
Viona tersenyum. Lalu menoleh perlahan. Dilihatnya Putra sedang berusaha berdiri, dan berjalan mengejarnya.
Putra meraih tangan Viona.
"Mau kemana?" tanya Putra.
"Ke puncak bukit itu." Viona menunjuk ke arah bukit kecil yang tak terlalu jauh dari tempatnya.
"Kamu suka tempat itu?" tanya Putra lagi.
Viona mengangguk.
Sejak punya kenangan dengan bukit itu, Viona jadi menyukainya.
Padahal dulu, jaman Viona kecil bahkan sampai sebelum ketemu Putra, tak ada niat sedikitpun ke sana.
Bukit itu bagi sebagian masyarakat di sekitar pesisir, dianggap angker dan keramat. Meskipun sebenarnya Viona tak begitu mempercayainya.
Tapi image yang negatif tentang bukit itu juga membuat Viona enggan menjamahnya.
Karena jarangnya orang yang datang ke sana, membuat banyak pasangan yang akan berbuat mesum, memilih bukit itu. Karena dianggap aman, tak akan diganggu orang lain.
"Kita ke sana." Putra menarik tangan Viona dan berlari ke sana.
Viona tak perlu lagi khawatir, karena dia akan naik ke sana bersama Putra. Lelaki yang pernah menyentuh bibir dan hatinya.
Perlahan mereka menaiki bukit itu. Jalanan yang menanjak dan cukup terjal, membuat Putra harus menahan tubuh Viona dari bawah.
Dan dengan sabar, Putra yang biasanya bergerak dengan cepat, menunggu Viona yang berjalan naik perlahan.
Angin yang semakin bertiup kencang dan warna jingga dari senja yang mulai tiba, mulai terasa saat mereka sampai di puncaknya.
Tak seperti pertemuan pertama mereka yang hanya sampai puncak pertama, kini mereka ada di puncak tertinggi.
Dari sana terlihat hamparan laut yang tenang, dengan gelombang-gelombang kecil yang saling berkejaran.
Viona menatapnya penuh kekaguman. Ciptaan Sang Maha Kuasa yang sangat indah.
"Lihat apa?" tanya Putra, sambil memeluk Viona dari belakang.
Tangannya mendekap erat pinggang Viona sampai ke perut. Tangan Viona pun diletakan di atas tangan Putra.
Dan seperti yang pernah dilakukannya, Putra meletakan dagunya di bahu Viona.
Viona merasa buku kuduknya berdiri. Tapi dia tak mau menolaknya. Inilah saat-saat terindah untuknya.
Saat yang dinantikannya. Berdua dengan Putra di tempat yang sama dengan saat pertemuan pertama mereka.
"Mm...Liat laut. Indah banget," jawab Viona dengan suara bergetar.
"Kalau aku liat kamu aja, boleh enggak? Aku bosan melihat laut," tanya Putra.
Viona tersipu malu. Wajahnya merona. Untungnya Putra tak melihatnya.
"Boleh. Tapi jangan lama-lama," jawab Viona.
"Kenapa?" tanya Putra.
__ADS_1
"Nanti bosan kalau terlalu lama. Seperti kamu bosan melihat laut," jawab Viona.
"Enggak akan. Aku tak akan pernah bosan melihatmu, Viona...!" ucap Putra persis di telinga Viona.
Blush!
Wajah Viona kembali memerah. Bulu kuduknya kembali merinding. Jantungnya berdetak sangat kencang. Dadanya bergemuruh. Keringat dingin mulai keluar.
"Tanganmu dingin banget. Kamu kedinginan?" tanya Putra.
Viona menggeleng.
"Kirain kedinginan. Aku siap menghangatkanmu," ucap Putra dengan nada nakal.
"Memangnya kamu kompor?" tanya Viona asal.
"Aku bukan kompor. Tapi aku sang Surya. Yang akan menghangatkanmu, lalu menghilang di malam hari. Dan aku akan kembali keesokan harinya, tanpa harus kamu panggil," jawab Putra.
"Sang Surya?" Viona jadi teringat pada Surya. Lelaki yang sempat sangat digilainya.
"Iya."
Putra pun ingat dengan nama seorang sahabatnya, yang lama tak pernah bertemu. Bahkan mungkin tak akan pernah bertemu.
Pekerjaan Putra yang tak memungkinkannya mencari sahabat-sahabatnya. Termasuk juga gadis kecilnya yang pernah mengisi relung hati Putra.
Putra hanya bisa menelan ludahnya. Mengingat kejadian buruk yang menimpa dia dan kedua orang tuanya.
"Viona...!" bisik Putra dengan lembut.
"Apa kamu pernah punya kekasih? Atau sekarang kamu sudah punya kekasih?" tanya Putra.
Viona menggeleng.
"Aku tidak percaya. Kamu cantik. Menarik. Tak mungkin lelaki yang menolakmu," ucap Putra.
"Tak semua lelaki menyukai wanita cantik," sahut Viona.
Dia ingat dengan Surya. Surya menolaknya dan lebih memilih Nadia. Viona jelas lebih cantik dan menarik daripada Nadia.
"Oh ya? Lelaki bodoh itu namanya. Lelaki itu diciptakan untuk menikmati wanita dengan segala keindahannya. Dan jika lelaki itu menolak wanita cantik, mungkin ada yang lebih menarik lagi baginya selain kecantikan," ucap Putra.
"Contohnya?" Viona jadi ingin tahu alasan Surya menolaknya.
"Kesederhanaan," jawab Putra.
Putra pernah mencintai gadis kecilnya, karena kesederhanaannya. Bukan karena kecantikannya. Karena gadis kecilnya tak terlalu cantik.
Wajahnya biasa saja. Kulit tubuhnya pun tak seputih Viona.
Kesederhanaan. Viona membatin. Apa itu yang disukai Surya dari seorang Nadia?
Ya. Nadia yang dilahirkan dari keluarga kaya raya, tapi punya sifat yang sangat sederhana.
Dia tak seperti gadis-gadis kaya lainnya, yang berangkat kuliah naik mobil. Nadia lebih suka naik motor matic yang harganya tak seberapa.
Nadia jarang sekali jalan-jalan ke mall dan berburu barang-barang branded.
__ADS_1
Dia lebih suka jalan ke pantai atau pegunungan. Dan memakai pakaian seadanya. Meskipun bukan pakaian murahan juga.
"Kalau kamu, lebih suka wanita yang cantik atau yang sederhana?" tanya Viona.
"Yang cantik tapi sederhana. Hahaha." Putra tertawa terbahak.
"Kenapa?" tanya Viona. Karena Viona berpikir, itu bukanlah dirinya.
Viona yang cantik ingin selalu berpenampilan mewah, meski dia harus pandai-pandai berhemat makan.
"Biar enggak ngabis-abisin uang!" Putra kembali tertawa.
Viona hanya terdiam.
"Tapi tenang aja. Tak semua keinginan kita mesti terpenuhi. Tak ada manusia yang sempurna. Dan kalau yang aku dapatkan wanita cantik sepertimu, masa aku nolak? Bodoh banget kan, aku."
Viona tersenyum, karena itu artinya Putra tak menolaknya.
Senja semakin beranjak menjauh dan akan digantikan dengan gelapnya malam.
Dan dalam keremangan, bibir Putra dan bibir Viona menyatu.
Mereka memanfaatkan sisa senja dengan saling mencecap dan *******.
Hingga sang surya benar-benar sampai ke peraduannya, dan berganti malam yang gelap. Karena sang bulan masih belum mau menampakan keindahannya.
Viona bagaikan terbang melayang. Rasa yang ingin selalu dinikmatinya.
"Sudah gelap. Kita turun, yuk," ajak Putra.
Viona mengangguk. Lalu Viona meraih tangan Putra dan kembali mereka perlahan menuruni bukit itu.
"Aku lapar. Kamu mau kan menemaniku makan?" tanya Putra
"Dimana?" tanya Viona.
"Kamu punya referensi rumah makan yang enak di sekitar sini?" Putra malah balik bertanya.
"Kamu pasti bosan makan ikan. Bagaimana kalau masakan khas daerah sini saja?"
"Oke. Kamu enggak apa-apa, kalau pulang sendiri malam-malam?" tanya Putra. Sebab dia tak bisa mengantarkan Viona pulang.
"Aman. Ini kan kota kelahiranku. Aku sangat hafal jalannya, dan banyak kenal orang daerah sini," jawab Viona.
"Ya udah. Kalau begitu, kita segera ke sana," ajak Putra.
Mereka berjalan kaki ke rumah makan yang dimaksud oleh Viona. Karena letaknya tak terlalu jauh.
"Itu tempatnya. Masih belum terlalu ramai. Tapi nanti semakin malam, semakin ramai." Viona menunjuk sebuah restauran dengan penampilan unik.
Putra merangkul Viona memasuki restauran itu. Mata Viona menyusuri ruangan yang cukup luas. Mencari meja kosong untuk mereka.
Dan pandangan mata Viona terhenti pada sosok yang sangat dikenalnya.
Mata mereka saling menatap tajam.
"Yogi....!"
__ADS_1