PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 58 ANAK BAU KENCUR


__ADS_3

Rahma keluar dari kamar Sinta. Dia merasa yakin kalau anak gadisnya masih belum dewasa.


Hhh. Dia masih kekanak-kanakan. Masih bau kencur. Masa begituan aja enggak tau. Rahma tersenyum sendiri.


"Dari mana, Ma?" tanya Toni yang lagi asik membaca berita di media online. Toni duduk selonjoran di atas tempat tidur.


"Dari kamar Sinta," jawab Rahma. Lalu naik ke tempat tidur dan duduk di sebelah Toni.


"Ngapain?" tanya Toni lagi.


"Ngobrol, Pa." Lalu Rahma menceritakan hasil investigasinya.


"Busyet, Mama udah kayak detektif aja," komentar Toni.


"Ya harus dong, Pa. Mereka kan udah pada gede. Mama udah gak bisa mengikuti kemana mereka pergi. Jadi jalan satu-satunya, ya mengorek cerita dari mereka." Rahma merasa telah berbuat yang terbaik buat anak-anaknya.


"Hebat kamu, Ma. Papa jadi makin cinta sama Mama." Toni mengecup kening istrinya.


"Ah, Papa. Mama jadi pingin," sahut Rahma dengan manja.


"Pingin apa?" goda Toni, pura-pura tidak paham.


"Papa, iih. Masa begitu aja mesti diperjelas sih." Rahma mulai merajuk.


Lalu tangan Rahma mulai menggerayangi suaminya. Toni berusaha menahan nafas. Konsentrasinya membaca berita jadi hilang.


"Ma....masih sore. Anak-anak kan belum pada tidur." Toni menahan tangan Rahma.


"Oh, iya. Surya juga baru saja pamit pergi." Rahma menarik tangannya.


"Pergi kemana?" tanya Toni. Matanya melirik jam dinding. Sudah hampir jam sembilan malam.


"Tadi sih bilangnya ke rumah temannya. Yogi," jawab Rahma.


Untuk mengisi waktunya, Rahma meraih hape dan mulai membuka aplikasi novel online.


"Udah malam kok main ke rumah teman. Apa enggak mengganggu keluarganya?" Toni tak mau kalau anaknya dianggap mengganggu keluarga orang lain yang mau istirahat.


"Sebentar lagi Mama telpon deh. Biar cepet pulang. Dan kita bisa...." Rahma sengaja menahan kalimatnya.


"Bisa apa?" goda Toni lagi.


"Papa, iih. Bikin bete aja!" Rahma benar-benar merajuk.


"Ngambek.... Mama kalau ngambek begini makin memggemaskan."


Toni yang sebenarnya tergugah juga akibat rabaan Rahma tadi, tak bisa lagi menahan diri.


Klik!


Toni mematikan lampu kamar. Dan mulai menyerang Rahma.


"Papa....Anak-anak belum tidur...."


Toni membekap mulut Rahma dengan mulutnya. Dan terjadilah serangan kesorean dua insan yang tak lagi muda itu.

__ADS_1


"Pa....Mama belum mengunci pintu kamar," ucap Rahma saat tubuhnya sudah dikungkung Toni.


Toni turun sebentar dan...Klek!


Pintu kamar dikuncinya hingga tak ada lagi alasan bagi Rahma untuk menolaknya.


"Pa...jangan kenceng-kenceng nafasnya. Nanti kedengeran Sinta," ucap Rahma yang masih menahan bobot tubuh Toni.


"Iya, Ma. Cuma sebentar, kok. Mama sih, bangunin ular yang lagi tidur," sahut Toni.


Dengan tenaga yang tak sekuat dulu, mereka saling menyerang, saling menerjang. Hingga akhirnya sama-sama terkapar.


"Mama masih puas kan dengan permainan Papa?" tanya Toni. Dia khawatir istrinya yang berusia lima tahun lebih muda darinya merasa kurang puas.


"Sangat, Pa. Papa juga masih puas dengan permainan Mama, kan?" Rahma balik bertanya.


"Selalu. Mama hebat...." jawab Toni. Matanya sudah tak bisa dikondisikan lagi. Dan dia tertidur sambil mendekap hangat tubuh istri tercintanya.


Sinta keluar dari kamarnya. Dia mau melihat Surya sudah pulang dari rumah Yogi apa belum.


Sinta membuka pintu kamar Surya. Masih kosong. Sinta berjalan ke ruang tamu. Pintu depan belum dikunci, meski posisinya tertutup.


Sinta menoleh ke kanan dan ke kiri mencari mamanya. Biasanya Rahma selalu setia menunggu kalau anak-anaknya belum pulang.


"Mama kemana, sih?" gumam Sinta.


Dia berjalan ke dapur. Tetap tak melihat mamanya.


"Ma...! Mama...!" teriak Sinta di depan pintu kamar orang tuanya sambil mengetuk.


"Mama....!" Sinta kembali berteriak. Kali ini suaranya lebih kenceng.


"Iya, Sinta!"


Rahma buru-buru menyingkirkan tangan Toni yang melingkar di perutnya.


"Mama udah tidur?" tanya Sinta dari luar.


"Mm....Iya! Mama ketiduran! Sebentar Mama keluar." Rahma turun dari tempat tidur dan meraih pakaiannya yang berserakan.


Dengan gerakan cepat, Rahma mengenakannya. Lalu menutupi tubuh polos suaminya dengan bedcover.


Rahma merasa seperti main kucing-kucingan dengan anaknya.


"Pa...Mama keluar dulu. Sinta manggil-manggil," bisik Rahma di telinga Toni.


Toni hanya bergumam lirih sambil menggeliatkan tubuhnya.


Rahma membuka pintu kamarnya dan keluar, tanpa menyalakan lampu kamar. Khawatir Sinta melihat sang papa yang polos di balik bedcover.


Rahma segera menutup pintu kamarnya lagi.


"Kamu belum tidur?" tanya Rahma pada Sinta setelah keluar kamar.


"Belum, Ma. Baru selesai mengerjakan tugas kampus," jawab Sinta sambil berjalan ke ruang tamu.

__ADS_1


Tempat biasa mamanya menunggu siapapun anggota keluarga yang belum pulang.


Rahma mengikutinya dari belakang.


"Kok tumben Mama udah tidur? Biasanya mama nungguin kak Surya pulang," tanya Sinta.


"Kan udah Mama bilang tadi. Mama ketiduran. Nemenin papa kamu baca berita, malah bablas tidur," jawab Rahma.


Sinta mengangguk. Dia berpikir, mungkin mamanya kecapekan. Tadi siang pergi ketemuan teman lamanya, pastinya pake acara jalan-jalan.


Sinta duduk di sofa. Rahma pun mengikuti.


"Kak Surya kemana aja sih, kok jam segini belum pulang?" Sinta melihat jam dinding. Sudah hampir jam sebelas malam.


"Coba kamu telpon," pinta Rahma, sebab dia tak membawa hapenya.


"Mama aja, ah. Nanti ngomel-ngomel kalau Sinta suruh pulang," tolak Sinta.


"Hape Mama di kamar," sahut Rahma.


"Sinta ambilin, ya?"


"Iya. Eh....! Biar Mama ambil sendiri aja. Mama tadi lupa naruhnya di mana. Nanti kamu bingung nyarinya." Rahma teringat kalau Toni tertidur tanpa berpakaian. Meskipun tertutup bedcover, tapi kalau sampai tersingkap, bisa runyam urusannya.


"Ya udah. Mama aja yang ambil," sahut Sinta.


Sinta memperhatikan pakaian Rahma yang terbalik. Matanya menatap tajam.


Rahma yang sudah berdiri malah bingung ditatap Sinta setajam itu.


"Ada apa, Sin?" tanya Rahma.


Sinta tertawa sambil menutup mulutnya.


"Apaan?" tanya Rahma lagi penasaran.


"Mama lihat deh. Baju Mama kebalik," jawab Sinta.


Bluush!


Wajah Rahma langsung merona karena malu. Saking keburu-burunya tadi, tak sadar Rahma memakai bajunya kebalik. Lampu kamar juga tak dinyalakannya.


"Mama sengaja memakainya terbalik? Kayaknya tadi enggak deh," tanya Sinta. Meskipun dia tak yakin dengan omongannya. Karena tadi dia tak memperhatikan pakaian mamanya.


"Tadi Mama gerah, jadi lepas baju," jawab Rahma asal.


"Memang AC di kamar Mama mati?" tanya Sinta lagi.


"Mama lupa nyalain." Rahma segera berlalu dari ruang tamu. Khawatir Sinta bertanya lebih banyak lagi.


Sinta mengerutkan dahinya. Kalau gerah kenapa enggak nyalain AC. Harusnya langsung dinyalakan dong. Dan enggak perlu melepas baju.


Ah, mama ada-ada aja. Sinta bergumam sendiri. Tak paham sama sekali apa yang sebenarnya telah terjadi.


Aku benar-benar malu. Untung Sinta enggak curiga. Dasar anak masih bau kencur. Gumam Rahma sambil mencari hapenya yang entah berada di sebelah mana.

__ADS_1


__ADS_2