PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 217 SYOK


__ADS_3

"Mari silakan, Nadia." Dokter spesialis kandungan itu mempersilakan Nadia berbaring.


Yudis hanya menatap Nadia penuh tanda tanya. Tapi sebagai seorang yang perofesional, Yudis tak komentar apapun.


Nadia pun naik ke atas tempat tidur. Yudis sebagai co-***, mendekati Nadia.


Mata mereka saling memandang. Kepala mereka penuh dengan tanda tanya.


Kamu kok enggak bilang kalau jadi asisten dokter? Tapi bukan salahmu juga. Aku kan eggak nanya. Batin Nadia.


Ternyata kamu lagi hamil, Nad. Ternyata kamu sudah menikah. Kenapa tadi aku tak menanyakannya? Batin Yudis.


"Maaf, Nad. Boleh dibuka bajunya sebentar?" tanya Yudis dengan sopan.


Nadia belum paham apa yang harus dilakukannya. Dia hanya mengangguk, tapi tak melakukan apapun.


"Maaf, ya..." Yudis menyingkap blouse yang dipakai Nadia.


Spontan Nadia menarik blousenya lagi ke bawah.


"Maaf, Nad. Kami akan memeriksa bagian perut kamu," ucap Yudis.


Nadia masih memegangi blouse-nya.


"Buka sebentar, ya. Aku co-*** di sini. Aku akan membantu dokter memeriksamu," lanjut Yudis.


Susi yang ada di sebelah Nadia melirik sebentar ke arah Yudis.


Ini bukannya cowok yang tadi ngobrol dengan Nadia di kantin? Tanya Susi dalam hati.


"Buka, enggak apa-apa, Nad. Dia kan asisten dokter di sini. Iya, kan?" tanya Susi melirik ke arah Yudis.


"Iya, Tante," jawab Yudis. Dia masih mengingat wajah Susi. Wanita yang menghampiri Nadia di kantin tadi saat bersamanya.


Nadia pun pasrah, saat tangan Yudis perlahan-lahan menyingkap pakaian bagian atasnya. Meski dalam hatinya merasa malu. Karena tadi, baru saja dia kenalan dan ngobrol sambil bercanda.


Setelah menyingkap pakaian Nadia ke atas, Yudis berniat menurunkan sedikit celana panjang Nadia. Tapi Nadia menolaknya.


"Nanti akan kita kasih gel dulu. Biar perutmu tidak lecet," ucap Yudis.


"Tapi...." Nadia masih memegangi celananya.


"Cuma sampai di bawah perut aja, kok," ucap Yudis.


Tak mungkin juga sebagai tenaga profesional, Yudis melakukan hal-hal yang tak senonoh. Apalagi di ruangan itu ada Susi, juga dokter yang akan memeriksa Nadia.


Nadia menatap ke arah Susi. Susi mengangguk. Dulu saat hamil, Susi pun melakukan hal yang sama.


Eh, tapi itu kan waktu aku hamil. Apa sekarang, Nadia....


Ah! Enggak! Enggak mungkin! Susi berusaha menepis pikiran itu.

__ADS_1


"Perutku mau diapain?" tanya Nadia pada Yudis.


Yudis diam sejenak, memperhatikan Nadia.


Kenapa dia nanya kayak gitu? Apa dia enggak tahu kalau....Yudis tak sampai hati berpikir sejauh itu. Sebab tadi Nadia bilang kalau dia masih kuliah.


Yudis masih ingat saat tadi Nadia menjawab pertanyaannya.


"Oh, jadi kamu masih kuliah?" tanya Yudis saat masih di kantin tadi.


Nadia mengangguk.


"Iya," jawab Nadia.


"Kuliah dimana?" tanya Yudis lagi.


Nadia pun mengatakan dimana dia kuliah. Yang ternyata satu almamater dengan Yudis.


Cuma karena Yudis memilih fakultas kedokteran, jadi tak pernah ketemu dengan Nadia. Mereka beda kampus. Bahkan kampus Yudis lebih jauh lagi dari pusat kota.


Yudis tak mengatakan kalau mereka satu almamater. Karena Nadia pun tak bertanya. Dan kelihatannya tak tertarik dengan kehidupan Yudis.


Lalu Yudis yang merasa tertarik dengan Nadia pun, mengajaknya ngobrol.


Banyak hal yang dilemparkan Yudis ke obrolan mereka. Dan ternyata Nadia menyambutnya. Nadia juga bisa nyambung dengan yang dibicarakan Yudis.


"Oh. Eh. Mm....diperiksa sama dokter," jawab Yudis.


"Tapi, aku kan enggak sakit," sahut Nadia.


Sementara dokter yang akan menangani Nadia, masih sibuk membaca kembali berkas milik Nadia.


"Mama, ih!" Nadia merutuk.


Yudis cuma tersenyum. Lalu dia pun melakukan apa yang semestinya dia lakukan.


Yudis mengoleskan gel ke permukaan perut Nadia. Lalu dia meratakannya.


Tak seperti biasanya pada pasien lain, kali ini Yudis merasa ada getaran yang lain pada dirinya. Terutama pada hatinya.


Sementara Nadia, hanya merasakan dingin saja di permukaan perutnya.


Yudis berusaha bersikap biasa. Dia harus profesional. Tak boleh mencampur adukan urusan pribadi dengan urusan profesi.


Seperti janji yang sudah dia ikrarkan saat pertama kali menjalani tugas sebagai co-***.


Yudis menghela nafasnya. Lalu mengelap tangannya dengan tissue.


Mestinya pekerjaan itu dilakukan perawat. Tapi Yudis memang ingin melalukannya. Dia ingin belajar praktek benar-benar dari nol.


Dan dokter kandungan yang bernama Frans, itu pun tak keberatan. Dia malah senang dengan kemauan Yudis.

__ADS_1


Jarang seorang co-*** mau turun tangan sendiri. Karena semua itu adalah tugas dari perawat.


"Untuk apa gel itu?" tanya Nadia pada Yudis.


Dokter Frans belum kembali menghampiri Nadia. Dia masih mempelajari kasus pasiennya yang satu ini.


"Nanti bagian dalam perut kamu, akan di USG. Dengan alat ini, yang ditempel dan digeser-geserkan di atas perut kamu. Jadi untuk memudahkannya, kami memberikannya gel," jawab Yudis panjang lebar. Agar Nadia paham.


Nadia mengangguk mengerti. Meskipun dia masih ingin tahu kenapa perutnya mesti diperiksa dengan alat yang diperlihatkan oleh Yudis.


Nadia melihat ke arah layar monitor yang ada di sebelahnya. Hanya gambar yang bagi Nadia sangat tidak jelas.


Tak lama dokter Frans datang. Dia menatap ke arah Nadia sambil mengembangkan senyuman.


"Silakan, Dokter," ucap Yudis.


"Terima kasih, Yudis." Lalu dokter Frans memulai tugasnya. Dia tempelkan alat USG itu di atas perut Nadia.


Lalu perlahan-lahan alat itu digeser-geserkan di atas perut Nadia. Nadia menggelinjang kegelian. Dia memang sangat sensitif kalau disentuh bagian perutnya. Apalagi ini sampai digeser-geser.


"Sstt...!" Susi menyuruh Nadia diam.


"Geli, Ma," sahut Nadia.


"Tahan sebentar, ya," ucap dokter Frans.


Nadia terpaksa menahannya. Lalu dokter Frans dan Yudis, fokus menatap ke arah layar. Sementara tangan dokter Frans seperti mencari titik dimana bisa menemukan tanda-tanda sesuatu.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Susi tak sabar lagi. Karena kedua orang itu seperti kesulitan mencari sesuatu.


Dokter Frans, berhenti di satu titik. Lalu saling berpandangan dengan Yudis.


Yudis mengangguk mengerti.


"Ibu. Nadia. Kami menemukan satu titik kecil. Ini. Mungkin kalian kurang jelas." Lalu dokter Frans berusaha memperbesar gambar yang dimaksudnya.


"Itu titik apaan, Dok?" tanya Susi.


Nadia pun serius mendengarkan. Dia hanya melihat satu titik kecil, yang sangat tak jelas.


"Ini...adalah....sebuah janin yang masih sangat kecil," jawab dokter Frans.


"Ja...nin... Dokter?" tanya Susi terbata-bata. Dia terlihat sangat syok.


Dokter Frans mengangguk. Nadia hanya terdiam. Dia pun tak kalah syoknya.


"Iya." Lalu dokter Frans mengembalikan alat ke tempatnya semula. Lalu kembali ke tempat duduknya.


Susi yang masih syok, merasa dunianya berputar. Lantai yang dipijaknya terasa bergoyang.


"Mama!" teriak Nadia yang mengetahui tubuh Susi ambruk ke arah Yudis.

__ADS_1


Yudis yang sedianya mau melap perut Nadia, spontan melemparkan tissuenya dan menangkap tubuh Susi.


Nadia tak bisa berbuat apa-apa. Tenaganya seperti hilang. Ssluruh persendiannya lemas.


__ADS_2