PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 45 DIMANA PERAHU KERTASKU


__ADS_3

"Vi! Kok melamun lagi?" tanya Nadia.


"Ee....Enggak. Ayo kita selfie," jawab Viona tergagap.


"Ya kamu ke sini dong. Kakiku kan masih sakit buat jalan," sahut Nadia.


"Oke." Viona berdiri dan mendekat ke Nadia.


"Sini, aku yang motoin." Surya mengambil ponsel Nadia yang sudah pada mode kamera.


"Jangan. Kamu ikutan kita selfie," tolak Nadia.


"Ah, enggak mau. Kalian aja." Surya menjauh dan mulai ancang-ancang mengambil gambar mereka.


Males banget foto bareng Viona. Kalau hanya berdua Nadia saja sih, aku enggak bakalan menolak. Batin Surya.


"Ayo siap, action! Satu...dua...ti...ga."


Klik.


Klik.


Klik.


Surya mengambil tiga kali foto mereka. Meski dia hanya fokus pada wajah Nadia saja.


"Ganti pose, Sur. Kamu ambilnya dari sebelah sana. Biar kelihatan suasana ramenya," pinta Nadia sambil menunjuk tempat buat Surya berdiri.


Surya menuruti. Apapun yang Nadia minta, hampir selalu dituruti oleh Surya.


"Udah, nih." Surya mengembalikan ponsel Nadia.


Viona pun kembali ke kursinya.


"Sebentar, lihat hasilnya dulu." Nadia membuka galerinya. Melihat hasil jepretan Surya.


"Mm....bagus banget. Lihat ini, Vi. Bagus, kan?" Nadia memperlihatkannya pada Viona.


Surya tersenyum bangga. Ya, Surya memang punya bakat fotography. Bukan sekali dua kali dia mengambil foto dengan hasil memuaskan.


Bahkan di galery ponselnya banyak sekali foto-foto Nadia yang kadang diambilnya diam-diam.


Ada juga beberapa foto selfie-nya bersama Nadia. Dan semua itu tersimpan rapi di galery ponselnya.


"Iya, bagus banget pengambilannya. Kamu hebat, Sur," puji Viona pada Surya.


Surya hanya tersenyum sekilas. Sepertinya dia tak membutuhkan kata-kata pujian dari Viona.


Viona melirik ke arah Surya sekilas juga. Hatinya sedikit kecewa dengan reaksi Surya.


"Kirim ke nomorku, Nad," pinta Viona.


"Oke." Nadia langsung mengirimkannya ke nomor Viona.


"Kamu mau aku kirimin juga, Sur?" tanya Nadia pada Surya dengan polosnya.


"Enggak!" jawab Surya dengan ketus.


Ngapain aku nyimpen fotonya Viona. Menuh-menuhin galery aja. Batin Surya.


"Ya udah, kalau enggak mau." Nadia menyimpan lagi ponselnya.

__ADS_1


"Pulang yuk, Sur. Aku udah capek nih," ajak Nadia.


"Oke." Surya berdiri.


"Aku bayar dulu di kasir," lanjutnya. Lalu berjalan ke arah kasir.


Surya juga menanyakan makanan yang dipesan Viona. Dia akan sekalian membayarnya.


Bagaimana pun, tidak enak juga kalau hanya membayar pesanannya aja.


"Belum, Mas. Ini notanya," jawab si kasir.


"Ya udah. Sekalian saya bayar," sahut Surya.


Dan setelah selesai membayar, Surya kembali ke mejanya.


"Ayo pulang." Surya sudah bersiap menggendong Nadia.


"Jalan aja, Sur. Malu dilihat orang," tolak Nadia.


"Kenapa harus malu? Kamu kan emang lagi sakit kakinya," sahut Surya.


"Iya. Tapi kan masih bisa jalan." Nadia tetap menolak.


Surya yang tak mau lagi berdebat, meraih tangan Nadia. Dan setelah Nadia berdiri, Surya merangkulnya.


"Vi, kamu mau pulang bareng kita?" tanya Nadia.


Viona dari tadi hanya bengong menatap interaksi mereka.


"Oh, enggak. Kalian duluan aja. Aku bisa naik ojek online. Deket juga, kan?" sahut Viona.


Viona menolak karena bukan Surya yang menawarinya.


Surya hanya mendengus kesal.


"Duluan aja, Nad. Aku juga belum bayar makananku." Viona tetap menolak.


"Oh, ya udah. Aku duluan ya, Vi."


Surya langsung menarik lengan Nadia biar cepet jalan.


"Iya, Nad. Ati-ati," sahut Viona dengan kesal. Kesal pada Surya yang tak merespon ajakan Nadia.


"Kamu ngapain sih, pake nawarin segala?" gumam Surya sambil berjalan.


"Kasihan Viona, Sur. Ini kan udah malam," sahut Nadia.


"Biarin aja. Siapa suruh pergi malam-malam," sahut Surya.


"Ish. Viona sahabatku, Sur. Mestinya kamu pahami itu dong."


"Kamu juga mestinya memahamiku, Nad."


Nadia hanya menghela nafasnya. Dia paham kalau Surya kurang suka pada Viona.


Viona beranjak dari duduknya dan menuju ke kasir.


"Saya mau bayar, Mba," ucap Viona pada kasir.


"Yang mana, ya?" Kasir itu mencari nota pembelian yang belum dibayar.

__ADS_1


"Atas nama Viona," jawab Viona.


"Oh, itu udah dibayar sama masnya yang pake topi putih tadi, Mbak," sahut petugas kasir.


Topi putih? Surya? Tanya Viona dalam hati. Lalu dia tersenyum sendiri.


"Ya udah, Mbak. Makasih." Lalu Viona keluar dari warung steak itu.


Ternyata Surya baik juga. Apa di depan Nadia, dia pura-pura acuh? Padahal sebenarnya mau. Viona kembali tersenyum, lalu memesan ojek online.


Surya mengantar Nadia sampai ke rumahnya. Bahkan sampai ke kamar. Karena menurut mbok Nah, papa dan mama Nadia lagi keluar.


"Makasih ya, Sur. Aku jadi ngerepotin kamu terus," ucap Nadia.


"Nad. Aku bukan orang lain. Aku siap membantu kamu kapan aja kamu mau. Jangan bilang kaya gitu lagi. Oke?"


Nadia mengangguk. Dia tahu, Surya selalu membantunya kapanpun dia mau. Dari dulu.


Sejak mereka SMA. Meski ada Dewa. Surya selalu siap membantunya.


"Apa kamu mau aku temenin sampai mama dan papa kamu pulang?" tanya Surya.


"Enggak usah, Sur. Aku capek. Ngantuk juga," tolak Nadia.


Sejak di mobil tadi, Nadia sudah menguap berkali-kali.


"Ya udah. Kalau begitu, kamu tidur aja. Besok kamu jadi kontrol ke dokter? Aku akan antar kamu. Jam berapa?"


"Biar mama aja yang nganter. Kamu kan besok harus kuliah." Nadia kembali menolak.


"Aku bisa titip absen. Lagi pula, sekali-kali bolos kan enggak apa-apa," sahut Surya.


"Jangan begitu, Sur. Masa gara-gara aku, kamu jadi bolos kuliah."


"Enggak apa-apa, Nad. Besok jam sembilan pagi aku jemput kamu. Selamat malam, Nad." Surya mengacak rambut Nadia. Lalu keluar dari kamar Nadia.


Sebenarnya dia ingin sekali memberikan ciuman, meski hanya di kening. Tapi Nadia bisa ngamuk lagi.


"Selamat malam, Sur. Ati-ati, ya," sahut Nadia.


Surya menutup pintu kamar Nadia perlahan, sambil menatap wajah Nadia sebelum pintu itu benar-benar tertutup.


Nad, kapan kamu membuka hatimu untukku? Kapan aku kamu ijinkan membelai rambutmu, mencium keningmu?


Ah, kenapa hatimu keras seperti batu? Dewa sudah pergi, Nad. Dia tak akan mungkin kembali. Batin Surya sambil berjalan turun tangga.


"Mas Surya mau pulang?" tanya mbok Nah.


"Iya, Bik. Jangan lupa kunci pintu lagi. Dan tolong jagain Nadia, siapa tau dia perlu sesuatu," jawab Surya.


"Iya, Mas. Siap," sahut mbok Nah. Lalu mengunci pintu setelah Surya keluar.


Di kamarnya, Nadia turun dari tempat tidur. Dengan tertatih-tatih, dia berjalan ke meja belajarnya.


Dia ingat, tadi sore membuat sebuah perahu dari kertas.


Nadia mencarinya di meja belajar. Bahkan sampai ke kolong-kolongnya. Tapi tak ketemu juga.


Kemana perahu kertasku? Aku yakin tadi menaruhnya di sini.


Apa mbok Nah yang menyingkirkannya? Tapi buku-buku ini masih berantakan. Berarti mbok Nah belum masuk ke sini.

__ADS_1


Lalu di mana perahu kertasku?


__ADS_2