PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 57 NEGATIF THINKING


__ADS_3

Jam delapan Surya pamit masuk ke kamarnya. Setelah dia merasa tak ada lagi yang mau disampaikan orang tuanya.


Di kamarnya, Surya semakin gelisah. Dia hanya mondar mandir tak karuan.


Surya menyandarkan kepalanya di dinding. Dan membentur-benturkannya perlahan. Dia berharap dengan begitu akan ada jalan keluar terbaik baginya juga Nadia.


Keinginan orang tuanya saat ini, rasanya terlalu sulit untuk Surya. Dia paham kalau orang tuanya dan orang tua Nadia sangat mendukung hubungan mereka.


Tapi Nadia? Andai saja Nadia sudah membuka hati untuknya, ini akan sangat mudah dan menyenangkan. Bisa memiliki orang yang sangat dicintai.


Tapi kenyataannya tidak begitu. Surya cinta...Nadia enggak. Surya berharap...Sedang Nadia...dia mengharapkan laki-laki lain.


Ponsel Surya berdenting. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Yogi.


Mau apa lagi dia? Surya membukanya.


Bro, nongkrong yuk. Bete gue. Itu isi pesan dari Yogi.


Surya menghela nafasnya.


Sepertinya ide yang cukup baik. Aku akan minta pendapat Yogi tentang ini. Semoga manusia satu itu bisa memberi pencerahan.


Oke. Di mana? Tanya Surya.


Yogi menyebutkan sebuah nama cafe yang tak jauh dari kampus mereka.


Oke. Aku meluncur sekarang. Ketik Surya.


Lalu Surya segera meraih jaket dan kunci motornya.


"Mau kemana, Surya?" tanya Rahma.


"Ke rumah Yogi, Ma," jawab Surya berbohong. Sebab kalau menjawab mau ke cafe, mamanya suka negatif thinking.


"Jangan malam-malam pulangnya," sahut Rahma.


Surya mengangguk, lalu segera berlalu.


Sinta yang kebetulan keluar kamar, mendengarnya.


"Kak! Salam buat kak Yogi, ya!" seru Sinta.


Surya menoleh dan menatap Sinta tak suka. Meski Yogi teman akrabnya, tapi Surya tak suka kalau Sinta dekat-dekat dengan Yogi.


Surya tahu betul siapa Yogi. Tukang nongkrong. Bukan hanya di cafe, tapi juga di club-club malam.


Dunia Yogi boleh dibilang dunia malam. Dunia yang dikelilingi wanita-wanita cantik dengan pakaian minim dan minuman beralkohol.


Yogi seorang peminum yang handal. Meski menolak kalau dikatain pemabuk. Katanya, dia suka minum tapi tidak sampai mabuk.


Bagi Surya itu sama saja. Sama-sama minum. Dan Surya selalu menghindar kalau Yogi mengajaknya minum.

__ADS_1


Misalnya pun Yogi mengajaknya nongrong, pasti hanya sekedar ngopi. Karena Yogi tahu, kalau sampai ada minuman beralkoholnya, Surya langsung pamit pulang.


"No!" sahut Surya dan pergi meninggalkan Sinta yang manyun.


Rahma menatap Sinta.


"Kenapa? Kamu suka sama Yogi?" tanya Rahma.


"Enggak, Ma. Iseng aja," jawab Sinta, lalu masuk ke kamarnya.


Rahma menghela nafasnya. Rupanya dia harus bisa menjaga anak gadisnya. Dia sudah mulai menyukai lawan jenis.


Meski Rahma tak paham siapa Yogi, tapi kalau Surya tak menyukainya, itu berarti Yogi tak baik untuk Sinta.


Rahma menyusul ke kamar Sinta.


"Mama....!" Sinta terkejut melihat Rahma mengikutinya.


Rahma ingin mengulik sedikit tentang perasaan anak gadisnya ini. Kalau perlu, Rahma siap menjadi tempat curhat.


"Tadi kamu ketemu Yogi?" tanya Rahma.


Rahma masih ingat wajah Yogi. Terakhir dia ketemu di klinik tempat Nadia dirawat saat habis kecelakaan.


"Iya, Ma. Di rumah kak Nadia," jawab Sinta.


"Ooh. Dia datang sama siapa?" tanya Rahma lagi.


Rahma mengangguk mengerti. Itu artinya, Yogi akrab juga dengan Nadia. Apalagi Rahma melihat saat Nadia di klinik, Yogi juga ada di sana.


"Mereka kelihatannya akrab, ya?" Rahma berusaha bersikap hangat.


"Iya, Ma. Mereka kan satu kampus. Meski beda fakultas," jawab Sinta.


"Yang waktu itu bareng sama Yogi di klinik, siapa namanya?" pancing Rahma.


Rahma tak mau kalau Sinta menyukai laki-laki yang sedang bersama wanita lain.


"Oh, itu kak Viona. Teman akrabnya kak Nadia. Tadi datang juga. Tapi cuma sebentar," sahut Sinta.


Sinta mulai berpikir, kenapa mamanya begitu kepo? Pasti ada yang ingin diketahuinya.


"Mereka pacaran?" pancing Rahma lagi.


"Siapa?" tanya Sinta.


"Yogi. Sama....siapa tadi namanya?"


"Kak Viona," jawab Sinta dengan kesal.


Sinta jadi tak suka dengan Viona. Selain karena Viona pernah didekati Yogi, Sinta juga tak suka dengan sifat Viona yang terkesan angkuh.

__ADS_1


"Ah, iya itu. Yogi pacaran sama Viona?" tanya Rahma mempertegas.


"Katanya sih enggak. Kak Yogi memang pernah ngejar kak Viona. Tapi kata kak Nadia, kak Viona malah ngejar-ngejar kak Surya," jawab Sinta.


"Apa? Viona mengejar Surya?" Rahma sangat terkejut. Bagaimana mungkin seorang teman akrab mengejar pacar temannya itu?


Sinta mengangguk.


"Wah, enggak bener itu anak," tebak Rahma.


"Kayaknya begitu, Ma. Itu makanya kak Yoginya mundur," sahut Sinta.


"Surya tahu, kalau Viona mengejarnya?" tanya Rahma. Dia semakin berapi-api.


"Kata kak Nadia, tau. Tapi kak Surya selalu mengabaikan dan menjauh," jawab Sinta.


"Ya harus dong. Gimana sih, masa Viona ngejar Surya yang pacar teman akrabnya?" Rahma jadi gregetan dengan yang namanya Viona.


"Nadia juga. Mestinya dia menjauhi Viona. Enggak baik berteman dengan orang kayak gitu. Bisa menusuk dari belakang," lanjut Rahma.


Sinta tersenyum. Satu lagi dukungan untuk menjauhi Viona. Itu berarti peluangnya mendekati Yogi semakin terbuka.


Tapi kenapa kak Surya kayaknya enggak suka kalau aku dekat-dekat sama kak Yogi, ya? Sinta bertanya sendiri dalam hati.


"Entahlah, Ma. Sinta juga enggak begitu kenal kak Viona. Cuma memang sikapnya over akting di depan kak Surya," sahut Sinta.


"Nanti Mama bilang ke Surya. Hati-hati dengan wanita seperti Viona. Dari wajah dan bodynya aja udah kelihatan, kalau dia type wanita penggoda." Rahma sudah mulai ngomongin fisik.


"Kok Mama bisa ngomong begitu? Memang wajah dan body yang gimana?" Sinta jadi kepingin tahu pendapat mamanya.


"Kamu lihat sendiri kan, cara berdandannya? Terlalu menor untuk anak kuliahan. Coba lihat Nadia, dia tak perlu berdandan menor juga sudah cantik. Apalagi bodynya Viona. Haduuh...itu sih...." Rahma tak meneruskan omongannya.


"Itu sih kenapa, Ma?" Sinta makin penasaran.


Rahma menghela nafasnya. Dadanya sudah terasa panas.


"Body wanita yang sudah....kena lelaki," tebak Rahma.


"Kena lelaki?" Sinta tak paham maksud mamanya.


"Kamu belum paham itu, Sinta. Mama kan selalu bilang kalau kamu masih kecil. Enggak akan paham," sahut Rahma.


"Ma...! Anak kecil juga bakal dewasa. Dan Sinta harus mulai belajar untuk jadi dewasa. Tolong Mama kasih pemahaman untuk Sinta. Biar Sinta tahu mana yang baik, mana yang enggak."


Rahma menghela nafas lagi. Benar juga. Rahma baru sadar, kalau anak gadisnya ini menjelang dewasa.


"Mungkin sudah pernah disentuh lelaki," jawab Rahma. Dia tak tega mengatakan yang terlalu vulgar pada Sinta.


"Begini?" Sinta menyentuh tangan Rahma.


Rahma jadi kepingin ketawa. Ternyata Sinta benar-benar masih lugu. Karena yang dilakukan Sinta bukan menyentuh dalam tanda kutip. Tapi menyenggol.

__ADS_1


__ADS_2