
Surya menyedot es tehnya sampai terdengar bunyi, sruut.
"Enak es tehnya?" tanya Nadia.
Surya menatap cup es tehnya yang telah kandas. Lalu mengangguk.
"Enggak kembung perutmu, minum sebanyak itu?" tanya Nadia.
"Semoga enggak. Kamu mau makan sesuatu?" tanya Surya. Dia siap memesankan untuk Nadia.
"Enggak. Nanti aja. Aku masih kenyang. Tadi mama membuatkanku nasi goreng spesial," jawab Nadia.
"Pakai sosis!" tebak Surya.
Surya sudah hafal menu nasi goreng favorite Nadia. Nasi goreng dengan campuran sosis yang banyak.
"Kamu masih mengingatnya?" Nadia berpikir, Surya sudah melupakan makanan favoritnya.
"Selalu, Nad." Surya menatap wajah Nadia.
Semua yang ada padamu, tak satupun aku lupakan, Nad. Meski aku ingin, tapi sulit sekali aku melupakannya. Batin Surya.
"Sinta apa kabar?" tanya Nadia.
Bahkan Nadia tak pernah lagi menyapa Sinta meski hanya sekedar lewat chat.
Begitu juga, Sinta. Dia tak mau tahu lagi tentang Nadia. Sinta takut dia keceplosan dan akan semakin menyulitkan Surya move on dari Nadia.
"Baik. Dia kuliah jam kedua. Mungkin sekarang udah sampai," jawab Surya.
"Kamu, kenapa naik motornya Yogi?" Pertanyaan yang sedari pagi tadi bersarang di otaknya.
"Ceritanya panjang," jawab Surya. Dia khawatir Nadia akan bosan mendengarnya. Karena kebiasaan Surya selalu menceritakan segala sesuatu dengan detail.
Aku rindu ceritamu yang panjang, Sur. Gumam Nadia dalam hati.
"Cerita aja. Aku dengerin, kok," sahut Nadia.
Surya tersenyum ke arah Nadia. Dia belum berubah. Selalu mau mendengarkan ceritaku, sepanjang apapun.
Dan Surya pun menceritakan semuanya dengan terperinci. Hampir tak tertinggal sedikitpun.
"Jadi ternyata teman om Toni itu papanya Yogi?" tanya Nadia.
"Iya. Dan saat kita masuk ke ruang vip, mereka sama-sama terkejut. Kita semua juga terkejut. Kebetulan banget, kan?" sahut Surya.
"Ternyata orang tua Yogi itu unik lho, Nad," lanjut Surya.
"Oh, ya? Unik gimana?" tanya Nadia.
"Ternyata mereka cowboy holic. Mereka berpenampilan ala cowboy jaman dulu gitu. Bahkan Sinta dikasih topi cowboy sama tante Novia. Mamanya Yogi," jawab Surya.
"Masa? Baik banget. Pasti harganya mahal," komentar Nadia.
Mereka terlalu asik menikmati kembali keakraban yang pernah hilang. Hingga mereka lupa waktu.
"Nad. Kita terlambat ikut kuliah jam kedua," ucap Surya setelah melihat jam tangannya.
Spontan Nadia meraih tangan Surya dan ikut melihatnya.
"Ya...Kamu sih ceritanya kepanjangan!" Seperti biasanya, Nadia selalu melimpahkan kesalahan pada Surya.
__ADS_1
"Kan kamu yang minta." Dan kini Surya berani menolaknya. Surya tak mau begitu saja disalahkan.
"Terus gimana dong?" tanya Nadia.
Surya mengangkat bahunya.
"Kok gitu?" tanya Nadia.
"Terus mau gimana lagi? Kalau aku sih, mau pulang aja," jawab Surya.
"Aku juga pulang deh." Nadia pun tak mau masuk ke kelasnya. Karena sudah setengah jam lebih mereka terlambat.
"Eh, motorku gimana?" Nadia ingat kalau motornya masih di bengkel.
"Seperti janjiku tadi. Aku antar kamu ambil motor." Surya lalu berdiri. Nadia pun mengikuti.
"Mau digandeng lagi?" tanya Surya sambil tertawa.
"Enggak! Maunya digendong!" jawab Nadia.
"Beneran? Ayo. Mau gendong depan apa belakang?" ledek Surya.
Nadia tak menjawab. Dia hanya memukul lengan Surya pelan. Lalu meraih jemari Surya.
Surya langsung menggenggamnya erat.
Mereka berjalan sampai ke parkiran. Tak ada yang memperhatikan kemesraan mereka. Apalagi komentar.
Karena baik teman Surya maupun teman Nadia, masuk kelas semua.
Nadia kembali naik ke boncengan Surya.
"Peluk dulu!" pinta Surya.
"Hm. Mulai deh!" sahut Nadia. Tapi dilingkarkannya juga kedua tangannya memeluk pinggang Surya.
Wush!
Surya menarik gasnya, hingga dada Nadia semakin melekat di punggungnya.
Hangat dan membuat nyaman hati Surya.
"Nad. Mau main dulu enggak?" tanya Surya di tengah jalan.
"Kemana?" tanya Nadia.
"Ke bukit kecil di sana itu?" Surya ingin mengetes mentalnya sendiri. Apa dia sanggup mendatangi tempat yang pernah jadi nostalgia Nadia dengan Dewa.
"Jam segini panas, Sur," sahut Nadia.
"Kenapa? Takut makin item, ya?" ledek Surya. Karena kulit tubuh Nadia tak seputih kulitnya.
"Enggak. Tapi takut gosong. Hahaha." Nadia tertawa lepas. Tawa yang sempat hilang dari dirinya beberapa saat.
"Gampang kok menghindarinya," sahut Surya.
"Gimana?" tanya Nadia penasaran.
"Kecilin kompornya, terus dibalik. Hahaha." Surya pun tertawa lepas.
"Lucu kamu, Surya! Siapa yang ngajarin?" Setahu Nadia Surya orangnya cool banget. Hampir tak pernah melucu.
__ADS_1
Tapi kedekatan Surya dengan Yogi akhir-akhir ini yang semakin intens, membuat Surya kebawa sifat lucu Yogi.
"Belajar dari kehidupan. Karena hidup ini terkadang lucu. Sangat lucu!" sahut Surya.
Dan Surya pun tetap melajukan motornya ke arah bukit kecil itu.
Surya mencari tempat yang teduh. Kasihan motor Yogi kalau harus kepanasan.
"Mau naik, apa di sini aja?" tanya Surya. Mereka sudah ada di bawah sebuah pohon yang rindang.
"Disini aja lah. Malas aku naiknya. Capek!" jawab Nadia.
Mereka duduk di sebuah batu besar yang ada dekat pohon itu. Dari situ, mereka bisa melihat aliran sungai.
Sungai yang pernah membawa perahu kertas Nadia. Perahu yang mungkin akan tersangsang entah dimana. Atau mungkin hancur terkena hantaman arus sungai yang kadang deras.
"Kamu masih sering membuat perahu kertas, Nad?" tanya Surya.
Surya ingin tahu, seberapa besar keyakinan Nadia.
Nadia menggeleng.
"Kenapa?" tanya Surya lagi.
"Sur. Aku mulai sadar, kalau perahu itu tak akan sampai ke tempat tujuannya. Bahkan mungkin sudah hancur oleh hantaman arus sungai," jawab Nadia. Matanya nanar menatap arus sungai yang deras.
Lha, itu tahu! Batin Surya.
"Dan harapanmu?"
Nadia menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku mulai sadar, Sur. Kalau harapanku hanya angan kosong saja. Karena kenyataannya, dia tak pernah datang. Dia sudah melupakanku," sahut Nadia dengan suara serak.
Pastinya hati Nadia hancur. Seperti hati Surya yang pernah dihancurkannya.
"Sejak kapan kamu menyadarinya?" tanya Surya.
Nadia menatap wajah Surya dari samping.
"Sejak aku merasa tak punya teman lagi," jawab Nadia.
"Bukannya masih ada...Viona?" tanya Surya.
"Iya. Tapi kamu tau sendiri dia kan? Dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Dia tak seperti....kamu," jawab Nadia.
"Aku?" tanya Surya.
Nadia mengangguk.
"Kenapa dengan aku? Bukannya kamu pernah bilang, bahwa kamu bisa melakukan apapun sendiri."
"Sur. Hampir enam tahun kita bersama. Dan selama itu kamu selalu membantuku. Selalu memudahkan apapun yang aku lakukan. Dan tiba-tiba aku harus melakukannya sendiri. Itu sangat tidak mudah untukku!" sahut Nadia.
"Aku pun merasakan hal yang sama, Nad. Tak mudah bagiku melupakan semuanya. Enam tahun bukan waktu yang pendek." Surya menghela nafasnya.
"Aku hampir gila, Nad. Untung ada Yogi dan Sinta yang selalu menguatkanku. Dan aku dipaksa untuk kuat," lanjut Surya.
"Sur. Apa itu berarti kita masih saling membutuhkan?"
__ADS_1