PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 162 PESAN DARI DEWA


__ADS_3

Setelah selesai makan, mereka pun berpamitan pada ibunya Viona.


"Hati-hati di jalan," ucap ibunya Viona.


"Iya, Bu. Kami pamit," sahut Surya. Lalu menyalami tangan ibunya Viona.


Sinta dan Yogi pun mengikuti.


"Bu. Viona berangkat dulu, ya," pamit Viona pada ibunya.


"Iya, Sayang. Kamu jaga diri di sana, ya."


Mereka pun berpelukan erat.


"Oh iya. Ada oleh-oleh buat kalian. Sebentar Ibu ambilkan."


Ibunya Viona bergegas masuk ke dalam rumah lagi.


"Ini buat mama-mama kalian." Ibunya Viona memberikan dua bungkus plastik oleh-oleh.


"Wah, Bu. Kok malah repot-repot," ucap Surya.


"Enggak repot, kok. Itu juga dari Putra. Dia bawa kemarin. Tapi kebanyakan. Nanti di sini enggak ada yang makan," sahut ibunya Viona.


"Udah yuk, nanti keburu sore," ajak Viona. Dia juga butuh istirahat yang cukup, biar besok bisa berangkat kuliah lagi.


Viona naik ke mobil Surya. Mereka hanya berdua. Hal yang tak pernah mereka lakukan dari dulu.


Mobil mereka pun melaju beriringan. Mobil Yogi berada di depan. Surya mengikuti dari belakang.


"Nadia pulangnya gimana, Sur?" tanya Viona.


"Entahlah. Enggak usah dipikirin lagi, Vi. Biarkan dia dengan jalannya sendiri. Kalau ada apa-apa dengan dia, bukan tanggung jawab kita juga. Dia udah dewasa kok," jawab Surya.


"Iya, Sur. Cuma aku heran aja sama dia. Udah dewasa tapi cara berpikirnya masih kayak anak kecil aja," sahut Viona.


"Itulah yang aku enggak bisa mengerti. Selama ini, aku kurang apa lagi, coba?" tanya Surya.


"Menurutku, enggak ada yang kurang. Dia aja yang merasa kurang puas terus," jawab Viona.


"Dan menurutku, Sur. Tapi maaf, ya...Aku kok jadi berpikir, kamu jangan dekati dia lagi deh. Sayang, cuma buang-buang waktu percuma aja," ucap Viona hati-hati. Dia tak mau menyinggung perasaan Surya.


"Aku juga akan berusaha begitu, Vi. Bantu aku, ya," pinta Surya.


"Bantu gimana?" tanya Viona. Dia tak mau salah menafsirkan permintaan Surya.


"Bantu aku melupakan dia. Aku sendiri kadang tak mengerti dengan perasaanku padanya. Kayak udah berkerak. Diilangin susah banget," jawab Surya.


"Mungkin karena kamu terlalu mencintainya, Sur. Jadi susah move on dari dia," ucap Viona.


"Bisa jadi, Vi. Karena terus terang, aku mencintainya sejak SMA," sahut Surya.

__ADS_1


"Hah? Jadi kamu mencintainya sejak dia pacaran sama...Putra?" tanya Viona.


Ada perasaan tak suka sebenarnya dari hati Viona mengatakan itu. Tapi itulah kenyataannya.


"Iya. Tapi aku tau diri, Vi. Aku tak mau mengusik hubungan mereka waktu itu. Aku lebih memilih memendam perasaanku. Dan fokus pada pelajaran sekolah," jawab Surya.


"Hebat kamu, Surya. Bisa menyimpannya sampai mereka berdua tak tau. Mungkin kalau Putra tau perasaanmu waktu itu pada Nadia, dia bisa saja mengalah untuk kamu," ucap Viona.


Surya tersenyum sekilas.


"Aku bukan type perebut, Vi. Aku lebih rela membahagiakan orang lain, dan membiarkan hatiku sendiri terluka."


Surya mengatakan itu, tapi dalam hatinya merasa sangat bodoh.


"Bodoh banget ya, aku?" lanjut Surya.


Viona pun tersenyum sekilas. Dia membayangkan kembali, bagaimana Surya setengah mati mengejar cinta dari Nadia, hingga mengabaikannya.


Dan sekarang, saat Viona sudah mendapatkan cinta terbaik, Surya malah diabaikan oleh Nadia.


Apa ini yang disebut hukum karma? tanya Viona dalam hatinya.


Tapi bisa jadi. Meskipun Viona tak berharap hukum karma itu ada.


Karena kenyataannya, Viona juga pernah mengabaikan Yogi yang dengan gigih mengejarnya.


"Kalau kamu merasa itu sebuah kebodohan, cobalah mulai sekarang rubah mindset-mu, Sur. Kamu bisa lihat aku, kan? Akhirnya aku menemukan orang yang serius mencintaiku," sahut Viona.


"Apa kamu yakin dengan Dewa, Vi?" tanya Surya.


"Sur, aku kan pernah bilang sama kamu. Aku akan berusaha yakin dan percaya pada Putra. Karena modal utama sebuah hubungan, adalah rasa saling percaya dan yakin. Betul, kan?" tanya Viona juga.


"Iya, pastinya Vi. Tapi saat rasa yakin kita diabaikan?" tanya Surya lagi.


"Ya udah, tinggalin aja. Untuk apa menyiksa diri, Sur? Ingat kan apa kata ibuku tadi? Hilang satu tumbuh seribu. Patah tumbuh hilang berganti. Itulah kehidupan, Sur," ucap Viona.


"Di dunia ini kan tak ada yang abadi, Sur. Begitu juga cinta. Sekarang cinta, besok atau lusa, entahlah. Allah Maha membolak-balikan hati manusia kan, katanya," lanjut Viona.


Surya malah terkekeh.


"Kok malah ketawa?" Viona melirik ke arah Surya.


Dalam hati, Viona masih memuji penampilan Surya yang modis. Sangat berbeda dengan Putra yang terlalu cool. Penampilannya boleh dibilang terlalu kaku.


Tapi Putra mampu menaklukan hati Viona. Dan Viona pun mampu mencairkan Putra yang dingin.


"Kamu sekarang makin pinter," jawab Surya.


"Kalau aku makin pinter, mestinya dipuji dong. Bukan diketawain," pinta Viona.


"Kan udah aku puji. Kamu makin pinter," sahut Surya.

__ADS_1


"Tapi enggak usah pake ketawa, Surya...!"


Tanpa sengaja, Viona mencubit lengan Surya dengan gemas.


"Eh, maaf. Kebablasan," ucap Viona.


"Enggak masalah. Kalau kebablasan, masih bisa kok cari putaran. Tinggal putar balik, deh. Hahaha." Surya malah terbahak-bahak.


"Ngaco aja, kamu. Memangnya mobil, bisa putar balik?" sahut Viona.


"Ya....anggap aja begitu. Hidup kan kadang perlu perumpamaan, Vi," ucap Surya.


"Kalau begitu, umpama naik motor, kamu jangan lihat spion terus dong. Sekali-kali bolehlah, buat mengontrol diri. Tapi kalau liatin spion terus, yang ada kamu malah nabrak!" sahut Viona.


"Hebat kamu, Vi. Makin kesini, makin bijak!" puji Surya.


"Sebenarnya udah dari dulu, Surya. Cuma kamu aja yang terlalu acuh padaku," sahut Viona.


Surya menghela nafasnya. Benar juga omongan Viona. Dia memang terlalu acuh pada Viona. Mengabaikan semua sifat baik Viona.


Surya hanya memikirkan Nadia. Nadia. Dan Nadia. Otaknya hanya diisi dengan Nadia. Hingga dia mengabaikan yang lainnya.


Di tengah obrolan mereka, hape Surya bergetar. Ada sebuah pesan masuk.


Surya tak berani membukanya, karena dia juga mesti konsentrasi pada jalanan. Apalagi di jalan tol, semua mobil melaju dengan kencang.


Surya tak mau mengganggu pengendara yang lainnya, kalau dia sampai kurang fokus di jalan.


Untuk minta tolong Viona membukanya juga enggak enak. Viona bukan siapa-siapanya. Surya pun tak mau privacy-nya dilihat Viona.


"Hape kamu bergetar, Surya," ucap Viona. Kebetulan Surya meletakan ponselnya di dekat Viona duduk.


"Biarin aja, Vi. Nanti aja bukanya, kalau kita istirahat," sahut Surya.


"Gimana kalau pesan penting?" tanya Viona.


"Kalau memang penting, pasti orangnya bakal telpon. Betul, kan?" tanya Surya.


Viona mengangguk. Dia pun biasanya begitu. Suka mengabaikan pesan masuk, saat tak ada kesempatan membukanya.


Hingga sampai mereka di sebuah rest area, Surya melihat mobil Yogi masuk ke sana. Sepertinya Yogi mau isi bensin.


Mobil Surya yang masih banyak bensinnya, menepi agak jauh.


Kesempatan itu digunakan Surya untuk membuka pesan masuk itu.


"Dari Dewa, Vi," ucap Surya.


"Oh ya? Apa katanya?" tanya Viona.


"Aku diminta untuk menjagamu. Udah kayak orang mau meninggal aja," jawab Surya spontan. Entah pikiran darimana sampai terlontar kalimat itu.

__ADS_1


"Surya...! Jangan bilang begitu, ah!" Viona langsung merinding.


__ADS_2