PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 177 TUTUP BUKU


__ADS_3

Surya sibuk memilih buku di sebuah toko buku terkenal, bersama Viona.


Karena mereka sama-sama pecinta buku, maka mereka tak puas dengan hanya memilih saja.


Mereka pun sebisa mungkin membaca sinopsis atau kalau kebetulan buku itu tidak disegel, mereka membacanya sambil berdiri.


Hingga mereka menghabiskan waktu berjam-jam. Padahal yang dibeli hanya satu buku saja.


"Sur. Kita pulang yuk. Aku capek," ajak Viona.


"Kamu udah dapet bukunya?" tanya Surya.


"Udah. Nih." Viona memperlihatkan bukunya.


"Oke. Aku juga udah."


Surya mengambil buku yang dipegang Viona. Viona berpikir Surya hanya akan melihatnya aja. Ternyata Surya membawanya ke kasir.


"Biar aku bayar sendiri, Surya," ucap Viona di depan meja kasir.


"Udah, sekalian aja," tolak Surya.


"Itu kan harganya mahal, Surya," ucap Viona.


Surya tak menggubris omongan Viona. Dia tetap membayar buku Viona, meski harganya lebih mahal dari bukunya.


Surya berpikir, kasihan Viona yang pastinya dapat uang jatah bulanan dari orang tuanya pas-pasan.


Karena Surya sudah tahu keadaan orang tua Viona. Bapaknya pegawai negeri golongan rendah. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.


Kata Viona ada kakaknya lelaki yang selama ini membantunya. Kakaknya pun hanya bekerja di sebuah pabrik pengalengan ikan.


Di rumah Viona memang ada tambak ikan, tapi cuma tambak kecil di belakang rumah. Dan orang tuanya hanya menjualnya di rumah makan sekitar daerah pantai saja.


Setelah membayarnya, mereka pun pulang.


"Vi. Kamu mau makan lagi enggak?" tanya Surya di jalan.


"Enggak ah. Aku masih kenyang," jawab Viona berbohong. Padahal dia sudah merasa lapar lagi. Cuma tidak enak, karena pasti nanti Surya yang membayarnya lagi.


"Beneran masih kenyang?" tanya Surya tak percaya.


"Iya, Surya. Aku masih kenyang."


Surya pun melajukan motornya menuju tempat kos Viona.


"Aku langsung pulang, ya. Panas banget. Hawanya jadi kepingin tidur," ucap Surya setelah sampai depan kosan Viona.


"Iya, Sur. Hati-hati. Aku juga mau terus tidur," sahut Viona.

__ADS_1


Kadang Viona memang lebih memilih tidur saat lapar. Makannya setelah bangun tidur.


Selain bisa berhemat, juga badan Viona tak bakal melar karena biasanya kalau sudah kenyang terus mengantuk.


Surya kembali melajukan motornya. Sampai di depan komplek perumahannya, Surya mampir ke warung bu Nur.


Surya merasa sangat haus dan ingin minum minuman bersoda.


"Eh, Mas Surya. Baru pulang kuliah?" tanya bu Nur.


"Iya, Bu. Saya mau minuman bersodanya, dong," ucap Surya.


"Tuh. Di showcase banyak. Tinggal pilih aja. Apa mau yang sama kayak yang diminum neng Nadia?" tanya bu Nur.


"Maksudnya?" tanya Surya tak mengerti.


"Tadi kan neng Nadia kesini juga. Sepulang kuliah. Terus dia minum ini nih." Bu Nur memperlihatkan botol minuman bekas Nadia yang belum dibuangnya.


"Enggak ah. Saya mau yang lain aja." Surya mengambil minuman yang lain. Meskipun tadinya dia mau ambil minuman yang sama dengan pilihan Nadia.


Bu Nur hanya mengangguk. Dalam hati bertanya, tumben amat enggak samaan. Biasanya beli apa-apa selalu samaan.


"Tadi neng Nadia pulangnya jalan kaki. Kasihan dia kepanasan. Tapi hebat lho, anak orang kaya mau juga naik angkot. Desak-desakan. Gerah. Turun dari angkot, masih jalan kaki sampai rumahnya," cerita bu Nur.


Bodo amat! Batin Surya.


"Udah, Bu. Ini berapa?" Surya memperlihatkan botol minumannya.


Sebenarnya Surya ingin menghabiskannya dulu, karena mamanya bakal ngomel, kalau cuaca panas begini Surya minum yang dingin-dingin.


Tapi Surya sudah tidak betah mendengar cerita tentang Nadia.


Surya sudah benar-benar ingin menutup buku tentang Nadia.


"Abisin dulu minumannya, Mas. Warung saya belum mau tutup kok," ucap bu Nur.


Surya menurut. Dia kembali menenggak minumannya, dan berharap bu Nur tidak ngoceh lagi tentang Nadia.


"Mas Surya sudah semester berapa kuliahnya?" tanya bu Nur.


"Baru semester lima, Bu," jawab Surya.


"Ooh. Masih lama ya, lulusnya?" tanya bu Nur lagi.


"Masihlah, Bu. Belum juga KKN. Terus nyusun skripsi. Masih panjang perjalanannya," jawab Surya dengan lega. Bu Nur sudah tak membicarakan tentang Nadia lagi.


"Kalau di jaman saya dulu, pacaran itu enggak boleh lama-lama. Langsung saja dilamar. Kalau kuliah boleh kan menikah?" tanya bu Nur.


"Ya boleh aja, Bu. Bu Nur aja kalau mau kuliah sekarang, boleh kok," jawab Surya bercanda. Tapi faktanya memang begitu. Siapapun bisa kuliah asal memenuhi persyaratan.

__ADS_1


"Ah, Mas Surya suka bercanda. Masa saya kuliah. Entar dosennya manggil saya apa?" tanya bu Nur.


"Ya manggilnya bu Nur. Masa pak Nur," jawab Surya.


Bu Nur langsung tergelak mendengarnya.


"Mas Surya ini lucu. Kara orang punya selera humor tinggi. Pantesan aja neng Nadia betah berlama-lama jadi pacarnya Mas Surya," ucap bu Nur setelah puas tertawa.


Yee...dia bahas Nadia lagi.


Surya langsung merogoh kantong celananya. Dia ingat masih mengantongi uang kecil, kembalian beli buku tadi.


"Tapi Mas, jangan kelamaan pacarannya. Buruan dilamar. Neng Nadia itu anak orang kaya lho. Yang naksir pasti banyak," ucap bu Nur lagi.


Surya segera memberikan uang sepuluh ribuan pada bu Nur.


"Sebentar, saya ambilin kembaliannya." Bu Nur masuk ke dalam warungnya.


Lalu dia ingat kalau tadi Nadia tidak mengambil kembaliannya. Bu Nur yang orangnya terlalu jujur, kembali lagi ke depan.


"Mas Surya enggak usah bayar. Nih, uangnya saya kembalikan." Bu Nur memberikan kembali uang Surya.


"Kok enggak usah bayar?" tanya Surya tak mengerti.


"Iya. Tadi neng Nadia enggak ngambil kembaliannya. Jadi anggap saja buat bayar minumannya Mas Surya. Jadi pas," jawab bu Nur.


Hah? Aku bayar pakai uang kembaliannya Nadia?


Enggak!


Bisa besar kepala dia kalau tahu.


"Enggak, Bu. Biar saya bayar sendiri aja. Uang kembaliannya, antarin aja ke rumahnya," tolak Surya.


"Ya udah. Nih. Uang kembaliannya Mas Surya sama neng Nadia, jadi satu. Nanti Mas Surya yang nganterin. Gimana?" tanya bu Nur.


Bu Nur tidak tahu kalau hubungan mereka berdua sedang renggang. Bahkan sudah ingin saling melupakan.


"Enggak! Bu Nur aja yang nganterin!" tolak Surya kembali.


"Yaelah, Mas. Kan sekalian jalan. Rumah neng Nadia juga kelewatan nanti." Bu Nur tetap memaksa.


"Udah, guni aja deh. Kalau bu Nur emang enggak ada kembaliannya, ambil aja kembalian saya. Anggap buat nambahin modal bu Nur!" sahut Surya dengan kesal.


Surya bukan kesal karena uangnya tidak ada kembalian, tapi kesal karena bu Nur yang dari tadi membahas soal Nadia, malah sekarang menyuruhnya memberikan kembalian Nadia.


Lalu tanpa pamit, Surya pergi dengan motornya.


"Yee...gimana sih ini anak. Kalau begini, aku jadi banyak utang sama orang. Lagian kalau mau ngasih modal mah, yang banyak. Jangan cuma segini!" gumam bu Nur, sambil menempelkan uang Surya di jidatnya.

__ADS_1


__ADS_2