
Selesai mandi, Rahma keluar dari kamarnya. Dan kebetulan Surya juga sudah bangun. Dia lagi duduk di ruang tengah. Di sebelah Sinta yang tertidur lelap.
"Surya. Mama mau bicara. Di kamar Mama aja." Rahma kembali masuk ke kamarnya.
Surya tak punya kesempatan menolak. Dia paham karakter mamanya.
Surya pun masuk ke kamar Rahma.
"Tutup pintunya," ucap Rahma.
Surya pun menutupnya. Lalu duduk tanpa harus disuruh lagi.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Viona?" tanya Rahma menginterogasi.
"Udah lama, Ma," jawab Surya.
"Jangan bohong kamu. Sinta bilang, Viona pacaran sama Dewa. Kenapa kamu malah datang menggandengnya? Apa enggak ada wanita lain?" Rahma kembali menginterogasi Surya.
Surya tak bisa menjawab.
"Jangan jadi perusak hubungan orang lain, Surya! Dewa itu sahabat kamu!" ucap Rahma.
Surya menghela nafasnya. Yang dikatakan Rahma memang benar. Surya telah merusak hubungan Dewa dengan Viona.
Surya tidak amanah. Disuruh jagain Viona, malah mengembatnya.
Tapi semua Surya lakukan tanpa paksaan. Viona juga menginginkannya.
Dan setelah Surya mendapatkan semuanya dari Viona, sekaranglah saatnya dia mengatakan kepada orang tuanya.
"Ma. Kami sudah memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius," ucap Surya.
"Apa? Gila kamu!" sahut Rahma.
"Kenapa gila, Ma? Bukannya Mama juga menginginkan Surya move on dan melupakan Nadia?" tanya Surya.
"Iya. Tadinya," jawab Rahma.
"Maksud Mama?" Surya menatap wajah Rahma.
"Barusan Mama dengar kabar tentang Nadia." Rahma menghela nafasnya dalam-dalam. Mencoba mengisi udara ke dadanya yang terasa sesak.
"Berita apa?" tanya Surya.
"Nadia masuk angin. Muntah-muntah," jawab Rahma.
Surya malah bingung dengan jawaban Rahma yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Lalu, apa hubungannya dengan Surya, Ma?"
"Kamu tanyakan pada Nadia. Apa yang terjadi padanya," sahut Rahma.
"Menanyakan pada Nadia? Untuk apa? Itu bukan urusan Surya." Surya semakin tak mengerti.
"Akan jadi urusan kamu, kalau Nadia...." Rahma menutup wajahnya.
"Ma. Tolong katakan yang jelas. Jangan sepotong-sepotong seperti ini. Surya bingung, Ma," pinta Surya.
Rahma membuka wajahnya.
"Kamu pikir Mama tidak bingung? Surya. Kamu ingat kan kalau kamu pernah...memperkosa Nadia?" tanya Rahma.
__ADS_1
Surya mengacak rambutnya.
Ah! Kenapa masalah itu lagi? Bukannya Nadia sendiri yang tak membutuhkan pertanggung jawabannya?
"Apa kamu melupakan itu, Surya?" tanya Rahma lagi.
Surya menggeleng.
Surya tak pernah melupakan kejadian itu. Juga kejadian selanjutnya di hotel.
Bahkan saat Surya melakukannya dengan Viona, sempat melintas bayangan Nadia.
"Kamu tahu resiko dari perbuatan kamu itu?" tanya Rahma pelan tapi ketus.
Surya mengangkat wajahnya. Dan menatap Rahma.
"Hamil! Dan bisa saja Nadia masuk angin juga muntah-muntah, karena dia lagi hamil!" ucap Rahma.
Hamil?
Nadia hamil?
Tidak!
Tidak mungkin!
"Kenapa kamu diam? Kamu mau memungkiri perbuatanmu, hah?" Rahma terlihat sedang menekan emosinya.
Surya menghela lagi nafasnya.
"Ma. Itu kan cuma perkiraan Mama saja. Belum tentu juga yang Mama pikirkan itu benar." Surya berusaha tidak mempercayai pikiran Rahma.
Surya berusaha tak berpikir hal yang sama seperti Rahma. Walaupun dalam hatinya, tetap saja cemas.
Surya terdiam.
Gila!
Aku memang sudah gila!
"Lalu bagaimana kalau perkiraan Mama benar?" tantang Rahma.
"Kita tunggu saja, Ma. Sangat tidak mungkin bagi Surya menanyakan hal itu langsung pada Nadia," ucap Surya.
"Dan disaat kamu menunggu kebenaran tentang Nadia, kamu menjalin hubungan dengan Viona?" tanya Rahma.
"Ma. Kami sudah terlanjur memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius," sahut Surya.
"Hubungan yang lebih serius seperti apa? Menikah?" tanya Rahma.
Surya mengangguk.
Rahma terkesiap.
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba ingin menikah dengan Viona? Di saat masalahnya dengan Nadia belum seratus persen selesai?
"Surya! Jangan bilang kamu juga sudah melakukannya dengan Viona!" Rahma menekan suaranya.
Surya menundukan kepalanya. Dia mengaku salah. Dia kembali telah menodai seorang wanita.
"Surya! Tatap mata Mama!" seru Rahma.
__ADS_1
Surya pun mengangkat wajahnya. Lalu mengangguk.
Sebagai laki-laki, dia harus berani mengakui perbuatannya. Apapun resikonya.
Rahma memandang Surya dengan geram. Lalu dia berdiri dan...
Plak!
Untuk kedua kalinya Rahma melayangkan tamparannya ke pipi Surya. Setelah yang pertama dulu, saat Surya mengaku telah memperkosa Nadia.
Surya pun hanya mematung. Menahan rasa perih di pipinya, karena tamparan Rahma sangat keras. Dan mungkin saja bibir Surya berdarah.
Surya tak berani merabanya.
"Mama kecewa sama kamu! Keluar kamu dari kamar Mama!" usir Rahma sambil menunjuk ke arah pintu.
Surya merasakan matanya berair. Lalu merosot lagi ke kaki Rahma. Surya bersimpuh.
"Maafkan Surya, Ma. Surya tidak bisa menjadi anak yang baik buat Mama. Surya sangat kotor! Ampuni Surya, Ma." Surya memeluk kaki Rahma.
Air mata Rahma pun berderai.
"Dulu kamu juga mengatakan hal itu. Kenapa kamu melakukannya lagi?" tanya Rahma sambil terisak.
"Surya....Surya khilaf, Ma. Maafkan Surya." Surya pun menangis. Dan marasakan pipi dan bibirnya perih. Pasti ada yang terluka.
"Surya. Orang khilaf itu sekali. Dan tak akan melakukannya lagi. Tapi kamu? Apa perlu Mama bawa kamu ke psikiater? Mungkin ada yang salah dengan diri kamu," ucap Rahma di antara isakannya.
Rahma takut kalau Surya mempunyai kelainan seksual. Dan bisa membahayakan kehidupannya kelak.
Karena biasanya orang yang memiliki kelalain seperti itu, kehidupan rumah tangganya tak akan bahagia. Bahkan bisa jadi, berantakan.
Kehidupannya tak akan jauh dari perselingkuhan. Mengumbar hasrat seksualnya pada wanita manapun.
Rahma tak mau itu terjadi pada Surya. Rahma ingin anak-anaknya mendapatkan kebahagiaan rumah tangga.
"Enggak, Ma. Surya benar-benar khilaf. Surya pikir, dengan begitu bisa melupakan Nadia. Surya tak pernah berpikir kalau Nadia sampai hamil. Karena Nadia juga menolak Surya untuk mempertanggung jawabkannya."
Bukannya Surya mau menghindar dari tanggung jawabnya. Tapi semua itu atas keinginan Nadia juga.
"Sekarang Mama minta, kamu jauhi Viona. Sampai kita tau apa yang terjadi pada Nadia!" ucap Rahma dengan ketus.
"Tapi, Ma...."
"Tidak ada tapi-tapian! Kalau sampai Nadia hamil, itu anak kamu Surya! Apa kamu mau anakmu jadi anak haram yang tak memiliki bapak?" tanya Rahma.
Badan Surya langsung lunglay. Surya tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
Omongan Rahma benar. Kalau sampai Nadia hamil, maka dia yang harus bertanggung jawab.
Tapi bagaimana dengan Viona?
Surya hanya bisa pasrah. Otaknya sudah tak bisa lagi buat berpikir.
Rahma menghapus air matanya, lalu membuka pintu kamarnya.
Di depan pintu ada Sinta, Toni dan kedua orang tuanya. Mata mereka menatap Rahma. Seolah minta penjelasan.
Tapi sayangnya kepala Rahma serasa berputar. Bumi tempatnya berpijak seolah goyang.
Sekali lagi Rahma ambruk akibat ulah Surya.
__ADS_1
"Mama....!"