
Surya hanya tersenyum mendengarnya. Baginya sudah biasa dikomentarin asal oleh Yogi.
"Bro, gue tagih janji elu!"
Surya mengerutkan dahinya.
"Janji apa?" Surya merasa tak pernah berjanji apapun pada Yogi.
"Soto." Yogi menaik turunkan alis matanya.
Ya ampun. Ini anak, ingat aja. Batin Surya.
Tanpa menjawab, Surya beranjak dari kursinya.
"Eh, mau kemana lu, Bro?" tanya Yogi.
"Soto," jawab Surya sambil terus melangkah keluar kelas.
Dengan semangat empat lima, Yogi menyusul.
"Sama es jeruk ya, Bro. Gue haus banget nih," pinta Yogi.
Surya tak menghiraukannya. Dia terus saja melangkah.
"Bro, lu masih mau ngunggu kelas berikutnya, kan?" tanya Yogi sambil terus berjalan.
Surya hanya mengangguk. Lalu mengeluarka ponselnya.
Hingga sampai di kantin yang belum terlalu ramai. Surya mencari tempat duduk. Sedangkan Yogi memesan soto dan dua gelas es jeruk.
Seperti biasanya, Yogi tak pernah sebentar kalau di dekat gerai soto. Karena anak tukang soto selalu mampu menghipnotisnya.
Namanya Wanti. Seorang gadis seumuran mereka. Wanti kuliah di universitas terbuka. Dan jadwal kuliahnya hanya di akhir pekan.
Kalau kata Yogi yang suka ngobrol dengan Wanti, biar bisa membantu ibunya yang single parent jualan soto.
Terkesan mulia sekali. Kuliah tetap jalan, sambil membantu orang tua.
Wajah Wanti pun cukup menarik. Banyak mahasiswa yang suka tebar pesona padanya. Termasuk Yogi.
Surya tak mempedulikannya. Dia membuka ponselnya. Tadi saat jalan, dia merasa ponselnya bergetar.
Surya melihat ada sebuah pesan masuk dari Nadia. Dengan senyum mengembang, Surya membukanya.
Hari ini kamu kuliah, Sur? Tanya Nadia di pesan pertamanya.
Iya. Jawab Surya singkat.
Entah mengapa sejak memutuskan untuk bisa melepas ketergantungannya pada Nadia, Surya jadi enggan berpanjang lebar.
Meskipun hati kecilnya tetap menantikan kiriman pesan dari Nadia.
__ADS_1
Pulang kuliah, ke rumah, ya. Ada yang mau aku bicarakan. Pinta Nadia.
Surya mengerutkan dahinya.
Membicarakan apa? Tanya Surya.
Nanti aja kalau kamu udah di rumahku. Jawab Nadia.
Penting? Tanya Surya.
Tiba-tiba saja jempol Surya mengetik kata itu. Padahal biasanya, hal enggak penting pun akan jadi alasan Surya datang ke rumah Nadia.
"Ngelamun aja lu, Bro? Ngelamunin Wanti, ya?" tanya Yogi mengagetkan Surya.
"Sembarangan!" sahut Surya.
Yogi meletakan nampannya di atas meja. Satu mangkuk soto dan dua gelas besar es jeruk.
"Nih minum. Biar otak lu encer. Kagak mampet lagi." Yogi meletakan satu gelas di depan Surya.
"Emang otakku gorong-gorong?" sahut Surya.
"Nah! Ini nih yang gue suka. Elu nyaut pake kalimat yang enggak baku. Kita enggak lagi ngikut mata kuliah bahasa indonesia, Bro. Jadi kalau bisa, terusin bahasa gaulnya. Jangan terlalu baku. Malah terdengar kaku, tau gak lu?" cerocos Yogi.
Kaku? Apa aku jadi orang terlalu kaku? Surya berusaha mengintrospeksi dirinya sendiri.
Sejak kecil, Rahma yang asli Jogja dan berdarah ningrat, selalu mengajarkan pada kedua anaknya untuk selalu sopan.
Bahasa yang kita gunakan tergantung dengan siapa lawan bicara kita. Jadi enggak asal elu-gue elu-gue aja.
Toni yang meskipun berdarah campuranpun pada akhirnya mengikuti cara bicara Rahma, istrinya.
Dan praktis Surya dan Sinta selalu berbahasa dengan baik dan benar.
Nadia pun begitu. Meski kedua orang tuanya berbeda suku, dia tetap diajarkan berbahasa dengan baik dan benar.
Tak ada kata elu gue seperti Yogi yang kalau Nadia bilang namanya cablak.
Dulu Nadia pernah menegur Dewa yang bicara nyablak padanya. Dan sejak itu, Dewa lebih menghargai Nadia dan juga dirinya.
Meskipun kalau tak ada Nadia, bicaranya Dewa kembali nyablak.
Nadia tak terlalu suka dengan bahasa cablak. Dia lebih suka orang yang santun dalam berbicara. Itu salah satu alasan Surya tetap mempertahankan gaya bahasanya.
Tapi ternyata semua usahanya, tak serta merta membuat Nadia berpaling padanya.
Nadia masih saja menoleh pada masa lalunya. Masa lalu yang menurut Surya sudah tenggelam ke dasar lautan.
Namun tidak bagi Nadia. Nadia selalu berharap masa lalunya tertambat di sebuah pantai. Pantai harapan, katanya.
Dan perahu kertasnya pun akan sampai ke pantai itu. Berlabuh di tempat yang sama dengan....Dewa.
__ADS_1
Ah, bullshit dengan Dewa. Juga Nadia dan semua angan kosongnya.
Surya mencengkeram gelas esnya. Tak dihiraukan ponselnya yang kembali bergetar.
"Eit! Entar pecah itu gelas! Lu mau bayar ganti ruginya?" komentar Yogi yang melihat tangan Surya mencengkeram gelas dengan erat.
Surya tersadar, lalu melepaskan tangannya yang terasa dingin. Bukannya dia tak mampu membayar harga gelas yang bakal pecah kalau dia teruskan. Tapi dia tak mau melakukan hal yang sia-sia. Bahkan mungkin bisa melukainya.
Surya memasukan kembali ponselnya, tanpa membuka lagi balasan pesan dari Nadia.
Yakin kalau getar tadi adalah balasan pesan dari Nadia? Ah, enggak! Aku enggak mau lagi mengharapkannya.
Aku ingin menikmati hidupku sendiri. Bukan dengan segala kemjnafikan.
Untuk apa aku mengorbankan diriku terus kalau pada akhirnya aku akan terluka?
Surya terus saja bergelut dengan hatinya. Meski tak mudah, tapi Surya ingin jadi pemenangnya. Pemenang bagi hatinya sendiri.
Surya menyedot es jeruknya hingga kandas.
Yogi yang sedang menyuap soto panasnya sampai melotot dan membuatnya tersedak.
Yogi buru-buru mengeluarkan soto yang sudah di mulutnya ke lantai kantin. Karena tenggorokannya terasa perih dan panas. Karena kuah sotonya terlalu panas dan pedas.
Yogi pun ikut menyedot es jeruknya. Tapi tidak sampai habis.
"Lu kenapa, Bro? Kalau lagi kesal, jangan es jeruk yang jadi sasarannya, dong," tanya Yogi.
Surya mendengus. Lalu menghela nafasnya.
"Setidaknya aku udah melampiaskan perasaanku," sahut Surya.
"Nadia?" tanya Yogi.
"Dan masa lalunya. Dia sedang terjebak di masa lalunya, Yog. Sampai-sampai dia mengabaikan masa depannya," jawab Surya.
"Maksudnya, elu masa depannya gitu?"
"Entahlah, Yog. Mungkin aku. Mungkin orang lain. Jodoh kan kita enggak pernah tau," sahut Surya.
"Nah itu lu paham, kalau jodoh enggak ada yang tau. Dan kemarin elu seperti Tuhan yang bisa menentukan jodoh lu sendiri," ucap Yogi.
"Jangan mendahului Tuhan, Sur. DIA sudah punya ketetapan sendiri. Kalau DIA sudah menetapkan, tak akan ada yang bisa mengubahnya. Enggak juga elu!" lanjut Yogi.
"Heh, tinggi juga pengetahuan agama kamu, Yog?" Surya merasa salut pada Yogi yang selalu dianggapnya selengekan.
"Dari kecil gue kan selalu denger ceramah-ceramah tentang agama. Ya, sedikit-sedikit adalah yang masih nyangkut di otak gue," sahut Yogi.
"Kamu ikut pengajian? Atau mondok di pesantren?" tanya Surya.
"Mak Yati tiap pagi nyetel kuliah subuhnya ustadz Zainudin MZ, Bro. Meski siangnya nyetel lagu-lagunya Meggy Z. Hahaha."
__ADS_1