit, apa daya duduk mereka berjauhan.
"Masih cantik, maksudnya. Hehehe." Yogi terkekeh. Meski candaannya enggak nyambung.
__ADS_1
"Iyalah, pacarnya ya dipuji-puji terus. Aku juga suka banget tuh, memuji Vionaku." Dewa menatap wajah Viona yang langsung memerah.
"Tuh, kan. Langsung merah wajahnya. Kayak udang rebus. Hahaha." Dewa meraih tangan Viona dan menciumnya tanpa malu-malu.
Surya menatapnya sambil tersenyum senang. Dan dia berharap, Dewa tak akan goyah meski nanti ketemu Nadia.
Viona menatap Surya sekilas. Mereka saling memberi kode. Seakan meminta saling mempertahankan milik masing-masing.
"Eh, kalian pasti lapar. Kita cari makan yuk," ajak Dewa.
"Tau aja, lu. Dimana?" tanya Yogi.
Dewa menatap ke arah Viona. Meminta pendapat Viona. Dia pasti tahu tempat makan yang recomended.
"Di pinggir pantai aja. Di sana banyak kan tempat makan yang enak dan nyaman buat ngobrol," sahut Viona.
"Siap. Sekali-kali ngerasain uang nenek moyangku," ucap Yogi.
"Kok nenek moyangku, Yog?" tanya Viona.
"Kan nenek moyangku seorang pelaut. Hahaha." Yogi tergelak sendiri.
"Bisa aja, lu!" Surya menoyor bahu Yogi.
"Oke deh. Siap. Gue terserah baginda ratu aja," ucap Dewa.
Viona langsung merona dipanggil baginda ratu oleh Dewa. Dia merasa terbang melayang.
Dari dulu, sikap Dewa memang selalu seperti itu. Pandai memuji. Hingga banyak teman wanita yang menggilainya. Meskipun pada akhirnya Dewa memilih Nadia.
Nadia yang pada akhirnya dia tinggalkan karena sebuah kesalahpahaman.
"Mau naik mobil siapa ini?" tanya Dewa.
"Dua mobil aja. Biar enggak desak-desakan," jawab Yogi.
"Ya udah, gue ama Viona ikut mobil Surya," ucap Dewa.
Surya setuju saja. Lalu dia melangkah ke mobilnya diikuti Viona.
Yogi dan Sinta tetap naik mobil sendiri.
"Kayaknya kak Dewa cinta banget sama kak Viona ya, A?" komentar Sinta di dalam mobil.
"Ya, namanya juga pacarnya. Aku juga cinta banget sama kamu, kan?" sahut Yogi.
Sinta tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Yogi dengan manja.
Yogi mengecup puncak kepala Sinta, sambil melajukan mobilnya perlahan mengikuti mobil Surya.
"A, kira-kira gimana ya kalau nanti mereka ketemu kak Nadia?" tanya Sinta.
"Kita lihat aja nanti, Cinta," jawab Yogi.
"Kayaknya kita harus siapin tissue yang banyak deh," ucap Sinta.
"Buat apa?" tanya Yogi tak mengerti.
"Pasti akan banyak air mata!"
__ADS_1