PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 183 PURA-PURA KE TOILET


__ADS_3

Mati aku! Ngapain juga sih, mereka datang ke restauran ini?


Nadia memalingkan wajahnya, agar tak lagi melihat Surya. Tapi sayangnya, Surya sudah melihatnya.


Surya juga memalingkan wajahnya. Pura-pura tak melihat Nadia dan kedua orang tuanya. Tapi mata Surya juga menangkap sosok Doni di sana.


Doni. Ngapain cecunguk itu di sana? Apa itu juga orang taunya Doni? Pertemuan dua keluarga?


Segitu cepatnya mereka jadian dan berkomitmen? Syukurlah. Biar Nadia tak mengganggu hatiku lagi.


Dan maaf, Don. Kamu dapat sisaku. Batin Surya sambil terus melangkah mengikuti kedua orang tuanya.


Dan kebetulan kedua orang tuanya, tak melihat keluarga Nadia ada di tempat yang sama. Jadi tak ada acara basa-basi menghampiri mereka.


"Oh ya? Tapi kelihatannya Surya masih lapar ya, Nad," sahut Doni menyindir. Dia jadi paham kalau Nadia hanya berbohong saja.


Nadia berusaha menyembunyikan rasa malunya lewat senyuman. Entah senyuman apa. Nadia sendiri pun tak paham.


Susi pun hanya mengambil sedikit makanan. Hanya untuk menghormati tuan rumah, yang kurang menghargai tamunya.


"Kalian kenapa makannya sedikit? Ini masih banyak, lho," tanya Tedi.


"Kami tadi sudah pada makan sendiri-sendiri, Pak Tedi. Pak Tedi kan juga mengabarinya dadakan. Jadi kami sudah terlanjur mengisi perut lebih dulu," jawab Haris.


Sebenarnya dia sangat lapar. Bahkan dia sengaja tak menyentuh makanan kecil yang biasa disediakan OB-nya di kantor.


Haris berpikir, bakal makan besar dengan Tedi. Pengusaha sukses yang kaya raya.


Rupanya keluarga kaya raya yang hidupnya irit. Pesan makanan saja hanya cukup untuk keluarga mereka saja.


Pantesan kaya. Batin Haris.


Dimana-mana, kalau mengundang tamu, makanan yang dipesan dua kali lipat. Bahkan kalau perlu dilebihkan. Biar tidak kehabisan.


"Iya, maafkan saya, Pak Haris. Susah sekali membagi waktunya. Maklum pekerjaan saya banyak sekali. Makanya, saya ingin Doni segera selesai kuliahnya, dan bisa membantu saya di kantor," sahut Tedi.


Haris melirik sekilas pada Doni. Ada rasa kurang suka pada sikap Doni.


"Kalau soal membantu, sebenarnya bisa saja sambil kuliah, Pak Tedi. Itung-itung buat belajar langsung. Jadi nanti kalau sudah lulus, tak perlu meraba-raba lagi," ucap Haris.


Maksudnya, meraba-raba perkerjaan mana yang cocok.


"Enggaklah, Pak Haris. Biar Doni puas dulu menikmati masa mudanya. Nanti juga malah mengganggu kuliahnya," sahut Tedi.


Haris mengangguk saja.

__ADS_1


"Kayaknya usaha kita bakal lancar, Pak Haris. Doni dan Nadia kan kuliah di jurusan yang sama. Mereka akan sama-sama mampu meneruskan usaha kita. Kalau perlu nantinya kita merger. Iya kan, Pak Haris?"


"Ya...kita lihat nanti saja, Pak Tedi. Sejauh ini, saya masih bisa handle sendiri. Anak Pak Tedi cuma satu ini?" tanya Haris.


"Iya. Anak satu-satunya. Dari almarhumah istri pertama saya. Kalau Maria ini, istri kedua saya, Pak Haris," jawab Tedi.


Ooh. Pantesan masih muda. Enggak pantas jadi ibunya Doni. Batin Susi yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Ibu Maria ini masih muda. Tentunya masih bisa memberikan keturunan lagi buat Pak Tedi, dong," ucap Haris.


Haris melihat sekilas pada Maria. Tak ada ketertarikan sedikitpun, pada wanita berpenampilan berlebihan seperti itu.


"Sedang kami upayakan, Pak Haris. Biar Maria bisa memberikan adik buat Doni. Hehehe." Tedi terkekeh.


Doni melengos. Dalam hatinya berkata, mana bisa orang setua papanya bisa memberikan anak lagi? Baru main sebentar saja, pasti sudah loyo.


"Don. Mau mengantarkan aku ke toilet?" pinta Maria pada Doni.


Kelihatannya Maria jengah dengan suasana yang kurang mengenakan dan membosankan itu.


Nadia dan Susi juga sebenarnya ingin segera pergi. Apalagi perut mereka sudah benar-benar lapar.


"Don, antar Mama kamu ke toilet. Biar Papa menemani pak Haris dan keluarganya." Tedi menyuruh Doni.


"Iya, Pa. Sebentar ya, Nadia," pamit Doni pada Nadia.


Nadia hanya mengangguk.


Terserah! Mau nganter pipis, kek. Nganter berak, kek. Suka-suka kalian! Batin Nadia.


Doni pun mengantar Maria ke toilet.


Ternyata Maria tidak benar-benar kebelet pipis. Sampai di depan pintu toilet wanita, Maria malah menarik tangan Doni untuk masuk ke dalam dan menutup pintunya.


Surya kebetulan juga sedang menuju ke toilet. Surya melihatnya dengan terbelalak.


Doni? Masuk ke dalam toilet wanita? Dengan wanita yang menurut Surya adalah mamanya. Atau tantenya. Karena wanita itu terlihat lebih muda.


Gila! Dasar playboy cap kadal! Maki Surya dalam hati.


Surya melewati depan kamar mandi wanita. Dari situ Surya mendengar suara-suara aneh.


Wah, enggak bener nih. Kayaknya mereka melakukannya ngejar waktu. Durasinya terbatas.


Surya menahan senyumannya. Dia membayangkan, andai saja ada lubang atau cctv yang bisa merekam, bakalan jadi berita viral.

__ADS_1


Surya masuk ke kamar mandi sebelah. Dia memang lagi kebelet pipis.


Lalu setelah selesai pipis, Surya keluar dari kamar mandi.


Surya melihat pintu kamar mandi sebelah masih tertutup. Dan masih terdengar suara-suara itu. Bahkan kini diiringi suara erangan.


Busyet. Enggak tau tempat dan waktu amat sih? Di kamar mandi umum pun disikat juga.


Wah, jangan-jangan Nadia juga bakalan disikat seperti itu. Atau sudah disikat? Tanya Surya dalam hati.


Ah, masa bodolah. Itukan pilihannya sendiri. Batin Surya.


Sebenarnya Surya tak ingin ikut campur urusan orang lain. Tapi entah kenapa, Surya ingin menyaksikan reaksi Doni, saat melihatnya berdiri di dekat toilet.


Surya ingin Doni tahu, kalau dia mengetahui kebusukannya.


Tak lama, suara-suara itu berhenti. Berganti dengan suara air yang disiramkan. Mungkin Doni sedang mencuci senjatanya yang barusan nyosor. Batin Surya.


Surya masih tetap berdiri di tempatnya. Di jalan menuju kamar mandi. Dan nanti saat Doni keluar, Surya akan berpura-pura baru datang, mau masuk ke kamar mandi.


Ceklek!


Suara kunci pintu dibuka. Surya pura-pura pada posisi sedang berjalan.


Doni terkesiap melihat Surya. Surya menatap ke arah Doni. Juga wanita cantik yang berada di belakang Doni.


"Hay, Don. Udah pipisnya?" tanya Surya meledek.


"Kamu! Mau ngapain, kamu?" tanya Doni dengan jantung berdegup kencang.


Sialan! Dia rupanya mengikuti aku. Batin Doni.


"Pipislah. Tapi sendirian. Tanganku masih sanggup megangin sendiri, kok," jawab Surya menyindir Doni.


"Awas, entar self servis, lagi!" Doni malah meledek Surya.


"Enggak masalah. Daripada masuk ke lubang yang salah!" sahut Surya.


Maria menunduk. Meskipun tadi sekilas dia sempat mengagumi wajah ganteng Surya.


Tapi kini dia malu, karena Surya terdengar sedang menyindirnya dan Doni.


"Udah yuk, Don. Nanti dicariin papa kamu," ajak Maria.


Doni mengangguk. Lalu meninggalkan Surya tanpa sepatah katapun. Seperti orang yang tak saling kenal. Meskipun kenyataannya mereka tak pernah saling sapa sebelumnya.

__ADS_1


Surya hanya tersenyum. Lalu kembali masuk ke dalam restauran. Ke meja keluarganya yang sedang bertemu keluarganya Yogi.


__ADS_2