
Nadia dan Viona sama-sama terkejut. Mata mereka saling bertatapan.
Dewa menarik tangan Nadia untuk keluar dari minimarket itu. Dewa juga menyaut tangan Viona. Dia tak mau mereka sampai ribut di dalam minimarket.
Baik Nadia maupun Viona, tak ada yang berniat melepaskan tangannya. Mereka merasa ingin memiliki.
Sampai di depan minimarket, di bawah sebuah pohon besar, Dewa menghentikan langkahnya.
Dia berniat melepaskan tangan keduanya. Tapi sayangnya mereka malah semakin erat menggenggam tangan Dewa.
"Kenapa kalian tak melepaskan tanganku?" tanya Dewa.
"Bukankah aku yang pertama memilikimu?" tanya Nadia.
"Tapi aku yang sekarang memilikimu!" sahut Viona.
Dewa menghela nafasnya.
"Baik. Kalau kalian merasa memilikiku. Aku akan turuti kemauan kalian!" ucap Dewa.
Lalu keduanya sama-sama melepaskan.
"Tidak! Kamu milikku Dewa!" ucap Nadia.
"Dia milikku, Nadia!" sahut Viona.
"Kita ke rumah Viona. Kita selesaikan di sana!" Dewa melangkah ke arah rumah Viona.
Nadia tak ikut melangkah.
"Aku menunggumu di tempat yang kau katakan tadi, Dewa!" ucap Nadia. Dia tak sudi mendatangi rumah Viona. Meski Viona adalah sahabatnya sendiri.
Dewa menoleh, lalu mengangguk.
Viona pun menoleh. Lalu menarik tangan Putra untuk pergi meninggalkan Nadia.
Nadia hanya mendengus dengan kesal. Lalu menyeberang ke arah hotel yang ditunjuk oleh Dewa.
Nadia memesan satu kamar untuknya. Lalu dia memberikan pesan pada resepsionis, untuk memberitahukan nomor kamarnya pada seseorang yang bernama Dewa Putranto.
"Baik. Nanti kalau saudara Dewa Putranto kesini, akan saya beritahukan. Ini kuncinya."
Nadia menerima kunci dari resepsionis dan melangkah ke lift. Dia akan menunggu Dewa di kamarnya.
Begitu keluar dari lift, Nadia bertemu dengan Surya yang juga menginap di hotel itu.
Surya yang sudah bertekad akan melupakan Nadia, memalingkan mukanya. Dia tak mau menyapa dan tak mau bertanya apapun.
Nadia pun melangkah tanpa sepatah kata. Dia melihat lagi nomor kamarnya di gantungan kunci. Lalu mencari dimana nomor itu berada
Surya memperhatikannya dari jauh. Dan ternyata kamar mereka bersebelahan.
__ADS_1
Surya masuk ke lift. Dia mau mencari cafe. Untuk sekedar menenangkan otaknya yang ruwet.
Sementara Putra dan Viona berjalan ke rumah Viona. Tak ada sepatah kata dari mereka. Hati Viona sedang sangat kesal pada Nadia. Meski sekarang dia berhasil membawa Putra pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah Viona, mereka masuk dan duduk di tempat tadi. Putra melihat ponselnya masih tergeletak di atas meja dengan posisi sama.
Putra menatap wajah Viona. Wajah yang cantik tapi masih terlihat lugu. Bukan wajah yang ambisius. Meskipun Viona punya ambisi yang sangat besar terhadap Putra.
"Kalian janjian?" tanya Viona memulai pembicaraan.
"Enggak, Viona. Kamu kan tau sendiri, tadi aku mau beli rokok," jawab Putra.
"Dan kalian tidak sengaja bertemu di sana?" tanya Viona.
"Ya, begitulah," jawab Putra.
"Lalu apa yang akan kalian rencanakan selanjutnya?" tanya Viona lagi.
Putra menghela nafasnya.
"Kalau kamu ijinkan, aku ingin menemuinya sekali lagi. Mungkin itu akan jadi pertemuanku yang terakhir dengannya," jawab Putra.
"Kamu yakin tak akan menemuinya lagi setelahnya?" Viona menatap wajah Putra. Dia ingin mendapatkan kepastian.
"Aku janji, Viona. Kasihan juga Nadia. Dia sepertinya masih menyimpan rasa dan harapan padaku," sahut Putra.
"Bukan dia yang kasihan. Tapi Surya," ucap Viona.
"Surya? Kenapa dia?" tanya Putra. Bagaimanapun Surya adalah sahabatnya. Dia harus tahu apa yang terjadi dengan Surya.
"Kamu mengatakan Nadia plin plan?" tanya Putra.
"Ya. Dia sangat plin plan. Sebentar dia akan menerima Surya, sepertinya dia sangat serius. Tapi sebentar kemudian, dia akan kembali mengharapkan kamu. Apa namanya kalau bukan plin plan?" tanya Viona.
Putra hanya diam. Dia berpikir, apa dirinya juga seplin plan Nadia.
Sebelum ini dia sangat mencintai Viona. Tapi saat Nadia datang, hatinya terasa goyah.
"Dan itu bukan hanya terjadi sekali dua kali. Tapi berkali-kali. Berkali-kali dia kecewakan Surya," ucap Viona.
"Hebatnya Surya, dia masih saja mengejar ambisinya untuk memiliki Nadia. Ya, sampai di titik ini. Kamu bisa lihat sendiri, kan?" tanya Viona.
Putra mengangguk. Dia sedikit paham apa yang dikatakan Viona. Bukan jarak yang dekat dari kota tempat tinggal mereka, untuk mengejar Nadia sampai kesini.
"Surya menutup hatinya untuk wanita lain. Baginya hanya ada Nadia di dunia ini. Termasuk juga padaku," ucap Viona.
"Kamu pernah menyukai Surya?" tanya Putra.
"Ya. Siapa yang tak suka melihat Surya? Apa kurangnya dia? Tapi sayangnya, dia menutup hatinya rapat-rapat," jawab Viona.
"Kamu menyesalinya?" tanya Putra.
__ADS_1
Viona menggeleng.
"Aku tak pernah menyesalinya, karena aku telah mendapatkan kamu. Dan aku yakin, kamu akan bisa lebih baik dari Surya," jawab Viona.
Putra menatap wajah Viona dengan tajam. Dia mencari keseriusan di sana.
Viona mengangguk.
"Mungkin aku akan merasakan hal yang sama dengan Surya kalau dia menerimaku dulu," ucap Viona.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Putra.
"Karena Surya tak pernah bisa move on dari Nadia. Seperti Nadia yang tak bisa move on dari kamu. Menyakitkan bukan, kalau kita hidup dengan orang yang seperti itu?" tanya Viona.
Putra mengangguk. Lalu menghela nafasnya dalam-dalam.
Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut Viona menyadarkannya, kalau dia tak perlu lagi menemui Nadia.
Dia harus bisa memantapkan hati pada Viona. Viona bisa bersikap sangat dewasa meski usia mereka sepadan.
Viona melihat jam di pergelangan tangannya.
"Udah hampir jam sembilan malam. Kalau kamu mau menemui Nadia, temuilah. Tak baik terlalu malam menemui wanita lain," ucap Viona.
Dia harus berbesar hati memberikan kesempatan pada Putra untuk menemui Nadia.
Putra menggeleng.
"Kenapa?" tanya Viona.
"Aku tak mau kamu menilaiku plin plan atau tak bisa move on," jawab Putra.
Viona terkekeh.
"Putra, jangan kamu ambil keputusan karena merasa tak enak pada orang lain. Ambilah keputusan karena kamu yakin," ucap Viona.
"Kamu bukan lagi orang lain, Viona. Kamu udah dan selamanya akan jadi bagian dari hidupku. Aku yakin itu." Putra menggenggam tangan Viona, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Kamu tak ingin menemuinya lagi?" tanya Viona.
Putra menggeleng.
"Tak perlu. Lagi pula, aku tak mau menyakiti perasaan Surya. Dia pasti akan sangat terluka kalau aku menemui Nadia," jawab Putra.
"Terima kasih, Putra. Semoga keyakinan kamu tak akan goyah lagi," ucap Viona.
"Enggak akan Viona. Selama kamu setia dan sabar menantiku menyelesaikan kontrak kerja," sahut Putra.
"Aku akan menantimu, Putra. Aku juga ingin menyelesaikan kuliahku. Aku ingin dapat gelar sarjana. Aku ingin dapat pekerjaan yang baik. Dan aku ingin menjadi pendampingmu yang membanggakan," ucap Viona.
"Janji?" tanya Putra. Lalu dia memberikan kelingkingnya pada Viona.
__ADS_1
"Ya, aku janji," jawab Viona memberikan kelingkingnya juga.
Putrapun memeluk Viona dengan erat.