PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 103 SINTA MULAI MERASA


__ADS_3

Yogi terkesiap. Dia memang sejenak melamun. Membandingkan Sinta dengan Viona.


Viona yang kini menjatuhkan hatinya pada Putra sang pelaut.


"Eh, maaf. Maaf!" ucap Yogi spontan. Padahal jelas, tak ada yang perlu dimaafkan.


"Ngelamunin siapa sih?" tanya Sinta.


"Ya ngelamunin kamu lah. Siapa lagi?" sahut Yogi.


Blush!


Wajah Sinta langsung merona. Lalu menunduk malu.


Yogi malah terkekeh. Lucu sekali anak ini. Batin Yogi.


Yogi malah jadi semakin senang menggoda Sinta.


"Ye...malah nunduk! Di bawah enggak ada uang jatuh, Sinta...!"


"Ih, Kakak!" Sinta mengangkat kepalanya, lalu memukul pelan lengan Yogi.


"Jangan megang-megang ah. Tangan kamu kan bau terasi sama ikan asin!" ledek Yogi.


Reflek Sinta mencium tangannya.


"Mana? Enggak, kok?"


Yogi mencium lengannya yang tadi dipukul Sinta.


"Tuh, lenganku aja masih bau terasi, kok!" Yogi semakij senang meledek Sinta.


"Aah...! Kak Yogi bohong!" Sinta benar-benar merajuk.


Yogi malah semakin tergelak. Lalu meraih tangan Sinta dan menggandengnya.


"Eh, sebentar, Kak. Aku kunci pintu dulu." Sinta berbalik hendak mengunci pintu rumahnya.


"Ya udah. Aku tunggu di mobil, ya," ucap Yogi.


Sinta mengangguk. Yogi pun masuk ke mobilnya. Menunggu Sinta di sana.


Setelah selesai mengunci pintu, Sinta masuk juga ke mobil Yogi.


Yogi membawa mobilnya pelan-pelan. Mereka melewati jalan yang tadi dilewati Yogi.


Sampai di depan rumah Nadia, tak ada motor Yogi di sana.


"Mana, Kak? Enggak ada motornya kak Yogi?" Sinta melihat ke halaman rumah Nadia.


"Iya. Tapi tadi ada kok. Masa aku bohong, sih? Tadi diparkir di sana." Yogi menunjuk tempat di mana motornya tadi terparkir.


Sinta menatap wajah Yogi.


"Apa mereka pergi, ya?" tanya Sinta.


"Bisa jadi. Coba kamu ke sana deh. Pura-pura mau nyariin Nadia," ucap Yogi.


"Lha, kalau yang nemuin kak Nadianya, aku bilangnya mau nyari siapa?" Kembali Sinta tak punya ide untuk berbohong.


"Ya bilang aja mau nyariin Surya," jawab Yogi.


"Kalau kak Nadianya enggak ngaku, gimana?" tanya Sinta lagi.

__ADS_1


"Paksa biar ngaku. Udah sana. Sekali-kali bohong. Katanya kepingin tau kebenarannya?" Yogi memaksa Sinta turun.


"Oke. Kak Yogi nunggu di sini, ya?" pinta Sinta.


"Iya lah, Sayang....masa aku tinggal," sahut Yogi. Dia keceplosan memanggil Sinta dengan sebutan sayang.


Sinta diam sejenak. Matanya menatap mata Yogi.


Yogi tersenyum, lalu mengacak rambut Sinta, tanpa mau memberikan penjelasan.


"Udah sana. Aku tunggu di sini," ucap Yogi.


Sinta mengangguk. Lalu turun dari mobil Yogi.


Sinta menuju rumah Nadia. Di sana dia ketemu dengan ART yang bekerja di sana.


"Kak Nadianya ada, Bik?" tanya Sinta.


"Eh, Non Sinta. Non Nadianya barusan pergi sama mas Surya," jawab mbok Nah.


"Pergi sama kak Surya?" tanya Sinta.


Hmm. Jadi benar kata kak Yogi. Dia melihat motornya ada di sini.


"Iya, Non. Baru aja," jawab mbok Nah.


"Ya udah deh, Bik. Aku pamit aja. Salam buat kak Nadia kalau pulang," ucap Sinta.


"Lho, enggak ditungguin? Katanya cuma keluar sebentar, kok. Mau beli es jus atau apa, gitu," ucap mbok Nah.


"Enggak deh, Bik. Aku juga mau antar kak Yogi ke salon mobil," sahut Sinta, lalu dia kembali ke mobil Yogi.


Mbok Nah memperhatikan Sinta sampai masuk mobil. Dia melihat ada lelaki yang tak dikenalnya, di dalam mobil itu.


Sementara Nadia membonceng Surya menyusuri jalanan. Mereka mencari kedai es jus.


Sore yang cukup panas, membuat Nadia kepingin minum yang dingin-dingin. Meskipun sebenarnya, dia bisa saja meminta mbok Nah membuatkannya es sirop.


Tapi Nadia kepingin membonceng Surya. Entah kenapa, sekarang Nadia malah senang membonceng Surya dengan motor sport.


Kalau dulu, Nadia bukannya enggak suka. Dia menolak dibonceng Surya karena dia mau enggak mau harus mendekap Surya. Sementara hubungan mereka hanya sebatas sahabat.


Nadia merasa risi, dadanya menempel di punggung Surya. Makanya Nadia selalu minta Surya ganti pakai motornya saja.


Kalau kemudian Surya mengganti motornya dengan motor matic, itu bukan kemauan Nadia. Itu murni keinginan Surya sendiri.


Walaupun memang Nadia yang memilih warnanya, karena Nadia diajak waktu Surya membelinya di dealer.


Tapi sekarang, beda lagi urusannya. Nadia sudah menerima pernyataan cinta dari Surya. Dan Nadia sudah ingin menghapus semua kenangan tentang Dewa.


Hari-harinya akan dia isi dengan kebahagiaan bersama Surya.


Dan Nadia jadi ketagihan mendekatkan dadanya ke punggung Surya. Mendekapnya dari belakang dan menyandarkan wajahnya.


Nadia merasakan kedamaian dan kenyamanan di sana. Meski ada sedikit rasa yang hilang.


"Yaa...tutup warungnya," ucap Surya. Warung jus yang akan mereka datangi ternyata tutup.


"Ya udah. Yang di dekat pasar aja," sahut Nadia.


"Tapi jauh. Kita enggak pake helm juga," ucap Surya.


"Enggak apa-apalah. Sekali-kali enggak taat. Enggak dosa, kan?" tanya Nadia.

__ADS_1


Surya tertawa sambil menepuk-nepuk tangan Nadia yang masih mendekapnya.


"Pegangan yang kenceng!"


Nadia menurut. Dia eratkan pelukannya.


Wush!


Surya melajukan motor Yogi dengan kecepatan tinggi.


Sementara Sinta kembali masuk ke mobil Yogi.


"Gimana?" tanya Yogi tak sabar.


"Katanya mereka lagi pergi sebentar. Beli es jus," jawab Sinta.


"Nah, berarti bener kan, kalau tadi aku liat motorku di sini?"


Sinta mengangguk. Lagi pula tak mungkin Yogi berbohong.


"Terus sekarang gimana, Kak?" tanya Sinta.


"Ya kita ke salon mobil. Bersihin mobil, biar enggak kayak kamu. Bau terasi! Hahaha."


Sinta kembali memukul lengan Yogi dengan gemas. Yogi pun melajukan mobilnya lagi.


Sambil menunggu mobilnya dibersihkan, Yogi mengajak Sinta masuk ke cafe kecil milik salon itu juga.


"Mau pesan apa kamu, Sinta?" tanya Yogi.


Sinta hanya memesan jus dan makanan kecil buat teman ngobrol.


"Sebenarnya aku pingin ketemu Surya, pingin ngobrol juga. Kangen aku sama dia," ucap Yogi.


"Sayangnya yang dikangenin udah berpaling ke lain hati. Hihihi." Sinta terkikik.


"Hhm. Iya. Gue diduain deh sama tuh anak. Awas aja kalau sampai galau lagi, aku enggak mau nemenin!" sahut Yogi.


"Kok gitu?" tanya Sinta.


"Iyalah. Habis manis sepah dibuang!" sahut Yogi pura-pura kesal.


Padahal dalam hatinya berharap Surya benar-benar bahagia walaupun kembali baikan lagi dengan Nadia.


Dan dia bisa bebas pergi membawa Sinta kemanapun. Tanpa mikirin lagi perasaan Surya yang jomblo.


"Udah deh, jangan ngomongin mereka. Sekarang Kakak cerita dong, soal liburan kemarin," pinta Sinta. Dia tak mau Yogi makin kesal pada Surya. Karena Sinta berpikir, Yogi benar-benar kesal.


"Oh iya. Mending aku cerita soal liburan kemarin aja, ya?"


Sinta mengangguk senang.


"Tapi kamu jangan bete dengerinnya, ya?"


"Enggak lah, Kak," sahut Sinta. Dia malah berharap Yogi mau menceritakan hari indahnya padanya.


"Janji?"


Sinta malah mengernyitkan dahinya.


Yogi menatap wajah Sinta dengan tajam. Sinta mengangguk lagi, untuk meyakinkan.


"Aku di sana....ketemu Viona!"

__ADS_1


__ADS_2