
Nadia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
Susi kembali hanya geleng-geleng kepala. Mau nyusul juga percuma. Karena bisa dipastikan Nadia bakal mengunci pintunya.
Susi meraih tasnya dan pamit pada mbok Nah. Dia tetap akan ke rumah Siska. Karena udah janji mau belajar membuat kue.
"Jagain Nadia ya, Mbok. Jangan kasih ijin kalau dia bilang mau pergi," ucap Susi pada mbok Nah sebelum pergi.
"Siap, Bu." Seperti biasanya, mbok Nah selalu siap kalau disuruh apapun. Meski kadang hasilnya tak sesuai.
Susi mengendarai sendiri mobilnya. Sejak usaha Haris semakin maju, Susi dibelikan mobil untuk aktifitasnya.
Jaman anak-anaknya masih kecil, Susilah yang bertanggung jawab mengantar dan menjemput. Dan Haris memberikan fasilitas mobil agar istri dan anaknya nyaman.Meskipun awalnya hanya mobil second.
Seiring berkembangnya usaha Haris, mobil Susi pun berubah muda sampai keluaran terbaru.
Beda dengan kedua anaknya. Rio Arnando dan Nadia Sofia, tak mau naik mobil. Mereka lebih enjoy dengan motor.
Rio yang kuliah di luar kota pun, tak pernah banyak gaya. Baginya motor saja sudah cukup. Karena menurut Rio, kalau mobil kurang fleksibel. Enggak bisa lewatin gang-gang kecil.
Sementara kadang dia main di rumah teman-temannya yang rumah atau kos-kosannya masuk gang.
Apalagi Nadia. Dari dulu, kemana-mana selalu diantar oleh Surya. Motor saja dulunya jarang dia pakai. Apalagi kalau punya mobil. Cuma menuh-menuhin garasi saja.
Mbok Nah naik ke lantai atas. Dia mau mencuci pakaian sekalian menyetrika.
Begitu melewati kamar Nadia, pintunya pas sedang dibuka.
"Eh, copot! Ah! Non Nadia ngagetin aja!" seru mbok Nah.
"Ih, siapa yang ngagetin? Aku kan cuma buka pintu aja," sahut Nadia.
Mbok Nah mengatur nafasnya yang barusan tak beraturan. Lalu kembali melangkah.
"Mau kemana, Mbok?" tanya Nadia.
"Mau nyuci, Non. Di atas. Mau ikut?"
Baik banget mbok Nah, mau nyuci aja ngajak-ngajak. Kalau beli jajan tuh, baru aku ikut. Batin Nadia.
"Eh, Mbok. Aku beliin jajan dong!" seru Nadia. Karena kalau enggak kenceng, mbok Nah sering tidak dengar.
Mbok Nah berhenti dan menoleh.
"Jajan apaan? Di ruang makan sama di kulkas banyak jajanan. Kan kemarin Non Nadia minta dibelikan sama ibu," tanya mbok Nah.
"Jajan di warungnya bu Nur, Mbok," jawab Nadia.
"Walah. Kok malah jajan di warungnya bu Nur. Enakan juga jajanan yang dibelikan ibu," ucap mbok Nah.
"Iih, aku bosen. Aku maunya beli jajan di sana. Beliin ya. Ini uangnya." Nadia memberikan uang yang sudah dipegangnya.
"Nanti aja ya. Mbok Nah mau nyuci dulu. Udah siang nih." Mbok Nah menolaknya.
__ADS_1
"Yaelah, Mbok. Sebentar. Nyucinya dipending dulu," ucap Nadia.
"Dipending itu apa?" tanya mbok Nah. Dia tak pernah paham bahasa-bahasa begituan. Meskipun sering dengar.
"Ngerjainnya nanti lagi. Nih." Nadia tetap menyerahkan uangnya.
Mbok Nah pun menerimanya.
"Mau dibelikan jajan apa?" tanya mbok Nah.
"Apaan aja. Yang penting enak," jawab Nadia.
"Gimana tau rasanya enak. Mbok Nah kan enggak pernah jajan?"
Hhh! Nadia menepuk dahinya.
Sebuah pertanyaan yang tepat. Mbok Nah tak pernah sekalipun membeli jajanan anak-anak. Karena di rumah Susi, semua sudah tersedia.
Kalaupun beli jajanan, paling saat dia mau menengok cucu-cucunya. Dan semua jajanan itu diberikan pada cucu-cucunya. Bukan untuk dia makan.
"Ya udah. Aku beli sendiri aja!" Nadia menengadahkan tangannya. Meminta uangnya kembali.
Lalu Nadia turun setelah mendapatkan kembali uangnya.
Dia berjalan keluar rumah. Kemana lagi tujuannya kalau bukan ke warungnya bu Nur.
"Bu! Bu Nur!" panggil Nadia. Warung bu Nur sepi. Dan biasanya, saat sepi kayak begini, bu Nur masuk ke dalam rumahnya.
"Iya...!" sahut bu Nur dari dalam. Lalu tergopoh-gopoh keluar.
"Mau beli jajan," jawab Nadia. Lalu dia melihat-lihat jajanan yang ada di warungnya bu Nur.
"Boleh. Pilih aja. Mau yang mana. Banyak kok pilihannya," sahut bu Nur dengan bawelnya.
Nadia mulai memilih jajanan yang diingininya.
"Tumben beli jajanan anak kecil? Buat siapa, Neng?" tanya bu Nur.
Setahu bu Nur, keluarga Nadia anti dengan jajanan warung yang murahan. Dari sejak anak-anaknya kecil, Susi selalu menjaga pola makan mereka.
Enggak sembarangan makanan dan jajanan masuk ke perut mereka.
"Buat akulah. Masa buat mbok Nah," jawab Nadia.
Bu Nur cuma nyengir. Maksud bu Nur, kali aja ada tamu yang bawa anak kecil. Pastinya akan senang dibelikan jajanan warung.
"Es krimnya juga boleh, deh." Nadia mengambil beberapa es krim.
Banyak banget beli es krimnya? Emang habis makan segitu banyak? Batin bu Nur.
Bu Nur enggak mikir, kalau ada kulkas yang siap menampung es krim kalau tidak habis.
"Neng Nadia enggak bantu-bantu di rumahnya bu Rahma?" tanya bu Nur.
__ADS_1
Aduh! Pasti deh, nanyain soal itu. Mbok Nah sih, disuruh beliin aja enggak mau. Nadia malah menyalahkan mbok Nah.
"Nanti aja, Bu Nur. Kan acaranya masih lama," jawab Nadia.
"Tapi mereka udah pada sibuk semua. Tiap hari ada aja yang dibeli. Tinggal beberapa hari lagi, kan?"
Nadia hanya menelan ludahnya. Lalu Nadia mengalihkan pembicaraan.
"Udah nih, Bu Nur. Itung." Nadia mengumpulkan makanan yang dipilihnya.
Bu Nur pun menurut. Dia seperti lupa dengan pertanyaannya barusan.
Setelah membayar, Nadia buru-buru pergi. Dia tak mau bu Nur ingat dengan pertanyaan tadi lagi.
Di tengah jalanan yang mulai panas menyengat, Nadia berpapasan dengan mobil keluarga Surya.
Nadia hanya meliriknya saja. Lalu kembali jalan. Toh, mobil itu juga tak membunyikan klakson atau tanda apapun untuk menyapanya.
Di dalam mobil itu ada Rahma dan Sinta. Rahma yang sedianya minta diantarkan oleh Surya, terpaksa membawa mobil sendiri. Karena Surya tak juga pulang.
Telpon Surya pun masih belum aktif. Surya tak sempat mengechasnya. Dari kemarin sore, nomornya tak bisa dihubungi.
"Darimana dia? Tumben amat jalan kaki?" tanya Rahma.
Sinta hanya menggeleng. Mana dia tahu. Sudah lama juga Sinta tak pernah berhubungan dengan Nadia lagi.
"Ma. Sinta mau es krim dong." Bukannya menjawab pertanyaan Rahma, Sinta malah minta es krim.
"Ya nanti. Kita beli di minimarket," sahut Rahma.
"Di warungnya bu Nur, kan ada," ucap Sinta.
Rahma menghela nafasnya. Lalu berhenti di depan warung bu Nur.
"Udah sana buruan. Kayak anak kecil aja!" ucap Rahma.
Sinta pun bergegas turun.
"Bu Nur!" panggil Sinta.
Bu Nur pun bergegas keluar.
"Iya. Eh, Neng Sinta. Mau beli apa, Neng?" tanya bu Nur dengan ramah.
"Beli es krim, Bu Nur." Sinta pun membuka frezeer es krim dan mulai memilih.
Sinta tak mengambil satu, tapi dua. Pinginnya sih banyak. Tapi bakalan leleh, karena dia akan pergi.
Dan Sinta tak cuma mengambil es krim, tapi juga makanan kecil. Lalu membayarnya.
"Kok jajannya samaan kayak neng Nadia?" tanya bu Nur.
"Emang tadi dia beli ginian juga?" tanya Sinta.
__ADS_1
Bu Nur mengangguk.