PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 144 JAWABAN UNTUK NADIA


__ADS_3

Mata mereka tertuju pada Nadia yang masih menggendong ransel kecilnya.


Nadia pun menatap ke arah mereka. Dia perhatikan wajah mereka satu per satu.


Dan pandangannya berhenti pada wajah yang sangat dirindukannya.


"Dewa..." gumam Nadia perlahan.


Matanya mulai berkaca-kaca. Dan perlahan air mata mengalir ke pipinya.


Viona perlahan mendekap lengan Putra. Seakan takut kalau Nadia mengambilnya.


Semakin deras air mata Nadia melihat sikap posesif Viona.


Lalu tangannya mengusap dengan kasar air mata yang tak juga berhenti.


Nadia menghirup udara sebanyak-banyaknya, sebelum akhirnya dia berbalik badan dan lari.


"Nadia!" teriak Surya. Dia pun berdiri dan mengejar Nadia.


Begitu juga Dewa. Dia lepaskan tangan Viona dan ikut berlari.


Yogi langsung mencekal tangan Viona yang juga akan berlari.


"Biar mereka selesaikan dulu, Vi!" seru Yogi.


Sinta berdiri dan menghampiri Viona. Dia peluk Viona dengan erat.


"Lepasin!" teriak Viona. Dia berusaha melepaskan diri dari Yogi dan Sinta.


"Kamu di sini dulu, Viona! Kasih kesempatan mereka menyelesaikannya," ucap Yogi. Tangannya masih mencekal erat lengan Viona.


"Tapi Putra...!" Viona mulai menangis.


"Jangan khawatirkan Dewa. Dia akan kembali padamu, Viona!" seru Yogi di antara isakan Viona.


"Iya, Kak. Kak Viona tunggu aja di sini." Sinta berusaha membuat Viona kembali duduk.


Viona pun menurut. Dia duduk sambil terus terisak.


Sinta dan Yogi berusaha menguatkan Viona.


Sementara Nadia terus berlari, hingga akhirnya Surya berhasil menangkap tangannya.


"Nadia! Berhenti, Nadia!" seru Surya.


Dewa juga sudah sampai di depan Nadia. Dia menghalangi langkah Nadia.


Lalu tanpa berpikir panjang, Dewa memeluk Nadia.


Surya membiarkannya. Dia hanya menatap mereka.


Nadia menangis di pelukan Dewa. Dan Dewa membiarkan Nadia puas menangis. Dia hanya menepuk-nepuk punggung Nadia dengan lembut.

__ADS_1


Lalu setelah Nadia terlihat lebih tenang, Dewa melepaskan pelukannya.


Ditatapnya wajah Nadia dengan lekat. Dia pun sangat merindukan Nadia. Wanitanya yang telah lama dia tinggalkan.


"Kita duduk di sana!" ucap Surya sambil menunjuk sebuah bangku panjang di pinggiran pantai.


Dewa menggandeng Nadia ke tempat itu. Surya mengikutinya.


Berkali-kali matanya melihat tangan Nadia yang terus menggenggam erat tangan Dewa.


"Duduklah!" ucap Dewa.


Nadia pun menurut. Dia duduk dan matanya tak lepas dari wajah Dewa.


Dewa melepaskan tangan Nadia. Karena dia tahu ada Surya yang pastinya akan terluka kalau melihatnya terus menggenggam tangan Nadia.


Dan dari kejauhan, ada Viona yang menatapnya. Viona hanya bisa melihat dari kejauhan. Karena dia masih ditahan oleh Yogi juga Sinta.


"Apa kabarmu, Nad?" tanya Dewa.


"Apa kabarku? Kenapa kamu baru menanyakannya sekarang? Kemana saja kamu selama ini?" Nadia balik bertanya dengan pertanyaan yang menyudutkan Dewa.


"Maafkan aku. Aku harus pergi dari kamu. Juga Surya. Aku harus bekerja. Mencari nafkah untuk mengobati ibuku yang sakit parah," jawab Dewa.


Nadia dan Surya terperangah.


"Ya. Aku anak pertama mereka. Aku yang mereka andalkan. Meski akhirnya, ibuku tak bisa tertolong lagi," lanjut Dewa.


"Ibumu meninggal?" tanya Surya perlahan.


"Dan tak lama, menyusul bapakku. Bapakku meninggal dalam kecelakaan yang tragis. Di saat aku berada di laut lepas sana." Dewa menunjuk ke arah lautan.


Surya dan Nadia masih terdiam.


"Padahal aku bekerja demi mereka. Biar ibuku bisa sehat lagi. Tapi takdir malah semakin menghajarku bertubi-tubi." Dewa menghela nafasnya dalam-dalam.


"Lalu kenapa kamu tak pernah menghubungi kami? Kami sahabatmu, Wa!" tanya Surya.


"Kenapa kamu menghilang begitu saja?" tanya Nadia.


Dewa menatap wajah Nadia. Lalu beralih ke wajah Surya.


"Aku masuk ke sebuah agen pelayaran. Di sana kami tak boleh mengunakan ponsel. Lagi pula, ponsel bututku harus aku berikan pada Dewi, adikku. Dia membutuhkannya buat sekolah." Dewa memulai ceritanya.


Surya dan Nadia masih menyimak cerita Dewa.


"Sebelum aku berlayar, aku pernah datang ke kota kalian. Aku ke rumah Surya. Waktu itu, pembantu di rumah Surya mengatakan kalau Surya lagi pergi ke Jogja bersama pacarnya." Dewa menjeda ceritanya.


Dewa menghela nafas lagi. Menghirupnya dalam-dalam.


"Lalu, aku pun ke rumah Nadia. Dan mendapatkan jawaban dari mbok Nah, kalau kamu sedang pergi ke Jogja dengan Surya," lanjut Dewa.


Surya jadi ingat peristiwa itu. Saat dia mengajak pergi Nadia berlibur ke rumah eyangnya. Sebelum masa kuliah dimulai.

__ADS_1


Di rumah, mamanya memang sering berganti pembantu. Jadi mungkin saat itu, pembantu itu tahunya Nadia adalah pacar Surya.


Karena mereka selalu pergi berdua. Dan Nadia pun sering main di rumah Surya.


"Aku yang masih merasa sebagai kekasih Nadia, cukup tau diri. Maafkan aku, Sur. Kalau waktu itu aku sempat sangat membencimu," ucap Dewa.


Surya mengangguk mengerti.


"Aku kembali ke kotaku. Dan mulai berlayar. Setahun kemudian, saat ibuku meninggal, aku mencoba kembali ke kota kalian. Aku berharap kalian sudah putus. Maaf," ucap Dewa dengan sedikit senyuman.


"Aku berharap Nadia akan kembali padaku. Tapi yang aku dapatkan malah sebaliknya. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, kalian pergi berboncengan. Aku mencoba bertanya pada warung depan rumah Nadia. Dan mereka bilang, kalian berpacaran dan...setiap hari kalian bersama." Dewa menghempaskan tangannya sendiri.


"Waktu itu kami belum berpacaran, Wa," ucap Surya menjelaskan.


"Lalu apa? Kalian selalu berdua. Kemana-mana bersama. Kuliah, jalan atau apa lagi?" tanya Dewa.


"Tidak, Dewa! Kami tidak berpacaran!" seru Nadia.


"Saat itu!" Surya menegaskan.


Nadia menoleh pada Surya yang duduk di sebelahnya.


"Lalu pada akhirnya kita berpacaran. Setelah penantianmu pada Dewa sia-sia!" ucap Surya dengan tegas.


Nadia menundukan kepalanya sejenak.


"Andai saja aku tau kalau kamu mencariku, Dewa. Aku tak akan pernah menerima cinta Surya!" ucap Nadia dengan ketus.


Degh!


Jantung Surya seperti berhenti mendadak. Hatinya begitu sakit mendengarnya.


"Mungkin kita memang belum berjodoh, Nadia. Semesta tak mendukung hubungan kita," sahut Dewa.


"Enggak! Kamu bicara seperti itu karena ada Surya, kan?" tanya Nadia.


"Bukan, Nadia!" jawab Dewa.


"Lalu apa? Surya akan bisa berbesar hati melepaskan aku, Dewa! Benar kan, Sur?" pinta Nadia.


Dia terasa begitu merendahkan dirinya di depan Dewa juga menyepelekan perasaan Surya.


"Enggak, Nadia. Akan ada hati lagi yang terluka, kalau kita memaksa bersama," tolak Dewa.


"Siapa? Viona? Dia hanya sebagai pelarian kamu saja, Dewa!" sahut Nadia.


"Apapun itu, aku kini sangat mencintai Viona, Nadia!" ucap Dewa.


"Enggak! Kamu bohong Dewa! Jangan bohongi diri kamu, Dewa!" seru Nadia.


"Dalam hidup, terkadang kita harus berbohong pada diri sendiri, Nadia. Tapi berusahalah berdamai dengan kebohongan itu. Terima saja dan jalani. Semua pasti akan ada jalannya," sahut Dewa.


Dari kejauhan Viona berlari mendekat.

__ADS_1


"Maafkan aku, Nadia. Aku akan mencoba memulai hubungan lagi dengan Viona." Dewa mengecup kening Viona, lalu membawanya pergi.


Nadia hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2