PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 187 JAGAIN JODOH ORANG


__ADS_3

Nadia keluar dari kelasnya sendirian. Dia memang tak punya banyak teman di kampus.


Bahkan beberapa mahasiswa menilainya terlalu pilih-pilih teman. Padahal dulu, Surya yang membuatnya tak punya teman.


Beda dengan Viona. Dia orangnya supel. Pandai bergaul meskipun kadang hanya basa basi saja.


Viona berjalan pulang dengan seorang teman satu kosannya. Sejak Nadia menjauhinya, Viona pun tak pernah lagi mau dekat-dekat.


Nadia berjalan ke parkiran motor. Dari kejauhan Doni menatapnya. Bibirnya yang tadi berdarah, sudah dia bersihkan.


Begitu Nadia sudah mengeluarkan motornya, Doni berlari mendekat.


"Nad. Aku numpang ya. Sampai depan," ucap Doni.


Dan tanpa menunggu persetujuan Nadia, Doni langsung naik ke atas motor Nadia.


"Turun!" bentak Nadia.


"Enggak! Aku mau bonceng kamu sampai depan!" Doni tetap memaksa dan tak mau turun.


Nadia mendengus dengan kesal.


"Ayolah jalan. Biar orang-orang tau kalau kita pasangan yang serasi," ucap Doni.


"Dih! Siapa juga yang mau jadi pasangan kamu!" sahut Nadia dengan ketus.


"Atau aku yang di depan? Kamu bonceng sambil memelukku begini." Doni memeluk pinggang Nadia dengan erat.


"Lepasin, Doni!" seru Nadia.


"Enggak akan, Sayang," sahut Doni di dekat telinga Nadia. Membuat bulu kuduk Nadia meremang.


Nadia berusaha menghindar.


Doni tetap memeluk Nadia dengan erat.


"Ayo jalan, Sayang," ucap Doni.


"Gila kamu, ya! Lepasin!" Nadia berusaha melepaskan tangan Doni.


"Udah, jalan aja. Atau kamu kepingin orang-orang melihat kita?" sahut Doni.


Nadia menghela nafasnya dengan kasar. Lalu terpaksa menjalankan motornya.


Dasar sialan! Malu-maluin orang aja! Maki Nadia dalam hati.


Sampai di depan gerbang kampus, Nadia menghentikan motornya.


"Udah! Turun kamu!" bentak Nadia.


"Galak amat ama pacarnya? Yang mesra dong," ucap Doni dengan sangat menyebalkan.


Ingin sekali Nadia menggampar mulut Doni. Tapi apa daya, Doni masih berada di belakangnya dengan tangan melingkari pinggangnya.


Viona melihatnya dari kejauhan.


Oh, udah jadian ama Doni? Mesra sekali, batin Viona.


Karena Viona melihatnya dari kejauhan, kelihatan seperti mereka sedang bermesraan.

__ADS_1


Bahkan saat Doni menggoda dengan berbicara di dekat telinga Nadia, terlihat seperti Doni hendak mencium telinga Nadia.


Viona hanya menghela nafasnya. Tak disangkanya kelakuan Nadia seperti itu.


Apa dulu dengan Surya, Nadia begitu juga? Tanya Viona dalam hati.


"Eh, Vi. Nadia pacaran ama Doni ya?" tanya Lani, teman satu kosan Viona.


"Entahlah." Viona mengedikan bahunya.


"Itu. Kamu lihat sendiri, kan?" Lani menunjuk ke arah Nadia dan Doni.


"Iya, aku liat. Tapi aku enggak tau," sahut Viona.


"Kamu kan teman akrabnya," ucap Lani.


"Dulu. Sekarang dia menjauhi aku," sahut Viona sambil terus berjalan bersama Lani.


"Sejak kamu dekat dengan Surya?" tanya Lani.


"Kami cuma berteman, Lani. Masalah Surya dengan Nadia aku enggak tau," jawab Viona.


Viona dan Lani sampai di depan pintu gerbang dan melewati Nadia dengan Doni.


"Bisa turun enggak sih, kamu!" bentak Nadia lagi pada Doni.


"Enggak, Sayang. Aku mau kamu mengantarkan aku ke satu tempat," sahut Doni.


"Eh! Kamu tadi bilang cuma numpang sampai sini! Ini udah sampai! Turun!" Nadia terus saja membentak-bentak Doni.


Tapi Doni merasa tak peduli. Dia masih saja memeluk pinggang Nadia.


Viona dan Lani memperhatikan sekilas. Dan sempat mendengarkan teriakan-teriakan Nadia.


Viona menarik tangan Lani, agar buru-buru menjauh. Viona tak mau dianggap menguping.


Sebenarnya Nadia yang sudah kehabisan akal untuk menurunkan Doni, ingin teriak minta tolong pada Viona.


Tapi dia merasa gengsi. Sejak peristiwa di kampung halaman Viona, Nadia sudah bertekad tak akan mau berteman lagi dengannya.


"Ayo jalan. Cuaca panas banget. Nanti kita gosong di sini," ucap Doni.


"Don. Turunlah. Apa sih mau kamu?" tanya Nadia yang sudah kehabisan cara juga suara untuk teriak-teriak.


"Aku mau kamu mengantarkan aku. Ayo, jalan!" jawab Doni.


Cuaca yang sangat panas, membuat Nadia menyerah. Dan karena Nadia tak tahu dimana tempat yang dimaksud oleh Doni, Nadia mematikan mesin motornya.


"Oke. Kamu yang bawa motorku. Aku enggak tau kemana tujuan kamu," ucap Nadia.


"Nah, begitu dong." Doni melepaskan pelukannya. Lalu keduanya turun dari motor dan merubah posisi.


Doni naik di depan, dan Nadia memboncengnya. Motorpun melaju, melewati Viona dan Lani.


"Mau kemana mereka?" tanya Lani pada Viona.


"Mana aku tau. Pacaran kali," jawab Viona.


Mereka berdua pun terus berjalan menuju tempat kos.

__ADS_1


Tempat kos Viona lumayan jauh. Tapi karena mereka berniat sekalian nyari makanan, makanya jalan kaki.


Saat di sebuah warung makan langganan, telpon Viona berdering. Surya yang menelponnya.


"Hallo, Vi. Udah pulang?" tanya Surya di telepon.


"Udah. Ini lagi di warung makan. Sekalian beli makan siang," jawab Viona.


"Ooh. Naik apa?" tanya Surya. Setahunya jarak warung makan yang dimaksud Viona dengan kampus, lumayan jauh.


"Jalan kaki," jawab Viona jujur.


"Jalan kaki? Jauh lho. Sendirian?" Surya terdengar khawatir.


"Enggak. Aku sama Lani, kok. Kamu lagi di mana?" tanya Viona.


"Aku lagi di rumah temanku. Sama Yogi," jawab Surya.


Tadi setelah berdebat sebentar, Yogi mengajak Surya ikut ketemu temannya. Biar Surya banyak teman dan enggak melulu memikirkan Nadia.


"Ooh, ya udah. Aku mau lanjut jalan lagi, ya. Udah selesai beli makannya," ucap Viona.


"Iya, Vi. Ati-ati. Kalau capek berhenti dulu. Nanti kaki kamu lecet lho." Lalu Surya menutup telponnya.


"Cie....perhatian amat, Bro?" ledek Yogi pada Surya.


"Enggaklah. Biasa aja," sahut Surya.


"Inget, Bro. Dia punyanya Dewa. Elu cuma disuruh jagain jodohnya aja!" ledek Yogi lagi.


"Maksudnya?" tanya Surya.


"Kan elu sendiri yang bilang, kalau Dewa nitipin Viona ke elu. Itu artinya elu cuma jagain jodoh orang doang. Mau-maunya! Kalau gue sih ogah!" jawab Yogi dengan ketus.


"Siapa yang jagain jodoh orang?" tanya Lucky. Temannya Yogi.


"Noh!" Yogi menunjuk Surya dengan dagunya.


"Enak aja!" sahut Surya tak terima.


"Terus, apa dong namanya kalau bukan jagain jodoh orang?" Yogi merasa sangat kesal dengan sikap Surya yang terlalu baik dan nurut sama orang lain.


Surya tak menjawabnya. Dia mengambil rokok Yogi dan menyalakannya.


Lucky cuma mesem mendengarnya. Dia memperhatikan wajah Surya dengan seksama.


Ganteng. Tapi kenapa Yogi bilang begitu? Apa dia enggak bisa nyari cewek? Batin Lucky.


Hape Surya berdenting. Ada pesan masuk dari Viona.


Surya membacanya. Viona mengatakan kalau dia sudah sampai di tempat kosnya.


Surya pun membalasnya. Surya tak berani telpon. Bisa ngoceh lagi calon adik iparnya yang cerewet itu.


Sur. Tadi aku lihat Nadia pergi berboncengan sama Doni. Mereka kelihatan sangat mesra. Apa mereka udah jadian, ya? Tanya Viona di pesan chatnya.


Glek.


Nadia jadian sama Doni?

__ADS_1


Jadi selama ini aku juga jagain jodohnya Doni?


Surya hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


__ADS_2