PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 25 PEMALAKAN


__ADS_3

"Mereka di mall mana?" tanya Surya pura-pura cuek.


"Serena mall. Yang deket katanya. Soalnya Nadia enggak bawa helm cadangan," sahut Yogi.


Waduh! Jadi mereka naik motor? Kan bahaya, pakai nyebrang juga. Batin Surya.


Surya selalu mengkhawatirkan kalau Nadia naik motor ke jalan raya. Dan dia selalu melarangnya. Mau enggak mau Surya mesti mengantarkan Nadia kemana pun pergi.


"Yog. Cepet abisin makananmu. Kita susul mereka!" ucap Surya dengan tegang. Lalu menggeser lagi mangkuk soto ke depan Yogi.


"Ngapain? Biarin ajalah. Mereka kan juga butuh hiburan, Bro," sahut Yogi tanpa berminat memakan sotonya yang sudah dingin.


"Itu melewati jalan raya, Yog. Bahaya." Surya tetep ngotot.


"Yaelah, Bro. Mereka udah pada gede, kali!" sahut Yogi.


Meskipun Yogi lagi naksir berat pada Viona, tapi dia tidak terlalu posesif seperti Surya. Dia tetap membiarkan Viona menikmati dunianya sendiri.


"Ya udah kalau enggak mau ikut!" Surya berdiri dan berjalan meninggalkan Yogi.


"Alamak! Ngambeg dia. Hey, Sur! Tunggu!" Yogi langsung berdiri dan menyusul Surya.


Surya berjalan seolah tak mendengar teriakan Yogi. Yogi segera mensejajari langkah Surya.


"Jangan ngambekan gitu, Bro. Kayak anak perawan aja," ledek Yogi.


Surya mengacuhkan. Meski dalam hatinya kesal dengan ledekan Yogi. Orang lagi khawatir malah dikatain kayak anak perawan.


Tapi Surya juga senang, akhirnya Yogi mau juga menemaninya. Jadi nanti di mall dia enggak celingak celinguk sendirian.


Surya berjalan ke mobilnya. Yogi dengan setia mengikuti.


"Tumben lu bawa mobil, Bro. Biasanya naik motor?" tanya Yogi sambil berjalan memutari mobil Yogi.


"Panas! Kan anak perawan takut gosong kulitnya!" sahut Surya mengembalikan omongan Yogi tadi.


"Hahaha. Ngambeg beneran dia." Yogi tertawa terpingkal-pingkal.


"Udah ah, jangan ketawa mulu. Berisik!"


Surya menyetel musik. Yang dipilihnya lagu-lagu melow.


Yogi kembali tertawa. Dia benar-benar merasa sedang berhadapan dengan anak perawan.


"Eh, Yog. Kamu serius sama Viona?" tanya Surya dengan suara kencang. Karena suara audionya juga cukup kencang.


"Ya iyalah. Tapi enggak tau kalau Vionanya!" Yogi menggaruk kepalanya.


"Bikin dia serius dong. Masa seorang Yogi enggak bisa menaklukam Viona?" tantang Surya.


"Halah! Lu bisanya ngomentari orang lain. Lu sendiri gimana, Bro? Udah bisa menaklukan hati Nadia?" Yogi balik menantang Surya.

__ADS_1


Surya hanya melirik Yogi sekilas. Ingin rasanya dia tendang Yogi sampai terpental keluar.


Tapi jelas saja keinginan itu ditahannya. Saat ini Surya lagi membutuhkan Yogi.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di mall itu. Karena memang letaknya yang tak jauh dari kampus mereka.


Setelah mendapatkan tempat parkir, Surya keluar dari mobil. Tapi Yogi malah asik main hapenya.


"Eh, keluar Yog. Kita udah sampe!" seru Surya dari pintu mobil.


"Iya, udah tau! Lu cari sendiri aja deh!" sahut Yogi.


"Lha ngapain aku ngajakin kamu kalau harus nyari sendiri?"


Dengan kesal, Surya membanting pintu mobilnya. Dia lupa kalau itu mobil mamanya. Ada lecet sedikit saja, ngomelnya bisa tujuh hari tujuh malam. Meskipun mamanya tak pernah melarang anak-anaknya memakai mobil.


Yogi tak tega juga melihat Surya berjalan sendirian. Lalu keluar dari mobil dan mengejar Surya.


"Heh! Tungguin, Sur. Pelan-pelan dong jalannya!" seru Yogi.


Surya kembali hanya melirik Yogi. Lalu memperlambat langkahnya.


"Lu udah tau mereka ada di mana?" tanya Yogi.


Surya menghentikan langkahnya. Lalu menatap Yogi dan menggeleng.


"Perlu aku tanyain ke Viona enggak?" Yogi menawarkan diri.


"Kenapa, gengsi? Kalau cinta mah, enggak perlu gengsi, Bro. Buat orang yang mau kita tembak merasa tersanjung."


Biasanya juga Surya tak pernah gengsi. Dia selalu mengikuti kemana pun Nadia pergi main. Tapi tidak untuk saat ini. Situasinya jelas berbeda.


Yogi mengeluarkan hape dari kantong celananya. Dia berinisiatif menanyakannya pada Viona. Sekalian cari-cari kesempatan chat dengan Viona.


"Dibilangin jangan, ngeyel aja!" Surya tetap menolak ide Yogi.


"Eh, Bro. Gue enggak menghubungi Nadia. Jadi tenang aja. Aman." Yogi memberi tanda dengan menaik turunkan alisnya.


Surya tak punya alasan lagi buat menolak ide Yogi. Biar memghemat waktu dan tenaga juga. Karena mall ini sangat besar.


Bakal memakan waktu yang lama kalau enggak tahu pastinya mereka ada di sebelah mana.


Sambil menunggu balasan Viona, mereka berdua tetap berjalan mencari keberadaan dua gadis incarannya.


"Viona udah bales?" tanya Surya. Dia juga gelisah karena tak juga menemukan jejak mereka.


"Boro-boro. Dibaca aja, belum," jawab Yogi.


"Ditelpon dong. Punya inisiatif, kek," sahut Surya dengan kesal.


Yogi malah terkekeh.

__ADS_1


"Kenapa ketawa?" tanya Surya heran.


"Elu itu lucu, Bro. Tadi ngelarang gue ngubungi Viona. Sekarang malah nyuruh telpon. Butuh juga kan, elu?"


"Iya! Udah buruan ditelpon. Jam satu aku ada kelas," sahut Surya. Meskipun dia tidak yakin bisa mengikuti kelas apa enggak.


"Kalau emang lu ada kelas, ngapain repot-repot nyariin emak-emak ngemall?" Ganti Yogi yang terlihat kesal.


"Aku kan cuma...." Surya tak jadi melanjutkan omongannya.


"Cuma apa? Cuma kangen? Lu itu aneh, Sur," omel Yogi.


"Apanya yang aneh?" tanya Surya dengan cuek. Dia masih merasa tak bersalah.


"Kalau cinta tuh ucapkan. Kalau kangen luapkan. Biar enggak jadi jerawat batu!"


Surya memaksa bibirnya tersenyum. Lalu dia ingat dengan jerawat batu yang tumbuh di pipinya. Lalu memegangnya.


Apa jerawat ini karena aku selalu menyimpan perasaanku pada Nadia, ya? Tanya Surya dalam hati.


Yogi melirik Surya sekilas. Ingin rasanya dia ketawa lagi. Ternyata Surya benar-benar punya jerawat batu di pipinya yang terlihat mulus.


Tapi diurungkan niatnya, karena dia merasa ponselnya berbunyi. Dan Yogi memastikan kalau itu chat jawaban dari Viona.


"Telat, Bro. Mereka udah balik. Sekarang lagi mau otewe ke kosan Viona," ucap Yogi setelah membaca balasan dari Viona.


Surya langsung membalikan badannya siap berlari mengejar mereka.


"Eh, mau ngapain?" tanya Yogi.


"Baliklah. Ngejar mereka!" sahut Surya.


"Enggak bakalan kekejar, Bro. Mereka udah di parkiran. Terlalu jauh dari sini. Mending sekarang lu traktir gue makan. Laper." Yogi menarik tangan Surya masuk ke sebuah restauran cepat saji.


"Kata siapa aku mau traktir kamu?" tanya Surya. Dia merasa tak membuat perjanjian dengan Yogi sebelumnya.


"Kata gue lah. Lu pikir waktu dan tenaga gue nemenin elu, gratisan?" jawab Yogi sambil terus menarik tangan Surya.


Surya hanya bisa menggerutu. Misinya gagal, malah tekor.


Tapi apa boleh buat. Mereka sudah terlanjur masuk ke restauran itu. Gengsi juga kalau mesti berdebat dengan Yogi yang pasti enggak mau mengalah.


"Ya udah pesen. Aku kasih waktu setengah jam." Mata Surya mencari meja kosong.


Yogi menadahkan tangannya.


"Apaan?" tanya Surya.


"Uangnyalah. Memangnya bisa bayar pake kartu mahasiswa?"


"Pemalakan!" gumam Surya. Lalu mengambil selembar seratusan ribu dari dompetnya.

__ADS_1


__ADS_2