PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 87 COUPLE-AN


__ADS_3

Setelah sholat maghrib berjamaah, mereka bersiap-siap. Yogi meminjam baju Surya. Tapi mau enggak mau, Yogi memakai baju lama Surya.


Sebabnya, badan Surya lebih besar dari badan Yogi.


"Untung belum aku loakin tuh baju," ucap Surya, setelah Yogi memilih salah satu baju lamanya.


"Masih bagus-bagus lho, Bro," sahut Yogi.


"Udah enggak muat. Kamu mau?" tanya Surya dengan tulus.


"Lu pikir gue kagak bisa beli baju baru?" sahut Yogi.


"Iya, sih. Aku juga eenggak maksa kok. Aku simpan aja, buat jaga-jaga kalau kamu di sini."


Dan mereka pun keluar dari kamar Surya. Kamar yang tak sebesar kamar Yogi, tapi sangat nyaman.


Maklum, selain bersih, kamar Surya juga wangi. Enggak kalah sama kamar cewek.


Sampai di ruang tamu, Yogi terkejut. Karena baju yang dipakainya senada dengan baju Sinta.


Baju bermotif kotak-kotak ala cowboy luar negeri.


"Lho, kalian kok bisa couple-an gini?" tanya Rahma.


"Ih, iya. Kak Yogi nyama-nyamain aja deh," sahut Sinta.


"Eggak sengaja, Cinta....Eh, Sinta maksudnya." Yogi jadi malu sendiri, karena di ruang tamu itu ada Rahma juga Toni.


Rahma dan Toni memakai baju couple-an juga. Hanya Surya yang beda sendiri.


"Bro, gue ganti aja bajunya, ya?" bisik Yogi di telinga Surya.


"Emang kenapa? Kekecilan?" tanya Surya.


"Kasihan elu. Ketahuan jomblonya. Hihihi." Yogi terkikik.


"Sialan kamu. Hobinya ngeledek aja. Udah, ayo berangkat."


Rahma dan Toni duduk di depan. Surya, Sinta dan Yogi di jok tengah.


Sebenarnya Yogi mau di belakang saja. Sendirian. Tapi semua orang melarangnya.


Akhirnya mereka berhimpitan di jok tengah. Sinta duduk di antara Yogi dan Surya.


"Wah, Pa. Kita berasa punya anak tiga, ya," ucap Rahma.


"Iya. Malah makin seru. Keluarga kita makin rame," sahut Toni.


Yogi merasa terharu dengan kedua orang tua Surya yang sangat wellcome padanya.


Yogi membayangkan, mungkin dulu saat Nadia masih dekat dengan Surya juga diperlakukan sama seperti mereka memperlakukan Yogi.

__ADS_1


"Yog. Tante mau nanya. Tapi jangan marah, ya?" ucap Rahma.


"Iya, Tante. Masa nanya aja marah," sahut Yogi.


"Kamu itu berapa bersaudara?" tanya Rahma.


Rahma mulai berpikir untuk tahu tentang silsilah keluarga Yogi. Karena dia sudah mencium kedekatan Sinta dengan Yogi.


Dan sepertinya Sinta sangat senang kalau ada Yogi. Sinta juga semakin terlihat ceria. Suka berdandan dan sering asik dengan ponselnya.


Tapi setiap ditanya, jawabannya selalu malu-malu.


"Saya anak tunggal, Tante. Ada sih sepupu yang dari kecil ikut kami. Tapi dia sekarang kuliah di luar kota. Dia seumuran saya juga," jawab Yogi.


"Oh. Anak asuh gitu?" tanya Rahma.


"Iya, Tan. Tadinya niat orang tua buat nemenin saya. Tapi, enggak tau kenapa, saya malah kurang cocok sama dia," jawab Yogi.


"Memangnya kenapa, kok kurang cocok?" tanya Rahma lagi.


"Entahlah." Yogi sepertinya tak mau menceritakan soal sepupunya itu.


"Kalau orang tua kamu?" tanya Rahma.


"Papa sama mama punya usaha di luar kota. Udah lama, sejak saya masih kecil. Jadi saya sering ditinggal sendirian di rumah. Ya, paling sama sepupu saya itu dan mak Yati," jawab Yogi.


"Yogi kan anaknya mak Yati, Ma. Dia lebih deket sama mak Yati daripada sama orang tuanya sendiri. Iya kan, Yog?" tanya Surya.


"Emang udah lama, mak Yati itu ikut keluarganya kakak?" tanya Sinta.


"Udah, Cinta...Eh, Sinta maksudnya. Ah, keceplosan lagi."


Semua yang ada di mobil tertawa. Sinta wajahnya langsung merona.


"Mak Yati mengasuh saya dari saya masih bayi, katanya. Jadi saya udah deket banget sama dia," ucap Yogi.


Kadang ada kesedihan di hati Yogi. Melihat teman-temannya kemana-mana diantar orang tua. Dia kemana-mana diantar pembantu.


Tapi mak Yati selalu menyemangati Yogi, biar jadi lelaki yang enggak cengeng.


Mak Yati juga orangnya lucu dan latah. Dan itu yang malah jadi hiburan buat Yogi. Kalau di dekat mak Yati, bawaannya kepingin bercanda terus.


Itu yang akhirnya membuat Yogi tumbuh jadi anak yang selalu terlihat ceria. Penuh canda tawa.


Tapi dibalik sifat lucu mak Yati, dia juga sangat religius. Dulu saat Yogi masih kecil, sering diajak ke pengajian. Karena tak mungkin juga meninggalkan Yogi kecil sendirian di rumah.


"Kenapa orang tua kamu enggak ngajak kamu pindah aja?" tanya Rahma.


Karena menurut Rahma akan lebih menyenangkan kalau bisa dekat dengan anak.


"Katanya mereka kepingin suatu hari nanti hidup di kota ini lagi. Ini juga kabarnya mereka lagi mulai merintis usaha di sini. Biar bisa kembali lagi ke sini pelan-pelan katanya," jawab Yogi.

__ADS_1


"Memangnya orang tua kamu, bisnis di bidang apa?" tanya Toni.


Karena Toni juga seorang pengusaha, siapa tahu mereka bisa kerja sama.


Tapi belum sempat Yogi menjawab, di depan mereka ada sebuah kecelakaan.


"Ada apa itu?" tanya Rahma.


"Kayaknya kecelakaan. Bakalan terlambat sampainya nih. Tuh, lihat jalanannya macet banget," jawab Toni.


"Eh, iya. Ih, kasihan banget tuh, korbannya di pinggir jalan." Sinta menunjuk ke pinggir jalan yang ramai orang.


Korbannya lagi dikerubuti orang. Mereka sibuk memfoto korban yang luka parah.


"Gila ya, orang lagi kesakitan malah difoto," ucap Yogi.


"Dasar enggak punya akhlak, mereka!" umpat Surya.


"Sstt....! Enggak boleh bilang gitu ah. Biarin aja. Kalau kita enggak bisa menolong, minimal jangan nambah dosa ngatain orang lain," ucap Rahma.


Pribadi Rahma yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, membuat anak-anaknya tak ada yang berani membantah omongannya.


Surya pun terdiam, tak berani komentar lagi. Begitu juga Sinta yang tadi mau menimpali Surya, menyimpan kembali omongannya.


Perlahan-lahan mobil merangkak keluar dari kemacetan.


Dan akhirnya mereka pun sampai di restauran tempat Toni janjian ketemu teman lamanya.


Namanya Arya. Dia teman lama Toni. Teman jaman sekolah dulu. Mereka ketemu lagi di sebuah acara hajatan teman Toni lainnya.


Sebenarnya kejadiannya sudah cukup lama. Rahma saja lupa yang mana orangnya.


Dan hari ini, Arya mengundangnya makan malam sekalian ingin kenalan dengan keluarga Toni.


Katanya Arya punya satu anak laki-laki. Rencananya mau diajak juga. Biar mereka bisa saling kenal.


Apalagi Toni punya satu anak perempuan. Siapa tahu bisa didekatkan. Meskipun Toni mengatakan tak mau menjodoh-jodohkan anak.


Toni pun tak mengatakan hal itu pada Rahma dan kedua anaknya. Takutnya belum apa-apa mereka sudah ilfeel.


"Mereka udah booking tempat, Pa?" tanya Rahma.


"Udah katanya. Mereka di vip room," jawab Toni.


Dengan bantuan seorang waitres, mereka sampai di sebuah ruang makan vip.


Dua orang suami istri yang berpenampilan cukup unik. Mereka berdandan ala cowboy. Mirip di film-film barat yang sering ditonton Sinta.


Begitu tahu kalau tamu mereka datang, kedua orang itu melihat ke arah pintu.


"Yogi....!"

__ADS_1


__ADS_2