
"Kamu kenapa, Nad? Dari tadi ngelamun terus?" tanya Viona.
"Enggak apa-apa," jawab Nadia. Dia tak mau orang lain, tahu tentang perasaannya saat ini.
"Enggak apa-apa kok melamun terus," ucap Viona, tapi tak bermaksud menanyakannya lagi. Ada Yogi, kasihan Nadia kalau nanti Yogi jadi tahu persoalannya.
Viona yakin kalau Nadia sedang ada masalah. Karena biasanya Nadia selalu ceria. Apalagi kalau ada Surya.
"Surya kemana, Yog? Kok enggak kelihatan?" tanya Viona pada Yogi. Dia memang sudah lama naksir Surya.
Nadia tahu itu dan tak pernah melarangnya. Karena Surya hanya sahabatnya saja. Tapi sayangnya, Surya seperti tak mau tahu perasaan Viona. Dia sering pura-pura acuh dan menjauh.
"Dia enggak masuk hari ini," jawab Yogi sambil menyuap makan siangnya.
Nadia tersentak mendengarnya. Surya enggak masuk kuliah? Tumben sekali. Biasanya dia paling rajin. Hampir tak pernah absen.
"Enggak masuk? Kenapa?" tanya Viona lagi.
"Mana aku tau? Tanya aja sama Nadia. Dia kan pawangnya," jawab Yogi.
Hampir seluruh kampus tahu kedekatan Nadia dengan Surya. Karena mereka sering bersama meski tidak satu jurusan.
"Kamu tau, Nad?" Viona menatap wajah Nadia yang masih terkejut.
"E....enggak. Dia enggak bilang apa-apa," jawab Nadia tergagap.
"Masih mabok kali, tuh anak! Semalam dia ke club," ucap Yogi dengan santainya.
Nadia semakin terkejut. Surya ke club malam? Sejak kapan dia suka dengan tempat seperti itu? Apalagi sampai mabok?
"Kok kamu tau?" Kini Nadia buka suara saking penasarannya.
"Tahulah. Kan aku ada di sana. Hehehe." Yogi menertawakan dirinya sendiri.
"Dia ke sana sama siapa?" tanya Nadia lagi.
"Yaa...ada yang kepo. Hahaha." Yogi malah semakin kencang tertawa.
"Serius ini, Yog. Surya kan enggak pernah ke tempat kayak gituan." Nadia memaksa Yogi bicara.
"Sendiri. Kamu tanya aja deh orangnya. Entar kalau yang bilang aku, dikira mulutku lemes," sahut Yogi.
Viona tersenyum senang. Karena cowok yang ditaksirnya tak pergi dengan cewek lain.
"Kirain sama kamu, Nad?" pancing Viona.
"Enggak. Semalam dia pulang dari rumahku sekitar jam sepuluhan. Ya aku pikir, dia langsung balik ke rumahnya," sahut Nadia.
__ADS_1
Viona tak merasa cemburu mendengarnya. Karena dia tahu betul kalau antara Nadia dan Surya hanya bersahabat saja sejak SMA.
"Oh, jadi semalam Surya habis dari rumah kamu, Nad?" Yogi berusaha memanas-manasi Viona.
Yogi ingin Viona sadar kalau Surya dekat dengan Nadia, dan dia bisa mendekatinya.
Sudah sejak lama, Yogi naksir Viona. Tapi yang ditaksir, malah naksir cowok lain.
"Iya. Semalam dia ikut makan malam bareng keluargaku di restauran," jawab Nadia apa adanya.
"Wah, kayaknya makin deket aja nih?" Yogi semakin memanas-manasi.
"Deket gimana?" tanya Nadia tak paham maksud omongan Yogi.
"Lha itu, udah makan malam bareng keluargamu juga," sahut Yogi.
"Eh, Yog. Surya memang sudah deket sama keluarganya Nadia sejak mereka masih SMA. Lagi pula, mereka kan tetanggaan." Giliran Viona yang menyahut.
"Oh. Kirain kalian pacaran," sahut Yogi.
"Enggaklah. Kami hanya bersahabat aja. Viona tuh yang naksir beràt sama Surya." Nadia menyenggol lengan Viona. Yang disenggol tersipu malu.
Yogi menatap Viona dengan geram. Lalu beranjak dan pergi begitu saja.
"Kenapa dia?" tanya Nadia pada Viona.
Viona bukan tak tahu kalau Yogi mengejarnya. Berkali-kali Yogi mengajaknya ngedate, tapi Viona selalu menolaknya.
Bukan Viona tak tertarik dengan Yogi. Tapi kehidupan malam Yogi yang membuat Viona tak mau dekat dengannya.
Belum lagi Yogi yang sering berganti-ganti mengajak cewek di kampus mereka.
Beda dengan Surya. Satu-satunya cewek yang selalu bersamanya hanya Nadia. Dan Nadia sendiri pernah bilang kalau hubungannya dengan Surya, tak lebih dari bersahabat saja.
Itu yang membuat Viona maju terus untuk mengejar Surya. Dan Nadia tahu itu. Tapi sayangnya Nadia tak pernah berhasil mencomblanginya.
"Nad. Beneran Surya enggak kasih tau kamu, kalau hari ini dia enggak masuk kuliah?" tanya Viona yang masih penasaran.
"Enggak, Vi. Coba deh kamu telpon. Siapa tahu dia sakit karena mabok," sahut Nadia.
Nadia sendiri enggan menanyakannya. Apalagi setelah tahu kalau semalam Surya ke club. Makin bikin Nadia kesal aja.
Viona menuruti perintah Nadia. Dia menelpon Surya. Tapi hape Surya tidak aktif.
Surya sendiri memang sengaja menonaktifkan hapenya. Tadi sebelum berangkat dia sudah mengabari mamanya kalau dia naik kereta dan akan mematikan hapenya karena pingin menikmati perjalanan.
"Gimana?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Hapenya enggak aktif. Coba aja kamu telpon, Nad?"
"Kalau kamu saja telpon enggak aktif, aku telpon juga sama aja kali, Vi. Kamu itu aneh," sahut Nadia.
Meski masih sangat kesal pada Surya, tapi ada rasa khawatir juga. Bagaimana kalau Surya beneran sakit? Dia kan sedang sendirian di rumahnya.
Paling yang ada juga pembantunya. Masa iya mau dirawat pembantu. Tapi untuk menelponnya duluan, rasanya masih gengsi.
Akhirnya Nadia memutuskan langsung ke rumah Surya sepulang kuliah.
"Oh, Mbak Nadia. Mas Surya nya lagi ke Jogja. Katanya sih mereka mau ke Bali apa gimana ya, Bibi kurang paham," kata pembantu di rumah Surya yang sudah mengenal Nadia dengan baik, saat dia sudah sampai di rumah orang tua Surya.
"Ooh. Katanya berapa hari, Bi?" tanya Nadia.
"Kurang tau, Mbak. Memangnya enggak pamit sama Mbak Nadia?"
Kalau pamit, aku enggak bakalan ke sini, Bi. Batin Nadia.
"Enggak, Bi. Ya sudah saya pamit pulang." Nadia langsung pergi. Tapi dia ingat kalau Surya menelponnya tadi pagi.
Saat sudah di atas motornya, Nadia membuka hapenya. Tak ada pesan apapun dari Surya kecuali beberapa panggilan tak terjawab.
Nadia menghilangkan gengsinya, dan menelpon balik. Benar kata Viona, nomor Surya tidak aktif.
Pingin menelpon lewat nomor selular, Nadia enggak punya pulsa.
Akhirnya Nadia pulang. Dia akan menelpon pakai telpon rumahnya.
Sampai di rumahnya, Nadia langsung menelpon Surya. Tapi nomor selularnya juga enggak aktif.
Nadia terdiam, bengong sendiri. Apa Surya marah karena dia tak mengangkat telponnya tadi pagi, lalu mematikan hapenya?
Aakh! Nadia mengacak rambutnya sendiri. Surya pergi. Tak ada lagi sahabat yang bisa menemaninya seharian nanti. Bahkan beberapa hari ke depan pastinya. Karena katanya mereka mau ke Bali.
"Ada apa, Nad?" tanya Susi melihat anaknya mengacak rambutnya sendiri.
"Eh, Mama. Enggak apa-apa, Ma."
Nadia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.
Susi yang penasaran, melihat daftar telpon keluar. Dan ada nama Surya di urutan paling atas.
Susi tersenyum penuh arti. Rupanya ini yang membuat anak gadisnya uring-uringan. Dia sudah merasa kehilangan.
Kebetulan tadi pagi Surya menelponnya dan mengatakan mau menyusul orang tuanya ke Jogja. Dia sudah berusaha menelpon Nadia tapi tak diangkat.
Hhmm.
__ADS_1