
"Dewa...?" tanya Yogi.
Sinta mengangguk.
"Dewa siapa?" tanya Yogi lagi.
Yogi yang tak pernah mengenal Dewa, tak tahu siapa yang dimaksud Sinta. Yogi hanya tahu nama Dewa dari cerita Surya.
"Sahabat kak Surya dan kak Nadia," jawab Sinta.
"Ngaco kamu. Namanya Putra. Dia kenalan sama aku, itu namanya. Kamu salah orang, kali. Atau cuma mirip," sahut Yogi.
Sinta kembali melihat foto itu. Mirip. Sangat mirip. Walaupun badannya jauh lebih besar.
Dewa yang dulu, badannya tinggi dan kurus. Malah cenderung kerempeng.
Tapi wajahnya? Meski sekarang rahangnya terlihat kokoh, tapi masih bisa Sinta kenali dengan baik.
Dulu Dewa sering sekali main ke rumah Surya sampai sore. Jadi Sinta sering juga ketemu. Meskipun jarang ngobrol.
"Benar, A'. Ini kak Dewa. Aku yakin!" ucap Sinta. Dia merasa tak mungkin salah orang.
Yogi diam. Dia masih belum percaya.
"Tapi kenapa dia memperkenalkan diri dengan nama Putra? Bahkan Viona juga memanggilnya begitu," ucap Yogi.
Kini Sinta yang diam.
"Kamu tahu nama panjangnya? Mungkin dia memakai nama belakangnya, atau mungkin....dia menyamar?" Yogi ngomong sendiri tapi juga bingung sendiri.
"Aku enggak tahu kalau nama panjangnya. Aku taunya cuma Dewa saja." Sinta berusaha mengingat-ingat, tapi tetap tak bisa ingat. Karena memang Sinta tak pernah tahu.
"Atau gini aja, A'. Nanti di rumah, kita cari foto kak Dewa jaman dulu. Mungkin di albumnya kak Surya, ada," ucap Sinta.
Yogi mengangguk-angguk. Ide baik, pikir Yogi.
"Sebenarnya gampang aja sih. Tinggal tanya aja sama Surya, nanti. Kalau Surya kan enggak mungkin salah," sahut Yogi.
Sinta mengangguk. Meskipun dia yakin tak salah orang.
"Memangnya kak Dewa alias Putra itu jadi pelaut?" tanya Sinta.
"Iya. Kan aku juga diajak naik ke kapalnya. Dia kasih tau gimana dia bekerja," jawab Yogi.
"Tapi kenapa dia terus menghilang, ya? Padahal bisa saja kan, kalau libur dia datang ke sini. Nyariin kak Surya atau....kak Nadia," sahut Sinta.
"Aku juga enggak tau, Cin. Cuma yang aku tau, sejak kerja di kapal, dia tak punya hape." Yogi juga heran dengan orang yang tak memiliki hape di jaman semodern ini.
Bagaimana caranya dia menghubungi keluarganya? Terus saat dia bete di kapal, kan bisa buat hiburan. Meski di lautan lepas sana tak ada sinyal.
"Enggak punya hape?" tanya Sinta. Yang juga heran.
"Iya. Begitu katanya. Viona juga bilang begitu," jawab Yogi.
"Terus gimana caranya mereka menjalin hubungan?" tanya Sinta heran.
"Itu uniknya hubungan mereka. Tanpa komunikasi tapi tetap nyambung. Mungkin udah jodoh kayaknya," jawab Yogi.
__ADS_1
"Kalau kangen terus gimana?" tanya Sinta.
"Mana aku tau? Mungkin mereka sama-sama memandang langit. Karena mereka kan masih ada di bawah langit yang sama. Hahaha."
"Ih, Aa. Itu mah kata-kata para pujangga. Enggak masuk akal!" sahut Sinta.
"Masuk akal atau tidak, nyatanya ada juga kan yang menjalani?"
Sinta mengangguk juga. Meski otaknya belum bisa menerima.
"Ih, kalau aku sih enggak mau. Apalagi jarang ketemu," ucap Sinta.
"Kenapa? Takut kangen ya?" goda Yogi.
"Emangnya Aa enggak kangen?" tanya Sinta.
"Kalau kangen, kita memandang langit yang sama. Hahaha."
Tawa Yogi terhenti saat melihat Surya dan Nadia masuk ke cafe yang sama.
Yogi dan Sinta sama-sama bengong.
"Heh! Ngapain kalian di sini?" tanya Surya.
"Malah pada melongo, lagi. Entar kemasukan laler, lho!" Surya menepuk lengan Yogi.
"Kalian....kok bisa dateng bareng?" tanya Yogi tergagap. Meskipun dia sudah tahu dari pembantu di rumah Nadia, kalau mereka lagi beli jus.
"Ya bisalah. Memangnya cuma kalian aja yang bisa ke sini bareng?" sahut Surya.
Surya menarik kursi yang ada di depan meja Yogi. Lalu mempersilakan Nadia duduk. Dia duduk di sebelahnya.
"Baik...!" sahut Yogi dan Sinta, kompak.
"Eh, foto apaan itu?" tanya Surya. Dia melihat ponsel Yogi masih pada mode galery, dan terpampang sebuah foto.
Yogi langsung mengambil dan mematikan ponselnya.
"Bukan apa-apa. Cuma foto biasa aja," ucap Yogi sambil mengantongi lagi ponselnya.
Jantung Sinta pun sudah deg-degan. Untung saja Yogi segera mengambilnya. Kalau tidak, bakalan jadi masalah lagi.
Karena Sinta berpikir, sudah ada kesepakatan baru dengan hubungan Surya dan Nadia.
"Oh, kirain foto pacarnya Yogi," ledek Surya.
Surya yang sekarang punya hobi baru, senang meledek orang lain. Sebelas dua belas dengan Yogi.
Sinta langsung cemberut.
"Jangan gitu, Bro. Entar ada yang enggak bisa tidur, lho," sahut Yogi.
"Iih, apaan sih?" Sinta memukul lengan Yogi.
"Tuh, kan? Aku yang kena!" Yogi menjauhkan lengannya.
"Noh! Yang ngomong kakakmu sendiri. Kenapa aku yang dipukul?" Yogi menunjuk Surya.
__ADS_1
Sinta makin cemberut.
Surya hanya mengangkat bahunya.
"Kamu mau pesan jus apa, Nad?" tanya Surya.
"Jus jambu aja. Pakai susu yang banyak, ya," jawab Nadia.
"Ngapain banyak-banyak? Kan udah punya su....Ups!" Yogi langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
Kebiasaan Yogi kalau nyelposin orang enggak pikir panjang.
"Aa! Nakal ih, mulutnya!" seru Sinta.
Surya yang tadinya mau melangkah pesan jus, menoleh. Mendengar Sinta memanggil Yogi dengan sebutan Aa.
"Aa?" tanya Surya.
"Udah, lu jalan, tinggal aja! Pake nanya-nanya! Kepo, lu!" sahut Yogi.
Surya mengacungkan tinju pada Yogi. Lalu kembali berjalan.
Yogi tertawa ngakak.
"Eh, Nad. Kalian udah baikan lagi? Apa malah udah jadian?" tanya Yogi pada Nadia.
"Kepo! Mau tau aja urusan orang!" sahut Surya. Dia udah kembali lagi.
"Hhm! Bales dendam ini namanya. Ya udah, kita pulang yuk, Cin," ajak Yogi pada Sinta. Pura-pura ngambek.
"Udah sana pulang. Tapi pulang beneran! Awas aja kalau mampir-mampir!" sahut Surya.
"Biarinlah. Terserah kita, iya enggak, Cin?" Yogi lalu meraih tangan Sinta.
Surya langsung menepiskan tangan Yogi.
"Enggak usah pake gandeng-gandengan!" ucap Surya.
"Yaelah, Bro. Truk aja gandengan, masa kita enggak boleh? Pelit amat jadi kakak!" sahut Yogi.
"Biarin! Lagian, emang kalian truk?" tanya Surya.
"Ya bukan sih? Kita itu sejoli yang lagi dimabuk cinta. Sampai chat ama telpon gue kagak diangkat!" jawab Yogi. Lalu kembali menarik tangan Sinta.
"Eh, Kakak Ipar! Tolong bayarin punya kita, ya? Daah!" Yogi langsung membawa kabur Sinta.
"Hhmm! Dasar adik ipar enggak tau diri!" seru Surya.
Yogi dan Sinta sudah menghilang. Mereka sudah jalan menuju salon mobil.
"Mereka pacaran?" tanya Nadia.
"Kelihatannya," jawab Surya.
"Kok kelihatannya? Emangnya kamu enggak tahu?" tanya Nadia lagi. Setahu Nadia, dari dulu Surya paling ketat kalau soal pergaulan Sinta.
"Tau sih, cuma belum tau kepastiannya," jawab Surya.
__ADS_1
"Kamu kelihatannya nyantai aja. Enggak kuatir?"
"Mereka udah dewasa, Nad. Lagi pula, aku percaya kok sama Yogi. Enggak ada yang perlu dikuatirin!"